Chapter 111
Ia mengenal gadis itu ialah Yap Man-jing. Sesaat itu hatinya terasa pedih, dengan cepat ia menarik diri dan bersembunyi.
Percakapan antara Lamkiong Peng dan Tik Yang dapat didengarnya dengan jelas. Terdengar olehnya ucapan anak muda itu yang mengatakan ia telah memutuskan hubungan, maka anak muda itu pun tidak ingin melihatnya lagi. Sungguh hancur luluh hatinya.
Terdengar olehnya seorang nyonya cantik mendengus, "Jika perempuan itu sudah meninggalkanmu, buat apa kaupikirkan dia lagi?"
"Aku... aku memang takkan memikirkan dia lagi," sahut Lamkiong Peng dengan lesu.
"Makanya, selanjutnya harus kaucurahkan perhatianmu kepada adik Yap kita ini," kata nyonya cantik itu dengan tertawa. "Kautahu demi mencari dirimu, betapa dia telah menderita lahir dan batin."
Lamkiong Peng hanya menghela napas sambil menunduk tanpa bersuara. Tambah remuk hati Bwe Kim-soat. Dari jauh dilihatnya Lamkiong Peng berjajar dengan Yap Man-jing; keduanya sungguh pasangan yang setimpal. Sebaliknya, dirinya sendiri compang-camping dan kurus pucat. Siapa yang tahu bahwa pengorbanannya ini juga demi Lamkiong Peng.
Api berkobar dengan hebat. Tanpa berhenti, Kim-soat berlari menuju ke dalam gua. Di ujung gua yang menembus perairan itu sudah siap kapal layar yang telah direparasinya. Ia melemparkan tambatan kapal dan mendorongnya dengan galah. Lambat-laun, kapal meluncur ke perairan bebas. Kim-soat melompat ke atas kapal dan memasang layar. Ia datang sendirian, sekarang pun berlayar pulang sendirian. Datangnya tidak membawa apa-apa, pulangnya justru membawa hati yang luka.
Di tempat lain, Lamkiong Peng dan Tik Yang sedang berusaha menolong Tek-ih Hujin, namun perempuan itu tampak sudah payah karena luka terbakar. Lamkiong Peng telah memberitahukan kepada Tik Yang bertiga tentang siapa Tek-ih Hujin sebenarnya.
Perlahan Tek-ih Hujin membuka mata. Dengan sinar matanya yang guram, ia mengerling Lamkiong Peng sekejap, lalu bertanya, "Bwe... Bwe Kim-soat, di mana dia?"
Lamkiong Peng tidak menjawab. Dengan lemah Tek-ih Hujin menghela napas, katanya, "Selama hidupku malang melintang di dunia kang-ouw dan banyak orang kosen yang telah kutipu, tak tersangka akhirnya aku juga kena ditipu oleh seorang perempuan semacam Bwe Kim-soat. Wahai Bwe Kim-soat, hebat juga kau!"
"Hm, orang suka menipu tentu juga akan ditipu, kenapa mesti menyesal?" jengek Ih Loh mendadak.
"Kautahu apa?" kata Tek-ih Hujin dengan gusar. "Meski dia menipuku, tapi pada saat kulompat ke bawah tebing, sudah dapat kuduga muslihatnya. Ia cuma berlagak dingin terhadap Lamkiong Peng. Sesudah aku tertipu dan tertawan, lalu dia akan bergabung lagi dengan Lamkiong Peng."
"Haha, tapi sekarang ternyata telah makan tuan. Akhirnya kalian jadi terceraiberai, betapapun rasa dendamku terlampias juga... Hahahaha..."
Di tengah gelak tawa latahnya, perempuan siluman ini mendadak mendelik. Sekujur badannya lantas berkejang, lalu putus napasnya. Tamatlah riwayatnya yang penuh dosa itu.
Mendadak Lamkiong Peng berteriak sekali, terus melepaskan diri dari pegangan Tik Yang. Serunya parau, "Dia pasti masih berada di sana..."
Dengan langkah sempoyongan, ia hendak berlari ke tengah hutan yang sudah menjadi lautan api itu. Tik Yang terkejut, cepat ia menarik tangannya.
