Chapter 123
"Plak!" Kedua tangan beradu. Sun Tiong-giok tetap tegak di tempatnya, sebaliknya wajah Cian Tong-lai tampak pucat dan ia tergetar mundur selangkah.
"Ini, kau pun rasakan pukulanku," tanpa ayal Sun Tiong-giok melancarkan pukulan yang sama dahsyatnya.
Dengan beringas, Cian Tong-lai terpaksa menahan serangan lawan. Ia pun menangkis sekuat tenaga.
"Brak!" Kembali kedua tangan beradu. Air muka Cian Tong-lai bertambah pucat dan ia tergetar mundur lagi.
"Ini pukulan ketiga!" bentak Sun Tiong-giok pula dan ia menghantam dengan sepenuh tenaga.
Keadaan Cian Tong-lai sudah payah, matanya berkunang-kunang, namun terpaksa ia menangkis lagi.
"Blang!" Wajah Sun Tiong-giok kelihatan pucat dan ia tergetar mundur dengan dahi berkeringat. Sebaliknya, Cian Tong-lai mencelat dan terbanting di tanah dengan mata terpejam.
Dengan kulit muka berkerut, muncul senyuman kemenangan di wajah Sun Tiong-giok. Perlahan ia mendekati tempat tidur dan mengangkat Bwe Kim-soat. Katanya kepada kedua kakek, "Ayo berangkat!" Segera ia mendahului keluar.
Baru saja melangkah keluar kamar, mendadak darah segar tersembur keluar dari mulutnya. Ia pun terluka dalam cukup parah setelah tiga kali mengadu pukulan dengan Cian Tong-lai.
Merasa bukan tandingan orang, terutama kedua kakek Ko Sat dan Wi Gan, terpaksa Yim Hong-peng hanya diam saja.
"Sementara jiwamu diampuni. Bilamana Siau-tocu sudah sembuh, tentu kami bikin perhitungan lagi padamu," jengek Wi Gan terhadap Yim Hong-peng, lalu mereka pun ikut pergi.
Waktu senja pula, di suatu perkampungan yang dikelilingi pepohonan yangliu yang rindang dengan pagar tembok yang kurang terawat, suasana sunyi senyap seperti sudah lama perkampungan itu ditinggalkan penghuninya.
Sekonyong-konyong terdengar derap kuda berlari. Seekor kuda tampak membedal tiba. Dari peluh yang memenuhi tubuh binatang itu, dapat diduga kuda itu telah dilarikan dengan cepat dan menempuh perjalanan jauh.
Begitu sampai di depan perkampungan itu, penunggang kuda lantas melompat turun dan pada saat itu juga kuda tersebut roboh terkulai lemas. Tanpa menghiraukan kudanya, orang itu terus berlari ke dalam perkampungan.
Kiranya dia adalah Lamkiong Peng yang diberitahu tentang keadaan gawat ayah bundanya dan segera menuju ke Liu-im-ceng ini. Langsung ia menggedor pintu gerbang perkampungan itu.
Sejenak kemudian baru terdengar suara orang bertanya di dalam. Suaranya begitu berat dan parau, tapi bagi pendengaran Lamkiong Peng suara itu tidak asing lagi. Jelas itulah suara yang sudah lebih setahun tak pernah didengarnya. Suara sang ayah.
Segera ia berseru, "Ayah, Ayah! Aku anak Peng, anak Peng sudah pulang!"
Tak terduga karena jawabannya ini, keadaan di dalam rumah lantas sunyi kembali. Tentunya ia ragu dan kuatir. Tanpa pikir lagi ia mendorong pintu sehingga terpentang serta berlari ke dalam. Sekilas pandang, dapatlah ia menghela napas lega.
Dilihatnya ayah bundanya duduk bersila berjajar di atas sebuah dipan di dalam ruangan sana. Sorot mata mereka yang mencorong sedang menatapnya dengan terkesima. Melihat gelagatnya, keadaan kedua orang tua ini tidak seburuk berita yang diterimanya.
Setelah pikiran agak tenang, segera Lamkiong Peng memburu maju dan menyembah. Katanya, "Anak Peng yang tidak berbakti menyampaikan hormat kepada Ayah dan Ibu."
Mendadak Lamkiong Siang-ju menatap Lamkiong Peng dengan tajam. Ucapnya, "Anak Peng, apakah kau pulang dari Cu-sin-tian sana?"
"Betul," Lamkiong Peng mengangguk, "anak memang pulang dari sana, cuma..."
"Apakah Cu-sin-tiancu yang membebaskanmu pulang kemari?" potong sang ayah.
"Bukan..." Belum lanjut ucapan Lamkiong Peng, sang ayah lantas memotong lagi, "Binatang cilik yang tidak bisa pegang janji, memangnya sudah kau lupakan peraturan keluarga yang sudah turun-temurun?"
Lamkiong Peng tidak tahu sebab apa ayahnya mendadak marah. Dengan menunduk ia menjawab, "Anak selalu menaati peraturan keluarga dan mengutamakan setia kawan serta keluhuran budi."
"Jika begitu, mengapa kau tinggalkan Cu-sin-to dan pulang ke sini sehingga mengingkari janji keluarga kita yang sudah turun-temurun?" damprat Lamkiong Siang-ju.
Baru sekarang Lamkiong Peng tahu sebabnya sang ayah marah. Namun kejadian selama setahun ini terlampau banyak, seketika sukar untuk diceritakan seluruhnya. Ia pun bingung harus bertutur mulai dari bagian mana. Sejenak ia gelagapan.
"Anak Peng," lekas Lamkiong-hujin menyela dengan suara lembut, "sesungguhnya apa yang terjadi, bolehlah kau ceritakan perlahan-lahan."
Lamkiong Peng memandang sekejap terhadap sang ibu yang lembut itu. Sesudah menenangkan diri barulah ia bercerita sejak berlayar hingga pengalamannya di Cu-sin-to serta kejadian selanjutnya.
Setelah mengikuti pengalaman Lamkiong Peng itu, sejenak Lamkiong Siang-ju termenung. Akhirnya ia menghela napas dan berkata, "Nak, jika begitu Ayah telah salah mengomeli dirimu. Tak tersangka dalam waktu setahun yang pendek ini telah kaualami berbagai kesukaran itu. Sungguh kejadian di dunia fana ini memang sukar dibayangkan."
Akhirnya Lamkiong Peng berkata pula, "Setelah anak menerima surat Paman Ban yang memberitahukan Ayah dan Ibu terancam bahaya, maka cepat-cepat anak datang kemari. Tampaknya Paman Ban hanya menakuti anak saja."
Tiba-tiba wajah Lamkiong Siang-ju berubah muram. Ia pandang istrinya sekejap, lalu berucap, "Nak, memang betul keselamatan Ayah dan Ibumu dalam bahaya. Paling... paling lama kami hanya bertahan hidup dua-tiga hari lagi."
"Hah, mengapa bisa begitu?" teriak Lamkiong Peng dengan kaget dan pucat. "Tidak, tidak mungkin! Bukankah Ayah dan Ibu baik-baik begini, mana bisa..."
Dengan pandangan tenang Lamkiong Siang-ju berucap, "Meski dari luar Ayah dan Ibu kelihatan sehat walafiat, tapi sebenarnya kami keracunan berat dan terluka dalam yang parah. Untuk sementara kami dapat bertahan berkat Lwekang yang terlatih selama berpuluh tahun. Harapan kami justru ingin bertemu denganmu untuk terakhir kali, mungkin lusa atau esok pagi kami akan... akan..."
"Tidak, kenapa bisa jadi begini!" teriak Lamkiong Peng sambil memburu maju dan memeluk lutut sang ibu. Ratapnya, "Oh, Ibu, kenapa bisa terjadi begini? Tidak... anak tidak percaya..."
"Anak bodoh," ucap Lamkiong-hujin dengan menyesal, "masa Ayah dusta padamu."
"Jika begitu, mohon... mohon diberitahu siapakah yang turun tangan keji terhadap Ayah dan Ibu?" tanya Lamkiong Peng dengan mendelik.
"Siapa lagi kecuali Swe Thian-bang yang sudah kau sebut hendak merajai dunia persilatan itu," ucap Lamkiong Siang-ju dengan sorot mata mengandung dendam.
"Swe Thian-bang, kembali dia!" teriak Lamkiong Peng sambil bangkit. "Sesungguhnya ada permusuhan apa antara dia dengan kita, mengapa dia bertindak sekeji ini?"
"Entah cara bagaimana keparat itu dapat menyelidiki seluk-beluk urusanku dengan Ibu, maka ia sendiri menemui kita agar mau ikut dalam organisasinya," tutur Lamkiong Siang-ju dengan gemas. "Dengan sendirinya Ayah dan Ibu tidak sudi bekerja sama dengan dia sehingga kedua pihak bertengkar. Tak terduga bangsat itu telah berbuat licik. Pada waktu datang mereka sudah menyebarkan racun yang tak berwujud di luar tahuku. Ketika Ayah dan Ibu bergebrak dengan dia baru merasakan keracunan, dengan sendirinya tenaga terganggu dan akhirnya terpukul luka olehnya."
Darah dalam tubuh Lamkiong Peng serasa mendidih, tangannya terkepal kencang. Teriaknya murka, "Bangsat! Kalau tidak kucincang dirimu hingga hancur lebur, aku bersumpah takkan menjadi manusia!"
Belum lenyap suaranya, tiba-tiba terdengar suara orang mendengus. Sesosok bayangan menyelinap ke dalam rumah. Di bawah keremangan senja, Lamkiong Peng melihat pendatang ini seorang cendekia setengah baya, bermuka halus tanpa jenggot, perawakan jangkung. Agaknya Lamkiong Siang-ju dan istrinya sudah menduga akan kedatangan orang sehingga mereka tidak terkejut dan tetap tenang saja.
Tapi Lamkiong Peng tidak dapat menahan emosi lagi, serentak ia membentak, "Siapa kau? Ada keperluan apa?"
Orang itu memberi salam, jawabnya dengan tertawa, "Caihe Siau Bong-wan, kudatang menjenguk Lamkiong-kongcu, sekalian untuk mengantar mangkatnya Ayah dan Ibumu."
"Keparat! Jadi kau ini begundal Swe Thian-bang!" teriak Lamkiong Peng murka.
"Ah, Caihe tidak lebih hanya tangan kanan-kiri Swe-siansing saja," ucap orang yang mengaku bernama Siau Bong-wan itu.
"Creng!" Segera Lamkiong Peng melolos pedang pusaka Yap-loh dan membentak, "Bedebah! Ayolah maju untuk terima kematian, habis itu baru kubikin perhitungan dengan Swe Thian-bang."
Siau Bong-wan terkekeh, "Hehe, garang amat Lamkiong-kongcu terhadap tamu. Apakah mampu kau bunuh diriku atau tidak, masih tanda tanya. Hanya ingin kutanya, apakah keselamatan orang tua sudah tidak kaupikirkan lagi? Padahal jiwa ayah ibumu tinggal satu-dua hari saja, bagaimana nasibnya bergantung kepada keputusanmu sekarang."
Seketika Lamkiong Peng tak dapat bicara. Betapapun, keselamatan orang tua memang membuatnya sangsi untuk bertindak. Siau Bong-wan tertawa licik, katanya pula, "Keluarga Lamkiong kaya raya turun-temurun sekian lamanya, ayah bundamu juga pernah mengguncangkan dunia kangouw. Jika sekarang mereka mengalami nasib seperti ini, memangnya atas perbuatan siapa? Kongcu masih muda dan gagah perkasa, engkau tidak berusaha membangun kembali keluarga Lamkiong dan mengembalikan kehormatannya serta menuntut balas pada sumbernya yang membuat runtuhnya keluarga Lamkiong kalian, tapi sekarang Kongcu cuma memikirkan sakit hati pribadi tanpa menghiraukan keselamatan orang tua. Pikiran sempit demikian sungguh sukar untuk dimengerti."
Lamkiong Peng menjadi ragu dan bingung. Ucapan Siau Bong-wan memang betul, sebabnya keluarga Lamkiong sampai runtuh seperti ini adalah berkat tindakan Cu-sin-tocu, namun jayanya keluarga Lamkiong juga boleh dikatakan berkat Cu-sin-to.