Halo!

Han Bu Kong - Chapter 12

Memuat...
Han Bu Kong

Chapter 12

Dengan suara berat, Lamkiong Peng bertanya, "Apakah Kong-jiok Huicu orang yang sama dengan Leng-hiat Huicu?"

Si Tojin mendengus. Tanpa memandangnya, ia menyambung kembali ucapannya tadi, "Seratus burung menyembah Tan-hong, hanya sang merak sendiri yang tetap jaya..."

Dengan dongkol, Lamkiong Peng memotong, "Apakah kau tidak mendengar pertanyaanku?"

Namun, si Tojin tetap menengadah dan kembali berdendang, "Kong-jiok Huicu darahnya sudah dingin. Si cantik berdarah dingin tidak diketahui orang. Karena amarah, naga sakti turun ke bumi; terjadilah pertempuran sengit di Hoa-san. Naga sakti terkenal tak terkalahkan, seratus kali bertempur seratus kali menang. Sayap sang ratu merak tak terbentang lagi, sejak itu sirnalah pengacau dunia persilatan, naga sakti semakin tangkas tak tertandingi!"

Selesai mendengarkan dendang si Tojin, Lamkiong Peng menegaskan, "Jika begitu, apakah Kong-jiok Huicu memang sama dengan Leng-hiat Huicu?"

Dengan sorot mata tajam, si Tojin menjawab, "Betul, Bwe Kim-soat memang sama dengan Bwe Leng-hiat." Mendadak ia menengadah dan tertawa dingin. Katanya, "Hm, Kim-soat, Leng-hiat! Hehe, indah benar namamu! Aku Kong... aku sungguh penasaran."

"Kong apa maksudmu?" tanya Lamkiong Peng.

"Untuk apa kau bertanya? Apa pedulimu?" jawab si Tojin ketus.

"Hm, jika engkau sengaja bersembunyi dan tidak mau memberitahukan namamu yang sebenarnya, aku pun tidak sudi bertanya," cibir Lamkiong Peng.

Si Tojin hanya mendengus dan kembali memandang ke langit.

Dengan suara bengis, Lamkiong Peng berteriak, "Tadi kau bilang ada seseorang yang disembunyikan di dalam peti, dan orang itu adalah Kong-jiok Huicu Bwe Kim-soat. Begitu, bukan?"

"Ya, ada apa?" ejek si Tojin.

"Lalu kau dendangkan pantun yang dahulu tersiar di dunia persilatan. Masakan engkau tidak tahu kisah yang terkandung di dalam pantun itu?"

"Mana mungkin aku tidak tahu?"

"Jika tahu, mengapa kau menghina guruku dengan perkataanmu tadi? Padahal dahulu Kong-jiok Huicu Bwe Kim-soat malang-melintang di dunia persilatan. Dengan ilmu silat yang tinggi, kecerdasan, serta kecantikannya, entah berapa banyak orang persilatan yang menjadi korbannya hingga tewas dan keluarganya berantakan. Akan tetapi, tetap tidak sedikit orang yang terpikat oleh kecantikannya dan berlutut di bawah kakinya."

"Hm, ternyata kau pun tahu kisahnya!" ejek si Tojin.

Lamkiong Peng melototinya sejenak, lalu menyambung, "Meski orang persilatan membencinya, mereka juga terpikat oleh kecantikannya dan gentar terhadap ilmunya, sehingga tidak ada yang berani bertindak. Guruku menjadi gusar dan tampil untuk menyelesaikan urusan ini. Di puncak Hoa-san, terjadi pertempuran selama tiga hari. Akhirnya, dengan ilmu pedang yang tidak ada bandingannya, guruku berhasil menumpasnya. Saat itu, banyak jago persilatan menanti kabar di kaki gunung. Ketika melihat guruku turun sendirian tanpa cedera, semua orang bersorak gembira. Betapa senangnya mereka waktu itu, hingga sorak-sorainya terdengar sampai belasan li jauhnya."

Ia berhenti sejenak. Wajahnya menampilkan rasa kagum sekaligus bangga. Lalu ia menghela napas dan berkata, "Sayang sekali waktu itu aku belum menjadi murid Suhu, sehingga tidak dapat menyaksikan kejadian hebat itu. Namun, kejadian ini diketahui oleh setiap orang persilatan. Meski guruku tidak pernah bercerita, aku mendengarnya dari orang lain. Tapi sekarang, engkau justru mengatakan Kong-jiok Huicu Bwe Kim-soat belum mati dan bersembunyi di dalam peti mati ini. Apa sebenarnya maksudmu? Hm, kalau tidak kau jelaskan sekarang juga, jangan menyesal jika aku terpaksa bertindak."

Si Tojin mendengarkan dalam diam dengan wajah menghina. Setelah Lamkiong Peng selesai bicara, ia menanggapi dengan gelak tawa, "Hah! Murid membual demi gurunya. Wahai Liong Po-si, jika kau tahu ini di alam baka, tentu kau pun akan merasa malu."

Alis Lamkiong Peng menegak. Ia membentak, "Kau bilang apa?" Segera ia memutar pedangnya, siap untuk menusuk.

Namun, si Tojin tetap tenang tanpa rasa gentar. Ucapnya, "Tampaknya engkau begitu kagum dan hormat kepada gurumu. Biarpun kuceritakan lagi seratus kali, tidak akan ada gunanya."

"Ya, engkau memang tidak perlu lagi bersilat lidah..."

"Tetapi meski kau tidak mempercayai keteranganku, mengapa tidak coba kau buka peti mati itu? Lihatlah, apakah yang tersembunyi di sana bukan Bwe Kim-soat, perempuan jalang yang diludahi setiap orang persilatan itu!" teriak si Tojin dengan gemas.

Mau tidak mau, hati Lamkiong Peng menjadi goyah. Ia berpikir, jika orang ini bicara sedemikian rupa, mungkinkah dia berdusta? Namun, jika ia tidak berdusta, berarti gurunya memang benar-benar menyembunyikan Kong-jiok Huicu yang terkutuk itu di dalam peti untuk mengelabui dunia persilatan. Padahal, tindak-tanduk sang guru selama hidup selalu mulia. Mana mungkin beliau melakukan hal tercela seperti ini? Pertentangan batin mulai muncul dalam diri pemuda itu.

Si Tojin berkata lagi, "Asalkan kau mau membuka tutup peti itu, jika isinya bukan Leng-hiat Huicu, aku akan segera membunuh diri. Aku rela mati dan tidak akan menyalahkanmu."

Kening Lamkiong Peng berkerut. Ia menunduk, menahan gejolak batin. Jika ia membuka peti, berarti ia tidak lagi mempercayai guru yang sangat dihormatinya. Namun jika tidak dibuka, rasa curiganya sulit dihilangkan.

Melihat raut muka Lamkiong Peng yang serba salah, si Tojin mendengus, "Jika engkau tidak berani membuka peti itu, hal ini menandakan engkau tidak percaya sepenuhnya terhadap pribadi gurumu."

"Tutup mulut!" bentak Lamkiong Peng dengan gusar.

Si Tojin seolah tidak mendengar dan terus bicara, "Jika peti itu kosong, gurumu pun tidak pernah melarangmu membukanya. Lantas apa sebabnya engkau tidak berani?"

Diam-diam Lamkiong Peng merasa ragu. Dengan keras ia berteriak, "Kalau di dalam peti tidak tersembunyi orang, apakah benar engkau akan..."

"Ya, seketika itu juga aku akan membunuh diri di depanmu. Aku tidak akan menjilat ludahku sendiri," seru si Tojin tegas.

"Baik!" bentak Lamkiong Peng mendadak sembari berbalik menghadapi peti mati yang tergeletak di tanah.

Tojin itu lantas melompat ke samping peti dan bertanya, "Engkau yang membukanya, atau aku?"

Lamkiong Peng ragu dan berpikir, "Jika benar peti ini berisi orang, tentu dia telah mendengar percakapan kami. Mana mungkin tidak ada gerak-gerik sama sekali?"

Karena pemikiran itu, ia semakin yakin pada pendiriannya. Dengan lantang ia menjawab, "Barang peninggalan guruku tidak boleh dikotori oleh tanganmu. Akulah yang akan membukanya."

"Jika begitu, tidak perlu banyak bicara lagi. Lekas buka!" seru si Tojin sambil memandangi peti itu tanpa berkedip. Nadanya penuh keyakinan, seolah begitu peti terbuka, ia akan melihat Leng-hiat Huicu membujur di dalamnya dalam keadaan hidup, padahal perempuan itu dikabarkan telah lama mati.

Perlahan Lamkiong Peng menyarungkan kembali pedang hijaunya. Sinar pedang itu mengingatkannya bahwa sarung pedangnya telah hilang. Ia melihat sepotong kain sutra kuning muda terikat pada pangkal pedang, lalu teringat ucapan Yap Man-jing bahwa itu adalah pesan peninggalan sang guru khusus untuknya. Kekalutan pikirannya sepanjang hari membuat hal penting itu sempat terlupakan.

Dengan mata melotot, si Tojin bergumam, "Wahai Bwe Kim-soat, akhirnya aku dapat melihatmu kembali..."

Dilihatnya Lamkiong Peng telah mengangkat tutup peti. Ujung peti terangkat dua hingga tiga kaki, tetapi tutupnya tidak terbuka dan tetap melekat pada bagian bawah.

Lamkiong Peng tertegun dan menurunkan kembali tutup peti itu. Ia berucap perlahan, "Peti ini sudah dipantek, sulit dibuka!"

"Hm, ini satu bukti lagi. Jika peti ini kosong, kenapa harus dipantek?" ejek si Tojin. Ia mengitari peti itu perlahan sambil mengamatinya dengan teliti. Tiba-tiba, ia mengangkat telapak tangan kanan dan hendak memukul pangkal peti mati tersebut.

"Tahan!" bentak Lamkiong Peng cepat. Ia meloloskan pedangnya dan menebas ke arah kuduk si Tojin. Jika orang itu tidak segera menghindar, kepalanya pasti akan terpenggal.

Terpaksa si Tojin merunduk dan menggeser posisinya. Pedang itu menyambar tipis di atas sanggulnya. Dengan gusar ia menghardik, "Huh, menyerang dari belakang! Kesatria macam apa kau?"

"Peti pusaka guruku tidak boleh sembarangan dikotori oleh tanganmu!" balas Lamkiong Peng.

Wajah si Tojin memerah lalu pucat. Ia melototi Lamkiong Peng sejenak, lalu mendengus, "Hm, kau tahu apa? Kedua biji mata naga yang terukir di pangkal peti itulah kuncinya!"

Walaupun tidak percaya, Lamkiong Peng mengamati bagian yang dimaksud. Memang benar, kedua biji mata naga yang terukir di atas peti tampak sangat mencolok. Meski peti itu terbuat dari kayu cendana mahal yang sudah terlihat tua karena cuaca, biji mata naga tersebut masih mengilat, menandakan bagian itu sering disentuh.

Diam-diam Lamkiong merasa menyesal karena pengamatannya kalah teliti. Perlahan ia menjulurkan tangan, memegang biji mata naga tersebut, dan memutarnya. Terdengar suara mekanis yang menandakan kuncinya telah terbuka.

"Coba angkat lagi!" kata si Tojin.

Kedua orang itu saling pandang dengan tegang, jantung mereka berdebar kencang.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment