Halo!

Han Bu Kong - Chapter 16

Memuat...
Han Bu Kong

Chapter 16

Perasaan kedua orang itu sungguh sukar diraba siapa pun, hubungan aneh mereka juga sukar dilukiskan.

Bwe Kim-soat berjalan di depan dan Lamkiong Peng mengikuti di belakang. Berulang kali Bwe Kim-soat membelai rambutnya yang panjang, agaknya dia juga banyak memendam pikiran.

Malam semakin larut. Di suatu sudut paling gelap di tengah hutan, tiba-tiba melayang keluar sesosok bayangan orang berbaju hitam tanpa suara. Ia menggendong seseorang yang agaknya terluka parah.

Dalam kegelapan, wajah orang itu tidak terlihat jelas, juga tidak jelas siapa orang terluka yang dibawanya. Hanya terdengar ia membisiki orang terluka itu, "Apakah engkau merasa agak baikan?" Orang yang terluka itu menjawab lemah, "Ya, sudah baikan, kalau bukan Anda ...." "Sungguh aku tidak mampu membawamu turun dari Hoa-san ini," potong orang berbaju hitam itu, "dalam keadaan terluka parah engkau juga tidak dapat ditinggalkan di tengah pegunungan sunyi ini."

"Terpaksa engkau harus menahan sakit dan jangan bersuara. Minumlah obat yang kutaruh di dalam bajumu itu sesuai waktunya. Dalam beberapa hari saja kesehatanmu tentu akan pulih. Pada saat itu engkau tentu sudah berada di bawah gunung dan dapat mencari kesempatan untuk melarikan diri." Orang yang terluka itu mengertakkan gigi, merintih kesakitan, lalu berkata lemah, "Budi pertolonganmu pasti akan ...." "Sudahlah, jangan banyak bicara lagi," potong si baju hitam.

"Saat ini mereka pasti tidak akan membuka lagi peti mati ini. Bwe Kim-soat juga pasti tidak mau masuk lagi ke dalam peti."

"Asalkan dapat kau tahan rasa sakit pada saat tubuh berguncang, tentu engkau dapat mencapai kaki gunung dengan aman." Sembari bicara, ia lantas membuka tutup peti cendana itu. Orang terluka itu dimasukkannya perlahan, lalu berkata lagi, "Obatku ini selain dapat menyembuhkan luka, juga dapat membuatmu tahan lapar, maka jangan khawatir!" Orang yang terluka yang sudah berbaring di dalam peti bertanya, "Bila tidak keberatan, sudilah memberitahukan nama Anda ...." "Namaku tentu akan kau ketahui kelak," si baju hitam memberi isyarat agar jangan bicara lagi. Perlahan, tutup peti itu pun dirapatkannya kembali.

Setelah menyapu pandang sekeliling sekejap, ia membalikkan tubuh dan berlari cepat ke arah Jong-liong-nia.

Saat itu Bwe Kim-soat dan Lamkiong Peng sedang melangkah tanpa tujuan, bagaikan orang berjalan dalam mimpi.

Setelah berjalan sekian lama, mendadak Bwe Kim-soat berkata, "Engkau berasal dari keluarga terhormat dan perguruan ternama. Jika engkau berjalan bersamaku seperti ini, apakah tidak takut menimbulkan desas-desus yang mencemarkan namamu?" Ia bicara tanpa berpaling sehingga tidak diketahui bagaimana air mukanya.

Langkah Lamkiong Peng agak terhenti. Jawabnya dengan tegas, "Asalkan hati kita tidak merasa berdosa, lagipula semua ini atas amanat guruku, hanya desas-desus orang iseng saja tidak akan menjadi masalah bagiku, apalagi ...." Ia berdeham dan tidak melanjutkan perkataannya.

"Apalagi usiaku sedikitnya belasan tahun lebih tua daripadamu sehingga pada hakikatnya tidak perlu khawatir dicurigai orang, begitukah maksudmu?" tanya Bwe Kim-soat mendadak sambil berpaling.

Lamkiong Peng tercengang sejenak, jawabnya kemudian dengan menunduk, "Ya, begitulah."

"Jika demikian, harus kau terima suatu syaratku," kata Kim-soat lagi.

"Syarat" .... "Ya, yaitu kau tidak boleh menyebutkan nama asliku kepada siapa pun." "Mengapa?" "Jika namaku diketahui orang bahwa aku masih hidup di dunia persilatan dengan sehat sentosa, sekalipun gurumu sendiri tidak mampu melindungi diriku, apalagi engkau?" "Oo," Lamkiong Peng tercengang.

Pikirnya, "Ia pasti banyak musuh di dunia persilatan. Jika musuhnya mengetahui ia belum mati, pasti akan mencari dan menuntut balas padanya." Seketika, seperti terngiang lagi di tepi telinganya kata-kata si Tojin, "... Perempuan jalang, perempuan jahat ...." Mendadak timbul pertentangan batinnya, "Masakan dirinya harus membela perempuan semacam ini?" Tapi lantas teringat lagi, "Jika Suhu sendiri membelanya, tugas ini lalu diserahkan lagi kepadaku. Aku yakin tindakan beliau pasti benar, mana boleh aku melanggar amanat guru?" Selagi terjadi pergumulan pikirannya, didengarnya Bwe Kim-soat bertanya lagi, "Kau terima syaratku?" "Ya," jawab Lamkiong Peng segera.

Bwe Kim-soat memandangnya sekejap sambil tertawa lembut, katanya, "Meski di mulut kau terima dengan baik, tapi di dalam hati enggan, betul tidak?" Waktu Lamkiong Peng mengangkat kepalanya, di bawah rembulan malam tertampak wajah Bwe Kim-soat yang cantik laksana bidadari itu. Seketika hatinya bergetar, pikirnya, "Perempuan secantik ini, mengapa bisa berbuat jahat dan jalang?" "Betul tidak?" kembali Bwe Kim-soat menegaskan sambil mendekati anak muda itu.

"Apa yang kuucapkan sama dengan apa yang kupikirkan," jawab Lamkiong Peng sambil menunduk. Terendus bau harum semerbak. Ia tahu orang itu telah berada di sampingnya.

Didengarnya Bwe Kim-soat bicara lagi dengan lembut, "Aku tahu sekali kau terima syaratku, selamanya tentu akan kau pegang teguh. Akan tetapi, perlu kuberitahukan juga bahwa perangaiku sangat aneh, terkadang bisa membuatmu tidak tahan. Dalam keadaan begitu, lantas bagaimana tindakanmu?" Kening Lamkiong Peng berkerut, "Asalkan engkau tidak berbuat sesuatu yang membuat susah orang, urusan lain, aku pasti tahan." Tiba-tiba dirasakannya jika dirinya terus mendampinginya dengan cara begini, selain melaksanakan amanat sang guru, ia juga dapat setiap saat mencegahnya berbuat sesuatu yang tidak baik.

Jangan-jangan, maksud amanat sang guru yang menugaskannya menjaga justru demikianlah adanya? Berpikir sampai di sini, mendadak dadanya terasa lapang. Apa salahnya mengalami sedikit hinaan asalkan dapat memperbaiki watak orang jahat menuju ke jalan yang benar? Segera ia mengangkat kepala dan memandang orang itu dengan ikhlas.

"Sudah malam, tentu kita tidak dapat tinggal di sini," kata Bwe Kim-soat sambil tersenyum lembut.

"Ya, kita turun saja ke bawah," kata Lamkiong Peng.

Tapi belum jauh mereka berjalan, tiba-tiba Lamkiong Peng berseru, "Tunggu dulu, Nona Bwe!" "Ada apa?" tanya Bwe Kim-soat sambil berpaling.

"Harap Nona menunggu sebentar, ada urusan yang perlu aku ...." "Ah, tentu mengenai peti mati itu, bukan?" tukas Bwe Kim-soat.

"Ya, selain itu, beberapa saudara seperguruanku juga masih di atas gunung dan entah sudah pergi atau belum, bagaimanapun juga harus kutunggu mereka." "Jika saudara seperguruanmu melihat dirimu selalu mendampingiku, lalu apa yang akan mereka katakan? Apalagi sudah sekian lamanya, kurasa mereka sudah lama meninggalkan gunung ini," ujar Kim-soat.

"Mengenai peti mati itu, kurasa sekarang tidak ada gunanya lagi. Untuk apa mesti kau bawa ke mana-mana lagi? Lebih baik kita mencari suatu tempat istirahat yang tenang, nanti akan kuceritakan berbagai hal yang belum kau ketahui." "Tapi ... tapi peti itu adalah peninggalan guruku, bagaimanapun juga harus kubawa," setelah berhenti sejenak, dengan tegas ia menyambung lagi, "Dan mengenai saudara seperguruanku, apa pun juga, perlu kutunggu mereka dulu sekadar memenuhi kewajibanku sebagai sesama saudara seperguruan." "Ah, apa yang kukatakan tampaknya tidak kau ikuti sama sekali," omel Bwe Kim-soat sambil memandangi anak muda itu lembut, seolah-olah dengan sorot matanya yang hangat itu ingin mencairkan hati Lamkiong Peng yang keras.

Keduanya kembali beradu pandang, hingga lama sekali keduanya tidak berkedip dan tetap bertahan, entah di antara mereka siapa yang lebih kuat.

Kerlip bintang di langit semakin terang, sebaliknya malam semakin larut.

Di bawah cahaya bintang dan suasana malam yang sama, apa yang dihadapi Liong Hui saat itu juga pandangan yang sama lembut dan hangat.

Saat itu ia sedang berjalan di balik lereng Hoa-san, di antara batu padas yang terjal dan pepohonan yang rimbun, serta malam yang semakin kelam.

Tangan Kwe Giok-he yang halus memegang lengan sang suami yang kekar. Tubuh Giok-he yang kecil mungil juga setengah menggelayut di bahu sang suami. Meski Ginkang-nya lebih tinggi daripada suaminya dan Kung Fu-nya juga tidak lebih lemah, sikapnya yang manja itu seakan-akan jika tidak ada perlindungan sang suami, ia akan sukar bergerak di lereng gunung ini.

Yang mengikuti di belakang mereka adalah Ong So-so yang cantik itu. Ia malah tidak menginginkan bantuan Ciok Tim, meski wajahnya sudah dihiasi butiran-butiran keringat.

Terpaksa Ciok Tim berjalan di belakangnya dengan hati-hati.

Mereka berempat sudah hampir menjelajahi seluruh pegunungan ini, namun tidak menemukan bekas peninggalan apa pun dari sang guru.

Di tengah kesunyian perjalanan, akhirnya Kwe Giok-he berucap, "Rupanya tidak ada sesuatu yang dapat kita temukan." "Ya," sahut Liong Hui sambil berpaling.

Ong So-so mengangguk perlahan. Ciok Tim juga menghela napas dan berkata, "Ya, tidak menemukan apa pun."

"Ayolah kita pulang saja," kata Giok-he lagi dengan menyesal.

"Ya, pulang saja," kata Ciok Tim.

"Tapi ... tapi mungkin ia sedang mencari atau menunggu kita," kata So-so tiba-tiba.

Air muka Ciok Tim agak berubah, sebab ia tahu "si dia" yang dimaksudkan So-so, yaitu Lamkiong Peng, Sute termuda mereka.

"Tanjakan di depan tampak lebih curam. Kita sudah mencari sampai sejauh ini, marilah kita coba periksa di sana sekalian," ajak Giok-he.

Tidak ada yang membantah. Dengan menunduk, So-so berjalan ke depan.

Liong Hui agak bingung melihat kelakuan gadis itu.

Semakin ke depan, langkah mereka semakin lambat karena terjalnya tempat.

Maklumlah, puncak selatan Hoa-san ini juga disebut Lok-gan-hong atau Puncak Menjatuhkan Burung Belibis, puncak tertinggi Pegunungan Hoa. Biasanya, tempat ini sangat jarang didatangi manusia; bahkan burung pun sering menabrak tebing yang tinggi ini. Keadaan di sini sangat sepi, apalagi di malam yang sunyi ini.

Kwe Giok-he menggelayut lebih erat di bahu Liong Hui. Sebaliknya, So-so semakin jauh jaraknya dengan Ciok Tim.

Pembawaan gadis yang lemah tentu saja berharap akan dibantu dan dibela oleh pria yang gagah dan kuat, tetapi hasrat ini hanya disembunyikan di dalam batin oleh So-so.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment