Chapter 18
Ternyata tulisan itu berbunyi: "Liong Po-si, bagus sekali kedatanganmu!
Di ketinggian tebing sana ada tulisan yang ingin kau baca, apakah kau berani naik ke sana?" Tulisan yang bernada menantang, gaya tulisan yang kuat!
Memangnya siapa yang berani menantang Putliong yang namanya menggetarkan dunia persilatan itu? Siapa yang memiliki Lwekang selihai ini sehingga sanggup meninggalkan ukiran tulisan di dinding batu yang keras ini? Liong Hui menarik napas dingin, ia mencoba melompat maju untuk mengamati ukiran tulisan yang luar biasa itu.
Sedangkan pandangan Kwe Giok-he tertarik oleh bagian lain dari dinding tebing, yaitu suatu tempat bersih agak jauh di sebelah sana. Ia termangu-mangu sejenak, tiba-tiba bergumam perlahan, "Ucapanmu memang betul, Gote, Suhu...
Suhu memang benar tidak meninggal!" Nadanya ternyata lebih banyak mengandung rasa kecewa daripada gembira. Memangnya dia kecewa akan urusan apa? Karena iri terhadap kecerdikan Lamkiong Peng atau urusan lain? Tetapi apa pun juga, dalam keadaan dan di tempat begini, tentu saja tidak ada orang yang memperhatikan maksud yang terkandung dalam ucapannya itu.
Serentak Liong Hui bertanya dengan gembira dan bersemangat, "Hah, kau bilang ucapan Gote benar dan Suhu tidak meninggal dunia?" Giok-he mengangguk sambil menunjuk bagian batu gunung yang agak bersih sana, katanya, "Ya, Suhu tidak meninggal. Setiba di sini, beliau melihat tulisan ini, segera beliau menggunakan Ginkang dan naik ke atas." Dia bicara dengan mantap seakan-akan melihat sendiri apa yang terjadi. Katanya pula, "Jika tulisan yang terukir ini ditujukan kepada Suhu, dengan sendirinya orang yang meninggalkan tulisan ini sudah memperhitungkan Suhu pasti akan datang kemari. Dan kalau dipandang pada bagian tebing ini, orang yang naik ke atas pasti tidak menggunakan Kungfu sebangsa 'cecak merayap dinding', sebab Kungfu ini harus dilakukan dengan merayap ke atas dengan punggung menempel dinding.
Namun, dari bekas telapak tangan yang terlihat di sini, jelas orang naik ke atas dengan muka menghadap dinding.
Kalian tentu tahu, di kolong langit ini, Kungfu 'Sui-hun-hu' (mengapung mengikuti awan) dari Sin-liong-bun kitalah yang merupakan Ginkang mahahebat untuk merayap ke atas dengan muka menghadap dinding.
Berdasarkan semua ini, siapa lagi orang yang mendaki ke atas kalau bukan Suhu?!" Serentak Liong Hui bersorak gembira, "Ya, Suhu tidak meninggal...." Ciok Tim pun bergirang.
"Oh, Suhu tidak..." Saking girangnya, So-so malah menangis.
Sebaliknya, Giok-he menghela napas menyesal.
"Jika Suhu jelas tidak meninggal, apa yang kau sesalkan?" tanya Liong Hui.
"Kau tahu apa?" sahut Giok-he sambil memandang lagi tulisan tadi. "Setiba di sini, Suhu memang tidak mengalami sesuatu, tapi setelah beliau naik ke atas berarti akan menghadapi bahaya. Masakah tidak kau lihat bahwa semua ini pada hakikatnya cuma sebuah perangkap?" "Perangkap?" Liong Hui menegaskan.
"Ya, perangkap," kata Giok-he.
"Mula-mula, orang membangkitkan emosi dengan kata-katanya yang menantang, lalu menyusutkan Lwekang Suhu, kemudian memancingnya ke sini. Ketiga hal ini satu per satu telah diatur dengan sangat rapi...." Ia menghela napas lagi dan menyambung, "Pantaslah Suhu kemudian terjebak." Seketika, rasa girang Liong Hui bertiga berubah menjadi khawatir lagi.
Dengan prihatin Ciok Tim berkata, "Jika demikian, jadi keterangan Nona Yap yang mengatakan Tan-hong sudah mati mungkin juga dusta belaka." "Ya, sangat mungkin," ujar Giok-he sambil mengangguk.
"Dengan alasan ini dia minta Suhu menyusutkan Lwekangnya, juga berdasarkan ini, melemahkan pengaruh Suhu sehingga beliau terpencil sendirian lalu dipancing ke sini. Aih, setiba di sini, menuruti watak beliau yang keras, biarpun di depan sana sudah menanti gunung golok dan lautan minyak mendidih, beliau tetap akan menerjangnya. Maka... maka beliau pun terjebak!" Belum habis ucapannya, mendadak So-so melompat ke kaki dinding tebing, lalu merayap ke atas dengan cepat.
Dipandang dari bawah, bajunya mengembung perlahan ke atas sehingga mirip gumpalan awan yang mengapung.
"Simoay, biarkan aku saja yang naik ke sana!" seru Ciok Tim sambil menyusulnya.
Namun, So-so sudah cukup tinggi merayap ke atas.
Giok-he kemudian mencegah Ciok Tim, katanya, "Tempat setinggi belasan tombak mungkin tidak menjadi soal bagi Simoay, jangan khawatir. Biarkan Simoay melihat apa yang tertulis di atas!" Ciok Tim tidak membantah lagi. Ia mendongak ke atas dengan rasa khawatir.
Semakin tinggi, semakin gelap. Gerak tubuh So-so juga mulai lamban.
"Sudah kau lihat sesuatu, Simoay?" seru Giok-he sambil menengadah.
"Ya, dapat kulihat dengan jelas," jawab So-so.
"Hati-hati, Simoay!" seru Ciok Tim.
So-so tidak menjawab.
"Setelah membaca, lekas turun kemari," seru Giok-he pula.
Belum lenyap suaranya, dilihatnya So-so malah merayap perlahan ke atas lagi.
"Ha, Simoay, untuk apa naik ke atas lagi?" teriak Liong Hui.
Sampai di sini, mendadak ia menjerit khawatir, "Wah, celaka!" Terlihatlah tubuh So-so baru merayap sedikit ke atas, lalu tidak tahan lagi dan segera merosot ke bawah.
Dengan khawatir, Ciok Tim berlari maju dan bersiap di bawah.
Liong Hui dan Giok-he juga berteriak, "Awas, Simoay!" Sementara itu, tubuh So-so sudah jatuh ke bawah. Meski dia berusaha mengimbangi dengan Ginkangnya, terperosot dari tempat setinggi itu tetap sangat berbahaya.
Dengan memasang kuda-kuda yang kuat, sepenuh tenaga Ciok Tim menahan tubuh So-so yang anjlok ke bawah itu. Ia tergetar mundur sempoyongan, akhirnya dapat berdiri tegak lagi.
Siapa tahu, begitu kaki menyentuh tanah, So-so lantas mendorongnya sehingga Ciok Tim tertolak dua-tiga langkah lagi. Spontan ia terdiam kaget. Di bawah cahaya obor, mukanya kelihatan sebentar merah sebentar pucat. Jelas, perasaannya sangat tidak enak.
So-so memandangnya sekejap, mendadak menghela napas dan menunduk. Ucapnya perlahan, "Maaf, terima kasih atas pertolonganmu!" Hatinya bajik dan tidak suka melukai perasaan orang lain. Apalagi tindakan Ciok Tim itu adalah karena ingin menolongnya, dengan sendirinya ia merasa tidak enak juga.
Giok-he memandang kedua muda-mudi itu, sedangkan Liong Hui sama sekali tidak memperhatikan persoalan pelik antara anak muda itu. Ia lantas bertanya, "Simoay, apa yang tertulis di atas, kan sudah kau lihat dengan jelas?" "Ya, sudah kulihat dengan jelas," jawab So-so lirih sambil mengangkat kepala. Tampaknya sangat kesal.
"Apa yang tertulis di sana?" tanya Liong Hui tak sabar.
Perlahan So-so lantas menguraikan apa yang dibacanya tadi, "Liong Po-si, engkau jadi naik ke sini? Jika demikian, jelaslah Kungfumu tidak telantar. Turunlah kembali lurus ke bawah, lalu melangkah tujuh belas langkah ke kiri. Di kaki tebing ada tetumbuhan akar-akaran. Singkap tetumbuhan itu, akan terlihat celah-celah yang cukup diterobos tubuh seseorang. Langsung masuk ke sana. Setiba di ujung, dapatlah kau lihat diriku!...." So-so berhenti sejenak. Namun Liong Hui lantas melangkah ke sebelah kiri sambil berhitung, "Satu, dua, tiga...." Cepat So-so memanggilnya, "Nanti dulu, Toako, masih ada...." "Ada apa? Maksudmu, belum habis tulisan yang kau baca itu?" tanya Liong Hui sambil menoleh.
So-so mengangguk, "Ya, masih ada satu baris yang berbunyi: Dan bila engkau masih ada sisa tenaga, naik lima tombak lagi ke atas. Di situ juga ada tulisan. Apakah kau ingin tahu?" "Menuruti watak Suhu, biarpun mengadu jiwa, beliau pasti akan naik ke atas," ujar Giok-he dengan gemas.
"Tapi... tapi aku tidak sanggup lagi naik ke atas!" ucap So-so dengan menunduk. Tampaknya sangat kecewa.
Liong Hui tertegun. Katanya kemudian, "Ginkang Simoay jauh lebih hebat daripadaku. Jika dia tidak mampu naik ke atas, apalagi aku." "Biarkan aku mencoba," seru Ciok Tim.
"Ginkang Toaso lebih bagus daripadamu, biarkan dia saja yang naik ke atas," ujar Liong Hui.
"Tidak perlu dicoba lagi," sela So-so. "Toaso juga takkan mampu naik ke atas. Setelah mencapai ketinggian sana, untuk merayap sejengkal lagi rasanya jauh lebih sulit daripada merayap setombak dari bawah sini. Kalau ingin mendaki lima tombak yang disebutkan itu, biarpun kulatih sepuluh tahun lagi, aku juga tidak sanggup." "Ya, dapat kupahami keteranganmu ini," kata Giok-he sambil mengangguk.
Hendaknya diketahui, Ginkang sebagai "cecak merayap" dan "awan mengapung" pada dasarnya cuma dorongan tenaga yang dikerahkan seketika. Bilamana sudah mencapai ketinggian dari tenaga yang dikerahkan, untuk naik lebih tinggi lagi jelas sangat sulit. Dengan sendirinya, Liong Hui dan Ciok Tim juga dapat memahami dalil ini.
"Lantas bagaimana?" tanya Liong Hui kemudian.
"Jika tidak ada jalan lain, betapa pun harus kucoba!" ujar Ciok Tim.
"Bila tidak ada jalan lain, biarpun kau coba, itu juga percuma," kata Giok-he. "Lebih baik kita periksa celah-celah di sebelah kiri yang disebutkannya itu." "Betul, kita harus memeriksa sesungguhnya siapakah yang meninggalkan tulisan itu," seru Liong Hui.
Giok-he tersenyum, "Tanpa melihatnya pun, aku tahu siapa dia." "Oh, memangnya siapa?" tanya Liong Hui.
"Kecuali Tan-hong Yap Jiu-pek, masakah ada orang lain? Selain Yap Jiu-pek, masakah ada orang berani bicara seketus itu terhadap Suhu?" "Tapi... bukankah Yap Jiu-pek sudah mati?" Liong Hui bertanya sangsi.
"Kan sudah kukatakan sejak tadi bahwa semua ini cuma perangkap saja," kata Giok-he. "Cuma di mana letak ujung tali jeratan ini, sejauh ini belum kita ketahui, kecuali... kecuali aku dapat melihat sebenarnya apa yang tertulis di tempat paling atas sana." Belum lenyap suaranya, sekonyong-konyong dari ketinggian tebing yang tak terlihat jelas itu terjulur seutas tali panjang.
Spontan So-so berempat berteriak kaget. Mereka memandangi tali yang terjulur di depan mereka itu dengan melongo dan tak dapat bersuara sekian lamanya.
Keempat orang itu saling pandang dengan sangsi dan ngeri.
Ternyata di atas tebing yang tak terlihat jelas itu terdapat jejak manusia.