Halo!

Han Bu Kong - Chapter 14

Memuat...
Han Bu Kong

Chapter 14

Lamkiong Peng segera bangkit dan berdiri berhadapan dengan gadis cantik itu. Ia dapat melihat wajahnya dengan jelas. Rasa percaya dirinya pulih kembali, lalu ia kembali menegur, "Siapa kau?" Gadis cantik itu memandangnya sejenak, mendadak tertawa geli dan berucap, "Meski usiamu masih muda belia, tapi ada bagian tertentu memang lain daripada yang lain. Pantas Liong-loyacu menyerahkan diriku dalam perlindunganmu tanpa merasa khawatir." Lamkiong Peng lantas teringat tulisan pada kain sutra kuning yang salah satunya berbunyi, "Maka kuserahkan orang ini kepadamu, hendaknya kau jaga dengan baik...." Kini ia tahu bahwa "si dia" yang dimaksud tidak lain adalah gadis sangat cantik berwajah pucat dan berbaju putih bersih yang berdiri di hadapannya.

Namun, tanda tanya lainnya masih belum terjawab. Diam-diam ia merasa menyesal mengapa segala urusan terkadang bisa begitu kebetulan, mengapa bagian penting dari tulisan gurunya kebetulan dikotori oleh darah burung sehingga tidak terbaca.

Lamkiong Peng melihat gadis cantik dari peti mati itu menggeliat malas, lalu duduk di sebelahnya dengan gaya mempesona. Gadis itu menengadah memandang langit dan bergumam, "Waktu sudah berlalu dengan cepat, malam pun sudah hampir tiba. Padahal hidup manusia juga berlalu dengan cepat, bukan? Sejak dahulu kala hingga kini, siapa yang dapat mencegah bertambahnya usia?" Nada ucapannya seperti menyesali kehidupan sendiri. Seharusnya, seorang perempuan muda secantik bidadari tidak pantas bicara demikian, melainkan lebih mirip suara seorang janda atau perawan tua yang menyesali nasibnya yang berlalu sia-sia.

Memandangi profil gadis cantik yang memesona itu, tanpa sadar Lamkiong Peng bertanya, "Apakah Nona... oh, Nyonya...?" Tiba-tiba gadis cantik itu tertawa dan menukas, "Masakan kau tidak bisa membedakan aku ini Nona atau Nyonya? Sungguh aneh." Lamkiong Peng tergagap, "Tapi aku... aku tidak kenal...." "Jika Liong-loyacu telah menyerahkan diriku dalam perlindunganmu, masakan beliau tidak pernah berbicara denganmu mengenai diriku?" Kening Lamkiong Peng berkerut. Benaknya kembali membayangkan apa yang telah dibacanya. Diam-diam ia membatin, "Mungkinkah dia ini Leng-hiat Huicu yang disebut-sebut Tojin itu? Namun, Leng-hiat Huicu alias Kong-jiok Huicu itu konon sudah terkenal belasan tahun yang lalu. Jika begitu, usianya sekarang setidaknya di atas 30, mengapa dia...?" Ketika ia berpaling, dilihatnya gadis cantik dari peti mati itu kembali menatapnya dengan kerlingan mata yang memikat. Wajahnya putih halus. Jika ditaksir, usianya paling-paling baru 20-an saja.

"Bagaimana, kenapa tidak kau jawab pertanyaanku?" kata gadis cantik itu sambil tertawa membelai rambutnya yang hitam panjang terurai sebatas pinggang. Ia lalu menambahkan, "Ah, tentu ada yang sedang kau pikirkan mengenai diriku, atau jangan-jangan kau ragu mengenai umurku?" Wajah Lamkiong Peng memerah. Ia menunduk dan menjawab, "Ya, memang sedang kupikirkan usiamu." "Tentang usiaku, lebih baik jangan kau terka saja," ujar gadis cantik dari peti mati itu sambil menghela napas.

Ketika Lamkiong Peng tercengang, terdengar gadis cantik itu menyambung lagi, "Orang seusia diriku sesungguhnya tidak ingin orang berbicara lagi mengenai umurku." Lamkiong Peng tidak berani menatapnya lagi. Dalam hati, ia heran mengapa nada ucapan gadis cantik itu serupa seorang nenek saja.

Tanpa sadar ia kembali berkata, "Tapi engkau kan masih muda belia, mengapa...?" Belum selesai ucapannya, mendadak gadis cantik itu bangkit sambil meraba wajahnya sendiri dan berucap dengan heran, "Kau bilang aku masih muda belia?" "Masa muda adalah masa bahagia dalam hidup. Mengapa engkau tampak kesal dan tidak bergairah? Jangan-jangan dalam hatimu menanggung kesedihan karena suatu urusan yang sukar diatasi...?" Lamkiong Peng berhenti sejenak, lalu kembali berucap serius, "Jika guruku telah menugaskanku untuk menjaga Nona, maka sudilah Nona memberitahukan kesedihan hatimu kepadaku. Mungkin aku dapat melakukan sesuatu untukmu." Hati Lamkiong Peng suci murni. Walaupun ia tidak mengerti mengapa gurunya menyerahkan seorang Nona muda jelita dalam perlindungannya, tapi sekali menerima amanat guru yang demikian itu, biarpun ia disuruh terjun ke lautan api, ia takkan menolaknya.

Tak disangka, mendadak gadis cantik itu kembali berucap perlahan, "Apa betul begitu...?" dan segera ia membalik tubuh lalu berlari pergi dengan cepat.

Lamkiong Peng terkesiap. Ia berteriak, "Hei, mau ke mana kau?" Namun, gadis cantik itu seperti tidak mendengar seruannya. Tanpa berpaling, ia terus berlari ke depan secepat terbang. Dalam sekejap, ia sudah melayang jauh. Sungguh luar biasa ilmu meringankan tubuhnya.

Meski heran dan ragu, terpaksa Lamkiong Peng tidak sempat memikirkannya lagi. Bahkan peti mati itu pun tidak dihiraukan. Segera ia ikut berlari ke sana sambil berseru, "Suhu sudah menyerahkan dirimu kepadaku. Kalau ada urusan...!" Namun, hanya sekejap saja bayangan gadis cantik itu sudah menghilang. Ia mencoba mencari lebih jauh ke depan, namun tetap tidak terlihat bayangan siapa pun.

"Wah, kalau dia pergi begitu saja, lalu bagaimana aku harus bertanggung jawab terhadap pesan Suhu?" demikian ia membatin dengan kesal.

Pegunungan sunyi, malam sudah hampir tiba. Ke mana lagi ia dapat menemukan Nona misterius tadi? Terpaksa Lamkiong Peng hanya berlari melintasi lereng gunung itu. Nama orangnya saja tidak diketahuinya, tentu saja ia tidak dapat memanggilnya.

Di tengah desir angin, tiba-tiba didengarnya gemericik air. Ia memang merasa haus. Segera ia mencari dan menuju ke arah suara air itu. Dilihatnya sebuah sungai kecil mengalir dari sana. Di bawah remang cahaya bulan yang baru menongol, sungai itu serupa tali perak.

Setelah menyusuri hutan, sungai itu sudah terlihat membentang di depan. Cepat ia bergegas ke sana. Begitu tiba di tepi sungai, segera ia meraup air untuk diminum.

Namun, baru saja ia minum dua teguk, tiba-tiba didengarnya dari hulu sana berkumandang suara tawa geli seorang perempuan.

Semangat Lamkiong Peng bangkit. Cepat ia menyusul ke hulu mengikuti tepi sungai. Tidak jauh dari sana, terlihatlah sesosok bayangan putih sedang berjongkok di tepi sungai, seperti sedang memandangi air sungai, seperti juga sedang bercermin pada air sungai.

Tanpa ragu, Lamkiong Peng mendekatinya. Dilihatnya gadis cantik tadi masih berjongkok tanpa bergerak sambil tertawa, lalu bergumam, "Hah, ternyata memang benar! Ternyata memang betul!..." Meski Lamkiong Peng sudah berada di sampingnya, gadis cantik itu masih juga belum tahu. Ia masih tetap memandangi air sungai dengan terkesima.

Sungguh tak terpikir oleh Lamkiong Peng bahwa Nona misterius ini berlari ke sini hanya untuk mengelamun memandangi air sungai. Ia jadi terheran-heran. Ia berdiri di samping Nona itu. Ketika ia pun melongok ke permukaan air sungai, tertampaklah bayangan wajah seorang bidadari yang sangat cantik, serupa lukisan saja.

Bayangan dalam air sungai, dari satu berubah menjadi dua. Hal ini tidak disadari oleh gadis cantik dari peti mati itu. Dalam pandangannya saat itu, agaknya tidak ada hal lain yang diperhatikan kecuali bayangannya sendiri.

Berulang-ulang ia meraba raut wajahnya sendiri dengan tangannya yang putih halus sambil bergumam, "Ternyata sungguh! Ternyata benar aku masih semuda ini!..." Lalu ia tertawa keras, tertawa senang, serunya. "Hah, untung memang sukar diraih dan malang sukar ditolak. Siapa tahu tanpa sengaja aku telah mendapatkan ilmu awet muda yang sukar dicari dan diimpi-impikan setiap perempuan di dunia ini." Mendadak ia bangkit dan berputar-putar sambil mengebaskan lengan bajunya sehingga rambutnya yang panjang ikut bertebaran di udara. Rupanya, saking gembiranya ia sampai menari-nari.

"Haha, sejak kini siapa lagi yang dapat mengenali aku? Siapa pula yang dapat menerka bahwa aku inilah Kong-jiok Huicu...?" Lamkiong Peng terkesiap. Ia menegur, "Hei, jadi engkau benar Bwe Kim-soat?" Gadis cantik yang sedang menari itu mendadak bergeser dan berhenti di depan anak muda itu, lalu menjawab, "Betul!" Lamkiong Peng tertegun sejenak, katanya kemudian menyesal, "Ai, tak disangka keterangan Tojin itu ternyata benar. Aku... sungguh aku pantas mati!"

Melihat anak muda itu merasa menyesal dan sedih, Kong-jiok Huicu Bwe Kimsoat tersenyum. Perlahan ia memegang pundak Lamkiong Peng dan bertanya dengan suara lembut, "Jadi kau kenal namaku?" "Ya, kukenal namamu," sahut Lamkiong Peng dengan pikiran yang kusut.

"Jika begitu, apakah kau tahu orang macam apa aku ini?" "Ya, kutahu," Lamkiong Peng mengangguk. "Suhu telah berpesan agar kujaga dirimu baik-baik. Dengan sendirinya akan kulaksanakan perintah beliau. Siapa yang hendak mengganggumu harus berhadapan dulu denganku. Aku percaya penuh terhadap Suhu. Apa yang dikatakan dan diperbuat beliau pasti tidak salah."

Bwe Kim-soat termenung sejenak, katanya kemudian sambil menghela napas, "Ai, Liong-loyacu sungguh teramat baik kepadaku." Tangannya yang memegangi pundak Lamkiong Peng itu, yang tadi putih, telah berubah agak kehijauan, dan kini kembali berubah putih lagi lalu ditarik kembali.

Anak muda itu tidak menyadari bahwa dalam waktu singkat itu sesungguhnya ia telah lolos dari bahaya maut. Ia memandang gadis itu dengan bimbang dan tidak tahu apa yang harus dibicarakan lagi.

"Tampaknya engkau masih ragu terhadap diriku," kata Bwe Kim-soat sambil tersenyum. "Apakah gurumu hanya menyerahkan peti cendana kepadamu tanpa menceritakan hubungannya denganku?" "Tidak, hanya ini saja...." Lamkiong Peng mengeluarkan kain sutra kuning itu. "Boleh kau baca sendiri."

Dengan kening berkerut, Bwe Kim-soat menerima kain sutra kuning itu dan memandangnya sejenak. Tiba-tiba ia bertanya, "Bekas darah siapakah ini?" "Darah burung mati!" tutur Lamkiong Peng. "Burung mati apa?" Bwe Kim-soat pun terheran. Lamkiong Peng menceritakan apa yang dialaminya secara ringkas. "Oh, kiranya begitu. Semula kusangka darah gurumu," ujar gadis cantik itu sambil tertawa.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment