Halo!

Han Bu Kong - Chapter 122

Memuat...
Han Bu Kong

Chapter 122

Tampaknya segera Lamkiong Peng akan lari keluar ruangan itu, cepat Tik Yang berteriak memberi perintah, "Cegat orang itu!" Serentak kawanan lelaki berseragam hitam merintangi jalan lari Lamkiong Peng.

Namun anak muda itu tidak sabar lagi, pedang berputar dan menyerang tanpa kenal ampun. Terdengar suara jeritan ngeri di sana-sini, seketika beberapa orang dirobohkan, ia menerjang keluar meninggalkan pertempuran sengit yang masih berlangsung.

Sang surya sudah hampir terbenam, cahaya senja indah menghias langit.

Di restoran merangkap hotel Hong An-lo-tiam di kota Oheiu yang terletak di utara Provinsi Ciatkang, di sebuah meja yang dekat pintu masuk saat itu duduk seorang pemuda cakap dan gagah didampingi dua orang kacung berusia sekitar 15 tahun.

Pemuda cakap itu berpakaian ringkas dan menyandang pedang. Ia memiliki mata besar dan alis tebal. Di antara kegagahannya, ia kelihatan agak murung.

Meski di hadapannya sudah siap santapan lezat dan arak sedap, namun tampaknya dia tidak bernafsu makan dan kelihatan menanggung rasa sedih.

Dia tidak lain adalah Cian Tong-lai, murid Kun-lun-pai yang baru saja mulai terjun ke dunia kangouw.

Kedua kacung yang mengiringi dia adalah Pek-ji dan Giok-ji.

Cian Tong-lai memegang cawan arak dan lupa minum, sebentar-sebentar menghela napas.

Kiranya dia sedang rindu kepada Bwe Kim-soat yang sekali pandang telah menawan hatinya.

Sudah hampir setahun mereka berpisah, meski ketika bertemu dulu Bwe Kim-soat tidak menyatakan perasaannya, tetapi juga tidak bersikap jemu kepadanya.

Cian Tong-lai yakin dengan ketampanan dan kungfunya yang tinggi cukup memenuhi syarat untuk merebut hati si nona. Akan tetapi, Bwe Kim-soat justru tak acuh kepadanya. Hal ini membuyarkan impiannya yang pernah dibayangkannya dengan muluk-muluk.

Melihat majikannya mengelamun dengan murung, Giok-ji dan Pek-ji terlihat cemas.

Pada saat itulah tiba-tiba datang seorang sastrawan setengah baya berbaju panjang warna putih, pada bahu kanan bersandar seorang gadis jelita dengan rambut terurai.

Di siang hari dan di depan umum seorang gadis menggendong di pundak seorang lelaki dan masuk ke hotel yang banyak tamu ini, tentu saja membuat setiap orang yang melihatnya gempar membicarakannya.

Waktu Cian Tong-lai berpaling, serentak ia berdiri dan menyapa, "Aha, Yim-heng kiranya, selamat bertemu pula!" Kiranya sastrawan setengah baya ini adalah Yim Hong-peng yang membawa lari Bwe Kim-soat itu. Ia menoleh dan menyengir setelah mengenali Cian Tong-lai, jawabnya hambar, "Eh, kiranya Cian-heng, selamat bertemu."

"Kenapa Yim-heng membawa—" Belum selesai ucapan Cian Tong-lai, segera Yim Hong-peng memotong, "Ah, dia saudara sepupuku, badannya lagi kurang sehat dan harus kuantar pulang. Maka, terpaksa tidak kupikirkan sopan santun lagi."

Dengan sorot mata yang agak buram karena banyak minum arak, Cian Tong-lai coba mengamat-amati Bwe Kim-soat yang tertutup oleh rambutnya yang panjang itu.

Walaupun tidak terlihat jelas wajahnya, tetapi dari garis tubuhnya dapat diketahui pasti seorang gadis cantik, malahan terasa sudah dikenalnya.

Dengan kening berkerut, Cian Tong-lai berkata, "Eh, sanak saudara Yim ini rasanya seperti pernah kulihat."

Berdebar hati Yim Hong-peng, ia sengaja menjawab dengan tak acuh.

"Saudara ini memang sering juga berkelana di dunia kangouw, bisa jadi pernah kaulihat."

Pada saat itulah tiba-tiba Bwe Kim-soat mengigau, "Peng... Peng Cilik..." Meski lirih suaranya, tetapi cukup jelas terdengar oleh Cian Tong-lai. Walaupun ragu, namun tak terpikir olehnya bahwa justru gadis inilah Bwe Kim-soat yang dirindukannya itu.

Cepat Yim Hong-peng mencari alasan akan mengantar pulang saudaranya dan langsung masuk ke kamarnya.

Dengan ragu Cian Tong-lai berkomat-kamit pula, "Aneh, seperti pernah kulihat dia, juga suaranya..."

Tiba-tiba Pek-ji berkata, "Kongcu, tidakkah kaulihat Nona yang sakit itu seperti Nona Bwe?"

"Hus, jangan sembarangan omong," ujar Giok-ji sambil menarik kawannya.

Tetapi Pek-ji lantas mengomel, "Memang betul kulihat dia serupa Nona Bwe."

Hati Cian Tong-lai tergetar, mendadak ia memegang pundak Pek-ji dan menegaskan, "Kau bilang apa? Coba ulangi!"

Pek-ji menjadi takut, jawabnya dengan tergagap, "Hamba... hamba bilang Nona tadi seperti... seperti Nona Bwe."

"Ah, pintar juga kau," seru Cian Tong-lai.

Tetapi ia lantas menggelengkan kepala, "Namun bukan, bukan dia."

"Ken... kenapa Kongcu tidak coba menjenguknya ke sana?" ujar Pek-ji.

Ucapan ini menyadarkan Cian Tong-lai, katanya, "Betul, kenapa tidak kulihat dia lagi!"

Tanpa berpikir lagi ia terus berlari menuju ke kamar Yim Hong-peng dan mengetuk pintu.

Waktu pintu dibuka dan melihat pendatang adalah Cian Tong-lai, seketika air muka Yim Hong-peng berubah, ia bertanya, "Ada urusan apa, Cian-heng?"

"Oh, baru saja teringat olehku tentang penyakit sanak keluarga Yim-heng. Kebetulan Siaute pernah belajar ilmu pengobatan, kalau mau dapat kubantu..."

"Ah, mana berani kubikin repot Cian-heng," sela Yim Hong-peng sebelum ucapan orang itu selesai.

"Piaumoayku ini hanya masuk angin saja, sebentar lagi juga sembuh." Pada saat itulah kebetulan Bwe Kim-soat membalik tubuh dan mengigau pula, "Peng... Peng Cilik..."

Walaupun mukanya sebagian tertutup oleh rambut, namun sekilas Cian Tong-lai dapat melihatnya memang mirip benar dengan Bwe Kim-soat.

"Dari mana kutahu siapa yang dimaksudkannya?" ujar Yim Hong-peng dengan tertawa.

"Tentu Lamkiong Peng yang dimaksudkannya, ah, betul, dia memang Nona Bwe!" seru Cian Tong-lai sambil menyelinap ke dalam kamar dan bermaksud mendekati Nona yang berbaring di tempat tidur itu.

Tentu saja Yim Hong-peng tidak tinggal diam, cepat ia mendorong dengan kedua tangannya sambil membentak.

"Hendaknya tahu aturan sedikit, Cian-heng!"

"Hm, apa maksudmu menawan Nona Bwe ke sini?" damprat Cian Tong-lai sambil mengelak, menyusul sebelah kaki lantas menendang.

Dan begitulah kedua orang lantas saling gebrak. Baru belasan jurus, mulailah Yim Hong-peng merasa kewalahan, dahi sudah penuh keringat, napas pun tersengal.

Cian Tong-lai menyerang lebih gencar dan ganas.

Mendadak Yim Hong-peng mengeluarkan kipasnya dan balas menyerang.

"Hm, memangnya bisa apa dengan kipasmu itu?" ejek Cian Tong-lai.

Yim Hong-peng diam saja, kipasnya terbentang dan merapat lagi, "Jret!" mendadak ia menutuk.

"Hahaah!" Cian Tong-lai tertawa mengejek, "Dalam 20 jurus akan kubikin kipasmu terlepas dari tanganmu!"

Selesai bicara, mendadak kedua kakinya menendang secara berantai. Yim Hong-peng terkejut, cepat ia tarik kembali kipasnya sambil melompat mundur.

Dengan tertawa dingin, segera Cian Tong-lai hendak menubruk maju. Tetapi pada saat itulah seseorang telah membentak, "Berhenti!"

Pintu terbuka dan masuklah tiga orang.

Cian Tong-lai tidak kenal ketiga pendatang ini, tetapi air muka Yim Hong-peng seketika berubah dan diam-diam mengeluh.

Kiranya mereka ini adalah Sun Tiong-giok dari Kun-mo-to beserta kedua kakek dari kesepuluh jago pengawalnya yang masih tersisa, yaitu Ko Sat dan Wi Gan.

Sambil tertawa Sun Tiong-giok mendekati Yim Hong-peng dan menegur, "Nah, coba sekali ini apakah dapat kau kabur lagi?"

Cian Tong-lai tinggi hati dan angkuh, ia tidak suka terhadap sikap Sun Tiong-giok itu. Segera ia membentak, "Kalian menerobos ke sini, bahkan bicara dengan kasar, sesungguhnya apa kehendakmu?"

"Hm, memangnya mau apa? Ingin ikut campur urusanku?" jawab Sun Tiong-giok tidak kalah angkuhnya.

"Eeh, jangan ribut dulu. Rasanya urusan ini semuanya ada sangkut pautnya," seru Yim Hong-peng mendadak.

Tentu saja Cian Tong-lai tidak mengerti, "Apa artinya ucapanmu?"

Yim Hong-peng menyeringai, jawabnya, "Kan kita bertiga satu tujuan. Kau minta Bwe Kim-soat, dia juga mengincar Bwe Kim-soat, apalagi aku. Nah, bukankah kita sama-sama punya andil di dalamnya?"

Dengan gusar, Cian Tong-lai segera hendak menyerang.

Tetapi Sun Tiong-giok lantas mencegahnya, "Nanti dulu! Sebagian besar kesepuluh anak buahku telah menjadi korban keganasannya, utang darah ingin kutagih langsung dari dia, mana boleh sembarangan kau bunuh dia begitu saja."

"Hai, kau ini kutu apa, berani memerintahku?" teriak Cian Tong-lai dengan gusar.

Mendadak terdengar si kakek Wi Gan membentak, "Huh, mau lari?" Berbarengan itu ia menubruk ke sana terus menghantam.

Kiranya pada waktu Cian Tong-lai bertengkar dengan Sun Tiong-giok, diam-diam Yim Hong-peng hendak mengeluyur pergi, tetapi keburu dilihat Wi Gan.

Karena pukulan kakek itu, terpaksa Yim Hong-peng menyurut mundur ke tempatnya semula.

Waktu Sun Tiong-giok memandang ke sana, dilihatnya Bwe Kim-soat berbaring di tempat tidur. Meski berselimut, tetapi jelas kelihatan dada dan perutnya bergerak lemah, napasnya seperti sesak.

Segera ia hendak mendekat ke sana. Akan tetapi, Cian Tong-lai lantas merintanginya.

"Memangnya kau mau apa?" teriak Sun Tiong-giok dengan gusar. "Lekas menyingkir, memangnya dia apamu?"

Dengan angkuh Cian Tong-lai menjawab, "Pokoknya berani kau maju lagi, jangan menyesal jika pedangku tidak kenal ampun."

"Hm, hanya dirimu juga mampu merintangiku?" ejek Sun Tiong-giok.

"Boleh kau coba," jawab Cian Tong-lai ketus.

Agar tidak membuang waktu, terpaksa Sun Tiong-giok menahan perasaannya dan berkata pula, "Kau tahu Nona Bwe terluka dan keadaannya cukup mengkhawatirkan?"

"Nona Bwe terluka atau tidak, apa sangkut pautnya denganmu?" tanya Cian Tong-lai.

"Soalnya aku telah berjanji kepada Lamkiong Peng akan menyembuhkan Nona Bwe dan akan kuserahkan kembali kepadanya," ujar Tiong-giok.

Lebih baik tidak tahu, demi mendengar Bwe Kim-soat akan diserahkan kembali kepada Lamkiong Peng, seketika Cian Tong-lai menjadi murka, "Hm, jadi maksudmu hendak membela Lamkiong Peng? Rasakan dulu pukulanku ini!"

Tanpa berpikir, ia menghantam dengan dahsyat.

Sejak tadi Sun Tiong-giok bersabar, sekarang lawan mendahului menyerang, maka ia pun tidak segan lagi, ia sambut pukulan lawan dengan sepenuh tenaga.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment