Halo!

Han Bu Kong - Chapter 118

Memuat...
Han Bu Kong

Chapter 118

Lamkiong Peng tahu keadaan cukup genting. Ia mengangkat Kim-soat dan membaringkannya di tempat tidur.

Lalu, ia mengumpulkan jenazah Suma Tiong-thian dan menjajarkannya dengan jenazah Liong Po-si. Habis itu, ia meraih pedang Yap-siang-jiuloh dan memburu keluar.

Keadaan di luar membuatnya terperanjat. Mayat sudah bergelimpangan dan pertempuran masih berlangsung dengan sengit. Belasan anak buah Yim Hong-peng memasang barisan Thian-uh-tin untuk mengepung musuh. Jumlah anggotanya memang sudah banyak berkurang, namun daya tempurnya bertambah kuat; jelas barisan itu telah mengalami gemblengan baru dibandingkan waktu mengepung Lamkiong Peng dahulu.

Musuh yang terkepung di tengah barisan itu tinggal tiga orang, yaitu Sun Tiong-giok, Ko Sat, dan seorang kakek tinggi besar. Ketiganya tampak beringas, rambut kusut, baju robek, serta mandi darah dan keringat. Keadaan mereka tampak runyam, namun mereka masih terus bertempur dengan kalap.

"Berhenti semua!" bentak Lamkiong Peng dengan suara menggelegar.

Melihat yang datang adalah Lamkiong Peng, Yim Hong-peng mengeluh, urusan bisa celaka. Dalam pada itu, Lamkiong Peng terus menerjang ke tengah barisan. Sekali pedang berputar dan menebas, kontan tiga orang berseragam hitam roboh binasa dengan darah berhamburan. Tanpa berhenti, Lamkiong Peng terus berputar lagi ke samping; dalam sekejap, tiga orang lain tertabas mati pula.

Dengan robohnya keenam orang itu, barisan pengepung menjadi bobol. Sun Tiong-giok bertiga segera melancarkan serangan balasan. Ko Tiong-hai menjadi murka, sambil meraung ia menerjang ke arah Lamkiong Peng dan melancarkan pukulan dahsyat. Akan tetapi, Lamkiong Peng sekarang sudah berbeda dengan tambahan tenaga murni dari sang guru; serangan Ko Tiong-hai itu tidak ada artinya baginya. Sedikit mengelak, berbarengan pedang menebas, sebelum Ko Tiong-hai sempat menggunakan tombaknya, tubuh jago andalan Swe Thian-bang ini telah terputus menjadi dua oleh tebasan pedang Lamkiong Peng.

Tanpa ayal, Lamkiong Peng terus menerjang lagi ke depan, menuju Yim Hong-peng dan begundalnya. Karena diserang dari kanan-kiri, terpaksa Yim Hong-peng melompat mundur. Lamkiong Peng memburu maju dan menusuk lagi. Sun Tiong-giok juga gemas terhadap Yim Hong-peng yang telah menimbulkan banyak korban di pihaknya, serentak ia pun menyerangnya dengan gencar. Yim Hong-peng menyadari sukar melawan kedua jago kelas tinggi itu, diam-diam ia mengeluh dan berusaha mencari jalan lolos.

Sekonyong-konyong terdengar jeritan ngeri; si Elang Kuning telah mati terbacok oleh senjata Ko Sat. Tergerak hati Yim Hong-peng, timbul akal kejinya. Mendadak ia mendesak maju, tangan kiri berlagak menghantam Sun Tiong-giok, sekaligus kipasnya menusuk Ki-bun-hiat di dada Lamkiong Peng. Dengan sendirinya Lamkiong Peng berdua mengelak; kesempatan itu segera digunakan oleh Yim Hong-peng untuk melompat mundur dan kabur.

Serentak Lamkiong Peng dan Sun Tiong-giok membentak dan mengejar. Secepat terbang Yim Hong-peng menyusup ke dalam kamar. Waktu Lamkiong Peng dan Sun Tiong-giok menyusul ke dalam, dilihatnya sebelah tangan Yim Hong-peng mengempit Bwe Kim-soat yang parah itu, dengan tangan kanan mengancam punggungnya.

