Chapter 114
Yap Man-jing berlari mengejar Lamkiong Peng sambil bertanya ke mana mereka akan pergi.
"Setahuku, kelompok orang yang mengantar makanan dan memesan kamar bagi kita bukan hanya ada sangkut pautnya dengan Yim Hong-peng, hilangnya Tik Yang dan Ih Loh pun berhubungan erat dengan dia," tutur Lamkiong Peng.
Man-jing mendongkol karena jawaban itu tidak sesuai dengan pertanyaannya. Ia berkata, "Yim Hong-peng kan tinggal di barat laut yang jauh, kenapa sekarang dia lari ke daerah Kanglam?"
"Selama setahun ini, siapa yang berani menjamin tidak akan terjadi perubahan?" ucap Lamkiong Peng. "Bukan mustahil sekarang pengaruh Yim Hong-peng sudah merata hingga ke utara dan selatan sungai ini."
"Perubahan dan pengaruh Yim Hong-peng apa maksudmu?" tanya Man-jing.
Lamkiong Peng tertegun, namun segera teringat ketika ia berada di kota Tiang-an di barat laut dulu. Saat itu, Yim Hong-peng memberi keterangan bahwa Swe Thian-bang berniat merajai dunia persilatan. Hal ini hanya didengar oleh Bwe Kim-soat, Tik Yang, dan dirinya sendiri. Yim Hong-peng memang licik dan licin; segala usahanya dilakukan secara terselubung, sehingga Yap Man-jing tidak tahu seluk-beluknya.
Maka Lamkiong Peng menjawab, "Terlalu panjang untuk menceritakan urusan ini. Kelak tentu akan kuberitahu, sekarang lekas kita menuju ke Lam-san."
Segera mereka berlari lebih cepat. Tidak lama kemudian, mereka sudah sampai di lereng gunung, di mana jalan setapak semakin sulit ditempuh. Lamkiong Peng berhenti dan berkata kepada Yap Man-jing, "Jalan ini sempit dan sukar dilalui. Anak buah Yim Hong-peng pasti juga akan berhenti di tempat ini. Biarlah kita menunggu di sini dan menyergap mereka. Sekarang kita istirahat dan menghimpun tenaga, bisa jadi akan berlangsung pertempuran sengit nanti."
Habis bicara, mereka lantas mencari tempat berlindung dan duduk di kaki batu karang yang terjal. Tidak lama kemudian, benar saja terdengar suara gemertak dari kejauhan, suara roda kereta dan ringkik kuda yang makin mendekat. Cepat Lamkiong Peng dan Yap Man-jing bangkit dan menyelinap ke belakang batu. Hanya sebentar saja, suara kereta kuda itu sudah dekat.
Karena latihannya selama tinggal di Cu-sin-to, kini ketajaman mata Lamkiong Peng dalam kegelapan sudah serupa di siang hari. Waktu ia mengawasi pendatang itu, tampak sebuah kereta berkabin ditarik dua ekor kuda; di depannya ada tujuh orang penunggang kuda. Kira-kira tiga tombak di depan batu tempat persembunyian, ketujuh penunggang kuda itu berhenti. Dua lelaki pengendara kereta melompat turun dan berlari ke samping kereta untuk membuka tabir hitam, lalu menyeret dua orang turun.
Begitu melihat kedua orang yang diseret turun itu, seketika hati Lamkiong Peng bergetar. Rupanya kedua orang itu adalah Tik Yang dan Ih Loh. Keduanya kelihatan berlumuran darah, rambut kusut, dan baju robek sehingga hampir setengah telanjang.
Lamkiong Peng tidak tahan. Mendadak ia melompat keluar sambil bersuit panjang, lalu melolos pedang pusaka "Yaoloh" dan terus menubruk maju.
Yang mengepalai ketujuh penunggang kuda itu adalah seorang kakek berusia 50-an. Sembari menghindari tusukan Lamkiong Peng, ia berteriak, "Hei, sahabat, selamanya kita tidak kenal, kenapa tanpa bicara kau main serang?"
Mata Lamkiong Peng tampak merah membara. Dengan gencar ia menyerang lagi tiga kali. Kakek itu mengelak dan menyurut mundur sambil berseru, "Apa pun urusannya, hendaknya bicara dulu..."
"Urusan apa? Binasa kalian dulu!" teriak Lamkiong Peng dengan murka.
Pedang pusaka berkelebat. Dengan ilmu pedang Lam-hoat yang dipelajarinya di Cu-sin-to, ia menebas dengan sangat kencang. Sembari berkelit kian kemari, kakek itu tahu sia-sia saja ia bicara. Cepat ia menanggalkan senjatanya, yaitu cambuk sepanjang tiga meter, dan secepat kilat menyabet pergelangan tangan Lamkiong Peng yang memegang pedang. Dari bertahan, ia berbalik menyerang.
Lamkiong Peng tidak menduga kelihaian kakek ini. Namun, anak muda ini bukan lagi anak muda yang dahulu. Sekali pedang berputar, sambil mengelak dari cambuk lawan, pedang terus menebas pinggang musuh. Si kakek tidak menduga anak muda itu dapat bergerak secepat itu. Baru saja merasakan cambuknya mengenai tempat kosong, tahu-tahu pinggangnya sudah terancam. Ia tidak sempat melompat mundur lagi; kontan pinggangnya tertabas, darah berhamburan ke mana-mana.
Tanpa ayal, Lamkiong Peng terus menerjang maju lagi. Seperti burung terbang, ia tubruk ke tengah kawanan lelaki berbaju hitam. Kawanan lelaki itu juga telah diterjang oleh Yap Man-jing. Walaupun tidak sampai kocar-kacir, mereka kalang kabut menghadapi kelihaian Yap Man-jing. Sekarang ditambah lagi Lamkiong Peng, keruan barisan mereka menjadi kacau, dan dua orang tewas di bawah pedang Lamkiong Peng.
Dua orang lagi sedang menjaga Tik Yang dan Ih Loh di belakang kereta. Melihat keadaan tidak menguntungkan, segera timbul pikiran untuk kabur. Dalam pada itu, dua lelaki berbaju hitam lainnya tidak tahan menghadapi kelihaian pedang Lamkiong Peng; perut mereka tertembus pedang hingga tewas.
Sekali lompat, Lamkiong Peng memburu kedua orang yang menjaga Tik Yang bersama istrinya itu. Tentu saja kedua orang itu kaget dan cepat melompat mundur. Selagi Lamkiong Peng hendak menubruk maju lagi, sekonyong-konyong ada orang membentak di belakangnya, "Berhenti!"
Tanpa terasa Lamkiong Peng berpaling. Dilihatnya tidak jauh di belakang berdiri empat sosok bayangan tinggi besar. Waktu itu sudah tengah malam, rembulan tepat menghiasi cakrawala sehingga menerangi keempat orang itu. Ternyata seorang yang paling depan ialah Ban-li-liu-hiang Yim Hong-peng. Dua orang di sebelah kirinya adalah dua sahabat dari Binsan, yaitu Tiangsun Tan dan Tiangsun Kong. Sedangkan seorang di sebelah kanan tidak dikenalnya, seorang kakek kereng berbaju hitam panjang dengan rambut terikat tinggi di atas kepala, sepasang tombak pendek berwarna emas terselip di pinggang.
Kedatangan Yim Hong-peng sebenarnya sudah dalam dugaan Lamkiong Peng, sebab itulah ia tidak heran atau terkejut. Sebaliknya, Yim Hong-peng yang merasa heran. Perlahan ia mendekati Lamkiong Peng dan menyapa, "Selamat, Lamkiong-heng. Selama berpisah ini, konon setiap orang yang masuk ke Cu-sin-to tidak pernah ada yang pulang dengan hidup. Tampaknya Lamkiong-heng tergolong yang paling beruntung."
"Bilamana aku tidak dapat pulang ke sini, tentu Yim-heng merasa senang," jengek Lamkiong Peng.
"Ah, kenapa Lamkiong-heng bicara demikian? Sama sekali tidak ada pikiran begitu padaku," kata Yim Hong-peng. "Harap Lamkiong-heng jangan salah paham. Justru suasana dunia persilatan sekarang kacau-balau, ada maksudku mengajak Lamkiong-heng untuk mengadakan penataran..."
Belum habis ucapannya, Lamkiong Peng memotong, "Ah, apa kepandaianku? Mana berani kuterima tugas berat itu. Rasanya Yim-heng salah sasaran."
"Haha, kukira Lamkiong-heng terlalu rendah hati," seru Yim Hong-peng sambil tertawa. "Bilamana mengingat tempo hari ketika Lamkiong-heng mengalahkan Giok-yang di restoran Thian-tiang-lau, menerobos ke Boh-Hong-ceng untuk mencari obat bagi Tik Yang, kemudian menuju ke Cu-sin-to dan pulang lagi dengan selamat, semua peristiwa keperkasaanmu sudah tersiar luas. Tentang kecerdasan dan kemahiran kungfu Anda sudah lama dikagumi Swe-sian-sing. Bila beliau dapat memperoleh bantuan Lamkiong-heng, berani kukatakan dalam setahun saja dunia persilatan seluruh Tionggoan pasti akan dikuasainya."
Pada saat itulah mendadak terdengar Yap Man-jing membentak sambil menubruk maju, "Mau ke mana?!"
Waktu Lamkiong Peng menoleh, kiranya kedua lelaki berbaju hitam yang menjaga Tik Yang dan Ih Loh tadi diam-diam hendak melangkah pergi. Karena bentakan Man-jing, keduanya lantas berhenti dan memandang Yim Hong-peng.
"Sungguh aku tidak mengerti sebab apa Yim-heng sampai memperlakukan Tik-heng dan istrinya dengan cara begini?" tegur Lamkiong Peng.
"Kawanan jembel Yukui sudah menggabungkan diri dengan Swe Thian-bang untuk bekerja sama. Ih Hong menghendaki adik perempuannya juga mengikuti jejaknya, maka aku diminta kemari untuk membawanya pulang ke utara," tutur Yim Hong-peng.
"Hm, kalau cuma menghendaki Ih Loh juga bergabung dengan Swe Thian-bang, mengapa Yim-heng perlu menggunakan dupa bius segala? Sungguh aku tidak mengerti," ejek Lamkiong Peng.
"Seluk-beluk urusan ini tidak dapat dijelaskan dengan singkat. Soalnya kukhawatir menimbulkan salah paham, terpaksa menggunakan cara kurang terhormat itu," jawab Hong-peng.
"Lantas bagaimana dengan Tik Yang, dia juga perlu kau tawan?" jengek Lamkiong Peng pula.
"Mereka sudah terikat menjadi suami-istri, dengan sendirinya satu sama lain harus satu tujuan," kata Hong-peng.
"Aku cukup kenal jiwa dan kepribadian Tik-heng. Meski mereka sudah terikat menjadi suami-istri, jika persoalannya menyangkut kepribadian, tidak nanti dia mau ikut secara ngawur."
"Haha, mungkin Lamkiong-heng tidak tahu bahwa ketika dulu Tik-heng keracunan dan mendekati ajal, syukurlah ditemukan Ih Loh dan berusaha menolongnya dengan sepenuh tenaga. Jadi, Tik Yang sesungguhnya utang budi kepada istrinya. Kalau Ih Hong sudah bergabung dengan Swe Thian-bang, dengan sendirinya Ih Loh takkan membangkang dan mengikuti jejak sang kakak. Lalu, Tik Yang apakah dapat mengingkari kehendak istri sendiri?"
"Kawanan jembel Yukui terkenal jujur dan lurus. Sasaran mereka kebanyakan adalah orang kaya yang tidak berbudi atau pembesar korup. Biasanya mereka juga membantu yang miskin dan menolong yang lemah, hal ini cukup diketahui setiap orang kang-ouw. Apalagi Ih Hong terkenal tinggi hati dan menyendiri, masa dia rela menjual kehormatan sendiri dan bergabung dengan Swe Thian-bang?"
Man-jing tahu bila perang dingin akan segera berubah menjadi perang tanding, maka diam-diam ia mendekati Lamkiong Peng. Yim Hong-peng memandang Man-jing sekejap, katanya, "Pada waktu Lamkiong-heng berangkat ke lautan dulu, pada waktu yang sama Leng-hia-thui-cu juga menghilang."