Halo!

Han Bu Kong - Chapter 17

Memuat...
Han Bu Kong

Chapter 17

Kecuali "dia", rasanya ia tidak mau lagi menerima cinta orang lain.

Namun, di manakah si dia sekarang? Makin dipikir makin sedih, tanpa terasa air mata pun berlinang. Ia tidak berani mengusapnya, sebab ia tidak mau Ciok Tim melihat kesedihannya itu.

Sekonyong-konyong So-so berhenti melangkah sambil menjerit. Liong Hui dan Giok-he segera berpaling. Ciok Tim juga lantas menghampiri sambil berseru, "Ada apa?"

Di tengah remang malam, terlihat wajah Ong So-so yang terkejut. Dengan air mata yang kembali berlinang, ia memandang permukaan tanah dengan tercengang. Permukaan tanah yang kelam itu tampaknya tidak menunjukkan sesuatu yang mengherankan. Namun, ketika Giok-he dan yang lainnya ikut memandang ke arah yang ditunjuk So-so, ternyata di atas sebuah batu terdapat bekas kaki yang mencekung cukup dalam.

Serentak mereka berseru kaget. Tanah berbatu di tempat itu sangat keras. Orang biasa, meskipun menggunakan senjata tajam, akan sukar membuat bekas kaki sedalam itu. Akan tetapi, orang ini hanya menginjaknya begitu saja dan meninggalkan tapak kaki yang sangat dalam. Bekas kaki itu tidak lurus, melainkan miring ke kiri dengan ujung kaki tepat mengarah ke sebuah jalan simpang yang membelok ke kiri.

So-so memandangnya dengan tercengang. Setelah sekian lama, baru ia berkata dengan terbata-bata, "Bekas... bekas kaki ini, apakah mirip dengan kaki... kaki Suhu?"

Giok-he menjawab, "Bekas kaki ini bukan kaki Suhu! Hanya saja, tampaknya memang mirip."

"Ya, bukan saja ukurannya yang sama, bahkan bentuk sepatunya pun serupa," tukas So-so.

"Saat ini orang persilatan sudah jarang ada yang memakai sepatu bersol tebal seperti sepatu Suhu ini," kata Ciok Tim.

Perlu diketahui bahwa orang Kangouw umumnya suka memakai sepatu tipis dan ringan untuk memudahkan pergerakan mereka. Jarang ada yang mau menggunakan sepatu bersol tebal seperti yang biasa dipakai oleh kaum pembesar negeri. Apalagi jika digunakan untuk menempuh perjalanan di tanah pegunungan, jelas sepatu tebal seperti itu tidak cocok.

Perlahan Giok-he mengangguk, katanya, "Memang benar jarang ada orang Kangouw yang mau memakai sepatu tebal seperti ini. Tapi di dunia Kangouw sekarang, siapa pula yang memiliki tenaga dalam sehebat ini?"

"Betul juga. Bekas kaki yang ditinggalkan beliau pasti untuk menunjukkan ke arah mana beliau pergi," tukas Liong Hui.

"Ya, kurasa begitu," kata So-so berbarengan dengan Ciok Tim.

"Tapi kalian melupakan sesuatu," jengek Giok-he mendadak.

"Sesuatu apa?" tanya Ciok Tim heran.

"Meskipun bekas kaki ini mirip kaki Suhu, dan jika dilihat dari cekungan sedalam ini hanya Suhu yang mampu melakukannya, akan tetapi bekas kaki ini pasti bukan ditinggalkan oleh Suhu, sebab..." Giok-he sengaja berhenti sejenak, lalu menyambung kata demi kata, "Sebab saat ini Suhu tidak lagi mempunyai tenaga dalam sekuat ini."

Liong Hui, Ciok Tim, dan So-so seketika terperangah. Namun, mereka segera menyadari persoalannya dan berseru serentak, "Ya, betul!"

Liong Hui lantas menambahkan, "Suhu sudah melemahkan tenaganya sendiri sebanyak tujuh bagian demi memenuhi tuntutan gadis bermarga Yap itu. Kekuatannya sekarang tidak lebih dari kita, mana mungkin beliau sanggup meninggalkan bekas kaki sedalam ini di atas batu."

Ia memandang Giok-he dengan penuh rasa kagum, lalu bergumam, "Hal ini kita semua mengetahuinya, tapi mengapa hanya engkau yang mengingatnya?"

