Chapter 19
Dengan suara tertahan, akhirnya Ciok Tim berkata, "Yang melemparkan tali ke bawah ini, entah apakah juga orang yang menyalakan obor ini?"
Giok-he mengangguk. "Ya, kukira orang yang sama."
Kening Ciok Tim berkerenyit rapat, katanya pula, "Tapi orang ini sebenarnya kawan atau lawan, sungguh sukar untuk diraba. Jika maksud orang ini tidak jahat, dengan sendirinya kita boleh naik ke atas dengan memanjat tali. Kalau sebaliknya... wah, keadaan kita saat ini sungguh sangat berbahaya."
Giok-he tersenyum dan menggeleng. "Jika dipandang dari kelihaian orang ini, seandainya dia bermaksud menyusahkan kita, untuk apa membuang tenaga percuma dengan cara begini?"
"Jika begitu, biarlah kucoba naik dulu ke atas," sela So-so.
"Biar kutemani naik ke atas. Jika terjadi apa-apa, kita dapat saling membantu," tukas Ciok Tim. Agaknya dia telah melupakan kemungkinan bahaya.
"Bukankah kau bilang berbahaya?" kata So-so. Tiba-tiba ia menyesal karena ucapannya terlalu menyinggung perasaan, maka cepat ia menyambung, "Jika ada bahaya, bukankah lebih baik dihadapi seorang saja?"
Ciok Tim menunduk kikuk.
Giok-he lantas menyambung, "Simoay sudah naik satu kali, sekali ini biar aku saja yang naik ke atas."
"Betul, sekali ini giliran kita," tukas Liong Hui.
Mendadak Ciok Tim membusungkan dada dan berseru, "Biar kutemani Toaso ke atas!" Agar kelihatan gagah berani di depan orang yang dirindukannya, biarpun sekarang di atas sana terpasang perangkap maut, hal itu tak terpikir lagi olehnya.
"Boleh juga Site ikut bersamaku," ucap Giok-he.
Segera ia melompat ke atas setinggi dua atau tiga tombak. Diraihnya tali itu dengan kuat, lalu ia berpaling ke bawah dan berseru, "Toako, bila aku jatuh, kau harus menangkapku dengan baik!"
"Jangan khawatir," Liong Hui segera siap memasang kuda-kuda di bawah.
Saat Ciok Tim ikut melompat ke atas, akhirnya So-so berucap juga, "Hati-hati!" Meskipun suaranya lirih, namun cukup jelas didengar Ciok Tim. Seketika ia berbesar hati dan semangatnya terbangkit. Serunya, "Jangan khawatir!" Di tengah remang malam, kelihatan bayangannya semakin cepat naik ke atas, hanya sebentar saja lantas menghilang dalam kegelapan.
Liong Hui mendongak sampai sekian lama. Mendadak ia berkata, "Apakah tidak ada bahaya di atas?"
"Bukankah Toaso sudah bilang, kepandaian orang itu jauh di atas kita? Jika dia mau menyusahkan kita, buat apa dia bersusah payah menjebak kita?" ujar So-so.
"Tapi sudah sekian lama mereka tidak kelihatan," kata Liong Hui. Segera ia berteriak, "Hei, adakah kalian menemukan sesuatu?" Namun suasana sunyi senyap, tidak ada suara jawaban.
Kening Liong Hui berkerenyit. Gumamnya, "Wah, masakah mereka tidak mendengar suaraku?"
Sekali ini dia berteriak lebih keras sehingga telinga So-so yang berdiri di sampingnya ikut mendengung. Namun, puncak karang di atas tetap sunyi tanpa jawaban. Hanya desir angin yang mengumandangkan suara Liong Hui ke empat penjuru.
So-so juga mulai gelisah. Ia sangsi; biarpun puncak tebing ini sangat tinggi dan menjulang ke tengah awan, namun sekeliling tiada penghalang lain. Masakah suara teriakan mereka tidak terdengar? Diam-diam ia khawatir bagi mereka, tapi tidak berani diutarakannya. Ia melirik Liong Hui; di bawah cahaya obor yang redup, raut muka Liong Hui juga tampak berubah.
"Tadi kau bilang Toaso berdua tidak akan menemukan bahaya, tapi... mengapa mereka tidak menjawab suaraku?" kata Liong Hui kemudian.
So-so tidak tahu bagaimana harus menjawab. Sampai sekian lama baru ia menghela napas perlahan dan berucap, "Jika ada bahaya, seharusnya mereka bersuara memberitahukan kepada kita. Tapi sampai sekarang tetap tidak ada gerak-gerik apa pun di atas, sungguh sangat aneh..."
"Ya, sungguh aneh," tukas Liong Hui sambil memegang tali panjang yang terjulur itu. Mendadak ia melengong, tangannya pun agak gemetar.
So-so menjadi heran, "He, Toako, ada apa?"
Liong Hui berpaling dengan wajah penuh rasa terkejut dan khawatir, "Coba kau lihat!"
Berbarengan dengan tangannya yang bergerak, tali yang terjulur itu dapat diayunnya hingga jauh seolah tidak dibebani apa pun. Cepat So-so ikut memegang tali itu dan menggoyangkannya dua-tiga kali. Betul juga, di atas tidak terasa ada yang menggandul. Dengan gugup ia menyurut mundur dan mendongak ke atas. Ucapnya dengan suara gemetar, "Ya, mengapa tali ini bebas lepas? Ke... ke manakah mereka?"
"Bukankah kau bilang tidak ada bahaya!" seru Liong Hui dengan air muka kelam.
So-so tertegun. Mendadak ia menggertakkan gigi dan meloncat ke atas. Dengan cepat ia pun merambat ke atas.
Kiranya tadi Ciok Tim terus mengikuti Giok-he merambat ke atas dengan cepat dan gesit. Hatinya terasa hangat ketika mendengar pesan So-so kepadanya agar berhati-hati. Ia pikir, "Betapa pun, dia tetap memperhatikanku." Karena itulah caranya merambat bertambah semangat dan cepat. Ketika mencapai ketinggian belasan tombak, tiba-tiba terdengar Kwe Giok-he berkata di atas, "Tulisan inilah yang dilihat Simoay tadi. Ai, daya ingatnya sungguh sangat kuat, dia dapat menghafalkannya tanpa kurang satu huruf pun."
"Ya, daya ingatnya memang hebat," sahut Ciok Tim. Sekilas ia membaca tulisan yang dimaksud pada dinding tebing, lalu merambat lagi ke atas dan diam-diam membatin, "Betapapun Simoay tetap memperhatikanku. Meski terkadang dia suka bersikap kasar padaku, hal itu hanya karena keangkuhan seorang gadis saja. Sudah lima tahun kami tinggal bersama, mustahil dia tidak menaruh perasaan padaku." Berpikir demikian, tersembul senyuman di ujung mulutnya.
Selagi dia tenggelam dalam perasaan bahagia, mendadak dahinya menyentuh sesuatu. Ia terkejut dan mendongak. Kiranya itu kaki Kwe Giok-he. Kaki yang bersepatu kain sutra hijau bersulam bunga ungu kecil, indah dan serasi membungkus kakinya yang putih. Ujung sepatu yang agak mencuat ke atas itu dihiasi sebiji mutiara yang mengilat. Sekarang, kedua biji mutiara itu tepat berada di depan mata Ciok Tim. Semacam bau harum yang sukar dilukiskan sayup-sayup terbawa angin, tercium oleh hidung Ciok Tim. Lebih ke atas lagi adalah ujung celana yang juga bersulam bunga kecil menutupi permukaan kaki. Seketika sorot mata Ciok Tim terhenti di situ.
Baru sekarang ia tahu alasan sang Toaso, yang kecantikannya termasyhur di dunia persilatan ini, tidak suka memakai sepatu bersol tipis yang biasanya digunakan perempuan kalangan persilatan, atau sejenis sepatu yang bagian bawahnya tersembunyi senjata tajam. Hal ini serupa dengan kebiasaan guru mereka yang suka memakai sepatu bersol tebal seperti yang biasa dipakai kaum pembesar. Hal ini disebabkan sepatu bersol tinggi dapat melambangkan kebesaran serta kewibawaan, dan jelas menggariskan perbedaannya dengan orang persilatan umumnya. Hanya sepatu bersol tipis yang ringan inilah yang dapat menonjolkan keindahan kaki seorang perempuan. Melihat sepatu bagus dengan kaki yang indah ini, seketika Ciok Tim terkesima.
Tiba-tiba terdengar Giok-he menegur sambil tertawa, "Apa yang kau lihat?"
Muka Ciok Tim menjadi merah.
"Lekas naik kemari dan bacalah tulisan di sini," terdengar Giok-he berseru lagi sambil merambat ke atas.
Waktu Ciok Tim menengadah, dilihatnya di tengah keremangan wajah cantik itu sedang tersenyum kepadanya. Dengan kikuk ia berdehem dan menjawab, "Apa... apa yang tertulis di situ?"
"Naiklah dan baca sendiri," kata Giok-he sambil merapatkan tubuhnya ke dinding tebing. Dengan begitu, ada tempat luang untuk Ciok Tim naik ke sana.
Segera Ciok Tim ikut merambat ke atas. Ia tidak berani memandang langsung kepada Giok-he, tapi lantas membaca tulisan yang terukir di dinding. Di situ tertulis: "Liong Po-si, akhirnya kau datang juga ke sini. Bagus sekali. Ilmu silatmu memang tidak telantar. Kini, jika kau naik lagi sedikit dan berjalan lima belas langkah ke kanan, terdapat sebuah celah. Jalan tembus ini lebih dekat, cuma lebih sulit dilalui. Namun, bila engkau mendaki tujuh tombak lagi ke atas, akan kau temukan sebuah jalan yang lebih dekat. Cuma engkau jangan memaksakan kemauanmu untuk menempuh jalan yang sukar dilalui; ambil saja jalan yang mudah, akhirnya akan tetap dapat berjumpa denganku."
Meski keadaan cukup gelap, Ciok Tim dapat membaca tulisan di dinding itu dengan jelas dan cepat. Bersamaan dengan itu, dirasakannya bau harum semakin menusuk hidung. Tanpa terasa, ia terkenang kejadian masa lampau. Waktu itu dia baru masuk Perguruan Sin-liong, baru berumur sepuluh tahun, sementara usia Kwe Giok-he lebih tua dua atau tiga tahun. Pada masa keemasan anak-anak itu, meski berada di bawah asuhan guru yang keras, mereka pun pernah bermain layaknya anak-anak pada umumnya. Karena pergaulan yang dekat dan menjadi teman bermain setiap hari, diam-diam ia mencintai kakak seperguruannya yang lebih pintar dan lebih tua dua tahun darinya itu.
Cinta itu boleh dikatakan cinta suci murni anak-anak—cinta antara kakak dan adik yang bersih tanpa noda. Sampai dia beranjak dewasa, rasa cinta itu tetap disimpannya di dalam hati. Pada waktu dia berumur lima belas tahun, barulah Ong So-so masuk ke perguruan. Itulah suatu hari yang cerah. Biarpun kejadian itu sudah lima tahun berselang, Ciok Tim masih ingat betapa cemerlang cahaya bintang pada malam itu.
Malam itu, Putliong Liong Po-si mengadakan pesta dan mengumumkan dua peristiwa menggembirakan: pertama adalah diterimanya seorang murid perempuan baru; kedua, sekaligus diumumkan perjodohan murid utamanya, Liong Hui, dengan murid kedua, Kwe Giok-he. Pada malam itu juga, diam-diam Ciok Tim mengucurkan air mata di kamarnya sendiri. Sejak itu, sedapat mungkin ia ingin melupakan cintanya yang suci murni itu karena sang pujaan hati sudah dipersunting oleh Toasuheng yang dihormati dan diseganinya. Selanjutnya, perempuan itu telah menjadi Toaso dan bukan lagi Suci kecilnya; dia terpaksa harus melupakan perasaannya itu.