Chapter 21
Dada Liong Hui membusung lebih tinggi, wajahnya berseri-seri. Ia menyambung, "Dia berdandan sebagai seorang tokoh, tetapi sepatu yang dipakainya serupa sepatu laki-laki. Ini pun sangat janggal." "Dandanan tidak ada sangkut pautnya dengan ilmu pedang, ini tidak masuk hitungan," ujar Giok-he sambil tertawa.
"Mengapa tidak masuk hitungan? Dandanan yang tidak benar menandakan jiwanya tidak baik, ilmu pedangnya juga pasti tidak murni. Ilmu pedang yang tidak bersih mana dapat memperlihatkan keampuhan dan mengalahkan musuh?" kata Liong Hui dengan serius.
"Baik, baik, boleh juga dihitung...." "Dengan sendirinya harus dihitung," kata Liong Hui dengan mantap.
So-so juga mengangguk, "Ya, ilmu pedang yang tidak bersih, biarpun dapat merajai dunia seketika, juga tidak tercatat dalam sejarah. Ucapan Toako memang beralasan." "Memang betul," sambung Ciok Tim.
"Sejak dulu hingga kini sudah banyak contohnya. Lihat saja ilmu pedang perguruan Siauw-lim dan Bu-Tong yang turun-temurun entah sudah berapa angkatan dan sampai sekarang masih tetap dipuji. Sebaliknya, berbagai macam ilmu pedang yang pernah merajai dunia persilatan karena kekejian dan keganasannya, sampai sekarang hanya namanya saja masih dikenal, namun jejaknya sudah menghilang. Ucapan Simoay sungguh...." "Sudah cukup bicaramu?" Giok-he memotong mendadak dengan nada kurang senang.
Ciok Tim melengak.
Giok-he lalu menyambung, "Sungguh aku tidak mengerti, dalam keadaan demikian dan di tempat begini kalian bisa mengobrol iseng. Kalau mau mengobrol selanjutnya, kan masih banyak waktu. Mengapa kalian harus terburu-buru?" Raut muka So-so menjadi merah dan tanpa terasa ia menunduk.
Giok-he lalu berkata lagi sambil tersenyum, "Kecuali kedua segi yang disebutkan Toako tadi...." "Tiga segi," sela Liong Hui.
"Baik, kecuali ketiga segi ini, apa lagi yang kalian lihat?" tukas Giok-he sambil tertawa.
Ciok Tim mengangkat kepala, meski memandang ke arah gambar, padahal pandangannya kabur dan tidak melihat sesuatu.
Perlahan So-so bicara, "Kulihat titik yang paling aneh terletak pada matanya. Mata perempuan ini tergambar terpejam, padahal mana mungkin bisa memejamkan mata pada waktu bertempur dengan orang?" Dia bicara tanpa mengangkat kepala, mungkin karena hal ini sudah dilihatnya sejak tadi, hanya saja sejauh ini belum dikemukakannya.
"Bagaimanapun, Simoay memang lebih cermat," ujar Liong Hui dengan kagum.
"Betul juga," kata Giok-he.
"Semula aku pun menganggap hal ini sangat aneh, tetapi setelah kupikirkan lagi, kurasa sebabnya dia memejamkan mata sangat beralasan, bahkan merupakan titik paling lihai dari jurus serangannya ini." "Mengapa begitu?" tanya Liong Hui dan Ciok Tim bersamaan.
"Jurus serangannya ini mengutamakan ketenangan. Sebaliknya, setiap orang persilatan tahu bahwa Thianjit-sik (tujuh belas gerakan naga langit) perguruan kita mengutamakan kedahsyatan serangan, terutama empat jurus terakhir, dengan banyak gerakan perubahan sehingga lawan sukar menahannya. Tetapi, gambar perempuan ini hanya meluruskan pedangnya...." "Karena pedangnya cuma bergerak lurus, sehingga lawan pun sukar mengetahui bagaimana gerakan lanjutannya," tukas So-so.
"Sama halnya orang menulis. Jika pensilnya cuma menggores satu garis, siapa pun tidak tahu apa yang akan ditulisnya. Tetapi bila dia menggores melingkar atau sesuatu awalan huruf, orang lantas tahu huruf apa yang akan ditulisnya." "Ha-ha, meski sejak mula aku tahu dalil ini, tetapi sukar untuk kujelaskan. Setelah diuraikan Simoay, semuanya menjadi jelas. Perumpamaan Simoay dengan menulis memang sangat tepat," kata Liong Hui sambil tertawa.
"Ya, Simoay memang lebih pintar daripada kalian," ujar Giok-he.
"Ah, Toaso...." So-so menunduk malu.
"Tetapi ingin kutanya padamu, adakah kau lihat bagaimana gerakan lanjutan dari pedangnya ini?" tanya Giok-he.
So-so berpikir sejenak. Jawabnya kemudian, "Meski pengetahuanku tidak banyak, tetapi menurut hematku, gerakan pedangnya ini dapat menimbulkan tujuh gerakan perubahan." "Ketujuh gerakan perubahan apa?" tanya Giok-he.
Ciok Tim dan Liong Hui juga sama-sama memasang telinga.
"Jurus serangannya ini tak jelas berasal dari ilmu pedang aliran mana," kata So-so. "Tetapi jelas dapat berubah menjadi jurus Gansah (burung belibis hinggap di rawa) dari ilmu pedang Bu-Tong-pai." "Betul, asal ujung pedangnya berputar ke kiri, akan jadilah jurus Gan-loh-pangsah," tukas Giok-he.
Kening Liong Hui mengerut rapat, dan ia mengangguk.
Lalu So-so menyambung lagi, "Dan bila ujung pedangnya menyontek ke atas, akan jadi jurus Liuhong (ranting pohon menyongsong angin) dari Tiam-jong-pai. Kalau pergelangan tangannya berputar ke bawah, jadilah jurus Kongpeng (burung merak membentang sayap) dari Go-bi-pai." Ketika bertutur sampai di sini, nadanya mulai emosional.
Giok-he tersenyum dan berkata, "Bicaralah perlahan, tidak perlu tergesa." So-so menarik napas, lalu menyambung, "Kecuali itu, dapat juga berubah menjadi... menjadi jurus...." Di bawah cahaya bintang yang suram, wajah Ong So-so kelihatan berkerut-kerut, meringis kesakitan.
"He, Simoay, ken... kenapa?" tanya Ciok Tim kaget.
Dada So-so tampak naik-turun. Setelah menarik napas, raut mukanya mulai tenang kembali. Katanya, "O, tidak... tidak apa-apa, cuma... cuma dada agak sakit, sekarang sudah baik." "Dan apa keempat gerakan perubahan yang lain?" tanya Giok-he sambil tersenyum.
"Jurus perubahan lain adalah Koaymoa (memotong tali kusut dengan cepat) dari Tian-san-pai, Giokpo (pentungan kumala menembus ombak) dari Kun-lun-pai, Lipyang (memutar balik gelap menjadi terang) dari Siauw-lim-pai, dan jurus Thojun (dua saudara berebut rezeki) dari Samhoat, peninggalan pendekar pedang Sam-hoakiamkhek dahulu." Raut mukanya sudah tenang kembali, namun sorot matanya masih menampilkan rasa sakit, seperti enggan bertutur, tetapi terpaksa melanjutkan.
Liong Hui menghela napas. Katanya, "Simoay, sungguh tidak menyangka pengetahuan ilmu silatmu seluas ini. Mungkin sebelum masuk perguruan kita, engkau sudah banyak belajar kungfu perguruan lain?" "Ah, mana... tidak...." sahut So-so dengan gelagapan.
"Mana mungkin, aku tidak percaya," ujar Liong Hui.
Ia memandang sang istri dan berkata pula, "Aku justru tidak melihat ada gerakan perubahan seperti itu, apakah kau lihat?" "Aku juga tidak," sahut Giok-he sambil menggeleng. "Aku cuma tahu kemungkinan akan berubah menjadi jurus Gansah dari Bu-Tong-pai dan Lipyang dari Siauw-lim-pai. Selebihnya aku tidak dapat melihatnya. Maklumlah, aku sendiri tidak pernah melihat Samhoat dan juga ilmu pedang dari Tian-san-pai dan Tiam-jong-pai, dengan sendirinya tidak tahu kemungkinan akan berubah pada jurus serangan ilmu pedang tersebut."
Liong Hui mengerutkan kening. Dengan sorot mata tajam ia bertanya pada So-so, "Dari mana kau belajar ilmu pedang sebanyak itu?" "Ya, aku pun agak heran," sambung Giok-he.
Ciok Tim juga memandang So-so dengan penuh tanda tanya.
Wajah So-so kelihatan agak pucat, dengan sinar mata berkilau-kilau seperti menyembunyikan suatu rahasia.
Giok-he lalu berkata pula, "Pada waktu Simoay mengangkat guru, aku sudah merasa heran. Coba Toako, apakah ingat siapa yang memasukkan Simoay ke perguruan kita?" "Ya, aku tahu, yang memasukkan dia ialah Suma Tiong-thian, pemimpin umum Ang-ki-piaukiok (perusahaan pengawal panji merah) yang terkenal dengan tombak besi dan panji merah yang menggetarkan Tiongjiu (negeri tengah) itu," jawab Liong Hui.
"Betul," kata Giok-he.
"Namun Suma-congpiauthau juga tidak menjelaskan asal-usulnya. Suhu hanya diberi tahu bahwa Simoay adalah putri seorang sahabatnya. Suhu adalah orang jujur dan percaya penuh kepada sahabat sendiri, maka tidak pernah bertanya tentang asal-usul Simoay." Meski senyuman tetap menghias wajahnya, senyuman itu tidak bermaksud baik. Sorot matanya juga terkadang melirik Ciok Tim, dan di lain saat melirik So-so.
Raut muka So-so kelihatan pucat, jari tangannya pun agak gemetar.
Giok-he bicara pula sambil tersenyum, "Sekian tahun kita berkumpul, hubungan kita ibarat saudara sekandung. Akan tetapi, terhadap keadaan Simoay sekarang, mau tidak mau aku...." "Meski aku tidak dapat menikah denganmu, asalkan selanjutnya kita dapat bertemu setiap saat, sama saja, bukan?" So-so menukasnya mendadak, sambil bergumam.
Serta-merta raut muka Giok-he dan Ciok Tim berubah. Tanpa terasa, Ciok Tim mundur selangkah.
"Apa katamu, Simoay?" tanya Liong Hui dengan bingung. "Oo, tidak... aku bicara tanpa sengaja...." jawab So-so dengan tergegap.
"Dia tidak bicara apa-apa," sambung Giok-he sambil tertawa, lalu melangkah maju.
Segera So-so mundur.
Tentang asal-usul Simoay, kalau Suhu tidak bertanya dan tidak khawatir, mengapa kita harus merisaukannya? Bukankah banyak murid Sin-liong-bun yang belajar dengan membekali diri dengan kepandaian? Kungfu apa yang pernah dilatih Simoay sebelum masuk perguruan tidak menjadi soal, bukan?" "Aku kan tidak bilang ada soal, cuma...." Liong Hui semakin bingung.
"Ah, untuk apa kau bicara lagi?" omel Giok-he.
"Jika asal-usul Simoay kurang beres, berdasarkan kehormatan pribadi Suma-congpiauthau pun jauh lebih dari cukup untuk dipercayai." "Namun...." "Namun apalagi? Ayo kita mencari Suhu!" seru Giok-he sambil menarik tangan So-so dan mengajaknya menuju ke balik batu karang sana.
Diam-diam Ciok Tim berdebar-debar, pikirannya sangat kusut.
Sekarang ia tahu bahwa apa yang dibicarakannya dengan Kwe Giok-he tadi telah didengar oleh So-so. Pikirannya pun tertekan, ia memandangi punggung gadis itu yang baru menghilang di balik batu karang sana.
Hanya Liong Hui saja yang berwatak jujur dan serba terbuka, sama sekali ia tidak melihat niat jahat dalam urusan ini.