Halo!

Han Bu Kong - Chapter 112

Memuat...
Han Bu Kong

Chapter 112

Cahaya senja terlihat indah permai. Air laut berkilauan terkena deburan ombak, sementara banyak perahu nelayan menuju ke tepi. Di pantai tampak puluhan orang bergerombol; saat diamati, semuanya adalah perempuan.

"Sungguh aneh," ucap Ih Loh dengan heran.

"Memangnya beberapa kelompok orang yang mengantar oleh-oleh itu juga hendak memungut dirimu sebagai menantu? Kenapa sebanyak ini perempuan menanti kedatanganmu?" Tik Yang tertawa. Pada saat itulah, para perempuan di pantai bersorak gembira sambil mengangkat tangan.

Rupanya, berpuluh-puluh perahu nelayan telah merapat dan mendarat, lalu para nelayan saling berpelukan dengan perempuan-perempuan itu. Maklumlah, adat istiadat penduduk pantai tidak sekolot orang pedalaman; hubungan antara lelaki dan perempuan lebih bebas dan tidak banyak pantangan.

Tik Yang terbahak-bahak, serunya, "Nah, sudah kaulihat jelas mereka sedang menunggu suami masing-masing yang menangkap ikan di laut, bukan menyambut kedatanganku." Hanya sebentar saja kawanan nelayan itu pergi bersama anggota keluarga masing-masing.

"Aneh juga, mengapa pengantar makanan kepadaku itu tidak muncul menyambut kedatangan kita?" gumam Tik Yang dengan heran.

"Di balik urusan ini tentu tersembunyi sesuatu yang tidak beres," ujar Yap Man-jing.

Keempat orang itu lantas mendarat. Mereka melihat kota kecil tepi pantai ini cukup ramai, alamnya asri dan resik. Setelah bertanya, baru diketahui kota ini cukup terkenal di Provinsi Ciatkang, yaitu Lok-jing, yang tidak jauh dari Teluk Sam-bun-wan, tempat mereka berlayar semula.

Mereka mencari rumah penginapan. Meski tempat ini asing, pengurus hotel tampak sangat ramah dan hormat kepada mereka. Begitu datang, mereka langsung disambut dengan perkataan, "Selamat datang, Tik-kongcu!"

"Dari mana kalian tahu siapa diriku?" tanya Tik Yang dengan sangsi.

Pengurus hotel tertawa misterius. Ia berbalik bertanya, "Ada lima paviliun di hotel kami, semuanya sudah kami bersihkan dan siap untuk dihuni Tik-kongcu."

"Untuk apa lima paviliun? Kami hanya minta dua saja," kata Ih Loh.

"Agaknya Tik-kongcu tidak tahu, hari ini kami kedatangan lima juragan. Masing-masing memesan sebuah paviliun bagimu, bahkan uang sewa sudah dibayar dua kali lipat dan tamu yang telanjur masuk lebih dulu disuruh pindah," tutur pengurus hotel itu. "Hamba juga heran, Tik-kongcu cuma satu keluarga, paviliun mana yang akan kalian gunakan?"

Tik Yang saling pandang sekejap dengan sang istri. Lalu, Ih Loh berkata, "Orang yang memesan kamar itu apakah meninggalkan pesan lagi?"

"Hanya meninggalkan uang sewa dan tidak meninggalkan pesan," jawab pengurus hotel dengan tertawa.

"Coba, bolehkah kulihat uang yang mereka bayar kepadamu?" tukas Ih Loh.

Pengurus hotel melengak, tapi ia tidak berani menolak.

"Masakah dapat kautemukan sesuatu pada uang perak mereka?" tanya Tik Yang.

Ih Loh tertawa, "Rupanya engkau tidak paham. Setiap bentuk uang perak atau uang kertas tentu ada ciri-ciri asal-usulnya, sebab umumnya *ginbio* (uang kertas sebangsa cek) setiap tempat berlainan buatannya. Dari uang mereka, akan dapat ditemukan dari mana mereka datang."

"Tampaknya banyak juga urusan yang kauketahui," kata Tik Yang.

Maklumlah, Ih Loh adalah adik perempuan Ih Hong, tokoh Kai-pang atau kaum jembel di daerah perbatasan utara. Gerombolan mereka khusus membegal harta benda yang tidak halal dari kaum perampok, koruptor, dan sebagainya. Maka, pengetahuan tentang uang perak atau uang kertas dari berbagai tempat cukup dikuasai oleh Ih Loh.

Tidak lama kemudian, pengurus hotel membawa keluar satu kotak berisi uang perak dan uang kertas. Lebih dulu, Ih Loh mengamati sepotong uang perak lantakan. Buatan lantakan perak itu agak kasar, namun kadarnya cukup murni. Hanya dipandang sekejap saja, Ih Loh lantas berkata, "Perak ini berasal dari daerah Jinghai, Sekong, dan Tibet. Sungguh aneh, mengapa ada orang dari daerah terpencil itu sampai di tepi pantai sini?"

Lalu, ia memeriksa lagi empat helai *ginbio*. Lembaran pertama keluaran Wihong Ginceng (sebangsa bank). *Ginbio* ini beredar luas di mana-mana sehingga tiada sesuatu yang mencurigakan. *Ginbio* kedua keluaran daerah Sujoan, sementara *ginbio* ketiga sering terlihat beredar di daerah Kanglam.

"Kenapa orang dari Sujoan yang jauh juga datang kemari? Sungguh sukar dimengerti apa tujuannya," ucap Ih Loh dengan heran.

Waktu ia memeriksa *ginbio* keempat, tampak bentuknya agak aneh; sekeliling uang kertas itu terlukis hiasan bunga warna-warni. Selagi Ih Loh heran, mendadak sebuah tangan merampas uang kertas itu. Lamkiong Peng yang sejak tadi diam saja mendadak merebut uang kertas itu karena ia mengenali bahwa uang tersebut semula adalah milik keluarga Lamkiong.

"Tak disangka ada di antara orang-orang ini membayar dengan *ginbio* keluarga Lamkiong," ucap Tik Yang dengan heran. Sukar diketahui dari golongan mana orang itu.

"Siapa yang membayar dengan uang ini?" tanya Lamkiong Peng.

Pengurus hotel rada ketakutan melihat sikap anak muda itu. Ia menjawab dengan terbata-bata, "O... dari tamu kedua..."

"Paviliun mana yang dipesannya?" tanya Lamkiong Peng.

"Akan kutunjukkan," jawab si pengurus hotel.

Lamkiong Peng melemparkan *ginbio* itu ke dalam kotak, lalu ikut pergi bersama pengurus hotel. Setelah menembus sebuah pintu yang membatasi antarhalaman, tampaklah sebuah paviliun dengan halaman yang indah, memang berbeda daripada di depan.

"Apakah Tuan hendak memakai paviliun ini?" tanya pengurus hotel.

"Betul," jawab Lamkiong Peng dan mendahului masuk ke rumah itu. Di situ, ia berdiri termenung. Melihat perubahan sikap pemuda itu, semua orang tidak berani bertanya.

Selagi mereka bergegas hendak istirahat, mendadak terdengar suara ramai-ramai di luar hotel serta suara riuh orang berlari. Dengan sendirinya Tik Yang, Ih Loh, dan yang lain ingin tahu apa yang terjadi. Waktu mereka melongok ke luar hotel, tampak di jalan raya orang berlari kian kemari sambil membawa keranjang, ember, dan sebagainya; semuanya menuju ke pantai.

Karena penasaran, Tik Yang dan Ih Loh ikut menuju ke tepi laut. Hari sudah gelap, tampak orang berjubel di pantai, semuanya bersorak gembira. Ada kawanan pemuda sudah melepas baju dan terjun ke laut. Waktu mereka mendesak maju ke tepi laut, sekilas pandang seketika mereka melengak. Ternyata di tengah debur ombak terbawa cahaya gemerlip, yaitu gemerlip sisik ikan. Namun, beratus-ratus ribu ikan yang terdampar oleh ombak itu sudah mati semua.

Rupanya membanjirnya penduduk ke tepi pantai adalah untuk mencari ikan. Sebagai kaum nelayan, menangkap ikan tanpa susah payah tentu sangat menggembirakan mereka. Selama hidup, mereka belum pernah melihat ikan sebanyak ini.

Tik Yang saling pandang dengan Ih Loh, sebab mereka merasa munculnya bangkai ikan ini pasti ada sesuatu yang tidak beres. Cepat Tik Yang menarik Ih Loh ke luar dari kerumunan orang banyak, katanya dengan perlahan, "Dugaanmu memang tidak salah. Untung kita tidak makan hidangan yang diantar orang-orang itu, kalau tidak..."

Setelah melihat bangkai ikan sebanyak itu, dapatlah diduga pasti kawanan ikan itu telah memakan berbagai makanan yang dibuang ke laut dan mati keracunan, lalu bangkai ikan terdampar ke pantai terbawa arus. Sungguh mengerikan melihat beratus ribu bahkan berjuta ikan mati itu.

"Keji amat racun mereka. Siapakah yang sengaja hendak meracuni kita dengan obat racun sejahat ini?" gumam Ih Loh dengan kening berkerut.

"Tapi apakah semua pengantar makanan itu memberi racun atau cuma satu di antara mereka, hal ini juga tidak jelas."

"Pada suatu hari hal ini pasti dapat diketahui," ujar Tik Yang.

"Wah, celaka!" seru Ih Loh mendadak.

"Ada apa?" tanya Tik Yang.

"Ikan ini mati keracunan. Jika bangkai ikan ini diambil dan dimakan, bukankah yang makan juga akan ikut keracunan?"

Tergugah juga hati Tik Yang. Waktu ia memandang ke sana, entah betapa banyak orang yang berjubel di pantai sekarang. Bagaimana cara mencegah tindakan mereka yang hendak memanen bangkai ikan itu? Bisa jadi beribu orang ini akan menjadi korban racun.

"Wah, bagaimana baiknya? Bagaimana cara kita memberi keterangan kepada mereka supaya mereka mau percaya?" gumam Ih Loh dengan bingung.

Tik Yang juga tak berdaya. Dilihatnya beberapa nelayan menjinjing keranjang penuh ikan sedang beranjak pulang dengan riang gembira. Selagi ia bermaksud memburu maju untuk memberi penjelasan, tiba-tiba dari kejauhan ada suara teriakan orang. Beberapa lelaki berbaju kuning dengan rambut diikat tampak berlari datang sembari berteriak.

"Losinsian ada perintah, katanya ikan ini tidak boleh dimakan!"

Dalam sekejap, segera orang-orang berbaju kuning itu dikerumuni orang banyak dan ditanyai. Kawanan nelayan yang akan pulang itu berputar balik untuk mencari tahu apa yang terjadi.

Salah seorang berbaju kuning itu berteriak pula, "Saudara sekalian, lekas bangkai ikan itu ditanam saja dan janganlah sekali-kali dimakan."

"Kenapa tidak boleh dimakan?" tanya seseorang.

"Losinsian bilang ikan ini beracun dan dikirim oleh kaum iblis untuk membikin celaka manusia. Bila dimakan, segera akan mati keracunan," seru si baju kuning.

Berubah hebat air muka kawanan nelayan. Ada yang berkata, "Syukurlah Losinsian berada di sini, kalau tidak, tentu banyak nyawa akan melayang."

Diam-diam Tik Yang merasa lega. Mau tak mau, ia pun merasa heran. Ia tidak tahu siapa "Losinsian" atau si dewa tua yang dimaksudkan mereka itu sesungguhnya, mengapa kaum nelayan sedemikian percaya kepadanya? Ia coba mendekati seorang nelayan dan bertanya, "Numpang tanya, Losinsian yang disebut itu sebenarnya siapa?"

Nelayan itu mengamati dia sejenak, lalu menjawab dengan tertawa, "Agaknya Anda berdua kaum pelancong dari tempat lain sehingga tidak tahu siapa Losinsian."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment