Chapter 120
"Apa engkau sudah gila? Masa engkau tidak ingat lagi kepada rumah dan keluarga kita sendiri?" seru Ih Hong dengan kurang senang.
"Siapa bilang aku gila?" jawab Ih Loh.
"Ai, sudahlah, aku masih ada pekerjaan, tak dapat kutemui Kakak lagi." Mendadak Ih Hong membentak, "Adik Loh!" Namun Ih Loh terus melangkah pergi tanpa berpaling.
Ih Hong hendak menyusulnya, namun keburu ditahan oleh Song Cing. Katanya, "Sabar dulu, Adik Hong, tampaknya urusan ini tidak beres, tentu ada sesuatu yang tidak benar." Ih Hong kelihatan lesu, ia menuding orang berkedok itu dan mendamprat, "Dengan obat apa kaucekoki dia sehingga dia kehilangan kesadaran aslinya?"
"Pikirannya cukup jernih, masa terpengaruh obat apa segala?" jawab orang berkedok itu dengan tertawa.
Mendadak Song Cing berseru, "Sungguh orang she Song sangat kagum caramu mengerjai orang sehingga dapat membuat mereka kakak beradik serupa orang asing yang tidak saling kenal lagi. Cuma, orang terang tidak perlu berbuat gelap, bilamana Anda seorang kesatria, kenapa tidak membuka kedokmu supaya kami dapat melihat wajah aslimu yang terhormat?"
"Jika kalian berkeras ingin tahu, apa salahnya jika kuperlihatkan," ucap orang berkedok itu sambil menarik kain kedoknya.
Ketika kawanan pengemis itu melihat jelas wajah orang tersebut, mereka semua terkejut.
"Hah, jadi engkau ini Tik... Tik Yang!" seru Song Cing kaget.
"Betul, memang akulah Tik Yang," jawab orang berkedok itu dengan tertawa.
"Bangsat, kiranya kau manusia berhati binatang ini, kembalikan adik perempuanku!" teriak Ih Hong dengan kalap, serentak ia menubruk maju dan menyerang.
"Pantas kaupakai kedok segala, kiranya kau bangsat ini," teriak Song Cing sambil menerjang maju pula.
Akan tetapi Tik Yang tidak menghindar. Mendadak kedua tangannya menahan permukaan meja, segera terdengar suara gemuruh, orangnya berikut kursi langsung anjlok ke bawah sehingga serangan Ih Hong berdua mengenai tempat kosong. Selagi Ih Hong hendak menubruk maju lagi, tahu-tahu bagian yang ambles ke bawah tadi menjeblak ke atas lagi sehingga permukaan lantai rata kembali.
Segera Ih Hong mengangkat sebelah kaki dan mengentak sekuatnya, namun lantai tidak bergeming sedikit pun. Malahan lantas terdengar suara keriat-keriut. Waktu mendongak, tampak dari atas menurun jaring baja serupa kurungan, tahu-tahu mereka sudah terkurung.
"Celaka, kita terjebak," seru Song Cing. Ia coba mendobrak kurungan baja itu, namun percuma, biarpun senjata tajam pun sukar membobolnya, apalagi bertangan kosong.
Bulan sudah condong ke barat, sesosok bayangan tampak menyelinap ke dalam perkampungan di lereng Lam-san itu. Hanya sekejap saja ia sudah melintasi beberapa deret rumah dan hinggap di wuwungan gedung induk. Di bawah cahaya bulan kelihatan perawakannya yang keras dan wajahnya yang tampan. Siapa lagi dia kalau bukan Lamkiong Peng.
Selagi anak muda itu mengawasi sekelilingnya untuk bertindak lebih lanjut, tiba-tiba terdengar suara desir angin, tahu-tahu di belakangnya sudah berdiri seorang lelaki setengah umur berwajah putih, tapi berjubah hitam mulus. Dengan tersenyum orang ini menegur, "Tengah malam buta Anda berkunjung kemari, barangkali ada keperluan yang mendesak?"
"Caihe Lamkiong Peng adanya, Anda sendiri siapa?" tanya Lamkiong Peng.
Orang bermuka putih itu tampak melengak, "Aha, kiranya Lamkiong Kongcu. Caihe Bi Pek-hiang, congkoan perkampungan ini. Sudah lama caihe menunggu kedatanganmu di sini atas perintah majikan."
"Siapa majikanmu?" tanya Lamkiong Peng.
"Setelah bertemu tentu Lamkiong Kongcu tahu sendiri," jawab Bi Pek-hiang. "Marilah ikut!"
Lamkiong Peng sudah bertekad akan menyelidiki keadaan perkampungan ini, maka tanpa pikir panjang ia ikut melayang turun ke sebuah ruangan besar yang megah.
"Harap Lamkiong Kongcu menunggu sebentar, segera caihe memberi lapor ke dalam," kata Bi Pek-hiang setelah mempersilakan Lamkiong Peng duduk, lalu masuk ke belakang melalui pintu samping.
Tidak lama kemudian muncul Tik Yang yang berkedok sutera hitam itu.
"Aha, Lamkiong-heng, selamat bertemu kembali," seru Tik Yang dengan tertawa.
Lamkiong Peng merasa sudah kenal suara orang itu, tapi tidak tahu siapa. Jawabnya dengan bingung, "Siapakah Anda?"
"Hah, baru berpisah beberapa hari masa Lamkiong-heng sudah tidak kenal diriku lagi?" Sembari bicara, Tik Yang terus menanggalkan kedoknya.
Sungguh mimpi pun Lamkiong Peng tidak menyangka orang berkedok ini adalah Tik Yang. Tentu saja ia kaget dan juga girang, ia memburu maju dan menjabat tangan Tik Yang sambil berseru, "Ah, Tik-heng, kiranya engkau adanya!"
Tik Yang menepuk bahu Lamkiong Peng, "Tak kauduga bukan?"
"Ya, sungguh mimpi pun tak terpikir olehku," kata Lamkiong Peng. "Tapi... ai, ada yang tidak benar."
"Ada apa?" tanya Tik Yang.
Dengan kening berkerenyit Lamkiong Peng berkata, "Bukankah Tik-heng bersama Nona Ih ditawan Yim Hong-peng? Mengapa mendadak bisa menjadi majikan perkampungan Lam-san ini?"
Tik Yang tersenyum tanpa bicara.
"Dan di manakah Nona Ih dan Nona Yap?" tanya Lamkiong Peng. "Sesungguhnya apa yang terjadi?"
"Kedua nona itu sedang tidur nyenyak," jawab Tik Yang dengan tertawa. "Perkampungan Lam-san ini sudah menjadi milikku. Kedatangan Lamkiong-heng ini sungguh kebetulan, marilah kita bekerja sama untuk membangun pekerjaan besar."
"Pekerjaan besar apa?" tanya Lamkiong Peng.
"Yaitu melaksanakan rencana sesuai apa yang digariskan oleh Swe Siansing, cara bagaimana merajai dunia persilatan ini," tutur Tik Yang.
"Apakah engkau sudah gila, Tik-heng? Betulkah engkau sudah masuk ke dalam organisasi Swe Thian-bang?" tanya Lamkiong Peng dengan emosi.
"Kautahu aku tidak pernah berdusta," seru Tik Yang.
"Dan bagaimana dengan Nona Ih dan Nona Yap?" tanya Lamkiong Peng.
"Mereka berdua juga sudah mengikuti jejakku."
"Omong kosong!" bentak Lamkiong Peng.
Tapi segera terpikir olehnya jika orang semacam Tik Yang saja juga rela bekerja bagi Swe Thian-bang, maka anak perempuan semacam Ih Loh dan Yap Man-jing tentu juga sangat mudah mengikuti jejaknya. Selagi merasa bimbang, tiba-tiba terdengar orang bergelak tertawa, di ruangan tamu sudah bertambah seseorang.
Waktu Lamkiong Peng mengawasi, terlihat orang ini berperawakan pendek kecil, muka penuh berewok, tapi kepalanya sebesar gantang sehingga sangat tidak seimbang dengan tubuhnya yang pendek kecil. Dia memakai baju warna kelabu gelap, sinar matanya menyorong, usianya sekitar 40-an.
Begitu melihat orang ini, air muka Tik Yang dan Bi Pek-hiang sama-sama berubah dan segera mereka memberi hormat sambil menyapa, "Tong-toako!"
Sikap orang yang dipanggil Tong-toako itu sangat angkuh, ia hanya mengangguk saja, lalu mendekati Lamkiong Peng. Melihat sikap angkuh orang itu dan Tik Yang berdua sedemikian hormat padanya, Lamkiong Peng menduga orang itu tentu tokoh yang berkedudukan tinggi dan berkepandaian lihai.
Didengarnya orang itu menegurnya, "Apakah kau ini Lamkiong Peng?"
"Betul, dan siapa nama Anda yang terhormat?" jawab Lamkiong Peng dengan hambar.
"Namaku Tong Goan, sahabat kangouw memberi julukan Soanhun-kiam (si angin lesus padang pengejar sukma) padaku," jawab orang she Tong itu.
Diam-diam Lamkiong Peng heran apa yang terjadi sehingga Swe Thian-bang mengerahkan tokoh-tokoh andalannya seperti Ko Tiong-hai, Yim Hong-peng, dan Tong Goan ini ke daerah Kanglam.
Terdengar Tong Goan berucap pula, "Atas perintah Swe Siansing, Lamkiong Kongcu diharap ikut berkunjung ke markas pusat kami."
"Maaf, Lamkiong Peng merasa terlampau hormat menerima undangan tersebut," jawab anak muda itu dengan tidak kalah angkuhnya.
Tong Goan tampak kurang senang, katanya, "Dengan maksud baik Swe Siansing mengundangmu, memangnya engkau berani menolaknya?"
Sambil membentak, Tong Goan melangkah maju, sebelah tangannya terus mencengkeram. Dengan gesit Lamkiong Peng mengegos ke samping dan balas menghantam. Ketika Tong Goan menangkis, "blang", terjadi adu tenaga pukulan dan keduanya sama-sama tergetar mundur.
"Boleh juga anak muda," seru Tong Goan. "Coba sekali lagi!"
Kedua tangan sekaligus didorong ke depan. Lamkiong Peng tahu tenaga dalam orang ini sangat lihai, ia tidak berani gegabah, ia pun mengerahkan tenaga dan menangkis.
"Blang", kembali terjadi adu tenaga dengan dahsyat dan keduanya sama-sama tergetar mundur lagi. Pertarungan ini membuktikan tenaga dalam kedua orang ternyata sama kuat. Keruan Tong Goan terkesiap, sama sekali tak terduga olehnya seorang anak muda memiliki kekuatan sehebat ini.
"Hm, ternyata Soanhun-kiam yang termasyhur tidak lebih cuma begini saja," ejek Lamkiong Peng.
"Baik, sekarang boleh kita coba senjata," kata Tong Goan.
"Silakan," jawab Lamkiong Peng sambil melolos pedang.
Dengan prihatin Tong Goan mengeluarkan sebatang pedang lemas yang panjang dan sempit. Batang pedang berwarna putih, sedang ujung pedang berwarna hitam gelap. Lamkiong Peng tidak berani lalai, ia siap menghadapi musuh dengan penuh perhatian.
Mendadak Tong Goan membentak, pedang disendal sehingga lurus dan langsung ia menusuk lawan. Lamkiong Peng mengegos ke samping, berbareng pedang pusaka Yap-siang Jiu-loh balas menusuk tiga hiat-to penting di bagian dada Tong Goan. Terdengar Tong Goan mendengus sambil mendak ke bawah, pedang berputar dan kembali ia menusuk Koh-cing-hiat di bahu kiri Lamkiong Peng.
Dan begitulah serang-menyerang terus berlangsung dengan sama lihainya. Keduanya sama-sama tahu menghadapi lawan tangguh sehingga tidak berani lengah sedikit pun. Mendadak Tong Goan membentak tertahan, secepat kilat pedang lemas menusuk lagi. Tapi pada saat yang sama Lamkiong Peng juga membentak, sama cepatnya ia pun menusuk. Terdengar suara "cring" sekali, kedua pedang seakan-akan lengket menjadi satu. Tong Goan kelihatan bergirang, sedikit diangkat, ujung pedang yang hitam gilap tepat mengarah muka Lamkiong Peng.