Halo!

Han Bu Kong - Chapter 13

Memuat...
Han Bu Kong

Chapter 13

Tangan Lamkiong Peng agak gemetar. Mendadak ia membentak, "Naik!"

Begitu tutup peti mati terbuka, seketika kedua orang itu berdiri melongo seperti patung. Butiran keringat tampak menetes dari dahi si Tojin. Dengan muka pucat ia bergumam, "Ini... ini... dia... dia...." Kiranya peti mati itu kosong melompong, tidak berisi apa pun.

Muka Lamkiong Peng berubah pucat. Mendadak ia membentak, "Kau berani main gila!" Ia memutar pedangnya dan langsung menusuk si Tojin.

Saat itu si Tojin sedang memandangi peti kosong dengan linglung. Tusukan Lamkiong Peng seolah-olah tidak dilihatnya. Tampak bibirnya bergerak seperti mau bicara, tapi hanya sempat terucapkan, "Peti ini tentu..." Tahu-tahu dada kirinya sudah tertusuk oleh pedang Lamkiong Peng.

Dada kiri tepat di atas jantung adalah bagian yang mematikan. Darah lantas memuncrat membasahi jubah pertapaannya. Tojin itu tampak melongo kaget. Ia mengerang dan meraih batang pedang. Tubuhnya bergoyang. Dengan sinar mata buram ia memandang Lamkiong Peng, lalu dengan suara terputus-putus berucap, "Suatu... suatu hari kelak kau pasti akan... akan menyesal." Suaranya serak, pedih, dan penuh rasa penasaran, tapi ia segera melemah dan akhirnya roboh terkulai.

*Bluk!* Tutup peti kembali menutup setelah terlepas dari pegangan Lamkiong Peng. Ia memandang jenazah yang tergeletak tak bergerak itu, lalu memandang pedang di tangannya dengan terkesima. Tetes darah terakhir pada ujung pedang baru saja menitik.

Karena guncangan emosinya, hampir saja ia melemparkan pedang itu ke jurang. Ia berdiri termenung dan bergumam, "Akhirnya aku... aku membunuh orang." Untuk pertama kalinya ia membunuh orang, sungguh tidak enak perasaannya. Padahal Tojin ini baru saja bertemu dengannya, bahkan nama masing-masing pun belum saling tahu, namun jiwa orang yang tak dikenalnya ini sekarang telah melayang di bawah pedangnya.

Dengan bimbang ia mengangkat peti mati itu dan melangkah ke arah kedatangannya tadi, kembali ke puncak Jong-liong-nia. Tiba-tiba ia teringat, "Seyogianya kukubur mayat Tojin itu." Cepat ia berlari lagi ke sana.

Tapi aneh, darah masih kelihatan berceceran di tanah, namun jenazah si Tojin yang malang itu sudah menghilang entah ke mana. Suasana sunyi senyap. Angin meniup kencang, gumpalan awan mengambang di udara. Lamkiong Peng berdiri bingung di situ. Ia memandang ke jurang yang tak terkirakan dalamnya. Ia mengira mayat si Tojin mungkin tertiup angin ke dalam jurang. Diam-diam ia berdoa semoga roh si Tojin mendapatkan tempat yang layak di alam baka.

Setelah beberapa lama, akhirnya ia merasakan hawa semakin dingin. Ia mengangkat peti mati dan menuruni puncak gunung itu. Setibanya di pinggang gunung, angin dingin mulai mereda, dan suasana lereng pegunungan semakin sunyi.

Pikiran Lamkiong Peng semakin kusut. Selain rasa penyesalan terhadap si Tojin yang terbunuh, hatinya juga penuh tanda tanya yang belum terpecahkan. Hal yang aneh dan membingungkan adalah peti mati kayu cendana yang dibawanya ini. Rahasia apa yang sesungguhnya terkandung di dalamnya sehingga mendiang sang guru perlu memberi tugas khusus kepadanya untuk menjaga peti mati ini?

Ia mencari tempat sepi di bawah pohon yang rindang, lalu perlahan menaruh peti mati itu di atas tanah berumput yang mulai layu. Ia mencoba menyingkap lagi tutup peti; jelas kosong tanpa isi apa pun. Ia mencoba menelitinya lagi. Ia merasa jika dipandang dari luar, peti ini cukup besar, namun bagian dalamnya ternyata sangat dangkal dan sempit. Pada papan peti yang berwarna gelap itu tampak ada beberapa titik noda minyak. Jika tidak diperiksa dengan cermat, akan sukar mengetahuinya. Namun, tetap tidak ditemukannya tanda mencurigakan pada peti mati itu.

Ia duduk di bawah pohon dan mengelamun dengan bertopang dagu. Sukar baginya memecahkan tanda tanya ini. Ia sampai lupa mencari tahu mengapa saudara-saudara seperguruannya sampai saat ini belum kelihatan menyusulnya.

Ia mencoba mengeluarkan kain kuning peninggalan sang guru. Ikut terogoh keluar bangkai burung yang mati menumbuk dinding tebing dan hampir menimpanya tadi. Kain sutra kuning itu dibentangkannya. Tampaklah tulisan tangan yang sudah dikenalnya dengan baik, yaitu tulisan sang guru. Ia mulai membacanya.

"Selama hidupku memang tidak sedikit aku membunuh orang. Namun, orang yang kubunuh adalah orang yang pantas dibunuh. Sebab itulah hidupku boleh dikatakan tidak ada yang perlu disesalkan."

Tulisan sang guru ini mengingatkan Lamkiong Peng kepada si Tojin yang dibunuhnya. Pikirnya, "Apakah aku pun tidak perlu menyesal setelah membunuh Tojin itu?" Lalu ia teringat juga uraian si Tojin tentang pribadi gurunya. Jika hidup sang guru tidak ada yang perlu disesalkan, apa yang dikatakan si Tojin pasti tidak benar.

Maka dengan penuh keyakinan ia membaca lagi, "Namun, selama hidupku toh ada juga sesuatu yang membuatku menyesal."

Lamkiong Peng terkesiap. Segera ia membaca lebih lanjut, "Belasan tahun yang lalu, di dunia persilatan tersiar berita tentang kelakuan buruk seseorang. Sudah cukup lama aku benci kepadanya. Kebetulan seorang kawanku dicederai olehnya, aku lantas mencarinya dan kubinasakan dia di bawah pedangku. Namun setelah kejadian ini, barulah kutahu kesalahan sebenarnya terletak pada diri sahabatku. Sebaliknya, orang yang biasanya banyak melakukan kejahatan itu justru tidak bersalah. Sebab itulah aku..."

Tulisan selanjutnya mendadak sukar terbaca karena tertutup oleh darah bangkai burung. Dengan sendirinya Lamkiong Peng mendongkol karena bagian penting itu tak terbaca. Namun darah burung sudah kering. Umpama dicuci pun tulisan itu tetap sukar dibaca. Ia mencoba membaca bagian bawah yang tertulis, "Maka kuserahkan orang ini kepadamu, hendaknya kau jaga dia dengan baik."

Kening Lamkiong Peng berkerenyit. Ia bergumam heran, "'Dia'... siapa dia?"

Setelah termenung sejenak, ia membaca lagi, "Karena terburu-buru harus berangkat sehingga tidak sempat kuberitahukan urusan ini kepadamu, namun pada suatu hari kelak pasti dapat kauketahui duduk perkara yang sebenarnya. Selama ini tidak ada kebaikanku terhadapmu, hal ini pun membuatku menyesal. Semoga selanjutnya engkau berusaha maju dan menjadi manusia berguna sehingga tidak mengecewakan harapanku atas dirimu."

Lamkiong Peng membaca ulang beberapa baris terakhir ini dengan terharu. Air matanya berlinang-linang. "Apakah... apakah benar Suhu sudah meninggal? 'Pada suatu hari kelak pasti akan tahu duduk perkara yang sebenarnya'..." Selain duka, Lamkiong Peng jadi semakin curiga.

Dengan bimbang ia menggali sebuah lubang kecil, lalu bangkai burung itu ditanamnya. Ia bergumam, "Betapa pun, antara kita ada jodoh juga. Dunia seluas ini, mengapa engkau justru jatuh menimpa diriku? Hendaknya kau pun dapat istirahat dengan tenang di liang kecil ini."

Ia menghela napas menyesal ketika teringat pula bahwa Tojin yang terbunuh olehnya mungkin mayatnya tidak akan terkubur selamanya di dasar jurang sana. Ia memejamkan mata, menginginkan ketenangan. Kelelahan pun terasa menjalar ke sekujur badannya. Karena harus menghadapi pertarungan pagi tadi, setiap murid Ciceng hampir semalam suntuk tidak tidur, apalagi Lamkiong Peng harus bertempur lagi melawan si Tojin sehingga hampir seluruh tenaganya terkuras. Kelelahan fisik membuat ketegangan batinnya agak mengendur. Lamat-lamat ia tenggelam dalam kantuknya.

Sisa cahaya senja menyinari pucuk pepohonan. Hari sudah hampir gelap. Mendadak di tengah pepohonan rindang terdengar suara, "Krek!" Terjadi sesuatu pada peti mati kayu cendana yang misterius itu. Tutup peti mati perlahan terbuka ke atas. Meski suara ini sangat lirih, namun di tengah pegunungan yang sunyi, hal itu cukup membuat jantung Lamkiong Peng berdetak kencang. Mendadak ia membuka matanya dan kebetulan melihat adegan mengejutkan itu.

Tutup peti mati kosong itu diangkat oleh sebuah tangan yang putih halus. Lenyap seketika rasa kantuk Lamkiong Peng. Dilihatnya tutup peti mati itu terangkat semakin tinggi. Menyusul kemudian tampak sebuah wajah yang putih pucat dengan rambut hitam panjang terurai. Betapa pun tabahnya Lamkiong Peng, ia bergidik juga melihat kejadian luar biasa ini. Dengan suara gemetar ia menegur, "Sia... siapa kau?"

Saat itu, si cantik telah mulai menegakkan tubuhnya dari dalam peti mati. Perawakannya yang menggiurkan itu terbungkus oleh jubah putih bersih, serupa dengan wajahnya. Perlahan si cantik melangkah keluar dari peti mati dan mendekati Lamkiong Peng. Air mukanya tidak menunjukkan senyuman sedikit pun, juga tidak ada warna darah, bahkan bibirnya yang mungil juga putih pucat. Melihatnya di pegunungan sunyi secara mendadak, siapa pun akan menyangka dia datang dari alam halus.

Lamkiong Peng mengepalkan tinjunya erat-erat. Tangannya sendiri terasa dingin. Ia mencoba membentak lagi, "Siapa kau?"

Selagi Lamkiong Peng hendak melompat bangun, sekonyong-konyong si cantik dari peti mati itu tertawa dan berkata dengan lembut, "Kau takut apa? Memangnya kau sangka aku ini..." Mendadak ia tidak meneruskan kalimatnya, hanya tersenyum saja.

Suaranya begitu lembut serupa sepoi angin musim semi. Senyumnya begitu menggiurkan dan dapat meruntuhkan perasaan seorang yang berhati baja. Rasa seram yang dibawanya ketika keluar dari peti mati itu seketika lenyap oleh suara tawa dan kelembutan ucapannya. Lamkiong Peng melongo. Ia merasa senyum si cantik dari peti mati ini jauh lebih menggiurkan daripada Yap Man-jing; senyum yang lebih mendebarkan bagi siapa pun yang melihatnya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment