Halo!

Han Bu Kong - Chapter 126

Memuat...
Han Bu Kong

Chapter 126

"Untuk ini, mungkin sekali Lamkiongtaihiap mempunyai gagasan sesuai dengan rencana kita semula?"

Lamkiong Siang-ju tersenyum, ucapnya, "Kami berterima kasih atas penghargaan Swe-siaming terhadapku. Adapun urusan sekarang, sedapatnya akan kuselesaikan secara damai."

Lalu ia berpaling dan berkata kepada Lamkiong Peng yang berdiri tercengang, "Anak Peng, coba maju ke sini!"

Meski ragu, Lamkiong Peng yakin sang ayah pasti mempunyai maksud tertentu. Maka, perlahan ia mengisiki Liong Hui dan yang lain agar siap tempur, lalu mendekat ke depan sang ayah sambil berkata, "Anak mohon petunjuk, Ayah!"

Dengan kereng, Lamkiong Siang-ju berkata, "Anak masih muda, seharusnya belajar dari pengalaman orang itu. Bahwa Swe-siansing bermaksud mempersatukan dunia persilatan demi kesejahteraan kaum kita, kebijaksanaan yang luhur ini harus kita dukung. Lekas memberi hormat kepada Swe-siansing dan beri penjelasan lebih lanjut kepada kawan serta saudara seperguruanmu yang lain. Sebentar lagi kita masih akan bermusyawarah."

Mestinya Lamkiong Peng bermaksud menyatakan pendapatnya, tapi ia segera paham di balik ucapan sang ayah tentu terkandung makna lain. Maka ia hanya mengiakan saja, memberi hormat sekadarnya kepada Swe Thian-bang, lalu mengundurkan diri ke dekat rombongan Yap Man-jing, Tik Yang, Ih Loh, dan Kwe Giok-he.

Tak terduga, mendadak Liong Hui berteriak dengan mendelik, "Nanti dulu! Paman Lamkiong adalah tokoh pujaanku, sungguh sayang engkau bisa mengemukakan gagasan seperti ini. Bagi anak murid Sin-liong, lebih baik gugur sebagai ratna daripada hidup mengekor kepada kaum durjana!"

"Liong hiantit, kenapa kau berbicara seperti ini?" kata Lamkiong Siang-ju dengan kereng. "Bahwa Ciceng kini berada di bawah pimpinanmu, tapi apakah tidak kaupikirkan kepentingan orang banyak dan lebih suka menjadi orang berdosa bagi dunia persilatan?"

"Paman Lamkiong!" teriak Liong Hui. "Swe Thian-bang manusia berhati binatang. Biarpun kita berdamai dengan dia, akhirnya pasti akan dicaploknya juga."

"Kurang ajar!" bentak Swe Thian-bang dengan gusar. "Antara Lamkiongtaihiap dengan pihak kami sudah ada persetujuan, dengan hak apa kauberani ikut bicara, bahkan menghasut? Apakah kau tahu apa hukumannya bagi dosamu ini?"

"Sabar dulu, Swe-siansing," sela Lamkiong Siang-ju. "Seorang pemimpin, bilamana ingin orang lain tunduk lahir batin, hendaknya berlaku bijaksana. Tapi melihat tindak-tanduk Swe-siansing sekarang, aku menjadi sangsi apakah pergerakanmu akan berhasil."

Seketika berubah hebat air muka Swe Thian-bang, bentaknya, "Hah, kau pun berani bicara demikian? Apakah tidak kaupikirkan lagi keselamatanmu? Tidak kah kau tahu apa akibatnya pembangkanganmu ini? Siau Bong-wan tidak pernah bicara padamu?"

"Haha," Siang-ju tertawa. "Siau Bong-wan jangan kau singgung lagi, dia takkan datang lagi untuk selamanya. Semula kusangka Swe-Siansing pasti ada kelebihan daripada orang lain, siapa tahu engkau cuma mengandalkan obat racun saja untuk mengelabui mata telinga orang. Baru sekarang terlihat jelas kepribadianmu yang sesungguhnya; sungguh menertawakan dan pantas dikasihani."

Merah padam muka Swe Thian-bang saking geramnya, teriaknya, "Memangnya kaukira tanpa obat tak dapat kutaklukkan kalian?"

"Itu perlu dibuktikan dulu," jawab Lamkiong Siang-ju.

"Baik," jengek Swe Thian-bang. Lalu ia berteriak, "Mana Su-tai kim-kong (empat jago utama)!"

Serentak terdengar Yap Man-jing, Tik Yang, Ih Loh, dan Kwe Giok-he mengiakan sambil melangkah ke depan Swe Thian-bang. Dengan tatapan tajam, Swe Thian-bang berseru, "Sukong terima perintah, segera penggal kepala Lamkiong Siang-ju dan begundalnya yang membangkang!"

Tik Yang berempat kelihatan kaku, serupa terpengaruh obat bius. Terdengar mereka mengiakan dan membalik tubuh, serentak melolos pedang. Akan tetapi, mendadak mereka berbalik lagi; empat pedang menusuk sekaligus, bukan ke arah Lamkiong Siang-ju, melainkan ke dada dan perut Swe Thian-bang.

Kejadian ini sama sekali tak terduga oleh Swe Thian-bang; ia tertusuk keempat pedang tersebut. Namun, ia memang tokoh maha tangkas, sebelah kakinya masih sempat membalas menendang dan tepat mengenai bawah perut Kwe Giok-he. Kontan Giok-he menjerit dan roboh terguling. Swe Thian-bang juga tidak tahan lagi, sambil meraung ia pun roboh terjungkal dengan tangan memegang dada dan perutnya yang mengucurkan darah.

Kiranya tadi waktu Lamkiong Peng disuruh berdamai oleh sang ayah, kesempatan itu telah digunakannya untuk memberi obat penawar racun kepada Tik Yang berempat. Sesudah pikiran sehat mereka jernih kembali, diam-diam mereka merencanakan tindakan balasan. Terutama Kwe Giok-he yang merasa telah tersesat dan malu terhadap suami serta para adik seperguruan; ia menyerang paling ganas dan akibatnya ia sendiri pun tewas terkena tendangan Swe Thian-bang.

Kejadian tak terduga ini seketika membuat begundal Swe Thian-bang menjadi panik; mereka bingung dan tidak tahu harus berbuat apa, serupa ular kehilangan kepala. Segera, Lamkiong Peng berseru, "Ayo kawan, sikat kawanan durjana ini!"

Serentak orang banyak bersorak dan menerjang maju. Dengan sendirinya Yim Hong-peng dan kawannya tidak tinggal diam; mendadak ia menyebarkan kabut putih, hanya sekejap saja kabut tebal telah memenuhi seluruh ruangan.

Lamkiong Peng pernah melihat kabut berbisa ini dan tahu berbahayanya, cepat ia berteriak, "Awas kabut beracun, tahan napas dan mundur keluar!" Karena tebalnya kabut itu, Lamkiong Siang-ju suami-istri dan jago lain tidak sempat lagi menerjang begundal Swe Thian-bang, mereka berusaha menyingkir. Hanya sekejap saja anak buah Swe Thian-bang sudah terlindung di tengah kabut dan bermaksud kabur.

Dengan menyesal Lamkiong Peng berucap, "Sungguh sayang, meski biang keladinya sudah binasa, namun antek-anteknya sempat lolos!"

Belum lenyap suaranya, sekonyong-konyong terdengar gelak tawa. Sesosok bayangan melayang tiba dari luar, didahului oleh cahaya bunga api warna biru yang gemerlapan di tengah kabut. Menyusul pendatang itu lantas membentak, "Kawanan tikus, perlihatkan diri!"

Aneh juga, begitu kabut tebal itu berbaur dengan cahaya biru tersebut, seketika kabut menipis dan buyar serupa kabut pagi tertimpa sinar surya. Di bawah cahaya lampu, terlihat Yim Hong-peng bersama begundalnya sudah mundur sampai di ambang pintu perkampungan.

"Panah!" bentak Liong Hui mendadak. Serentak terjadi hujan panah bagaikan belalang terbang. Pintu gerbang perkampungan teralang dan sukar ditembus, anak buah Swe Thian-bang yang lari paling depan menjerit terkena panah dan roboh binasa. Hanya sekejap saja 20-30 orang sudah terkapar.

Melihat gelagat jelek, cepat Yim Hong-peng memberi tanda agar begundalnya menyerbu kembali ke tengah ruangan. Dengan membentak gusar, segera mereka disambut Liong Hui, Koh Ih-hong, Ciok Tim, dan anak buah Ciceng. Dengan sendirinya Lamkiong Peng dan lain-lain lantas ikut bertempur, juga kawanan pengemis pimpinan Ih Hong lantas menyerbu dari luar. Maka, terjadilah pertempuran sengit di perkampungan termasyhur ini.

Lamkiong Peng berhadapan dengan Tong Goan satu lawan satu. Hanya beberapa gebrak saja, anak muda itu membentak, pedang pusaka Yaploh berkelebat, kontan kepala Tong Goan terbelah menjadi dua tanpa sempat menjerit. Yim Hong-peng dikerubut Ih Loh dan Tik Yang; hanya beberapa jurus saja, tubuh Yim Hong-peng sudah terkacip menjadi tiga bagian oleh kedua pedang mereka.

Melihat gelagat tidak enak, Pang Liat dan yang lain yang masih tersisa cepat mencari jalan untuk kabur. Karena biang keladi sudah binasa, Lamkiong Siang-ju lantas memberi tanda agar pertempuran dihentikan supaya tidak lebih banyak menimbulkan korban.

Setelah semuanya tenang kembali, dengan terharu Lamkiong Peng berpegangan tangan dengan Yap Man-jing. Liong Hui pun sedang mencucurkan air mata memandangi jenazah sang istri yang terkapar di lantai. Sejenak kemudian barulah Lamkiong Siang-ju teringat kepada pendatang terakhir yang menghamburkan cahaya biru penghapus kabut berbisa tadi. Waktu ia memandang ke sana, ketahuanlah siapa gerangannya. Kiranya tak lain adalah orang yang dulu menumpang makan di rumahnya, yaitu Ban Tat.

Segera ia mendekati orang itu dan mengucapkan terima kasih, "Syukurlah kaudatang tepat pada waktunya, kalau tidak sungguh sukar dibayangkan bagaimana jadinya."

"Ah, itu pun kewajibanku yang tidak berarti," kata Ban Tat. "Malahan di tengah perjalanan aku bertemu dengan Nona Bwe dan mendapat titipan sepucuk surat." Lalu ia mengeluarkan surat itu kepada Lamkiong Peng.

Tergetar hati anak muda itu, cepat ia tanya, "Ke mana dia?"

Ban Tat menghela napas, katanya dengan menyesal, "Dia... dia sudah ikut ke Kun-mo-to bersama Sun-siau tocu."

Seketika kepala Lamkiong Peng berdengung, hampir saja ia jatuh pingsan.

"Nona Bwe sungguh perempuan hebat," kata Ban Tat pula. "Justru dia rela berkorban demi kesejahteraan dunia persilatan. Dia yang minta pimpinan Kun-mo-to itu mencegah bergabungnya tokoh ketujuh aliran besar dengan Swe Thian-bang. Kukira sukar bagimu untuk membalas jasanya ini."

Baru sekarang Lamkiong Peng paham apa sebabnya tokoh ketujuh aliran itu tidak muncul membela Swe Thian-bang; kiranya telah mendapat perintah pimpinan Kun-mo-to atas permintaan Bwe Kim-soat. Dengan berlinang air mata ia membaca surat Bwe Kim-soat yang antara lain tertulis: "...hendaknya kaujaga Adik Jing dengan baik, aku ini perempuan yang teramat jelek, semoga mengikat jodoh pada..."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment