Halo!

Han Bu Kong - Chapter 15

Memuat...
Han Bu Kong

Chapter 15

Dengan agak emosi Lamkiong Peng merampas kembali kain sutra itu dan berucap dengan mendongkol, "Aku pun ingin tanya padamu, sampai ajalnya guruku tetap memikirkan kepentingan dirimu, maka dia memberi pesan padaku agar menjaga dirimu dengan baik. Sebaliknya kau, setelah mengetahui nasib malang guruku engkau sama sekali tidak berdukacita bagi beliau, sungguh terlalu...."

Bwe Kim-soat memandangnya beberapa kejap seperti melihat sesuatu yang lucu, mendadak ia bergelak tertawa pula dan berkata, "Duka? Apa artinya duka! Selama hidupku belum pernah berduka bagi apa dan siapa pun, memangnya kau minta aku berduka untuk menipu dirimu dan diriku sendiri?" Lalu dia tertawa terkial-kial lagi.

Mata Lamkiong Peng menjadi merah, tidak kepalang rasa gemasnya, tapi segera teringat olehnya akan julukan orang: Leng-hiat Huicu, si putri berdarah dingin!

Akhirnya Lamkiong Peng menghela napas, pikirnya, "Ya, pantas orang Kangouw menyebutnya si putri darah dingin, kiranya dia tidak kenal apa artinya berduka segala...." Teringat untuk selanjutnya entah berapa lama dirinya masih harus mendampingi perempuan cantik berdarah dingin ini, ia jadi sedih.

Tiba-tiba Bwe Kim-soat berkata pula, "Jangan kau kira aku sengaja tidak menghiraukan kematian gurumu, malahan seharusnya aku gembira bagi kematiannya itu."

Gusar sekali Lamkiong Peng oleh ucapan orang yang keji itu, dampratnya, "Kalau saja guruku tidak menyuruhku menjaga dirimu, bisa jadi akan ku...."

"Hm, apakah kau tahu sebab apa gurumu menyuruhmu menjaga diriku?" jengek Bwe Kim-soat.

"Apa pun juga, yang jelas Suhu telah salah menilai orang," jawab Lamkiong Peng dengan mendongkol, "jika beliau memelihara seekor kucing atau seekor anjing akan lebih baik...."

"Hm, kau tahu apa?" jengek Bwe Kim-soat pula. "Sebabnya gurumu berbuat demikian padaku adalah karena dia ingin menebus dosa, ingin membalas budi. Tapi biarpun begitu dia tetap bersalah padaku, maka dia mengharuskan muridnya ikut menebus dosanya yang belum lunas itu, untuk membalas budi yang belum sempat dilakukannya."

Lamkiong Peng jadi tercengang, mendadak ia balas mendengus, "Hm, menebus dosa dan membalas budi apa segala? Memangnya guruku bisa...." Tapi lantas teringat olehnya tulisan pada kain kuning itu yang berbunyi, "Urusan ini memang salahku...", seketika ia urung bicara lebih lanjut. Pikirnya, "Jangan-jangan Suhu memang berbuat sesuatu kesalahan terhadap dia."

"Hm, kenapa engkau tidak bicara lagi?" jengek Bwe Kim-soat. "Agaknya kau pun dapat merasakan dosa yang diperbuat gurumu, bukan?"

Lamkiong Peng menunduk, mendadak ia mengangkat kepala pula dan berseru, "Barang siapa bicara kasar terhadap guruku, tentu takkan kuampuni!"

"Huh, jangankan di depanmu, sekalipun di depan Putliong juga aku berani bicara demikian, sebab aku berhak!"

"Hak apa?" teriak Lamkiong Peng saking tak tahan. "Meski guruku menyuruhku menjaga dirimu, tapi engkau tidak berhak bicara sesukamu di depanku."

"Aku berhak bicara, sebab tanpa berdosa nama baikku telah dicemarkan olehnya dan tubuhku dilukainya. Aku berhak bicara, sebab ilmu silat yang kulatih dengan susah payah telah dipunahkan olehnya dengan sekali pukul. Aku berhak bicara karena kebodohan dan kebandelannya telah mengorbankan masa remajaku, telah menyia-nyiakan sepuluh tahun masa hidupku yang paling indah. Akibatnya setiap hari, siang dan malam, aku senantiasa berbaring di dalam peti mati yang terisolasi dari dunia luar, hidup tersiksa melebihi orang hukuman...." Makin bicara makin emosi, nadanya yang semula dingin kini berubah menjadi teriakan serak.

Tanpa terasa Lamkiong Peng jadi ngeri, tubuh yang semula tegak menjadi agak lemas dan tidak berani bersikap keras lagi. Mendadak Bwe Kim-soat menarik tangan Lamkiong Peng terus dibawa lari secepat terbang ke sana. Ilmu silat Lamkiong Peng mestinya tidak lemah, ginkangnya juga sangat tinggi, tapi sekarang tanpa berdaya tangannya seperti terisap oleh semacam tenaga mahakuat dan ikut lari lebih cepat daripada ginkang sendiri.

Selagi ia bermaksud meronta untuk melepaskan diri, dilihatnya lari orang sudah mulai mengendur. Tempat yang dituju ternyata hutan tadi, di situ peti mati masih tertinggal. Begitu tiba di depan peti mati, segera Bwe Kim-soat membuka tutup peti dan berteriak, "Nah, di dalam peti inilah aku hidup selama sepuluh tahun. Kecuali pada malam hari gurumu mengangkatku keluar untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia yang perlu, boleh dikatakan tidak pernah aku keluar dari sini."

Dia berhenti sejenak, lalu menyambung, "Nah, boleh coba kau bayangkan, kehidupan macam apakah selama sepuluh tahun ini. Bagimu mungkin sepuluh hari saja tidak tahan, apalagi sepuluh tahun...."

Lamkiong Peng memandang ruang peti yang sempit dan gelap itu, lalu bergumam seperti mengigau, "Sepuluh... sepuluh tahun...." Tanpa terasa ia bergidik.

Cahaya bintang yang redup menyinari wajah Bwe Kim-soat yang pucat. Ia menarik napas panjang, lalu berucap pula dengan hampa, "Yang kuharap selama mengeram di dalam peti adalah datangnya malam, saat kebebasanku yang tidak panjang itu. Walaupun cuma sebentar saja gurumu membawaku ke ruang yang tidak berlampu, namun bagiku saat itu serupa hidup di surga."

Tergerak pikiran Lamkiong Peng, "Pantas kamar tidur Suhu terletak pada pojok perkampungan yang paling terpencil. Pantas juga pada malam hari beliau tidak suka memasang lampu, kamarnya juga tanpa jendela. Pantaslah setiap malam Suhu membawa peti mati ini masuk kamarnya dan ditaruh di samping tempat tidurnya...." Ia menghela napas panjang dan tidak berani memikirkannya lebih lanjut.

Sorot mata Bwe Kim-soat bergeser di antara remang cahaya bintang dan kegelapan hutan itu seperti sedang membayangkan penderitaannya dahulu, lalu bertutur pula, "Untunglah setiap hari datang harapanku serupa itu. Kalau tidak, lebih baik aku mati daripada hidup tersiksa cara begini. Dan harapan serta menanti itu sendiri pun menimbulkan derita yang tak terhingga. Pernah satu hari tanpa sengaja gurumu membuka pintu kamar sehingga ada cahaya bulan menembus masuk ke kamar, sungguh girangku tak terkatakan. Tapi di bawah sinar bulan kulihat keadaan gurumu yang semakin tua, aku menjadi sedih. Sang waktu terus berlalu, kupikir aku sendiri tentu juga tambah tua...."

Suaranya berubah menjadi lembut dan rawan. Tanpa terasa Lamkiong Peng juga ikut terharu kepada sifatnya yang berdarah dingin dan mulai menaruh simpati terhadap nasibnya yang malang. Ia menghela napas dan berkata, "Yang sudah lalu biarlah lalu, jangan kau...."

"Sudah lalu?" Mendadak Bwe Kim-soat bergelak tertawa pula. "Put-si-sinliong sudah mati, secara ajaib aku tetap awet muda, aku tidak perlu terkurung lagi di dalam peti mati. Malahan orang di dunia tidak ada yang tahu asal-usulku yang sebenarnya... kecuali kau!"

