Halo!

Han Bu Kong - Chapter 113

Memuat...
Han Bu Kong

Chapter 113

"Beliau adalah seorang tua yang serba pintar. Dari ilmu bintang sampai ilmu bumi, semuanya dipahaminya. Beliau boleh dikatakan serba tahu dan serba bisa; di dunia ini tidak ada bandingannya."

Tik Yang mengucapkan terima kasih, lalu mengajak Ih Loh pulang ke hotel.

"Losinsian ini tentu seorang *kosen* (orang sakti). Jika sempat, ingin kutemui dia," kata Ih Loh.

"Orang *kosen* apa? Kukira cuma sebangsa dukun saja," ujar Tik Yang.

"Kalau cuma dukun, bagaimana caranya dia tahu bangkai ikan beracun dan menyuruh orang jangan memakannya?" kata Ih Loh.

"Kawanan nelayan itu memang banyak yang tahayul, tapi tidak semuanya orang bodoh," sahut Tik Yang tanpa membantah lebih lanjut.

Sepulang di hotel, tampak Lamkiong Peng dan Yap Man-jing duduk berhadapan dalam diam di ruang duduk. Segera Tik Yang menceritakan apa yang dilihatnya tadi. Tentu saja orang yang memesankan kamar bagi mereka mengantarkan lagi berbagai santapan, tapi setelah kejadian ikan mati keracunan tadi, mana berani mereka memakannya? Mereka menyuruh pelayan membeli ratusan telur ayam untuk direbus sebagai pengisi perut. Meski mereka tidak banyak bicara lagi, dalam diam mereka sama-sama merasakan urusan bertambah gawat. Dengan perasaan tertekan, mereka kembali ke kamar masing-masing.

Lamkiong Peng tidak dapat memejamkan mata; pikirannya bergolak. Teringat olehnya akan kedua orang tua, terkenang juga kepada guru dan saudara seperguruan, juga kawan dan kerabat lain. Malam bertambah larut, namun ia tetap sukar terlelap. Selagi suasana sunyi senyap, tiba-tiba terdengar suara mendesir di luar jendela, suara kain baju tertiup angin, menyusul suara "cit-cit" dua kali.

Tergerak hati Lamkiong Peng, ia segera bangun. Terdengar suara mencicit dua kali lagi di luar, suara seperti bunyi serangga di malam sunyi. Ia masih ingat dahulu ketika baru saja masuk perguruan, di antara beberapa saudara seperguruan sering berkumpul untuk bermain sembunyi-sembunyi demi melatih *ginkang* (ilmu meringankan tubuh). Waktu itu mereka masih muda belia. Liong Hui sudah meningkat dewasa, namun pikirannya masih serupa anak kecil; ia membawa para *sute* dan *sumoay* bermain kucing-kucingan di hutan agar tidak dirasakan sedang berlatih *ginkang*, melainkan seperti permainan kanak-kanak biasa.

Seketika Lamkiong Peng terkenang kejadian masa lalu; semua itu seperti baru terjadi kemarin.

"Hah, jangan-jangan *Toasuheng* yang datang!" tiba-tiba timbul pikirannya.

Ia segera membuka jendela dan melihat sesosok bayangan orang mendekam di emper rumah depan sembari menggapai ke arahnya. Tanpa pikir panjang, Lamkiong Peng keluar. Ia melihat bayangan orang itu sudah melompat ke halaman rumah lain dan berdiri di bawah pohon rindang. Saat Lamkiong Peng menyusul ke sana, dalam kegelapan, samar-samar ia dapat mengenali bayangan itu. Ternyata *Samsuheng*-nya, Ciok Tim, yang sudah lama berpisah.

Sungguh girang sekali Lamkiong Peng. Ia cepat memegang tangan Ciok Tim dan berkata, "*Samsuheng*, engkau..." Seketika kerongkongannya terasa tersumbat dan sukar bersuara. Dalam kegelapan, terlihat Ciok Tim yang dulu gagah dan cakap kini menjadi sangat kurus, mukanya pucat, matanya cekung, dan guram sinar matanya.

Lamkiong Peng merasa duka, pedih, sekaligus girang. Didengarnya Ciok Tim berkata, "Kudengar engkau datang kemari, maka aku segera menyusul ke sini." Suaranya terdengar berat dan perlahan, tidak bersemangat lagi seperti dulu.

"Kalau sudah datang, mengapa *Samsuheng* tidak masuk ke kamarku?" tanya Lamkiong Peng.

Ciok Tim menggeleng. Sorot matanya yang guram menampilkan rasa duka dan hampa. Ia berkata, "Aku tidak mau masuk. Aku cuma ingin memberitahukan padamu, jangan kaupercayai omongan orang dan jangan menyanggupi sesuatu kepada siapa pun. Hanya... hanya sekianlah pesanku."

Lamkiong Peng tertegun sejenak, lalu bertanya, "Baik-baik sajakah selama ini, *Samsuheng*? Tentu *Toaso* dan yang lain juga berada bersamamu?"

Ciok Tim termenung sambil memandang bintang di langit, lalu menjawab, "Aku ini orang sial dan berdosa. Selanjutnya jangan kauanggap lagi diriku sebagai *suheng*-mu. Sebaiknya anggap aku sudah mati."

"Kenapa *Suheng* bicara seperti ini? Apa pun yang terjadi, engkau adalah *Suheng*-ku," kata Lamkiong Peng dengan terharu.

Ciok Tim menggeleng dan menghela napas, "Engkau... engkau tidak tahu... Sudahlah, hendaknya kaujaga dirimu dengan baik. Aku pergi saja."

Habis bicara, ia segera melayang pergi. Hanya sekejap saja, ia sudah menghilang dalam kegelapan. Suasana kembali sunyi. Angin mendesir, sementara Lamkiong Peng berdiri di halaman yang luas dan gelap itu dengan perasaan tertekan. Ciok Tim adalah salah satu dari lima saudara seperguruannya yang gagah dan tangkas. Namun sekarang ia tampak lesu, sedih, dan putus asa. Jika tidak mengalami pukulan batin yang hebat, tentu takkan membuatnya jadi begini. Sejak berpisah di Huasan dahulu, mereka terpencar dan sudah hampir setahun tidak berjumpa. Sekarang Ciok Tim terburu-buru pergi lagi; memangnya apa yang dihindarinya?

Begitulah perasaan Lamkiong Peng bergolak, pedih dan haru. Tanpa terasa air mata pun meleleh, terutama bila mengingat pengalamannya sendiri. Di bawah bayangan pohon yang bergerak tertiup angin, sekilas tampak di sisinya sesosok bayangan ramping. Lamkiong Peng segera berpaling; kiranya Yap Man-jing yang berdiri di sana. Dengan tercengang, si nona menatapnya.

"Engkau menangis?" tanya nona itu.

"Tidak," cepat Lamkiong Peng memperlihatkan senyumnya, namun tidak dapat menutupi bekas air mata pada pipinya.

"Malam dingin dan banyak embun, lekas pulang ke kamar saja," ucap Man-jing dengan lembut.

Lamkiong Peng memandangnya sejenak sambil mengangguk, lalu kembali ke kamar. Ia duduk termenung, rasa kantuknya hilang sama sekali. Suasana sunyi senyap, pikirannya bergolak, berbagai urutan kejadian seakan-akan terbayang lagi olehnya.

Entah berapa lama ia melamun, sekonyong-konyong terdengar orang melangkah di serambi luar. Sejenak kemudian mendadak terdengar suara bentakan Yap Man-jing, "Lari ke mana, bangsat!"

Menyusul dua sosok bayangan orang melayang lewat ke atas rumah, terus kabur ke arah barat. Tanpa pikir panjang, Lamkiong Peng melompat keluar lagi melalui jendela dan memburu ke sana. Selama hampir setahun berdiam di Cusinto dan mempelajari berbagai ilmu sakti dari kitab pusaka yang dibacanya, kemajuan *ginkang*-nya sekarang sudah sukar diukur. Maka hanya sekejap saja, kedua orang tadi sudah dapat disusulnya.

Saat ia mengamati, yang lari di depan adalah seorang lelaki berpakaian ringkas, sedangkan yang mengejar di belakang bertubuh ramping dan berambut panjang—jelas itu Yap Man-jing. Lamkiong Peng mempercepat langkahnya, hanya sejenak saja jarak mereka tinggal belasan tombak. Tiba-tiba lelaki itu berhenti di depan pohon besar. Begitu menubruk maju, Yap Man-jing segera menyerang dengan ganas dan keji tanpa kenal ampun. Hanya beberapa gebrakan saja, dengan suatu serangan pancingan, telapak tangan Yap Man-jing berhasil menabas pundak lawan, bahkan dada orang itu lantas dihantamnya lagi.

"Tahan dulu, Nona Yap!" seru Lamkiong Peng.

Namun sudah terlambat, dada orang itu sudah terkena genjotan Yap Man-jing hingga memuntahkan darah dan terjungkal. Lamkiong Peng memburu maju dan memeriksa pernapasan orang itu; ternyata sudah putus napas.

"Bangsat rendah, mati pun murah baginya," damprat Yap Man-jing penasaran.

"Mestinya ditawan dulu untuk dimintai keterangan," ujar Lamkiong Peng. "Sesungguhnya apa yang sudah terjadi sehingga engkau sedemikian marah?"

"Coba kauperiksa benda apa yang dibawanya!" kata Man-jing.

Waktu Lamkiong Peng berjongkok, dikeluarkannya sesuatu dari baju lelaki itu; ternyata sebuah tempurung berbentuk ceret dengan leher panjang terbuat dari timbel. Dari mulut leher ceret terendus bau harum yang aneh.

"Oh, kiranya seorang maling cabul," ujar Lamkiong Peng.

Kiranya tempurung timbel berbentuk ceret itu berisi semacam asap bius, biasanya digunakan manusia rendah yang suka merusak perempuan; korbannya dibius lebih dulu, lalu dikerjainya.

"Coba, bangsat kotor semacam ini buat apa dibiarkan hidup?" damprat Yap Man-jing pula.

Lamkiong Peng berpikir sejenak, katanya kemudian, "Tapi urusan ini tentu tidak sesederhana itu. Bukan mustahil orang ini ada hubungannya dengan kelima kelompok orang yang mengantar makanan kepada kita tadi." Sejenak kemudian, mendadak ia berteriak pula, "Celaka! Ayo lekas kembali ke hotel!"

Sembari bicara, ia terus mendahului berlari kembali ke arah semula. Seketika Yap Man-jing juga menyadari apa yang mungkin terjadi, tanpa ragu segera ia menyusulnya. Setiba di hotel, cepat Lamkiong Peng mendatangi kamar Tik Yang suami istri dan berteriak, "Tik-heng..."

Namun, sampai beberapa kali ia bicara, tetap tidak ada jawaban. Tanpa ayal, ia mendobrak pintu dan menerjang ke dalam. Ternyata kamar sudah kosong; bayangan Tik Yang dan Ih Loh tidak kelihatan lagi, bahkan rangsel, senjata, dan barang lain pun tidak ada.

"Ke mana mereka?" tanya Man-jing.

Lamkiong Peng mengernyitkan kening, ia termenung tanpa menjawab.

"Coba kaucium, rasanya masih ada bau harum khas itu," kata si nona pula.

"Ya, urusan ini agak janggal," ujar Lamkiong Peng. "Rasanya tidak mudah untuk menyelidiki urusan ini."

"Rasanya kita harus mulai menyelidiki dari kelima kelompok pengantar makanan itu," ujar Man-jing.

"Ya, dan hal ini pun jelas tidak mudah dan sederhana," kata Lamkiong Peng. "Baru lewat tengah malam, percuma kita gelisah di sini. Marilah kembali ke kamar, besok kita mencari akal lagi."

Esoknya, setelah berunding, Yap Man-jing sementara tinggal di hotel untuk mengawasi keadaan, sementara Lamkiong Peng keluar untuk mencari keterangan. Menjelang lohor, barulah Lamkiong Peng kembali ke hotel. Segera Yap Man-jing menyongsongnya dan bertanya adakah sesuatu yang ditemukan.

"Bawa senjatamu dan mari ikut pergi," kata anak muda itu.

Cepat keduanya membawa pedang dan merapatkan pintu kamar, lalu meninggalkan hotel, langsung keluar kota dan berlari ke arah barat.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment