Halo!

Han Bu Kong - Chapter 115

Memuat...
Han Bu Kong

Chapter 115

Kawan-kawan kaugouw umumnya menyangka dia berangkat bersama Lamkiong Heng ke Cu-sin-to; siapa sangka yang pulang bersamamu ternyata Nona Yap.

"Apakah Leng-hiat-huicu memang betul telah hilang?" Lamkiong Peng bergelak tertawa. "Hahaha, hal ini apakah sangat mengecewakan Yim-heng? Bahwa Bwe Kim-soat tidak berada bersamaku sehingga maksud Yim-heng untuk sekaligus menjaringnya tidak tercapai, maka engkau menyesal, bukan?" Mendadak anak muda itu berubah bengis dan berteriak, "Yim Hong-peng, berturut-turut kau kirim lima kelompok orang untuk mengantar makanan beracun dan bermaksud meracun Tik Yang; syukur muslihatmu dapat diketahui Tik Yang. Karena gagalnya rencana itu, kaupasang perangkap lagi di hotel itu sehingga akhirnya Tik Yang suami-istri tertawan. Untung aku dan Nona Yap sempat lolos karena sebelumnya engkau tidak menyangka aku akan ikut pulang dan tidak memberitahukan kepada anak buahmu yang memang tidak mengenal diriku. Haha, ternyata di antara anak buahmu terdapat juga kaum rendah yang suka menggunakan dupa bias sehingga dapat kubongkar kelicikanmu!"

"Diam!" bentak Yim Hong-peng.

Orang-orang yang berdiri di samping Yim Hong-peng sejak tadi tidak ada yang bersuara. Jelas karena disiplin Swe Thian-bang cukup tegas dan mereka harus tunduk kepada Yim Hong-peng. Sekarang kakek bengis berbaju hitam panjang dan bersenjata sepasang tombak pendek itu tampaknya tidak tahan lagi. Ia melangkah maju dan membentak, "Anak kurang ajar, kau kira tidak ada orang berani menghadapimu di sini?"

Lamkiong Peng meliriknya sekejap, tanyanya dengan tertawa kepada Yim Hong-peng, "Apakah cianpwe ini adalah jago kepercayaan Swe Thian-bang yang terkenal dengan sepasang tombak pencabut nyawa, Ko Tiong-hai, Ko taihiap adanya?"

"Betul, beliau memang Ko loenghiong," jawab Yim Hong-peng.

"Sudah lama kudengar kedua tombak Ko taihiap maha sakti, sungguh beruntung bila hari ini dapat berkenalan," seru Lamkiong Peng dengan tertawa.

Ko Tiong-hai memandang Yim Hong-peng sekejap, agaknya minta persetujuannya sebelum turun tangan. Namun, Yim Hong-peng diam saja.

"Kenapa Yim-heng tidak mengangguk?" ejek Lamkiong Peng.

Mendadak Ko Tiong-hai membentak terus menerjang maju. Dia tidak menarik tombaknya, melainkan menggunakan kedua telapak tangan untuk menghantam sekaligus. Lamkiong Peng sudah siap siaga; kedua tangan menangkis sambil meraih pergelangan tangan lawan, berbareng sebelah kaki menendang perut.

Kaget juga Yim Hong-peng melihat ketangkasan Lamkiong Peng; hanya setahun berpisah, ternyata kungfu anak muda ini sudah maju pesat. Ko Tiong-hai tidak gentar, cepat ia menarik tangan dan menyurut mundur, menyusul telapak tangan memotong pula ke lambung lawan.

Di sebelah sana lantas terdengar juga bentakan Yap Man-jing; rupanya ia pun mulai melabrak Binyu. Terkejut juga Ko Tiong-hai melihat pukulan Lamkiong Peng yang dahsyat, cepat ia tangkis. Tak disangka, sekali ini Lamkiong Peng hanya melakukan serangan pancingan saja. Ia melancarkan "Ta-mo Cap-pek-sik" yang pernah dipelajarinya di pulau itu. Hanya saja dia belum menyelaminya secara mendalam, walaupun begitu untuk melayani Ko Tiong-hai tetap dapat membuatnya kelabakan dan terdesak mundur.

Yim Hong-peng menyaksikan serangan Lamkiong Peng itu, teriaknya, "Hah, Ta-pek-sik!"

"Bagus, boleh kalian rasakan kelihaianku," ejek Lamkiong Peng. "Kalau tahu gelagat, hendaklah lekas lepaskan Tik Yang berdua sebelum terlambat."

Karena terdesak, dahi Ko Tiong-hai mulai berkeringat dan ia mencari jalan untuk mematahkan serangan lawan. Pada saat itulah mendadak terdengar bentakan Binyu; rupanya Yap Man-jing kelihatan kewalahan dikerubut mereka, sambil menangkis sebisanya ia terdesak mundur.

"Coba kau mampu bertahan berapa lama lagi!" teriak Tiangsun Kong sambil melangkah maju, pedang berputar terus menebas pinggang lawan. Tiangsun Tan tidak tinggal diam, berbareng ia pun mengitar ke samping, secepat kilat pedang menusuk punggung Yap Man-jing.

Dalam keadaan diserang dari muka dan belakang, tentu saja keadaan cukup gawat bagi Yap Man-jing; sedapatnya ia menangkis dan mengelak. Namun sayang tenaganya sudah lemah, langkahnya sempoyongan sehingga pundak kanan tertusuk pedang Tiangsun Tan. Ia bersuara tertahan; pada saat itu juga pedangnya terkacip oleh kedua pedang Tiangsun Kong sehingga terlepas. Tanpa ayal Tiangsun Kong terus menubruk maju, sekaligus ia tutuk dua hiat-to si nona; kontan Man-jing roboh terkulai.

Tanpa berhenti, Binyu terus memburu ke sana dan mengerubut Lamkiong Peng bersama Ko Tiong-hai. Lamkiong Peng menjadi murka, ia bersuit panjang, pedang Yap-loh dilolosnya, sekali berputar, ketiga lawan didesak mundur. Ko Tiong-hai tertawa dingin, segera ia pun putar sepasang tombak emas dan menyerang lebih gencar. Meski tinggi ilmu silat Binyu, bila dibandingkan Lamkiong Peng sekarang mereka rada kewalahan juga sehingga berulang kali terdesak mundur. Untung Ko Tiong-hai terus menyerang dengan lihai sehingga Lamkiong Peng tidak dapat mendesak lebih lanjut.

Anak muda itu menyadari untuk lolos begitu saja rada sukar, apalagi dia harus memikirkan Yap Man-jing. Dilihatnya di antara ketiga lawan hanya Tiangsun Tan yang paling lemah, segera ia ganti siasat; lawan paling lemah itulah yang terus dicecar. Tentu saja Ko Tiong-hai dan Tiangsun Kong dapat meraba maksud Lamkiong Peng, keduanya seperti sudah berjanji lebih dulu, serentak mereka pun menyerang lebih gencar.

Belasan jurus pula, Lamkiong Peng mulai tidak tahan. Dikerubut tiga tokoh kelas tinggi seperti itu, betapa tangkas anak muda itu pun tetap kerepotan. Yim Hong-peng tersenyum girang melihat kawannya berada di atas angin.

Mendadak Ko Tiong-hai membentak, kedua tombak emas bekerja naik-turun; tombak tangan kanan segera menusuk iga kiri Lamkiong Peng, tombak tangan kiri secepat kilat menyabet tangan kanan anak muda itu yang berpedang. Binyu serentak juga menghujamkan pedang mereka ke tubuh Lamkiong Peng.

Dengan kalap, Lamkiong Peng putar pedangnya, "sret-sret-sret" tiga kali, berturut-turut ia melancarkan tiga jurus serangan. Walau tetap sukar menghadapi kerubutan tiga tokoh tangguh ini, tombak Ko Tiong-hai tertangkis, sekuatnya pedang lantas menusuk dada Tiangsun Tan. Tusukan ini cepat lagi di luar dugaan. Telanjur Tiangsun Tan hendak melompat mundur, namun sudah kesiangan; ia menjerit ngeri dan dadanya tertembus pedang.

Lamkiong Peng tertawa seram sambil menarik pedang. Pada saat itu kedua pedang Tiangsun Kong juga sempat menebas sehingga membuat luka panjang pada bahu kirinya, darah lantas muncrat. Malahan tombak kiri Ko Tiong-hai pada saat yang sama juga menancap di paha kanan Lamkiong Peng. Dengan nekat Lamkiong Peng ayun pedangnya dan mendesak mundur Tiangsun Kong dan Ko Tiong-hai yang hendak menyerang lagi sehingga tombak emas tidak sempat ditarik Ko Tiong-hai dan masih menancap di paha. Belum pernah Ko Tiong-hai melihat orang setangkas ini, seketika ia melongo bingung.

Tiangsun Kong sangat sedih atas gugurnya sang adik, dengan meraung kalap ia menubruk maju lagi. Mendadak Lamkiong Peng berteriak seram, "Putliong, naga sakti tak termatikan!" Berbareng ia cabut tombak emas yang menancap di pahanya itu, tanpa diperiksa terus dilemparkan ke belakang.

Kematian Tiangsun Tan membakar hati Tiangsun Kong sehingga serangannya yang kalap itu tidak terjaga sama sekali, apalagi ia mengira Lamkiong Peng pasti juga tidak mampu melawan lagi. Siapa tahu mendadak tombak emas menyambar tiba, keruan ia kaget, cepat kedua pedangnya disilangkan untuk menangkis. Namun tangkisannya ternyata meleset, tombak menerobos lewat dan "erat", tepat menancap di bahu kirinya; kontan ia menggeletak.

"Sungguh tidak malu sebagai murid Putliong!" ucap Ko Tiong-hai dengan kesal, perlahan ia mendekati Tiangsun Kong yang tak bisa berkutik itu.

Yim Hong-peng juga kesal, ucapnya, "Bilamana mempunyai pembantu sehebat ini, mustahil dunia takkan kukuasai!"

"Jangan mimpi!" bentak Lamkiong Peng. Baru bersuara, kembali ia tumpah darah, langkahnya sempoyongan dan akhirnya tidak tahan, "bluk", ia pun roboh terkapar.

Cepat Yim Hong-peng memburu maju, dengan beringas sebelah tangannya segera terangkat dan hendak dihantamkan pada Lamkiong Peng. Syukurlah sebelum pukulannya dilontarkan, mendadak seorang membentak di belakangnya, "Nanti dulu!"

Dengan terkejut Yim Hong-peng berpaling, dilihatnya tidak jauh di belakangnya berdiri seorang lelaki setengah umur yang bertubuh pendek kecil dan wajah tidak menarik. "Tunggu dulu, orang ini hendak kubawa pergi!" kata pendatang ini sambil melangkah maju.

Ko Tiong-hai lantas melompat maju sambil membentak, "Siapa kau?!"

Orang itu meliriknya sekejap dan berucap, "Gunung besar tinggi di kejauhan!"

Yim Hong-peng dan Ko Tiong-hai melengak, serentak mereka menjawab, "Hujan angin menyebarkan harum!"

Orang itu lantas mengeluarkan sepotong kayu cendana kecil dan diangkat ke atas sambil membentak, "Kalian kenal pening ini?"

"Kenal," jawab Yim Hong-peng dengan menunduk.

"Melihat pening ini serupa melihat orangnya," kata orang itu. "Sekarang hendak kubawa orang ini, kalian mempunyai pendapat?"

"Tecu tidak berani," jawab Yim Hong-peng.

Orang itu mendengus, didekatinya Lamkiong Peng dan berjongkok, anak muda itu diangkatnya, tanpa berpaling lagi ia melangkah pergi. Setelah bayangan orang setengah umur yang pendek kecil itu menghilang dalam kegelapan, barulah Yim Hong-peng bicara dengan kesal, "Entah sejak kapan Swe-sian-sing menerima lagi tokoh pembantu serupa ini, kenapa kita tidak mengenalnya?"

"Sudah lebih setengah tahun kita keluar," ucap Ko Tiong-hai. "Darah baru yang disedot Swe-sian-sing tentu saja tidak kita kenal sebelum diberitahu."

Sementara itu, orang tadi telah membawa lari Lamkiong Peng dengan cepat, kira-kira satu jam kemudian sampailah di depan hutan yang lebat.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment