Chapter 117
"Maaf, karena kami tinggal jauh di luar lautan sana, mungkin kami kurang adat. Untuk itu, mohon dimaklumi." Ia berpaling kepada si kakek tadi dan berpesan, "Kalian keluar saja. Tanpa dipanggil, dilarang masuk." Si kakek yang disebut Ko Sat itu tampak sangat takut kepada Sun Tiong-giok. Dengan membungkuk-bungkuk, ia mengiakan dan mengundurkan diri bersama begundalnya.
"Anda ini tentu Putliong adanya, dan siapakah nona jelita ini?" tanya Sun Tiong-giok.
"Aku Bwe Kim-soat," jawab Kim-soat mendahului sebelum Liong Po-si sempat bersuara.
"Aha, kiranya Leng-hiat Huicu adanya. Sebelum kuberangkat, Ayah memang sudah memberi gambaran siapa saja yang mungkin akan kutemui di sini. Sungguh kebetulan sekaligus dapat berjumpa dengan Huicu di sini," kata Sun Tiong-giok sembari tertawa.
"Maksud Ayah, hendaknya Liong-taihiap menyerah. Untuk itu berarti perdamaian bagi dunia persilatan umumnya, kalau tidak, hehe..."
Liong Po-si tampak gusar. Mendadak matanya mendelik dan darah tersembur dari mulutnya. Pada saat itu juga, Suma Tiong-thian telah menerjang masuk lagi ke dalam kamar dan membentak, "Jangan sesumbar, anak muda! Sebelum menghadapi Liong-taihiap, hadapi dulu diriku!"
Sun Tiong-giok meliriknya sekejap, lalu mencibir, "Tampaknya di sini terlalu ramai. Biarlah tengah malam nanti kutunggu kalian di biara bobrok yang terletak di barat kota sana." Habis berkata, tanpa menanti jawaban, ia terus melangkah pergi.
Saking menahan gusar, kembali Liong Po-si memuntahkan darah.
"Engkau kenapa, Liong-heng?" tanya Suma Tiong-thian.
"Karena banyak bicara, luka dalam bertambah parah. Rasanya tidak jauh lagi ajalku," ucap Liong Po-si dengan suara lemah.
"Jangan khawatir, Liong-heng," kata Suma Tiong-thian. "Akan kuantar engkau pulang ke Ci-hau-san-ceng. Menjelajah ke ujung langit pun akan kucari tabib sakti untuk mengobati lukamu."
Liong Po-si tersenyum pedih. "Keadaanku sekarang ibarat pelita kehabisan minyak. Mumpung masih ada sisa tenagaku, sedapatnya akan kusalurkan semua tenaga murni kepada anak Peng. Nah, kemarilah, anak Peng..."
"Jangan, Suhu," seru Lamkiong Peng.
"Tidak, kau perlu menyadari keadaan yang gawat," kata Liong Po-si dengan lemah. "Saat ini musuh tangguh sudah mengintai di sekeliling kita, kawanan iblis membanjir dari barat, dunia persilatan Tionggoan terancam bahaya. Kautahu betapa berat tugas yang kauemban. Majulah ke sini, duduk di tepi ranjang!"
Lamkiong Peng tahu maksud sang guru, yaitu demi kepentingan dunia persilatan, ia hendak menyalurkan segenap tenaga murni agar kelak dapat digunakan untuk menghadapi musuh. Dengan ragu ia memandang sang guru, cemas dan terharu.
"Seorang lelaki sejati harus bertindak cepat dan tegas, kenapa seperti anak kecil saja? Duduklah di sini, anak Peng," kata Po-si lagi. Akhirnya, Lamkiong Peng duduk di tepi ranjang.
Lalu Liong Po-si berkata kepada Suma Tiong-thian dan Bwe Kim-soat, "Pada waktu kukerahkan tenaga, harap kalian berjaga sementara. Mungkin nanti aku tidak sempat lagi mohon diri, maka sekarang juga kuucapkan terima kasih kepada kalian. Nah, anak Peng, pusatkan pikiran dan kerahkan tenaga..."
Lamkiong Peng menurut dan memusatkan segenap pikiran untuk menerima anugerah tenaga dalam sang guru. Dengan tegang, Suma Tiong-thian dan Bwe Kim-soat memandangi mereka; suasana sunyi senyap.
Setelah sekian lama, tubuh Liong Po-si tampak gemetar. Selagi Suma Tiong-thian dan Kim-soat berdebar, sekonyong-konyong terdengar suara gemuruh, pintu kamar didobrak orang. Dengan terkejut, Suma Tiong-thian dan Bwe Kim-soat melompat; tampaklah serombongan orang menerjang ke dalam.
Dua orang paling depan ternyata Banhiang Yim Hong-peng dan Toat-beng-siang-jiang Ko Tiong-hai. Beberapa orang di belakang mereka adalah Thian-hong-jit-eng yang kelihatan kaku. Segera Kim-soat melolos pedang, Suma Tiong-thian juga menyiapkan tombaknya dan berjaga di depan tempat tidur.
"Ah, Nona Bwe, baik-baik selama berpisah!" sapa Yim Hong-peng dengan tertawa sambil menggoyangkan kipasnya.
"Baik, terima kasih," jawab Kim-soat dengan tersenyum.
Sekilas lirik, Yim Hong-peng melihat keadaan Liong Po-si dan Lamkiong Peng. Ia kelihatan heran, tapi segera berkata lagi dengan tertawa, "Wah, sungguh cepat amat Lam-kiong-kongcu ini, belum lama baru saja bertemu di Sam-bun-wan, tahu-tahu sekarang sudah berada di sini."
"Dia terluka parah dan Liong-taihiap sedang menyembuhkan dia," kata Kim-soat dengan lagak sedih.
Yim Hong-peng melongo, katanya, "Tersiar kabar bahwa Putliong menderita sakit parah, kenapa..."
"Kabar burung dunia kang-ouw mana boleh dipercaya," ujar Kim-soat dengan tertawa, "Kaulihat sendiri, dengan tenaga sakti beliau, Liong-taihiap telah menolong murid kesayangannya itu."
Dia cukup cerdik; sedapatnya berbohong untuk mengulur waktu dan ternyata Yim Hong-peng dibuat jeri. Namun, dengan tertawa Yim Hong-peng berkata pula, "Tahun lalu urusan yang kuberitahukan itu tentu sudah nona pertimbangkan dengan baik. Untuk itu, nona pun menerima pening Hong-hiang dari Swee-sian-sing, dan bagaimana keputusan nona?"
"Kayu itu sudah hilang," jawab Kim-soat dengan tertawa genit.
Air muka Yim Hong-peng berubah mendadak. Ko Tiong-hai melangkah maju dan membentak, "Jika pening itu kauhilangkan, harus kauganti dengan nyawamu!"
Kim-soat meliriknya sekejap, katanya kepada Hong-peng, "Eh, sejak kapankah Yim-taihiap memelihara seekor anjing galak begini?"
Ko Tiong-hai menjadi murka. Sambil meraung, ia menubruk maju, kedua tangan menghantam berturut-turut. Kim-soat mendengus, sambil mengegos, pedang terus menebas tangan lawan. Begitu tangan lawan ditarik kembali, segera pula ia menusuk tenggorokan orang tersebut. Keruan Ko Tiong-hai terkejut, cepat ia berkelit dan balas menyerang, dan begitulah terjadi pertarungan sengit.
"Untuk apa kalian berdiri saja!" bentak Yim Hong-peng terhadap Thian-hong-jit-eng, kawanan Elang Pelangi Langit.
Tampaknya Thian-hong-jit-eng masih terpengaruh oleh obat sehingga kehilangan kesadaran. Dengan kaku, segera mereka mengerubuti Suma Tiong-thian. Dengan sendirinya Tiong-thian tidak gentar. Setelah beberapa jurus, segera ia cecar si Elang Merah yang kepandaiannya paling lemah. Keruan elang merah Ang Hau-thian terkejut, sedikit gugup, tahu-tahu kepalanya sudah pecah kena tombak. Keenam elang yang lain tidak peduli seorang saudaranya telah menjadi korban, mereka tetap menyerang dengan gencar.
Walaupun tangkas, dikeroyok enam orang ia juga rada kerepotan. Maka dalam waktu singkat, Suma Tiong-thian terkena dua-tiga kali pukulan dan muntah darah. Namun, makin lama makin tangkas, sekali tombak berputar, kembali elang hijau kena ditusuknya hingga terguling. Tapi pada saat yang sama, bahu kirinya terpukul sehingga tombak kiri terlepas dari cekalan. Tanpa ayal, kelima elang yang lain menubruk maju, tapi sekali tombak kanan berputar, dapatlah Suma Tiong-thian memaksa lawan mundur.
Terdengar Ko Tiong-hai meraung murka dan menghantam beberapa kali. Karena lengah, Bwe Kim-soat tertabas oleh telapak tangannya hingga muntah darah dan jatuh terduduk. Sambil menyeringai, segera Ko Tiong-hai hendak menambahi suatu pukulan lagi, mendadak seorang membentak, "Tunggu dulu!"
Ko Tiong-hai berpaling; kiranya rombongan Sun Tiong-giok muncul kembali.
Dalam pada itu, mendadak terdengar juga jeritan Suma Tiong-thian. Sambil muntah darah, jago tua itu kelihatan roboh terkapar, menyusul si elang ungu yang juga ambruk dengan perut tertancap tombak dan mengucurkan darah.
Keempat elang yang lain serentak menubruk maju hendak menyerang Liong Po-si dan Lamkiong Peng. Bwe Kim-soat menjerit khawatir, segera Sun Tiong-giok bertindak. Ia melompat maju dan melancarkan pukulan dari jauh sehingga keempat elang itu dipaksa mundur. Dengan lemah, Kim-soat memandangnya sekejap dengan rasa terima kasih.
Segera Yim Hong-peng membentak, "Hah, sejak kapan Kun-mo-to berkomplot dengan Putliong? Selama ini Kun-mo-to dengan kami tidak ada permusuhan, kenapa kalian ikut campur urusan orang lain?"
"Hm, main keroyok, hanya berani karena menang jumlah banyak. Peraturan dunia persilatan mana? Jika jantan sejati, ayolah keluar dan perang tanding di tempat yang luas!" tantang Sun Tiong-giok yang berwatak angkuh.
"Kematian sudah di depan mata, tetapi berani membual, memangnya siapa yang gentar padamu?" mendadak Yim Hong-peng berteriak, "Mundur keluar!" Dan begitulah, berbondong-bondong anak buah kedua pihak lantas mundur keluar untuk bertempur.
Selagi pertarungan sengit berlangsung di luar, penyaluran tenaga murni Liong Po-si kepada Lamkiong Peng sudah berakhir. Ketika mendadak Lamkiong Peng membuka mata, keadaan di dalam kamar yang dilihatnya membuatnya terkejut.
Cepat ia melompat bangun dan memburu ke samping Bwe Kim-soat. Ia mencoba memeriksa napasnya; ternyata masih bernapas, legalah hatinya. Waktu ia memeriksa Suma Tiong-thian, mata jago tua itu kelihatan mendelik dan tangan tergenggam erat; ternyata sudah meninggal sejak tadi.
Mendadak terdengar suara tubuh roboh di tempat tidur. Waktu Lamkiong Peng berpaling, tampak Liong Po-si roboh terkulai. Cepat ia memburu ke tempat tidur dan berteriak, "Suhu..."
Dengan lemah, Liong Po-si membuka matanya yang buram, lalu terpejam pula dan bersuara parau, "Aku... aku tidak... tidak tahan lagi. Anak... anak Peng, hendaknya kau..." Belum habis ucapannya, putuslah napasnya.
Sungguh tidak kepalang rasa duka Lamkiong Peng. Ia ingin menangis sekeras-kerasnya, namun tidak keluar suaranya. Tiba-tiba terdengar keluhan pelahan dari Bwe Kim-soat. Cepat ia berpaling dan melompat ke sampingnya serta mengangkat tubuh sang nona, serunya khawatir, "Kim-soat, bagaimana keadaanmu?"
Dengan lemah Kim-soat menjawab, "Aku tahan, lepaskan aku. Lekas kaubantu orang yang sedang bertempur dengan Yim Hong-peng itu."
Selagi Lamkiong Peng hendak bertanya lagi, tiba-tiba terdengar suara jeritan ngeri di luar disertai suara robohnya tubuh.