"Lepaskan aku..." teriak Lamkiong Peng.
Pada saat itulah seorang kelasi perempuan tampak berlari datang sambil berteriak, "Jalan ke pantai hampir tertutup seluruhnya oleh api, harap Tuan dan Nona lekas keluar dari sini, kalau tidak tentu sukar lagi meninggalkan pulau ini. Baru saja orang lain sudah berlayar..."
"Hah, siapa yang berlayar? Siapa yang kaulihat?" tanya Tik Yang cepat.
"Waktu hamba pasang mata di atas puncak tiang layar, tertampak di ujung pulau sebelah sana meluncur sebuah kapal, sedangkan api telah mengelilingi seluruh pulau ini."
"Siapa penumpang kapal itu, terlihat jelas tidak?" tanya Tik Yang.
"Kapal layar itu mendapat angin buritan dan melaju dengan cepat, hanya sebentar saja sudah jauh sehingga sukar terlihat siapa penumpangnya. Karena khawatir keselamatan Nona, maka hamba lantas lari kemari."
Tik Yang, Ih Loh, dan Yap Man-jing saling pandang. Dalam hati sama membatin, tentu Bwe Kim-soat yang telah pergi dengan kapal layar itu. Mereka sama memandang Lamkiong Peng. Anak muda itu kelihatan pucat dan berdiri termenung, mendadak tumpah darah dan jatuh pingsan.
Cepat Tik Yang mengangkat tubuh Lamkiong Peng dan mengajak kawan-kawannya berlari ke pantai. Setiba mereka di atas kapal, tempat mereka tadi pun mulai terjilat api.
Perlahan Lamkiong Peng siuman kembali. Kapal mereka mengitari dulu pulau yang terbakar itu. Mereka berharap dapat melihat bayangan kapal Bwe Kim-soat atau menemukan jejak Liong Po-si dan Lamkiong Eng-lok. Namun, tiada sesuatu yang mereka lihat.
Hampir sebulan kapal mereka berlayar kembali, Lamkiong Peng berkabung dengan sedih, sepanjang hari ia tidak bicara. Orang lain ikut berduka dan tak berdaya. Waktu kapal sudah dekat pantai, kendaraan air yang berlalu lintas bertambah banyak. Kapal layar mereka ini banyak menarik perhatian kapal lain, namun tidak ada yang berani mendekat.
Menurut taksiran Tik Yang, tidak berapa lama lagi kapal pasti dapat menepi, dengan sendirinya hati terasa senang. Beberapa saat kemudian, tiba-tiba dari depan muncul sebuah kapal layar putih, makin lama makin mendekat. Meski kedua kapal seperti akan saling tubruk, namun kapal itu seperti tidak mau menghindar, bahkan tampaknya sengaja menyongsong kedatangan kapal Tik Yang ini.
"Kuharap kapal ini memang kapal bajak laut, supaya aku dapat melemaskan otot melabrak mereka, sudah sekian lamanya aku kesal," Ih Loh tertawa cerah.
Tidak lama kapal itu sudah dekat. Di haluan berdiri seorang lelaki berbaju biru sedang mengayun-ayunkan sehelai kain putih sambil berteriak, "Apakah Tikkongcu yang datang di kapal depan itu? Mohon turun layar sebentar, ada sedikit urusan hendak kubicarakan."
Selagi Tik Yang merasa ragu, Ih Loh telah mendahului menjawab, "Betul, sahabat ini siapa? Ada urusan apa?"
Layar kapal itu sudah diturunkan sehingga laju kapal menjadi lambat. Tik Yang lantas memerintahkan juga menurunkan layar dan mengurangi laju kapalnya. Setelah bersimpangan haluan, kedua kapal berdempetan. Segera orang itu melompat ke geladak kapal Tik Yang sambil menatap para penumpangnya.
Dengan kurang senang Tik Yang berkata, "Selamanya kita tidak berkenalan, dari mana sahabat tahu aku berada di kapal ini?"
Lelaki itu tersenyum, ia memandang Lamkiong Peng sekejap, lalu menjawab, "Tikkongcu pesiar ke lautan bersama Nyonya, hal ini sudah tersiar luas di dunia persilatan. Terutama layar berwarna-warni kapal Tikkongcu ini mudah dikenali oleh siapa pun."
"Sahabat sedemikian menaruh perhatian kepada kami, sesungguhnya ada urusan apa?" jengek Tik Yang.
Orang itu tersenyum tanpa menjawab, ia memberi tanda tepukan tangan. Segera di atas kapalnya dikerek naik belasan batang galah bambu panjang, pada ujung galah tergantung keranjang dan diantarkan ke kapal Tik Yang.
"Majikan kami tahu Tikkongcu dan Nyonya sudah sekian lama berlayar di lautan lepas, tentu kurang teratur dalam hal makan minum, maka hamba khusus ditugaskan mengantar sedikit hidangan sekadar memberi servis kepada Tikkongcu."
"Siapa majikan kalian?" tanya Tik Yang.
"Majikan sedang menunggu di pantai akan kedatangan Tikkongcu, setelah bertemu tentu Tikkongcu akan tahu siapa beliau," jawab orang itu dengan tertawa.
Habis berkata, ia lantas mengundurkan diri dan kembali ke kapalnya sendiri, lalu layar berkembang dan kapalnya melaju lagi. Tik Yang saling pandang sekejap dengan Ih Loh. Mendadak nyonya itu membuang belasan macam hidangan itu ke laut untuk menghindari segala kemungkinan; mereka tidak mau mengambil risiko makan hidangan itu.
Diam-diam semua orang berpikir apa maksud tujuan orang mengantarkan makanan itu. Semalam tidak terjadi apa pun. Esoknya selagi mereka berdiri di haluan kapal, dari jauh muncul lagi sebuah kapal layar. Sesudah dekat, kembali dari haluan kapal pendatang itu ada orang berteriak, "Adakah Tikkongcu di atas kapal situ?"
"Di sini aku berada, masa perlu tanya lagi?" jawab Tik Yang dengan tertawa.
Tampak orang yang berdiri di haluan itu bukanlah lelaki yang kemarin. Sikap orang ini terlebih hormat, oleh-oleh yang diantarnya terlebih baik daripada kemarin.
"Semalam kalian baru saja mengantarkan makanan, pagi-pagi sekarang kalian sudah datang lagi, rasanya majikan kalian agak terlalu sungkan kepada kami," segera Ih Loh mendahului menegur.
Lelaki itu tampak melongo bingung, jawabnya, "Pang kami baru pagi tadi menerima kabar kepulangan Tikkongcu suami-istri dan segera Pangcu kami mengirim kami kemari."
"Jadi yang datang kemarin itu bukan temanmu?" tanya Ih Loh.
Lelaki berbaju panjang itu menggeleng.
"Siapa Pangcu kalian, bolehkah kami diberitahu?" tanya Ih Loh pula.
"Sesudah berhadapan tentu Tikkongcu akan tahu sendiri," jawab lelaki itu. Tanpa banyak bicara, kapalnya terus putar haluan dan berlayar pergi.
Kembali Tik Yang saling pandang dengan kawan-kawannya, mereka tidak tahu sebenarnya apa maksud pengantar makanan ini. Kembali semua antaran itu dibuangnya ke laut. Menjelang lohor, berturut-turut datang lagi empat kelompok pengantar hadiah, satu terlebih hormat daripada yang lain. Antaran yang datang juga semakin bernilai, namun tiada seorang pun mau menceritakan asal-usulnya sendiri; semuanya menjawab nanti tentu tahu sendiri setelah bertemu.
Yang paling aneh adalah orang-orang ini tiada satu pun yang kenal Tik Yang; mereka seperti mewakili setiap golongan atau perguruan masing-masing dan berusaha menarik Tik Yang ke pihaknya. Lewat lohor dari jauh sudah kelihatan bayangan daratan, seketika semangat mereka terbangkit, para kelasi wanita itu pun bekerja terlebih giat agar selekasnya dapat mencapai pantai.