Sambil menyeringai, Yim Hong-peng membentak, "Berhenti! Maju lagi selangkah, segera kubinasakan dia!" Sungguh tidak kepalang murka dan gemas Lamkiong Peng, tapi apa daya, terpaksa ia berhenti dengan mendelik. Sun Tiong-giok juga berdiri melongo.

"Berani kau ganggu seujung rambutnya, aku bersumpah akan mencincang tubuhmu hingga hancur lebur," teriak Lamkiong Peng dengan kalap.

Dalam pada itu, suara pertempuran di luar sudah mereda, mungkin sisa ketiga elang juga sudah terbunuh oleh Ko Sat dan kawannya, si kakek tinggi besar. Selagi Yim Hong-peng merasa terpojok dan mencari akal bagaimana meloloskan diri dengan menggunakan Bwe Kim-soat sebagai sandera, tiba-tiba di luar ada orang tertawa nyaring, menyusul pintu kamar terbuka dan masuklah serombongan orang.

Begitu melihat pendatang ini, sungguh tak terkatakan girang Yim Hong-peng. Orang yang masuk paling dahulu ternyata Kwe Giok-he, di belakangnya mengikuti tiga orang kakek berbaju hitam. Kening Lamkiong Peng berkerut. Dilihatnya Kwe Giok-he mendekatinya dengan tersenyum sambil menyapa, "Bagaimana Go-te, baik-baik selama berpisah?"

Lamkiong Peng merasa tidak sabar, cuma mengingat Liong Hui, ia tidak berani bersikap kasar, terpaksa ia menjawab dengan hambar, "Baik."

Dalam pada itu, ketiga kakek berbaju hitam juga sudah berdiri di samping Yim Hong-peng. Meski wajah ketiga kakek ini tidak luar biasa, namun sinar mata mereka menerong, jelas lwekang-nya kelas satu. Keadaan Lamkiong Peng sekarang berubah pada posisi tidak menguntungkan, namun ia tidak gentar; diam-diam ia mengambil keputusan akan bertempur mati-matian. Sun Tiong-giok bertiga juga merasakan keadaan cukup gawat, mereka pun siap tempur.

Dengan tertawa, Giok-he lantas berkata, "Go-te, menurut berita dunia kangouw, katanya engkau pergi ke Cu-sin-to dan pulang dengan memperoleh kepandaian sakti. Apa betul kabar itu?"

"Memang betul," jawab Lamkiong Peng dengan aseran dan tetap menatap Yim Hong-peng.

"Eh, ada apakah antara kalian ini?" ucap Giok-he pula dengan lagak heran. "Yim-tai-hiap berhasil menawan Leng-hiat Huicu, tampaknya Go-te berbalik membela perempuan berdarah dingin ini? Memangnya kabar yang tersiar di dunia kangouw bahwa Go-te bergaul erat dengan dia adalah kabar yang benar?"

"Aku cuma patuh kepada pesan Suhu untuk menjaganya. Pula, hatinya sebenarnya bajik, segala kebusukannya hanya fitnah orang kangouw padanya," kata Lamkiong Peng dengan nada gusar.

"Wah, tampaknya berita hubunganmu dengan dia memang tidak salah," dengus Giok-he. "Selaku kakak gurumu, sekarang kuperintahkan agar engkau membiarkan Yim-tai-hiap membawa pergi Bwe Kim-soat."

"Memangnya engkau dapat memerintahku lagi?" jawab Lamkiong Peng dengan tertawa.

"Kenapa tidak?" seru Giok-he dengan gusar.

"Engkau mengkhianati guru dan mengacau dunia persilatan, nama baik Suhu telah kau cemarkan, hubungan kita sudah putus. Berdasarkan apa berani kau beri perintah padaku?" jawab Lamkiong Peng.

"Kurang ajar, kau berani melawan kakak guru sendiri!" bentak Giok-he. "Biarlah hari ini kuwakili guru melaksanakan haknya menumpas murid murtad." Habis bicara, segera ia melancarkan pukulan.

Gusar dan benci, Lamkiong Peng tetap mengawasi Yim Hong-peng, sebelah tangan lantas digunakan menangkis. Kwe Giok-he tidak menyangka lwekang sang Sute sekarang sedemikian lihai. Begitu kedua tangan beradu, kontan ia tergetar sempoyongan.

Kejut dan gusar Giok-he, selagi hendak menerjang maju lagi, sekonyong-konyong sesosok bayangan orang melayang masuk, kiranya Ciok Tim adanya.

"Jangan takut, Go-te, ku datang membantumu!" seru Ciok Tim, berbarengan ia menerjang Kwe Giok-he.

Keruan Giok-he terkejut, bentaknya, "Hei, Ciok Tim, apa engkau sudah gila?!"

"Aku tidak gila," jawab Ciok Tim. "Sudah sekian lama aku mimpi, sekarang aku sadar. Kau sendiri telah membuat malu Sin-liong-bun. Toako tidak berada di sini, sebagai wakilnya, kugantikan Suhu memberi hajaran padamu." Sembari bicara, ia terus melancarkan pukulan. Terpaksa Giok-he menangkis dan balas menyerang.

Dalam sekejap saja kedua orang sudah bergebrak belasan jurus. Ciok Tim menyerang serupa harimau gila, semua jurus serangan mematikan tanpa kenal ampun. Giok-he terdesak hingga mundur ke pojok. Pada saat gawat itulah, mendadak seorang kakek berbaju hitam di sebelah kanan membentak, serentak menubruk ke arah Ciok Tim. Menyusul kedua kakek berseragam hitam yang lain juga menerjang Lamkiong Peng.

Lamkiong Peng tahu menghadapi lawan tangguh, cepat ia melompat ke samping, berbarengan tangan kanan menghantam Yim Hong-peng. Yim Hong-peng tertawa terkekeh, segera mengangkat Bwe Kim-soat dan ditangkiskan pada serangan Lamkiong Peng itu.

Yim Hong-peng mendengus, sedikit berputar, kembali ia sodorkan tubuh Bwe Kim-soat sebagai tameng. Karena berulang dijadikan alat penangkis, luka Kim-soat bertambah parah, seketika ia tak sadarkan diri. Dengan sendirinya, Lamkiong Peng rada repot menghadapi lawan yang licik itu. Pada saat itu, kedua kakek baju hitam pun sudah menubruk tiba dari kanan dan kiri. Terpaksa Lamkiong Peng putar balik untuk melayani mereka, dan kesempatan itu segera digunakan Yim Hong-peng untuk kabur keluar.

"Lari ke mana?!" bentak Lamkiong Peng dengan murka. Kedua tangan menghantam sekaligus, kedua kakek dipaksa melompat mundur. Namun, kakek itu memang bukan jago rendahan; begitu menyurut mundur, segera menubruk maju lagi sehingga Lamkiong Peng sukar melepaskan diri.

Mendadak terdengar Kwe Giok-he juga membentak; ia pun meninggalkan Ciok Tim dan lari keluar.

"Jangan kuatir, Lamkiong Peng, akan kurampas kembali nona Bwe," seru Sun Tiong-giok, berbarengan ia memimpin Ko Sat dan si kakek tinggi besar mengejar ke sana.

Saking gemasnya, Lamkiong Peng melancarkan serangan maut To-mo-cap-pek-sik. Keruan kedua kakek itu kaget. Kakek sebelah kiri, belum sempat melancarkan pukulan sepenuhnya, sudah tersodok lebih dulu iganya oleh Lamkiong Peng; ia hanya bersuara tertahan dan roboh binasa. Kakek yang lain bermaksud menarik diri, namun Lamkiong Peng lantas membentak pula dan mendesak maju; sekali totok, ia pun bikin lawan terguling.

Mendadak terdengar bentakan Ciok Tim. Waktu Lamkiong Peng berpaling, dilihatnya kakek baju hitam di sebelah sana tergetar mundur sempoyongan, baju Ciok Tim juga robek dan muka pucat; jelas Suheng-nya juga terluka. Tanpa pikir panjang, Lamkiong Peng memburu maju dan menghantam. Setelah mengalami berbagai kejadian ini, watak Lamkiong Peng yang biasanya halus itu berubah menjadi ganas pula. Kakek itu tidak sempat menghindar, kontan terjungkal dan binasa.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment