Chapter 119
Ketika Lamkiong Peng memandang ke depan, cahaya matahari senja tampak indah menyilaukan mata. Bayangan Yim Hong-peng dan Kwe Giok-he sudah tidak terlihat lagi. Lamkiong Peng memandang jenazah Liong Po-si dan Suma Tiong-thian sejenak, lalu mendekati tempat tidur Lamkiong Eng-lok. Saat diperiksa, ternyata orang tua itu sudah kaku; rupanya sejak tadi sang paman telah mengembuskan napas terakhir.
Pantas orang tua ini tidak memberi reaksi apa pun meski di sekitarnya terjadi kegemparan. Meski tidak terlalu mengenal sang paman secara pribadi, ia tetaplah keluarga sedarah. Ia memandangi jenazah orang tua yang hidupnya merana di pulau terpencil dan akhirnya meninggal di tanah air. Gurunya telah tiada, sahabat karib ayah dan gurunya, yaitu Suma Tiong-thian, juga tewas. Hanya dalam satu hari, tiga orang yang paling erat hubungannya telah meninggal seluruhnya. Betapapun kuatnya, ia hampir tidak tahan oleh pukulan batin ini. Kalau saja hatinya tidak dibakar oleh rasa gusar dan dendam, tentu sejak tadi ia sudah runtuh.
Melihat anak muda itu diam saja, Ciok Tim mencoba mendekatinya. Ia tidak mengenal Lamkiong Eng-lok, terlebih lagi tidak tahu bahwa orang tua inilah Cu-sin-tocu yang termasyhur dan disegani itu. Melihat Ciok Tim, tiba-tiba timbul pikiran Lamkiong Peng mengenai Tik Yang dan istrinya, serta Yap Man-jing yang dibawa lari ke Lam-san oleh Yim Hong-peng. Apalagi Bwe Kim-soat tadi juga dibawa pergi oleh orang bermarga Yim itu. Sangat mungkin mereka semua dibawa ke Lam-san. Jika sekarang juga menyusul ke sana, rasanya masih belum terlambat.
Oleh karena itu, ia segera berkata kepada Ciok Tim dengan menahan rasa dukanya, "Sam-suheng, masih ada urusan penting yang harus kuselesaikan. Bilamana esok malam Siaute tidak kembali ke sini, mohon Sam-suheng membawa pulang jenazah Suhu ke Ciceng." Ciok Tim mengiakan dengan sedih sambil memandang jenazah sang guru. Setelah berbicara, Lamkiong Peng lantas mohon diri.
Lam-san adalah sebuah perkampungan yang dibangun di lereng bukit dan dikelilingi pepohonan rindang. Jika diperhatikan dengan cermat, setiap pohon yang ditanam seakan-akan diatur menurut perhitungan barisan tertentu. Saat itu bulan sudah menghiasi langit; di bawah cahaya remang bulan, terlihat belasan sosok bayangan orang berlompatan di antara pepohonan yang teratur itu. Dari gerak tubuh mereka yang cepat dan enteng, jelas semuanya menguasai *ginkang* yang amat tinggi. Samar-samar terlihat mereka berdandan sebagai kaum pengemis.
Dua orang di depan membawa tongkat bambu hijau. Mereka adalah Kiong-sin Ih Hong dan Ok-kui Song Cing, si arwah rudin dan si setan jahat. Tidak perlu dijelaskan lagi, kawanan pengemis ini adalah Yukai atau kawanan jembel arwah halus. Suasana perkampungan yang megah itu tampak sunyi senyap, namun dapat dirasakan ketegangan bahwa sesuatu akan segera terjadi.
Ih Hong mengamati keadaan sejenak, lalu memberi tanda dan segera mendahului melintasi pagar bambu yang mengelilingi perkampungan itu. Sejenak kemudian mereka sudah berada di halaman yang luas, namun bangunan yang terlihat di depan dalam keadaan gelap gulita. Ih Hong dan Song Cing merasa sangsi, suasana terasa seram.
"Sekali sudah datang, masa kita mundur lagi?" kata Song Cing sambil tertawa. "Memangnya Yukai kita pernah gentar kepada siapa pun? Ayo kawan, biarpun neraka juga akan kita terjang."
Belum lenyap suaranya, sekonyong-konyong cahaya lampu menyala serentak dengan terang benderang. Kawanan pengemis seketika merasa silau. Tampak bayangan orang berkelebat di ruangan tengah, pintu lantas terbuka, dan seorang setengah baya bertubuh jangkung serta bermuka putih dengan jubah hitam melangkah keluar. Sungguh kontras sekali muka orang yang putih itu dengan jubah hitamnya. Setelah keluar, dengan angkuh orang ini menegur, "Tengah malam buta kalian berkunjung kemari, entah apa keperluan kalian?" Ia berbicara dengan lembut menyerupai suara perempuan.
Kawanan pengemis itu sempat terpaku, namun segera Ih Hong berseru, "Apakah Anda tuan rumah di sini?"
"Ah, cayhe cuma Congkoan dari perkampungan ini, Bi Pek-hiang namanya," jawab orang itu.
"Kami ingin bicara dengan majikanmu," seru Ih Hong.
"Tengah malam buta tuan rumah tidak menerima tamu. Ada urusan apa, coba bicara saja denganku," kata Bi Pek-hiang.
"Hm, orang terang tidak perlu berbuat gelap," jengek Song Cing. "Kukira kau pun tidak perlu berlagak pilon. Kedatangan kami tiada lain adalah ingin minta orang. Adik Ih-pangcu dan Tik Yang suami-istri telah diculik kalian dan dibawa ke sini. Kedatangan kami sekarang justru ingin meminta kembali kedua orang ini."
Selagi Bi Pek-hiang hendak menjawab, mendadak dari ruangan dalam bergema suara seorang, "Bi-congkoan, ada tamu datang dari jauh, kenapa tidak kausilakan masuk ke dalam? Kurang hormat rasanya meladeni tamu di luar."
Kawanan jembel terkejut, sebaliknya sikap Bi Pek-hiang lantas berubah. Cepat ia berkata sambil membungkuk, "Majikan menyilakan para tamu masuk ke dalam!"
Ih Hong saling pandang sejenak dengan Song Cing. Mereka merasa orang yang bersuara di dalam itu seperti sudah dikenalnya. Namun mereka tidak gentar dan segera mengikuti Bi Pek-hiang masuk ke ruangan tamu. Cahaya lampu di dalam ruangan terang benderang. Di atas kursi besar yang terletak di tengah ruangan, duduk seorang bertubuh sedang dengan muka tertutup kedok sutra hitam.
Serentak orang berkedok itu bangkit demi melihat rombongan Ih Hong masuk. Ia berkata, "Silakan duduk untuk bicara. Sungguh beruntung atas kunjungan kalian dari kejauhan, cuma sudah jauh malam sehingga tidak dapat memberi pelayanan yang layak."
"Ah, kukira tidak perlu bicara bertele-tele," ucap Ih Hong. "Biarlah kukatakan langsung saja, kedatangan kami ini adalah untuk minta orang padamu."
"Haha, Ih-heng sungguh orang yang tak sabar," kata orang berkedok itu dengan tertawa. "Padahal setelah sekian lama berpisah dan sekarang dapat berkumpul pula, seharusnya kita bercengkerama mengenang masa lalu."
Kawanan jembel Yukai tercengang. Dari nada ucapan orang berkedok ini, agaknya mereka adalah kenalan lama. Namun, karena tertutup oleh kain kedok, wajah aslinya tidak terlihat. Hati Song Cing tergerak. Ia pun tertawa dan berseru, "Aha, jika kita memang kenalan lama, kenapa Anda tidak menanggalkan kedok supaya kami dapat melihat jelas kawan lama yang mana?"
"Apa susahnya membuka kedok? Soalnya belum tiba waktunya," kata orang berkedok itu dengan tertawa.
Mendadak Ih Hong menjengek, "Hm, hanya orang yang berdosa saja selalu menutupi wajah aslinya. Mungkin Anda pun berlumuran dosa, makanya harus menutupi muka sendiri untuk mengelabui mata orang."
Orang berkedok memandangnya sekejap, mendadak ia berpaling dan membentak ke dalam, "Tamu agung sudah tiba, kenapa santapan belum disiapkan?"
Ih Hong dan Song Cing tertegun. Mereka tidak tahu apa maksud tuan rumah. Dengan tergelak, Song Cing lantas berkata, "Kalau tidak menerima berarti kurang hormat, lebih dulu kami mengucapkan terima kasih atas pelayanan Anda."
Orang berkedok itu tertawa dan mendahului masuk ke ruangan tamu. Segera Ih Hong dan iringannya ikut masuk. Ruangan tamu sudah berderet meja dengan hidangan dan arak. Orang berkedok terus duduk di tempat tuan rumah dan menyilakan duduk para tamunya. Kawanan pengemis itu pun tidak sungkan, cuma mereka menjadi ragu-ragu jangan-jangan di dalam makanan dan arak itu diberi obat racun.
Terdengar orang berkedok mengangkat cawan araknya dan berseru, "Sungguh beruntung malam ini dapat minum bersama dengan para ksatria Kai-pang. Sebagai penghormatanku, marilah kita habiskan satu cawan!"
"Nanti dulu," kata Ih Hong tiba-tiba. "Kedatangan kami ini bukan cari makan dan minum, akan tetapi ingin kutanya di mana adik perempuanku yang ditawan anak buah Swe-siansing? Bilamana nasib adikku dan Tik Yang sudah jelas, belum terlambat untuk mengiringi makan minum denganmu."
"Maksud Ih-heng hendak mengajak pulang Nona Ih?" tanya orang berkedok.
"Memang begitulah," jawab Ih Hong.
Sembari menuang arak lagi, orang berkedok berkata, "Dan bila Nona Ih tidak mau?"
"Omong kosong!" bentak Ih Hong geram. "Sebelum berhadapan, dari mana kautahu adikku tidak mau pulang?"
Orang berkedok memandangnya sekejap, mendadak ia terbahak-bahak, "Haha, kukira ksatria Kai-pang adalah tokoh gagah perwira, namun hidangan yang sengaja kusiapkan ternyata belum lagi disentuh, sebaliknya urusan kecil yang dipersoalkan."
Tiba-tiba Song Cing terkekeh, "Hehe, memangnya kaukira kami tidak berani makan minum suguhanmu?" Segera ia mengangkat cawan dan menenggak habis isinya. Melihat pemimpinnya sudah minum, jago pengemis yang lain segera ikut minum. Hanya Ih Hong saja yang berseru, "Bagiku yang penting harus segera kaubebaskan adikku. Sebelum itu aku tidak ada selera untuk makan minum."
"Apa susahnya jika ingin melihat adikmu?" ujar orang berkedok. Mendadak ia bertepuk tangan dan berseru, "Silakan Nona Ih menemui tamu!"
Bi Pek-hiang mengiakan dengan hormat dan menuju ke ruangan belakang. Sejenak kemudian, terdengarlah suara gemerincing perhiasan seorang perempuan. Ih Loh tampak melangkah keluar dengan lemah gemulai. Wajahnya kelihatan cantik bercahaya, sedikit pun tidak ada tanda tersiksa sebagai tawanan. Lega hati Ih Hong, ia segera menyapa, "Adik Loh!"
Ih Loh mengerlingnya sekejap, namun tidak memperlihatkan rasa girang sebagaimana layaknya kakak bertemu dengan adik setelah lama berpisah. Ia malah mendekat ke samping si orang berkedok dan tersenyum manis padanya. Kawanan pengemis tercengang, Ih Hong juga terkejut. Katanya dengan suara gemetar, "Adik Loh, masa tidak... tidak kaukenal lagi kakak sendiri?"
"Mana mungkin aku tidak kenal kakak lagi," ucap Ih Loh dengan tertawa.
Agak lega hati Ih Hong, "Sekarang kakak datang untuk membawamu pulang."
"Aku cukup senang tinggal di sini, tidak perlu lagi kakak susah payah membawaku pulang jauh ke utara sana," ujar Ih Loh.