Chapter 116
Di bawah cahaya rembulan, tampak dua ekor kuda sedang asyik merumput di bawah pohon besar. Di samping kuda-kuda itu, berdiri seorang perempuan cantik dengan wajah yang muram durja. Siapa lagi dia kalau bukan Bwe Kim-soat.
Begitu orang setengah umur itu mendekat, Kim-soat segera menyongsongnya. Ia memandang sekejap ke arah Lamkiong Peng yang dipanggul orang itu sambil bertanya, "Apakah parah lukanya?"
"Tenaga terkuras habis, darah keluar terlampau banyak," jawab orang itu.
"Untung aku datang tepat waktu. Jika tidak, jiwanya pasti sudah melayang di bawah tangan Yim Hong-Peng." Mata Lamkiong Peng terpejam rapat dengan wajah pucat pasi. Darah masih menetes dari punggung dan pahanya; keadaannya tampak kempas-kempis, tubuhnya kaku, dan kecuali dadanya yang bergerak pelan, ia hampir serupa dengan orang mati.
Dengan air mata berlinang, Kim-soat berucap dengan sedih, "Begitu parah lukanya, entah dia tahan sampai bertemu dengan gurunya atau tidak?"
"Kuyakin dia bukan pemuda yang pendek umur," ucap orang setengah umur itu. "Kupercaya pasti akan timbul keajaiban dan kau dapat menyelamatkannya."
Kim-soat tidak bicara lagi; ia memondong Lamkiong Peng dari tangan orang tersebut.
"Jaga dia dengan baik, Nona, aku pergi sekarang," kata orang itu.
"Adapun pening ini..."
"Kayu itu untukmu saja, bagiku pun tidak ada gunanya," jawab Kim-soat.
Orang itu mengucapkan terima kasih, segera ia meloncat ke atas kuda dan memacu kudanya pergi secepat terbang. Kim-soat pun lantas naik ke atas kudanya dan menyandarkan Lamkiong Peng di pangkuan. Dengan pelan, ia melarikan kudanya.
Menjelang fajar, sampailah Kim-soat di Sam-bun-wan. Ia langsung mendatangi sebuah hotel dan membawa Lamkiong Peng ke dalam kamar. Di dalam kamar ada tiga dipan; dua di antaranya sedang ditempati oleh dua sosok tubuh, yakni Putliong Liong Po-si dan Cucu Lamkiong Eng-lok. Dengan pandangan cemas, mereka menyaksikan Bwe Kim-soat masuk membawa Lamkiong Peng.
"Anak Peng terluka?" tanya Liong Po-si dengan khawatir.
Kim-soat mengangguk. Tanpa bersuara, ia membaringkan Lamkiong Peng di tempat tidur yang kosong itu.
"Siapa yang melukai dia?" tanya Lamkiong Eng-lok. Ia merangkak bangun dan mencoba memeriksa keadaan Lamkiong Peng, lalu katanya dengan lemah, "Ehm, cukup parah lukanya. Tapi jangan khawatir, akan kusembuhkan dia dalam waktu dua hari."
"Tidak, jangan kau sentuh dia," seru Liong Po-si.
Lamkiong Eng-lok menjawab dengan gusar, "Dia keponakanku sendiri, peduli apa denganmu?"
"Dia juga muridku," teriak Liong Po-si dengan parau.
"Sudahlah," dengan sedih Bwe Kim-soat memohon, "keadaannya sangat payah, kenapa kalian malah ribut sendiri?"
Kedua orang tua itu saling melotot sekejap, akhirnya tidak bicara lagi. Setelah sekian lama, barulah Lamkiong Eng-lok berkata kepada Kim-soat, "Selama belasan hari ini sudah kuajarkan seluruh ilmu pertabibanku kepadamu. Melihat kecerdasanmu, pasti sudah kaukuasai dengan baik. Kenapa sekarang tidak kaupraktikkan atas diri Anak Peng?"
"Tapi aku hanya... hanya menguasai teori saja dan belum pernah praktik, mungkin..." jawab Kim-soat dengan ragu.
"Aku mendampingimu, masa khawatir?" ujar Lamkiong Eng-lok. "Lekas kerjakan, keadaannya cukup gawat, tidak boleh ditunda lagi."
Kim-soat memandang Liong Po-si sekejap. Melihat orang tua itu hanya diam saja, akhirnya Kim-soat berkata, "Baik, akan kucoba."
Lamkiong Eng-lok tersenyum senang, katanya, "Sekarang kau pergi membeli sebuah jarum panjang, sebotol arak putih, dan segulung benang. Lekas, jangan terlambat!"
Cepat Kim-soat mengiakan dan pergi membeli barang-barang yang diperlukan. Sesudah segala keperluan siap, di bawah pengawasan Lamkiong Eng-lok, mulailah Bwe Kim-soat menggunakan jarum untuk menusuk beberapa hiat-to penting di tubuh Lamkiong Peng, kemudian mencuci lukanya dengan arak dan menjahit luka tersebut. Setelah sibuk sekian lama, akhirnya pekerjaannya selesai. Keadaan Lamkiong Peng ternyata cukup memuaskan; anak muda itu dapat tidur dengan nyenyak. Saking lelahnya, Kim-soat sendiri pun mengantuk, lalu mendekap di samping Lamkiong Peng dan terpulas.
Liong Po-si saling pandang dengan Lamkiong Eng-lok; keduanya tidak ribut mulut lagi. Sampai lama kemudian, ketika perlahan Lamkiong Peng bergerak, Kim-soat terjaga. Waktu Lamkiong Peng membuka mata dan melihat Kim-soat berada di sampingnya, tanpa terasa ia berseru, "Hah, kau Kim-soat..." Karena bersuara dan lukanya terguncang, ia meringis kesakitan.
"Jangan bergerak dan jangan bicara," kata Kim-soat. "Lukamu belum sembuh, beristirahatlah saja dengan tenang."
Sungguh terkejut, girang, dan terharu Lamkiong Peng saat melihat Bwe Kim-soat. Jika bisa, sungguh ia ingin melompat bangun dan merangkulnya. Ia memejamkan mata lagi, dengan suara pelan ia bertanya, "Kim-soat, apakah ini bukan dalam mimpi?"
"Jangan bicara dulu, istirahatlah dengan tenang," ucap Kim-soat dengan lembut.
Lamkiong Peng melihat pula Liong Po-si berbaring di tempat tidur lain. Perasaannya bertambah terangsang, serunya, "Ah, Suhu juga sudah pulang. Hai, Kim-soat, lekas ceritakan apa yang telah terjadi!"
"Sungguh panjang kalau diceritakan. Biarlah setelah engkau sehat baru kuberitahukan. Sekarang istirahat saja," kata Kim-soat sambil menotok hiat-to tidurnya.
Setelah Lamkiong Peng tertidur pula, barulah Liong Po-si membuka matanya. Katanya dengan menghela napas, "Sampai ribuan jurus aku bertempur dengan Lamkiong-loji di bawah hujan badai. Kupukul dia beberapa kali, aku pun kena dipukulnya beberapa kali. Tenaga murni kedua orang sama-sama terkuras habis. Tak disangka, selagi terombang-ambing di lautan, dapat ditemukan oleh Nona sehingga diselamatkan ke sini. Ai, selama hidup, Putliong sudah sering menghadapi maut; tak terduga sekali ini aku benar-benar akan mati di sini. Meski aku tidak takut mati, tapi aku merasa penasaran bila beberapa urusan belum kita bereskan."
"Di dunia kangouw, terkenal obat mujarab si tabib sakti Po Tan-Han yang dapat menghidupkan orang mati. Asalkan mendapatkan obat tersebut, tentu Liongcianpwee dapat disembuhkan," ucap Kim-soat.
"Obat mujarab si Po tua memang sangat bagus, namun ke mana akan mencari Po tua itu dan meminta obatnya?" ujar Liong Po-si dengan sedih.
Tengah bicara, pelayan mengetuk pintu dan memberitahu, "Makan siang, Tuan Tamu!"
"Masuk!" seru Kim-soat.
Habis pelayan mengantar santapan siang, mendadak masuk pula seorang tua. Liong Po-si terkejut melihat pendatang ini, kiranya sahabat sendiri yang sudah sekian lama tidak berjumpa, yaitu Thiki Suma Tiong-thian.
"Aha, baik-baik, Suma-heng!" seru Liong Po-si kegirangan.
"Dari mana kau tahu aku berada di sini?"
Suma Tiong-thian menghela napas, katanya, "Sesudah pertandingan di Hoasan dahulu, engkau lantas menghilang di dunia kangouw. Tersiar macam-macam cerita mengenai dirimu; ada yang bilang engkau dikalahkan Tan-hong dan bunuh diri, ada yang mengatakan engkau putus asa dan mengasingkan diri. Malahan ada yang bilang engkau pergi ke Cu-sin-to segala, dan tidak jelas yang mana yang benar."
Liong Po-si lantas menuturkan pengalamannya selama ini secara singkat.
"Wah, bilamana urusan ini tersiar, tentu dunia persilatan akan gempar," kata Suma Tiong-thian.
"Dan mengapa Suma-heng sampai di sini?" tanya Liong Po-si.
Akhirnya ia berkata dengan menyesal, "Malahan keluarga Lamkiong yang termasyhur juga tamat sekarang. Lamkiong Siang-ju mengasingkan diri di Thay-oh. Aku dipesan Lamkiong-hujin untuk mencari kabar Lamkiong Peng. Dalam perjalanan, aku bertemu dengan Ban Tat yang dahulu suka menumpang makan di rumah keluarga Lamkiong. Dari dia, diketahui Lamkiong Peng telah pulang ke sini, maka cepat kususul kemari."
Lalu Suma Tiong-thian menutur pula dengan suara pelan, "Dalam perjalanan, dapat kulihat berkumpulnya orang kangouw yang berbondong-bondong menuju kemari. Entah urusan penting apa yang akan terjadi di sini?"
Belum lenyap suaranya, mendadak di luar jendela ada orang tertawa dingin. Keruan mereka terperanjat.
"Siapa itu?" bentak Suma Tiong-thian, serentak ia melompat keluar melalui jendela.
Pada saat yang sama, Bwe Kim-soat menyelinap ke dalam kamar dan berseru, "Liong-locianpwee, keadaan cukup gawat..."
"Ada urusan apa, tampaknya Nona begitu gugup?" tanya Liong Po-si.
Belum lagi Bwe Kim-soat menjelaskan persoalannya, mendadak terdengar pintu digedor orang. Berubah air mukanya, cepat ia sambar pedang Lamkiong Peng yang terletak di tepi tempat tidur, lalu mendekati pintu dan membentak, "Masuk!"
Waktu pintu terkuak, di depan pintu berdiri seorang tua berusia antara 50-an, berjubah warna kelabu dengan wajah yang jelek.
"Siapa kau? Ada urusan apa?" bentak Kim-soat dengan kurang senang.
Kakek itu terkekeh, jawabnya, "Numpang tanya, bukankah di sini tinggal Put-si-sin-liong Liong Po-si dan Cu-sin-tian-cu?"
"Betul," jawab Kim-soat.
"Jika begitu, majikan kami ingin mengundangnya," kata kakek itu dengan khidmat sambil mengeluarkan sehelai kartu undangan berwarna hitam.
Kim-soat menerima kartu itu, pintu dirapatkan, lalu ia serahkan kartu itu kepada Liong Po-si. Terkesiap juga Liong Po-si setelah membaca tulisan pada kartu itu. Dengan singkat tertulis delapan huruf di situ yang berbunyi: "Para dewa telah bubar, Sin-liong hendaknya menyerah!"
"Hahaha!" Liong Po-si bergelak tertawa. "Hebat benar, Sin-liong disuruh menyerah! Aku justru ingin tahu tokoh kosen dari manakah yang mampu menyuruh orang she Liong ini menyerah?"
Pada saat itu juga, mendadak pintu terpentang dan seseorang menerobos ke dalam diikuti belasan begundalnya.
"Enyah!" bentak Kim-soat dengan murka. Tapi kakek tadi segera menghadapinya dan siap tempur.
"Nanti dulu!" tiba-tiba seorang setengah umur bermuka putih dan berdandan sastrawan membentak. Lalu katanya dengan tersenyum, "Maaf jika kawanku bersikap kasar."
"Siapa kalian!" bentak Kim-soat gusar.
"Caihe Sun Tiong-giok, putra Kun-mo-tocu," jawab lelaki bermuka putih itu. "Ini Ko Sat, satu di antara kesepuluh punggawa ayahku."