"Sebab kalian sudah lelah, lapar, dan juga tegang. Dalam keadaan demikian, orang memang sering melupakan sesuatu," ujar Giok-he sambil tersenyum.

Mendadak So-so mengangkat kepalanya dan berkata lagi, "Tetapi jika bekas kaki ini bukan milik Suhu, lantas bekas kaki siapa? Di dunia Kangouw zaman ini, selain Suhu, siapa lagi yang memakai sepatu model begini dan berjalan di lereng pegunungan yang curam serta sepi ini? Siapa pula yang memiliki Lwekang setinggi ini?"

Seperti yang telah diceritakan sebelumnya, sejak pertemuan di Hoa-san, hampir segenap inti kekuatan dunia persilatan telah gugur bersama. Selama ini belum terdengar ada tokoh di dunia persilatan yang kekuatannya sebanding dengan Tan-hong dan Sin-liong. Oleh karena itu, pertanyaan So-so ini sangat tepat.

Mereka saling pandang dengan bingung selama beberapa saat. Akhirnya Liong Hui bergumam, "Jangan-jangan di dunia persilatan sekarang telah muncul tokoh tingkat tinggi yang baru."

"Jangan-jangan Suhu..." Mendadak Ciok Tim urung meneruskan ucapannya.

"Suhu kenapa?" tanya Liong Hui gelisah.

Ciok Tim memandang ke kiri dan ke kanan. Dilihatnya Giok-he dan So-so juga tengah memandangnya dengan rasa ingin tahu. Akhirnya ia berdeham dan berkata, "Kurasa bisa jadi... bisa jadi bekas kaki itu ditinggalkan Suhu waktu... waktu..."

"Maksudmu, kau khawatir Suhu mengalami luka parah setelah bertanding dengan seseorang, dan bekas kaki ini ditinggalkan beliau saat pengerahan Lwekang terakhir sebelum ajalnya?" tukas Giok-he tidak sabar.

"Ya... ya, aku khawatir begitulah kenyataannya," sahut Ciok Tim sambil menunduk.

"Hah, apakah benar Suhu telah meninggal?" teriak Liong Hui dengan cemas.

Harap dimaklumi, orang yang menguasai Lwekang tinggi, sebelum ajalnya, setiap jurus yang dikeluarkan dengan sepenuh tenaga pasti akan sangat luar biasa. Begitu pula bila tenaga dalam itu dikerahkan saat menghadapi ajal, setiap gerakan kaki atau tangan tentu akan menjadi sangat kuat. Sejak kecil Liong Hui telah belajar silat dengan guru ternama, sehingga ia cukup paham akan hukum ini. Dialah yang paling berduka, hingga tanpa terasa air matanya berlinang.

"Mungkin itu hanya dugaanku saja. Hendaknya Toako jangan..." ucap Ciok Tim dengan gugup.

"Betul, ucapanmu memang ngawur," kata Giok-he tiba-tiba.

"Apakah ucapannya tidak berdasar?" tanya Liong Hui sambil mengusap air mata.

"Aku sangsi jika ini benar-benar bekas kaki Suhu. Mengapa di sekitar sini tidak ada tanda-tanda pertempuran dengan lawan?" ujar Giok-he. "Selain itu, mungkinkah pesan yang ditinggalkan Suhu ditulis di sini?"

"Betul. Jika benar Suhu mengerahkan Lwekang saat menghadapi ajalnya, mana mungkin beliau dapat meninggalkan pesan sejelas itu?" seru Liong Hui.

"Lantas, bekas kaki siapakah ini?" tanya So-so dengan penuh penyesalan.

Giok-he memandang gadis itu sambil tersenyum. Mendadak ia berkata dengan suara lantang, "Siapa yang meninggalkan bekas kaki ini memang belum diketahui, namun yang jelas orang tersebut pasti ada hubungannya dengan Suhu."

"Apa dasarnya?" tanya Liong Hui.

Giok-he memandang suaminya sekejap, lalu menyambung, "Dan pasti juga mengisyaratkan suatu rahasia."

Liong Hui semakin bingung. "Kenapa kau bilang bekas kaki ini ada sangkut pautnya dengan Suhu?"

"Sebab jika bukan urusan yang menyangkut Tan-hong dan Sin-liong, mana mungkin ada tokoh rimba persilatan kelas tinggi berkeliaran di Gunung Hoa yang sunyi ini," tutur Giok-he.

"Kau bilang bekas kaki ini mengisyaratkan suatu rahasia. Jika begitu, biarlah kita tunggu saja di sini untuk melihat apa sebenarnya yang terjadi," ujar Liong Hui.

Tiba-tiba Ciok Tim menanggapi, "Kurasa Toaso tidak bermaksud meminta kita tinggal di sini, tetapi aku pun tidak tahu apa yang harus kita lakukan."

"Jika begitu, lebih baik kita pulang saja," tukas So-so.

"Tampaknya Simoay sudah merindukan rumah," seloroh Giok-he. "Padahal kita tentu juga ingin cepat pulang. Namun, karena kebetulan kita menemukan petunjuk yang menyangkut diri Suhu, mana boleh kita tinggalkan begitu saja. Saat ini memang belum diketahui apa arti bekas kaki ini serta rahasia apa yang terkandung di dalamnya, tapi aku dapat memastikan satu hal: arah yang ditunjuk oleh ujung kaki ini pasti merupakan arah kepergian Suhu."

"Jika demikian, marilah kita mengikuti arah yang ditunjuk itu," kata Ciok Tim.

"Setuju!" seru Liong Hui.

Giok-he tersenyum. Segera Liong Hui mendahului mereka, membelok ke arah kiri.

Pegunungan Hoa memang sunyi dan kelam. Jalan setapak ini terasa lebih curam dan sukar dilalui. Jika mereka tidak menguasai Ginkang yang tinggi, tentu satu langkah saja akan sulit untuk meneruskan perjalanan.

"Alangkah baiknya jika kita membawa obor," gumam Ciok Tim.

Kening Ong So-so tetap berkerut, ia berjalan dengan lesu. Mendadak ia mengatupkan gigi, lalu melompat maju mendahului Liong Hui.

"Simoay memang tidak mau kalah, lihatlah dia..." Belum selesai ucapan Giok-he, tiba-tiba So-so berseru terkejut.

Menyusul kemudian, Giok-he dan kedua pria lainnya juga bersuara kaget. Ternyata tidak jauh di depan So-so, mendadak muncul cahaya api. Di tengah pegunungan yang sepi ini, nyala api tersebut jelas merupakan perbuatan manusia.

Dengan terkejut mereka mencoba mengamati ke depan. Tampak di hadapan mereka sebuah tebing tegak yang mengadang jalan. Karena nyala api itu muncul secara tiba-tiba, dinding tebing tersebut seakan-akan muncul secara ajaib pula. Dinding tebing itu ternyata halus dan licin, sama sekali tidak ada tumbuhan apa pun.

Saat mereka mendongak ke atas, bagian atas tebing terlihat gelap gulita karena tidak terjangkau oleh cahaya api, sehingga sulit untuk mengetahui seberapa tingginya. Angin mendesir, dan sinar api yang bergoyang menambah seram suasana. Setelah tertegun dan ragu sejenak, akhirnya So-so mendekati obor itu, diikuti oleh Liong Hui dan yang lainnya.

Jarak menuju obor yang tidak seberapa jauh itu terasa memakan waktu lama bagi mereka. Setelah dekat, barulah terlihat jelas bahwa obor itu terbuat dari empat tangkai kayu cemara yang diikat menjadi satu.

Ciok Tim terkesiap. "Hah, obor! Ternyata ada obor!" Tadi ia baru saja bergumam alangkah baiknya jika ada obor, dan sekarang obor itu benar-benar muncul.

Liong Hui dan Giok-he saling pandang sejenak dengan penuh keheranan. "Jangan-jangan gerak-gerik kita telah diawasi orang!" kata Liong Hui.

Giok-he berpikir sejenak, kemudian berkata, "Urusan ini memang aneh. Siapakah yang mampu mengikuti kita secara diam-diam tanpa ketahuan? Apa maksud tujuannya, kawan atau lawan?"

Ucapannya terhenti ketika ia memandang ke arah dinding tebing yang licin itu, sebab tiba-tiba ia menemukan sebaris tulisan yang sangat mengejutkan di dinding tebing tersebut. Semua orang ikut memandang ke sana dan sama-sama terkejut.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment