Chapter 124
Apalagi sekarang Cu-sin-to sudah runtuh dan bubar, cucu Lamkiong Eng-lok juga sudah meninggal dunia, ke mana lagi dia harus menuntut balas? Ia menjadi bingung, siapakah musuhnya yang sebenarnya, apakah Swe Thian-bang? Memang sekarang terbukti juga Swe Thian-bang telah mencelakai orang tuanya, tapi umpama Swe Thian-bang dibunuhnya, apakah mungkin dapat memulihkan marga Lamkiong yang telah runtuh?
Selagi kusut dan bingung pikiran Lamkiong Peng, tiba-tiba Lamkiong Siang-ju bergelak tertawa, "Haha, jangan kaupercaya ocehannya, Anak Peng. Apa pun yang akan terjadi adalah kewajibanku sebagai ahli waris marga Lamkiong. Swe Thian-bang adalah manusia culas dan keji, secara kejam dunia kang-ouw hendak ditaklukkannya. Adalah kewajibanmu untuk menumpas kebatilan demi keamanan umum, apa yang kauragukan lagi, Anak Peng?"
Semangat Lamkiong Peng tergugah oleh seruan sang ayah, serentak ia membentak, "Ayo, bangsat, majulah untuk menerima kematianmu!"
"Hehehe," Siau Bong-wan terkekeh. "Orang bilang Lamkiong-kongcu ahli waris marga terkemuka dan murid Sin-liong tak terkalahkan, tampaknya memang gagah perkasa, tapi apakah tidak kaupikirkan lagi nyawa kedua orang tua yang terletak dalam genggamanku?"
Karena ancaman ini, kembali Lamkiong Peng merasa sangsi.
"Maju, Anak Peng, mampuskan bangsat itu!" teriak Lamkiong Siang-ju.
Segera Lamkiong Peng hendak menubruk maju. Tapi Siau Bong-wan lantas berseru pula, "Haha, obat penawarnya berada padaku, apakah benar engkau tidak peduli lagi akan mati-hidup ayah-ibumu?"
Baru saja Lamkiong Peng kelihatan ragu, cepat Lamkiong Liang-ju berteriak, "Tidak, Anak Peng, jangan kaulupakan amanat leluhur kita. Bila benar engkau taat kepada ajaran marga, lekas kaumampuskan bangsat itu tanpa menghiraukan kami."
Perasaan Lamkiong Peng serasa disayat-sayat. Ia paham kebesaran jiwa sang ayah, tapi sebagai anak, masa ia lega menyaksikan orang tua mati begitu saja? "Tidak, Ayah, tak dapat ku . . . . "
Belum lanjut ucapan Lamkiong Peng, mendadak Lamkiong Siang-ju mengangkat sebelah tangannya dan mengancam, "Anak Peng, jika kausangsi lagi, segera kuhancurkan kepala ibumu dan segera kubunuh diri pula. Daripada menyaksikan anak tak berbakti yang tidak tegas, lebih baik kami mendahului mangkat!"
"Jangan, Ayah, jangan . . . " ratap Lamkiong Peng. Segera ia menambahkan dengan beringas, "Baik, Ayah, anak siap melaksanakan perintahmu dan bersumpah membalaskan sakit hatimu!"
Habis berkata, serentak ia menubruk maju sambil membentak, "Bangsat, serahkan nyawamu!"
Melihat sikap beringas anak muda itu, segera Siau Bong-wan meraba sakunya dan bermaksud menghamburkan racun asap yang telah disiapkannya. Akan tetapi sebelum dia bertindak, sekonyong-konyong sesosok bayangan melayang tiba secepat terbang. Baru saja Siau Bong-wan berpaling, tahu-tahu pinggangnya terasa kesakitan dan ia roboh terkulai tanpa bisa berkutik lagi.
Kejut dan girang Lamkiong Peng. Ia urung menubruk maju seraya berseru setelah melihat jelas penolong ini, "Hah, kiranya engkau, Orang Tua!"
Kiranya penolong yang datang tepat waktunya ini adalah seorang kakek botak dengan perawakan kecil dan bermuka jelek. Dia bukan lain daripada Loh Ih-sian, salah seorang "Hong-yu" atau tiga sekawan pengelana.
"Maaf kedatangan Paman agak terlambat sehingga membuat susah kalian," kata Loh Ih-sian terhadap Lamkiong Peng.
Seketika timbul rasa duka anak muda itu demi teringat kepada nasib ayah bundanya, ucapnya dengan air mata berlinang, "Ayah dan ibu mungkin . . . "
"Jangan kuatir, Hiantit (kemenakan yang baik)," ucap Loh Ih-sian dengan tertawa. "Urusan ini kujamin beres . . . "
Tengah bicara, dari luar sana kembali melayang tiba sesosok bayangan orang. Sesudah berhadapan, kiranya seorang kakek pendek gemuk berdandan sebagai tabib keliling.
"Bagaimana, sudah beres semua?" tanya Loh Ih-sian terhadap kakek gemuk itu.
Tanpa bersuara, kakek pendek gemuk itu hanya mengangguk saja.
"Hiantit, inilah Toat-tiong (si tabib pencabut nyawa) Cui Beng-kui yang termasyhur itu," segera Loh Ih-sian memperkenalkan kawannya kepada Lamkiong Peng.
Sudah lama Lamkiong Peng kenal nama si tabib sakti itu, keruan ia kegirangan, cepat ia memberi hormat. Sikap Cui Beng-kui tetap dingin saja, ia cuma mengangguk pelan tanpa bersuara. Lamkiong Peng tahu tabiat orang yang nyentrik, ia pun tidak tanya lebih lanjut. Katanya terhadap Loh Ih-sian, "Sungguh beruntung atas kedatangan Paman, namun . . . "
"Nanti dulu, biar kuperiksa saja ayah-bundamu," sela Loh Ih-sian. Diseretnya Siau Bong-wan, bersama Cui Beng-kui mereka lantas masuk ke dalam.
Tatkala itu Lamkiong Siang-ju dan istrinya sudah tambah payah dengan napas terengah-engah, tentu saja Lamkiong Peng sangat sedih. Setelah menaruh Siau Bong-wan, kata Loh Ih-sian kepada Cui Beng-kui, "Nah, sekarang giliranmu untuk memperlihatkan kemahiranmu."
Tanpa bicara, Cui Beng-kui mendekati Lamkiong Siang-ju, diperiksanya nadi suami-istri itu, lalu berucap, "Tidak berhalangan!" Ia lantas mengeluarkan sebuah bungkusan kecil, diambil sebuah botol hitam kecil dan menuang dua biji pil serta dijejalkan ke mulut Lamkiong Siang-ju dan istrinya, lalu berkata pula, "Selang setengah jam, racun dalam tubuh mereka akan punah, habis itu baru akan kuobati luka mereka."
Habis bicara, ia terus menyingkir ke samping dan duduk bersila sambil memejamkan mata. Lamkiong Peng bergirang dan juga ragu, namun tidak enak untuk bertanya, terpaksa ia hanya memandang Loh Ih-sian.
"Jangan kuatir, Hiantit," ucap Loh Ih-sian. "Obat setan tua she Cui ini biasanya cespleng, kita percaya penuh kepada kemahirannya. Kuterima berita dari Ban Tat tentang keadaan ayah-bundamu ini, cepat kuajak setan tua Cui Beng-kui kemari. Kalau bukan terhalang beberapa kroco di luar kampung, tentu sejak tadi sudah berada di sini." Ia berhenti sejenak, lalu bertanya, "Eh, bukankah kaupergi ke Cu-sin-to, kenapa pulang kemari?"
Lamkiong Peng menghela napas panjang, lalu diceritakannya pengalaman selama setahun ini. Loh Ih-sian menggeleng kepala dengan gundah, katanya, "Sungguh tak disangka dalam waktu sesingkat ini bisa terjadi hal-hal seperti ini. Nanti kalau ayah-ibumu sudah sembuh, boleh kita berunding tentang cara bagaimana membangun kembali marga Lamkiong kalian yang jaya . . . "
Tengah bicara, terdengar Lamkiong Siang-ju dan istrinya menarik napas panjang, rupanya sudah siuman. Dengan girang Lamkiong Peng memburu maju sambil berseru, "Ayah! Ibu . . . . "
Lamkiong Siang-ju membuka mata dan memandang sekelilingnya sekejap, ia tersenyum dan berkata dengan lemah, "Kutahu, tidak perlu kaujelaskan, tentu kedua saudaraku inilah yang telah menyelamatkan jiwa kami . . . "
"Bukan jasaku, jika mau berterima kasih harus kau tujukan kepada setan tua she Cui itu," ucap Loh Ih-sian.
"Tidak perlu terima kasih segala, adalah tugasku menyembuhkan saudara sendiri," seru Cui Beng-kui sambil bangkit. "Sekarang masih harus kuobati luka dalam kalian."
Sambil berkata, ia lantas mengeluarkan pula sebuah botol putih kecil dan menuang lagi dua biji pil putih serta disuruh minum Siang-ju dan istrinya. Lalu ia bantu menyalurkan tenaga dalam kepada Siang-ju berdua. Tidak seberapa lama, keluar keringat Siang-ju dan badan terasa segar kembali. Cui Beng-kui tersenyum puas dan menyudahi pekerjaannya, ia beri lagi dua biji pil putih kepada suami-istri itu dan suruh mereka istirahat sebentar.
"Bangsat Swe Thian-bang itu sungguh keji," kata Loh Ih-sian kemudian. "Demi keamanan dunia persilatan Tionggoan umumnya, kita perlu menyiapkan siasat untuk menghadapi rencana kejinya."
Siang-ju menghela napas, ucapnya, "Setelah kuberangkatkan anak Peng, mestinya kami bermaksud mengasingkan diri untuk menghabiskan hari tua, siapa tahu kami tetap tidak terlepas dari incaran gembong iblis semacam Swe Thian-bang itu. Bagaimana Loh dan Cui-hiante, dari pengamatan kalian, dapatkah kalian memberi pendapat tentang kegiatan dan ambisi Swe Thian-bang?"
"Kami hanya tahu dia mempengaruhi tokoh dunia kang-ouw Tionggoan dengan obat racunnya serta cara-cara kotor dan rendah yang lain. Kini ketujuh aliran dan golongan besar sudah terpengaruh olehnya dan tidak lama lagi akan mengadakan pertemuan besar untuk memilih ketua perserikatan dunia persilatan, hanya waktu dan tempatnya belum ditentukan. Apa Toako sendiri sudah mendapat keterangan lebih banyak tentang iblis itu?"
Siang-ju menggeleng kepala, tuturnya, "Aku pun tidak banyak mengetahui gembong iblis itu. Jika orang she Siau ini mengaku sebagai tangan kanan Swe Thian-bang, barangkali dari dia bisa kita peroleh informasi seperlunya."
"Betul juga pendapat Toako," seru Loh Ih-sian. Segera ia menepuk dua kali di pinggang Siau Bong-wan sehingga dapatlah orang itu bergerak, lalu ditanyai, "Nah, sekarang kauingin hidup atau mati, coba jawab dulu."
Siau Bong-wan bermaksud berdiri, tapi baru saja badan terangkat, kontan ia roboh terguling pula dengan lemas. Baru sekarang ia sadar tenaga sendiri belum dapat dikerahkan. Namun, ia tetap bandel. Dengan menyeringai ia menjawab, "Hm, tidak perlu kauperas diriku. Jika kauingin keteranganku, lebih dulu kalian harus berjanji akan bekerja bagi Swe-siansing."
"Hm, mati sudah di depan mata, masih berani kepala batu," jengek Loh Ih-sian. "Tampaknya kaupilih mati daripada hidup. Baik, boleh coba kaurasakan Bangicoan sim-hoat yang sudah lama tidak pernah kugunakan."
Sembari bicara, ia terus berjongkok dan menotok beberapa hiat-to tertentu di tubuh Siau Bong-wan. Dalam sekejap saja Siau Bong-wan lantas bergeliat dan melolong. Namun dia memang bandel, meski menahan sakit, ia tidak minta ampun sama sekali. Loh Ih-sian terkesiap juga, "Hah, boleh juga kau!" Sambil menjengek ia tambahi lagi dua kali depakan, seketika Siau Bong-wan berkelojotan.
"Nah, waktunya tidak banyak lagi, hendaknya jawab pertanyaanku, kapan dan di mana Swe Thian-bang akan menyelenggarakan pertemuan besar tokoh dunia persilatan?" tanya Loh Ih-sian.