"Secara ajaib engkau telah bertahan awet muda, secara ajaib pula telah pulih kehidupanmu yang bebas. Untuk itu seharusnya engkau bersyukur dan berterima kasih, bukan merasa dendam, meski aku...."

"Aku berterima kasih kepada apa?" jengek Bwe Kim-soat.

"Berterima kasih kepada Thian yang Maha Pengasih," jawab Lamkiong Peng.

"Hmk!" dengus Bwe Kim-soat sambil mengebaskan lengan baju dan melangkah ke sana.

Seperti orang linglung, Lamkiong Peng memandangi bayangan punggung orang yang ramping dengan gayanya yang memesona itu. Ketika bayangan orang hampir menghilang di kegelapan sana, cepat ia memburu maju dan menegur, "Nona Bwe, engkau hendak ke mana?"

Mendadak Bwe Kim-soat berpaling dan berkata kepadanya dengan dingin, "Kau tahu, orang bodoh di dunia ini sangat banyak, tapi tidak ada yang lebih bodoh daripadamu."

Dengan bingung Lamkiong Peng menjawab dengan gelagapan, "Iya... iya...."

Sorot mata Bwe Kim-soat yang dingin itu tiba-tiba timbul secercah cahaya kelembutan, namun di mulut dia tetap bicara dengan ketus, "Jika engkau bukan orang bodoh, tadi waktu kubilang 'kecuali kau', seharusnya kau segera lari!"

"Tapi mana boleh kutinggalkan dirimu?" jawab Lamkiong Peng tegas. "Suhu telah menyerahkan dirimu di bawah penjagaanku. Jika kutinggal pergi, lalu dengan cara bagaimana aku harus bertanggung jawab terhadap beliau?"

"Tanggung jawab apa? Putliong kan sudah mati!" jengek Kim-soat.

Lamkiong Peng menarik muka, jawabnya tegas, "Tidak peduli beliau sudah meninggal atau tidak, tetap tidak dapat kulanggar amanat peninggalan beliau."

"Lantas bagaimana caramu menjaga diriku?" tanya Bwe Kim-soat.

Bibir Lamkiong Peng bergerak, namun sukar untuk menjawab.

Bwe Kim-soat membetulkan rambutnya yang terurai di depan dadanya ke belakang punggung, lalu mendengus, "Hm, jika engkau tidak mau pergi dan tetap ingin 'menjaga' diriku, apakah selanjutnya engkau akan selalu mengikuti aku?"

"Ya, memang begitulah perintah guruku," jawab Lamkiong Peng.

"Sungguh begitu?" Bwe Kim-soat menegaskan dengan tertawa.

Lamkiong Peng tidak berani memandang tawa orang yang menggiurkan itu. Dengan prihatin ia menjawab, "Menurut pesan Suhu, aku diharuskan menjaga peti mati dan tidak boleh meninggalkannya. Maksud beliau dengan sendirinya aku diharuskan menjaga dirimu setiap saat."

Setelah bicara demikian, diam-diam timbul juga rasa sangsinya, "Ilmu silatnya kan jauh lebih tinggi daripadaku, mengapa Suhu menugaskanku menjaga dia? Jika kungfunya begitu tinggi, setiap saat mestinya dia dapat membobol peti mati dan pergi sesukanya, mengapa hal ini tidak dilakukannya?"

Selagi dia merasa heran, terdengar Bwe Kim-soat berkata pula dengan tertawa, "Jika demikian, bolehlah kau ikut diriku, ke mana pun kupergi boleh kau ikut." Habis berkata ia lantas melangkah ke depan.

Jantung Lamkiong Peng berdetak dan entah bagaimana rasanya. Pikirnya, "Apa benar harus kuikuti dia ke mana pun juga?" Tapi tidak urung kakinya ikut melangkah ke sana. Katanya, "Demi melaksanakan amanat guru, biarpun kau pergi ke ujung langit juga akan kuikuti."

"Ujung langit...." perlahan Bwe Kim-soat mengulang kata itu dengan tersenyum. Tanpa terasa muka Lamkiong Peng menjadi merah.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment