Halo!

Han Bu Kong - Chapter 20

Memuat...
Han Bu Kong

Chapter 20

Maka sedapatnya ia berusaha menjauhi si dia serta menghindari bicara dengannya. Lambat laun, Ciok Tim berubah menjadi pendiam dan suka menyendiri.

Pada suatu pagi, ketika mereka bertemu di lapangan latihan, Ciok Tim bertemu sendirian dengan Giok-he. Ia ingin menghindarinya, tetapi Giok-he sempat memanggilnya dan menegur, "Mengapa akhir-akhir ini engkau selalu menghindari diriku? Memangnya aku bukan lagi Suci cilikmu?" Ciok Tim hanya menggeleng tanpa bicara. Orang lain pun keburu datang.

Untuk seterusnya, mereka tidak pernah bertemu berduaan lagi, sampai kini.

Kini, peristiwa lampau seakan terbayang kembali dalam benak Ciok Tim. Rasanya Kwe Giok-he seperti menggelendot di sampingnya dengan baunya yang harum, membuatnya lupa bahwa dia adalah "Toaso"-nya.

Ketika ia berpaling, kedua orang beradu pandang. Tanpa terasa ia menghela napas dan memanggil perlahan, "Siausuci ...." Panggilan ini sangat perlahan, namun serupa sepotong batu raksasa yang dilempar ke tengah laut, menimbulkan gelombang dalam hati Kwe Giok-he yang tenang.

Giok-he mengerling sayu wajah Ciok Tim. Entah apa yang terpikir olehnya, ia hanya perlahan meraba sekali muka Ciok Tim dan berkata, "Engkau agak kurus!" Bergolak juga hati Ciok Tim, namun di luarnya ia berusaha berlagak tenang. Katanya, "Suhu ... Suhu tentu naik ke atas!" Ia tidak berani memandangnya lagi, tetapi lantas mendahului merambat tali ke atas.

Jarak yang tidak sampai sepuluh tombak itu dengan cepat dapat dicapainya.

Di atas memang sudah sampai ujungnya. Tanpa pikir, ia melompat ke atas. Puncak tebing ini sungguh sangat aneh, lapang, datar, serupa ditabas oleh senjata tajam.

Selagi Ciok Tim merasa heran, tiba-tiba dari belakang terdengar bisikan Giok-he yang perlahan. Mana Ciok Tim berani menoleh, meski timbul juga hasratnya, dia tetap memandang lurus ke depan.

Angin meniup menerbangkan rambut di pelipis Giok-he ke tepi telinga dan bawah dagu Ciok Tim. Terdengar keluhan Giok-he perlahan, "Kutahu sejak kuikut Toakomu, senantiasa engkau lantas menghindari diriku. Hari itu waktu kita bertemu di tempat latihan, bahkan engkau tidak berani bicara padaku. Mengapa engkau tidak serupa dulu ...."

Pada saat itulah terdengar gema suara Liong Hui dari bawah, "Adakah melihat sesuatu di atas?" Ciok Tim terkesiap dan berpaling. Seketika bibirnya menyentuh ujung mulut Giok-he yang manis dan hangat. Keduanya tidak bersuara, juga tidak bergerak lagi. Keduanya tidak ada yang menjawab suara Liong Hui itu.

Giok-he mengembus napas panjang dan berbisik pula, "Apakah masih ingat waktu di bawah pohon mangga di belakang perkampungan dahulu ...." Ciok Tim mengangguk, "Ya, waktu itu ku... kupeluk dirimu dan minta engkau bermain pengantin baru denganku ...."

"Kau minta aku menjadi mempelai perempuan dan masuk kamar pengantin bersamamu, tapi aku tidak mau ...."

"Ya, kau bilang usiamu lebih tua daripadaku, hanya dapat menjadi Cicimu dan tidak dapat menjadi pengantinku ...."

"Dan lantas kau peluk diriku, kau paksa dan .... dan aku ...."

Sekonyong-konyong terdengar lagi bentakan dari bawah, "Hei, kalian mendengar suaraku tidak?" Hati Ciok Tim terkesiap pula. Mendadak dirasakan bibir yang hangat menyentuh bibirnya ....

Lalu terdengar Giok-he berkata pula perlahan, "Waktu itu serupa sekarang ini, engkau telah mencium aku ...."

"Namun kemudian engkau menikah dengan Toako dan menjadi Toaso ...." Ia tidak bergerak, sebab pergolakan darah panas anak muda membuatnya hampir tidak tahan.

"Meski kunikah dengan Toakomu, tapi .... masakah engkau tidak tahu hatiku?"

"Hati ... hatimu ...."

"Dalam hal apa aku tidak membelamu? Terkadang aku pun ikut bicara bagimu bila ucapan Simoay terlalu keras padamu, masakah engkau tidak tahu sebab apa aku berbuat demikian?"

"Jika ... jika begitu, mengapa engkau mau menikah dengan Toako?" tanya Ciok Tim.

Giok-he mengerling sendu, ucapnya lirih, "Usia lebih tua, juga Sucimu, sekalipun aku mau menikah denganmu juga takkan diluluskan oleh Suhu."

"Semula kukira engkau ingin menjadi istri murid pewaris Sin-liong-bun, karena ingin berkuasa mewarisi Ciceng kelak, maka engkau menikah dengan Toako, sebab ... sebab kutahu benar watakmu sama sekali berbeda daripada pribadi Toako yang keras itu."

Air muka Giok-he tampak berubah, seperti isi hatinya tepat kena diungkap orang. Serupa juga orang yang merasa penasaran, ia menghela napas panjang dan bertanya, "Apa benar semula engkau berpikir demikian."

"Ya, tapi sekarang kutahu pikiranku itu keliru," jawab Ciok Tim sambil mengangguk.

Giok-he tersenyum, mendadak ia berbisik lagi, "Meski kita tidak dapat menjadi suami-istri, tapi ... tapi selanjutnya kalau setiap saat kita masih dapat ber... bertemu, kan sama saja."

Terguncang juga perasaan Ciok Tim. Ia pandang orang dengan termangu, sampai sekian lama napas pun seakan-akan terhenti.

Mendadak terdengar lagi kumandang suara di bawah, "Simoay, mungkin ada bahaya di atas, biarlah aku naik dulu!"

Ciok Tim terkejut. Cepat ia melompat mundur dan berdiri di samping sepotong batu karang di tepi puncak tebing itu. Hampir pada saat yang sama, bayangan Ong So-so yang ramping pun melayang ke atas, menyusul tubuh Liong Hui yang kekar juga melompat tiba.

Di bawah cahaya bintang, sorot mata keempat orang saling pandang sekejap, masing-masing sama mengunjuk rasa tercengang. Dengan sendirinya, pada sorot mata Ciok Tim juga tertampil rasa kikuk dan takut.

Liong Hui dan So-so sama bersuara heran, "Kiranya kalian baik-baik saja di atas?" ucap Liong Hui.

Ketika dilihatnya Ciok Tim berdiri di sana dengan sikap kikuk, betapa pun lugasnya Liong Hui timbul juga rasa curiganya, "Ada apa kalian?"

Giok-he lantas menarik muka, "Aneh pertanyaanmu ini, memangnya kau kira ada apa?"

"Seruanku dari ... dari bawah tadi masa tidak kalian dengar?" tanya Liong Hui dengan agak tergegap.

"Tentu saja dengar," jawab Giok-he.

"Jika dengar mengapa tidak menjawab, bikin cemas orang saja," keluh Liong Hui dengan menyesal.

"Huh, kau linglung, masakah orang lain harus ikut linglung?" jengek Giok-he.

"Aku linglung apa?" tanya Liong Hui dengan melongo.

"Masa kau lupa betapa bahaya keadaan kita, musuh di tempat gelap dan kita di tempat yang terang, tapi engkau sengaja gembar-gembor, memangnya kau khawatir musuh tidak tahu tempat kita berada dan sengaja memberitahukan padanya? Huh, masih berani kau tegur kami segala?"

Liong Hui tercengang, akhirnya menunduk.

"Ai, memang pikiran Toaso jauh lebih cermat daripada kita," ucap So-so dengan gegetun.

Rasa gugup Ciok Tim tadi sudah mulai tenang kembali, namun air mukanya lantas bertambah kecut. Terhadap Giok-he selain kagum juga timbul rasa takutnya. Sungguh tak terpikir olehnya, seorang sudah berbuat dosa malah berani mengomeli orang lain.

Terhadap Liong Hui timbul juga rasa kasihan dan juga malunya. Dilihatnya Liong Hui menunduk sejenak, mendadak mendekatinya dan tepuk-tepuk bahunya sambil berucap, "Maafkan kesalahanku."

Berdetak hati Ciok Tim, sahutnya dengan gelagapan, "Meng... mengapa Toako minta maaf padaku?"

"Tadi aku salah mengomelimu," ujar Liong Hui dengan menyesal.

"Meski tidak kukatakan terus terang, sebenarnya dalam hatiku agak curiga. Ai, aku pantas mampus, masakah mencurigaimu."

Ciok Tim terkesima. Darah panas bergolak hebat dalam rongga dadanya. Menghadapi lelaki yang tulus, jujur, dan berjiwa terbuka ini, sungguh ia merayakan dirinya sendiri sedemikian kecilnya, sedemikian kotor. Dengan gelagapan ia menjawab, "O, Toako ... aku ... aku yang ...."

Belum lanjut ucapannya, mendadak Giok-he melompat maju dan berseru, "Di antara saudara sendiri, jika terjadi salah paham, asal sudah jelas persoalannya, apa pula yang perlu dikatakan lagi."

"Betul, aku takkan banyak omong lagi," kata Liong Hui sambil memegang pundak Ciok Tim, tapi mendadak ia berteriak pula sambil memandang ke belakang Ciok Tim dengan tercengang, "Hei, apa ini?"

Dengan kaget Ciok Tim berpaling, maka terlihatlah pada batu karang di belakangnya itu terukir gambar seorang perempuan berdandan sebagai pendeta To. Rambutnya disanggul tinggi di atas kepala dan pakai tusuk kundai hitam, berdiri tegak dengan tangan kiri lurus ke bawah dan jari tengah dan telunjuk agak menjengkat ke atas. Sedangkan tangan kanan memegang pedang dengan ujung pedang agak serong ke bawah. Mukanya jelas serupa hidup, pakaiannya dilukiskan berkibar serupa sedang menari. Dipandang di tengah remang malam seperti perempuan hidup berdiri di depanmu.

Di samping gambar terdapat pula beberapa baris tulisan. Waktu diamati, tulisan itu berbunyi: "Liong Po-si, Kungfumu bertambah maju lagi. Akan tetapi, dapatkah kau patahkan juru seranganku ini? Kalau dapat, maju lebih lanjut, jika tidak mampu, segera kembali?"

Liong Hui mengawasi gambar itu sekian lama, mendadak ia mendengus, "Huh, aku saja mampu mematahkan jurus serangan ini, apalagi Suhu?"

"Nada tulisan ini sedemikian angkuh, tapi jurus yang diperlihatkan ini tampaknya tiada sesuatu yang luar biasa. Jangan-jangan ada keajaiban di balik tulisan ini," ujar Ciok Tim.

Tiba-tiba So-so menukas, "Jurus serangan yang kelihatan biasa ini pasti mengandung keajaiban yang tidak dipahami kita."

"Ya, setiap jurus serangan yang kelihatan biasa saja sesungguhnya semakin lihai dan sukar diduga," kata Giok-he. Ia merandek sejenak lalu menyambung dengan tersenyum, "Sudah sekian lama kalian memandangnya, adakah kalian melihat sesuatu keistimewaan pada gambar ini?"

Liong Hui memandang lagi beberapa kejap, katanya, "Pedang terhunus dan siap menyerang, seharusnya kaki pasang kuda-kuda yang tepat, tapi kedua kaki Tokoh (pendeta perempuan agama To) ini berdiri dengan ujung kaki menatap di depan, sungguh janggal kuda-kudanya ini."

"Betul, inilah salah satu keistimewaannya," kata Giok-he.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment