Chapter 125
Sorot mata Siau Bong-wan yang semula beringas akhirnya berubah suram dan menunjukkan rasa mohon kasihan. Akhirnya, tercetus juga dari mulutnya, "Ci-hau..."
Namun, baru satu kata saja ucapannya, mendadak darah menyembur dari mulutnya, lalu ia roboh telentang dan tidak bergerak lagi.
Loh Ih-sian melompat maju dan memeriksa pernapasan orang tersebut. Ternyata ia sudah tak bernyawa lagi. Loh Ih-sian menggelengkan kepala dan berucap, "Swe Thian-bang keji, anak buahnya juga nekat."
"Ai, lantas bagaimana sekarang? Sumber keteranganku sudah buntu. Adakah jalan lain?" kata Lamkiong Siang-ju dengan menyesal.
Loh Ih-sian menggaruk-garuk kepala tanpa bersuara.
Mendadak Lamkiong Peng berseru, "Dia menyebut Ci-hau, jangan-jangan maksudnya Ciceng, tempat guruku. Biar segera kuberangkat ke sana."
Loh Ih-sian manggut-manggut, "Ya. Meski Putliong sudah mati, pengaruhnya belum surut. Bukan mustahil Swe Thian-bang sengaja memilih tempat itu untuk menyelenggarakan pertemuan besar."
Ia berhenti sejenak, mengeluarkan satu bungkus kecil obat, lalu menyerahkannya kepada Lamkiong Peng. "Jika Hiantit mau berangkat, bawalah obat dari Cui-heng ini yang khusus dibuat untuk menghadapi racun andalan Swe Thian-bang. Setiap korban racunnya dapat disembuhkan dengan obat ini."
Dengan senang hati, Lamkiong Peng menerima obat itu. Segera ia memohon diri kepada kedua orang tuanya, berbenah seperlunya, lalu berangkat ke Ci-hausanceng.
Malam sunyi senyap, angin meniup santar. Ciceng yang termasyhur itu pun tenggelam dalam keheningan, hanya pada ruang tengah yang luas itu kelihatan cahaya lampu yang agak suram.
Di tengah ruangan berjajar tiga buah peti mati. Di dalamnya berbaring untuk selamanya Putliong Liong Po-si, Thiki Suma Tiong-thian, dan Cu-sin-tocu Lamkiong Eng-lok. Di kedua samping sebuah meja panjang di depan ketiga peti mati itu duduk Liong Hui, Koh Ih-hong, dan Ciok Tim. Ketiganya duduk diam dengan khidmat.
Akhirnya terdengar Liong Hui menghela napas dan berkata, "Adakah pendapat kalian tentang tindakan kita sekarang?"
Koh Ih-hong dan Ciok Tim saling pandang sekejap. Mendadak Ciok Tim menggebrak meja dan berseru, "Apa pun yang akan terjadi, Ciceng tetap harus kita pertahankan. Tidak boleh kita mencoreng nama baik perguruan."
"Tentu saja aku setuju atas sikap Samko ini," kata Koh Ih-hong. "Namun, melulu tenaga kita bertiga mungkin sukar menghadapi lawan."
"Biarpun tidak mampu melawan, kita harus tetap mempertahankan mati-matian," teriak Ciok Tim. Ketiga orang itu lantas bungkam dan termenung.
Akhirnya, Liong Hui bergumam, "Alangkah baiknya jika saat ini Gote hadir di sini..."
Belum selesai ucapannya, tiba-tiba terdengar orang berseru di luar, "Toako, Samko, dan Sici, inilah aku sudah pulang!"
Serentak Liong Hui dan kedua rekannya berpaling. Mereka melonjak girang sambil berseru, "Hah, Gote! Sungguh sangat kebetulan!" Pendatang ini memang Lamkiong Peng.
Sesudah berada di ruang besar, seketika mukanya berubah saat melihat peti mati itu.
"Inilah jenazah Suhu, Paman Suma, dan Paman Lamkiong. Samte yang mengusungnya pulang kemari," tutur Liong Hui.
Dengan air mata berlinang, Lamkiong Peng menyembah kepada masing-masing peti mati itu. Setelah itu, barulah ia memberi salam hormat kepada para suheng. "Siaute menerima kabar ada kemungkinan Swe Thian-bang akan berbuat sesuatu terhadap Ciceng, maka aku cepat datang kemari. Entah Toako sudah menerima kabar atau belum?"
"Kenapa tidak," jawab Liong Hui sambil menunjuk sepucuk surat di atas meja.
Ternyata di atas meja ada sepucuk surat bersampul hitam. Cepat Lamkiong Peng mengambil dan membacanya. Seketika ia murka, "Bangsat, sungguh terlalu menghina Ciceng kita. Dan bagaimana tindakan Toako?"
"Justru kuharapkan kedatangan Gote untuk berunding dan mencari jalan yang baik," jawab Liong Hui.
"Menurut pendapatku, kekuatan nyata kita memang bukan tandingan gembong iblis itu bersama begundalnya," ucap Lamkiong Peng. "Akan tetapi, kekuatan mereka hanya mengandalkan pengaruh racun dan cara-cara kotor. Jika kita dapat menyadarkan orang yang terbius oleh racunnya dan membongkar kedoknya yang keji, tentu kekuatannya akan mereteli sehingga tidak sulit untuk menghancurkannya. Yang utama, tokoh dari ketujuh aliran dan golongan besar yang terpengaruh itu harus kita rebut kembali lebih dulu."
Malam tambah larut. Saat sedang bicara, tiba-tiba terdengar suara tetabuhan yang nyaring menggema di angkasa malam yang sunyi. Semakin lama suara musik itu semakin mendekat.
"Hm, tampaknya kawanan iblis itu sudah datang. Harap Toako juga siap menghadapi mereka," kata Lamkiong Peng. "Suruh buka pintu, lihat saja apa yang akan dilakukan mereka."
Segera Liong Hui memberi perintah agar pintu gerbang dibuka. Tidak lama kemudian, di tengah kegelapan malam, muncul berpuluh titik cahaya lentera yang terbagi menjadi dua baris, beriring-iring masuk ke Ci-hausanceng. Di bawah cahaya lampu, kelihatan di depan adalah delapan pemain musik, diikuti serombongan orang yang berdandan berbeda-beda. Di belakangnya lagi, dua pembawa lentera mengapit sebuah tandu berhias di bawah iringan sekawanan lelaki berbaju hitam.
Setiba di halaman depan ruang tamu, rombongan orang yang berdandan berbeda itu lantas berdiri tegak dan hormat di kedua samping. Hampir sebagian besar dari rombongan ini dikenal Lamkiong Peng; mereka ialah Yim Hong-peng, keempat tokoh Tuikiam, Bin-san-ji-yu, Ko Hong, jago Ngo-hou-toan-to Pang Liat, dan lain-lain.
Yang lebih mengejutkan lagi adalah di antara rombongan ini terdapat juga Yap Man-jing, Tik Yang, Ih Lob, dan Kwe Giok-he. Mereka tampak linglung, kehilangan akal sehatnya, dan rela diperalat musuh. Diam-diam Lamkiong Peng berpikir, bila obat pemberian Cui Beng-kui nanti kehilangan khasiatnya, maka akibatnya sukar dibayangkan.
Dalam pada itu, tandu tadi diusung ke depan. Waktu kedua kacung menyingkap tabir, keluarlah seorang lelaki setengah baya dengan wajah putih namun berwibawa.
Lamkiong Peng dan yang lain heran; sungguh tak terduga gembong iblis yang disegani ini ternyata belum lanjut usia, bahkan tidak mirip orang kang-ouw pada umumnya.
Begitu menampakkan diri, dengan suara lantang Swe Thian-bang berseru, "Sungguh sayang, waktu hidupnya belum sempat berjumpa dengan Liong-tai-hiap. Sesudah beliau wafat, baru dapat aku berkunjung kemari. Adalah pantas jika sekarang kuberi penghormatan kepadanya."
Ia lantas memberi hormat kepada jenazah Liong Po-si, lalu berseru, "Put-si-sin-liong sudah mati, seterusnya Ciceng harus dicoret dari dunia persilatan. Kukira setiap orang yang hadir di sini sependapat denganku?" Serentak anak buahnya bersorak setuju.
"Diam!" bentak Liong Hui dengan melotot. "Ciceng bersejarah ratusan tahun dan merupakan bintang kejora di dunia persilatan Tionggoan. Memangnya kaum iblis semacam kalian ini ingin mengaduk-aduk di depan kaum ksatria yang hadir di sini? Jangan mimpi!"
"Hehe, kematian sudah di depan mata, masih berani bicara besar," ejek Swe Thian-bang.
"Hm, anak murid Sin-hong, memangnya takut digertak?" jawab Liong Hui tegas. "Ayo siap, anak murid Ciceng!"
Serentak terdengar suara gemuruh ratusan orang di luar ruangan. Berbarengan dengan itu, berpuluh obor dinyalakan sehingga suasana menjadi terang benderang.
"Huh, hanya ratusan orang saja berani pamer kekuatan padaku? Cukup sekali tanganku bergerak, ratusan orang kalian akan menjadi setan!" ejek Swe Thian-bang.
Baru lenyap suaranya, tiba-tiba dari luar ruangan seseorang menanggapi, "Haha, bagus, bagus! Justru kawanan pengemis yang kelaparan ini sudah bosan hidup, kebetulan jika ada yang pandai membuat orang menjadi setan!"
Dari suaranya yang serak, Lamkiong Peng segera mengenalinya sebagai Ih Hong. Tentu saja ia sangat girang.
"Haha, bagus jika kalian minta menjadi setan daripada hidup selalu kurang makan!" seru Swe Thian-bang. Ia segera memberi tanda sehingga para pengiringnya siap tempur.
Melihat gelagatnya, jelas pertarungan sengit sukar dihindarkan. Diam-diam Lamkiong Peng gelisah karena sejauh ini rombongan ayah-bundanya belum muncul, padahal tenaga mereka sangat diperlukan.
Dalam pada itu, Liong Hui juga sudah memberi tanda. Terdengar suara barisan pemanah memasang panah dan membentang busur di sekeliling ruangan.
Diam-diam Yim Hong-peng mendekati Swe Thian-bang dan membisikkan apa yang didengarnya di luar. Tampak air muka Swe Thian-bang sedikit berubah. Segera ia memberi pesan kepada Yim Hong-peng agar menempati posisi yang sudah ditentukan dan siap bertindak.
Selagi ketegangan memuncak dan segera akan terjadi banjir darah, tiba-tiba ada anak buah Kai-pang berseru di luar, "Hong-hiap datang!"
Girang sekali Lamkiong Peng mendengar kedatangan rombongan ayahnya. Dilihatnya Swe Thian-bang juga tersenyum senang. Sejenak kemudian tampak Lamkiong Siang-ju dan istrinya serta Loh Ih-sian masuk ke ruangan.
Segera Swe Thian-bang menyapa, "Memang sudah kuduga kalian akan tiba tepat pada waktunya. Kenapa Bong-wan tidak kelihatan ikut datang?"
Lamkiong Siang-ju memberi hormat, jawabnya, "Kami suami-istri perlu mengajak Lamte sehingga agak terlambat datang, harap dimaafkan. Mengenai Siau-siansing, dia menyatakan ada sedikit urusan lain dan segera akan menyusul tiba."
Swe Thian-bang tampak heran dan sangsi, tapi tidak bertanya lebih lanjut. Katanya, "Syukurlah Lamkiong-tai-hiap sudah datang. Sesungguhnya kuharapkan adanya kesepakatan antara sesama orang persilatan dan tidak perlu menimbulkan sengketa berdarah."