Halo!

Han Bu Kong - Chapter 22

Memuat...
Han Bu Kong

Chapter 22

Ia cuma termangu saja dan mencoba bertanya, "Samte, sesungguhnya ada apa?" "Aku pun tidak tahu," Ciok Tim menunduk. Sungguh, ia merasa malu bertatap muka dengan sang Suheng yang jujur dan terus terang ini.

Setelah tercengang sejenak, mendadak Liong Hui tergelak tertawa, "Haha, urusan anak perempuan sungguh sangat membingungkan."

"Sudahlah, aku pun tidak mau pusing mengurusnya." Lalu berpaling kepada Ciok Tim dan berkata pula, "Samte, ingin kukatakan padamu, betapapun memang lebih tenteram dan bebas hidup bujangan. Sekali engkau tersangkut urusan wanita, bisa pusing kepalamu." Ciok Tim merasa kagum, hormat, dan juga malu terhadap Suheng yang polos ini. Ia tahu bahwa meskipun ada rasa curiga dalam benak lelaki lugu ini, kini sudah lenyap terbawa oleh gelak tertawanya.

Meski hati merasa lega, namun diam-diam Ciok Tim tampak tersipu.

Saat itu Giok-he dan So-so telah membelok ke balik batu besar itu, mendadak Giok-he berhenti.

"Hai, ada apa, Toaso?" tanya So-so.

"Hm, memangnya kau kira aku tidak tahu permainanmu?" ejek Giok-he.

"Apa yang Toaso maksudkan? Sungguh, aku tidak tahu," jawab So-so dengan agak gentar terhadap Toaso yang berwibawa ini.

Bola mata Giok-he berputar, katanya, "Setelah turun nanti, jika mereka sudah tidur aku akan bicara denganmu." "Baik," sahut So-so.

Tiba-tiba terlihat Liong Hui dan Ciok Tim ikut tiba.

Setelah dekat, Liong Hui bersuara heran, "Hei, apa yang kalian lakukan di sini?" "Memangnya kau kira kami datang ke sini untuk mencari angin?" ujar Giok-he dengan tersenyum.

Belum selesai ucapannya, tiba-tiba Liong Hui berseru lagi, "Hah, ternyata di sini juga ada tulisan!" Ternyata di situ tertulis, "Liong Po-si, jika hanya tujuh gerak perubahan ini yang dapat kaulihat, lebih baik cepat kau pulang saja." Setelah membaca tulisan itu, Liong Hui jadi termangu.

Ternyata perubahan jurus ini tidak hanya tujuh macam saja.

Sementara itu, Ciok Tim juga sudah mendekat, katanya sambil menatap tulisan di dinding itu, "Gansah, Lipyang .... Hah, ketujuh gerak perubahan yang disebut Simoay tadi ternyata cocok dengan tulisan di sini." "Sungguh sukar dipercaya bahwa hanya satu jurus sederhana ini dapat membawa gerak perubahan lebih dari tujuh macam," gerutu Liong Hui.

Tiba-tiba terlihat di samping tulisan ini masih ada beberapa huruf lagi, hanya ukiran ini lebih dangkal, juga kurang teratur, jika tidak diperhatikan sulit menemukannya.

"Hei, bukankah ini tulisan tangan Suhu?" seru Giok-he.

"Betul," tukas So-so.

Serentak keempat orang berkerumun lebih dekat. Tampak di situ tertulis, "Dengan pedang sebagai senjata utama, dibantu dengan kaki, ilmu pedang sakti, tendangan negeri asing, untuk mematahkan jurus serangan ini, cara yang tepat adalah berbeda dari cara biasa." Selain tulisan tersebut, ada lagi tulisan lain yang lebih kasar dan berbunyi, "Kebagusan jurus seranganmu ini terletak pada lengan kirimu yang merapat pada tubuhmu serta sepatu aneh yang kau pakai ini, memangnya kau kira aku tidak tahu. Hahaha ...."

"Haha, coba lihat, kehebatan jurus serangan ini justru terletak pada sepatunya yang aneh! Tadi kau bilang dandanannya tidak ada kaitannya dengan ilmu pedang," Liong Hui juga tertawa senang.

Kening Ciok Tim mengerut, gumamnya, "Untuk mematahkan jurus ini harus menggunakan cara yang berbeda dari cara biasa .... Apa artinya kata-kata ini?" Giok-he melirik Liong Hui sekejap, lalu memandang Ciok Tim pula, katanya, "Letak kehebatan ilmu pedang ini rasanya sulit dipecahkan meskipun kita memeras otak tiga hari tiga malam lagi."

"Tapi aku ...." kata Liong Hui.

"Meskipun secara kebetulan dapat kauterka sebagian, tapi dapatkah kau ketahui di mana letak keajaiban sepatunya ini?" potong Giok-he.

Liong Hui jadi termangu.

"Masih ada sesuatu yang mencurigakan, tapi tidak kalian lihat," kata Giok-he.

"Hal apa?" tanya Liong Hui.

"Dapatkah kalian menerka bagaimana huruf ini ditulis di sini?" "Seperti dengan tenaga jari," ujar Ciok Tim setelah mengamati lagi.

"Ini 'kan tidak perlu diherankan, tenaga jari Suhu memang sangat kuat," kata Liong Hui.

"Hm, bagaimana dengan kau?" ejek Giok-he.

"Aku mana sanggup," sahut Liong Hui.

"Setelah Suhu menyusutkan sebagian besar tenaganya, kekuatannya bukankah sebanding denganmu?" "Ah, betul," seru Liong Hui sambil menepuk dahinya sendiri.

"Jika demikian, pada waktu menulis ini kekuatan Suhu tentu sudah pulih. Sungguh aneh dan sulit dimengerti. Dalam keadaan begini dan di tempat seperti ini siapakah yang membuka Hiat-to Suhu yang tertutuk itu?" Giok-he menghela napas, lalu bertutur, "Urusan pertandingan Kungfu sebenarnya adalah hal biasa. Sebelum mendaki Hoa-san, kukira urusan ini pasti tidak ada keajaiban, meskipun ada bahayanya juga. Namun, setelah naik ke atas gunung, setiap kejadian yang kita lihat ternyata melampaui kewajaran. Dari zaman dulu hingga sekarang rasanya tidak ada urusan pertandingan yang lebih aneh daripada apa yang kita alami ini." Ia berhenti sejenak dan memandang sekelilingnya, lalu menyambung, "Wanita bermarga Yap itu menggunakan berbagai cara agar Suhu mau menyusutkan tenaga dalamnya sendiri, dan Suhu ternyata menyanggupi begitu saja. Inilah kejadian aneh yang belum pernah terdengar di dunia persilatan. Lalu Tojin berjubah hijau yang berusaha merebut sebuah peti mati kosong juga tidak kalah anehnya. Semua ini sudah membuat hatiku tidak tenang. Siapa tahu kemudian timbul lagi hal-hal aneh yang lebih banyak. Jika kupikirkan sekarang, di balik pertandingan di Hoa-san ini pasti terkandung macam-macam lika-liku dan rahasia. Bisa jadi ada beberapa orang telah mengatur rencana sekian lama dan memasang perangkap untuk menjebak Suhu, tapi Tan-hong Yap Jiu-pek yang dijadikan pelakunya. Coba kalian pikirkan ...."

Belum selesai ucapannya, tiba-tiba Liong Hui berlari ke depan itu.

"Hei, ada apa?" seru Giok-he.

Liong Hui menjawab sambil menoleh, "Kita sudah berada di sini, meskipun bicara tiga hari lagi juga tidak ada gunanya. Yang penting, cepat kita mencari dan membantu Suhu. Pantas saja Suhu suka bilang engkau memang pintar, hanya terlalu banyak bicara dan sedikit berbuat." Wajah Giok-he berubah masam.

"Tunggu, Toako!" seru So-so dan segera ikut berlari ke sana.

Ciok Tim ragu sejenak dan memandang Giok-he sekejap, lalu menyusul juga ke sana.

Giok-he mencibir sambil memandangi bayangan punggung mereka, ia pun segera menyusul. Siapa tahu, mendadak Liong Hui berhenti lagi.

Ternyata beberapa tombak jauhnya di depan situ terdapat lagi sebuah batu karang dan juga terukir gambar seorang Tokoh, hanya gayanya agak berbeda. Jika gambar yang pertama tadi bergaya bertahan, gambar yang ini bergaya menyerang.

Juga gambar yang pertama berdiri kokoh, gambar yang ini mengapung di udara dengan pedang menebas. Lalu di samping gambar ada tulisan, "Liong Po-si, jika jurus bertahan tadi dapat kaupatahkan, dapatkah kauhindarkan jurus serangan ini?" Liong Hui hanya membaca seadanya dan segera berbalik lagi ke sana. Betul juga, di belakang batu ada tulisan lagi.

"Huh, lagu lama!" ejek Ciok Tim yang baru tiba.

"Untuk apa membacanya?" Liong Hui pun mengejek dan segera mendahului melangkah lagi ke depan.

Sementara itu, Giok-he telah menyusul sampai di sebelah suaminya.

Liong Hui memandangnya sekejap sambil menghela napas, katanya, "Tadi aku terlanjur bicara, jangan kau marah padaku." Giok-he seperti mau bicara, tapi segera terlihat ada gambar lagi di batu karang di depan sana. Hanya gambarnya sudah dirusak orang, batu kerikil bertebaran di sekitar tempat itu.

Liong Hui saling pandang sekejap dengan Giok-he. Ketika ia berbalik lagi ke balik batu, tulisan di belakang juga telah dirusak dan tidak terbaca lagi.

Kening Liong Hui mengerut, "Suhu ...." "Ya, selain Suhu siapa pun tidak memiliki Lwekang sehebat ini," kata Giok-he.

"Mengapa beliau berbuat demikian? Mungkinkah beliau tidak ... tidak mampu mematahkan jurus serangan ini?" ucap Liong Hui setengah bergumam.

Giok-he hanya menggeleng tanpa bicara. Mereka mencoba menuju ke depan lagi. Medan berbatu mulai curam. Beberapa tombak di depannya, kembali terlihat sebuah batu dengan tulisan, "Liong Po-si berdendang sampai di sini!" Tulisan ini jelas terukir dengan tenaga jari. Di bawahnya terdapat empat huruf lagi yang mengejutkan, bunyinya, "Tidak pulang untuk selamanya!" Goresan keempat huruf ini tidak sama dengan tulisan di atas. Goresannya lebih halus, tenaganya lebih tajam, jelas diukir dengan senjata sejenis pedang atau golok.

Mendadak dengan beringas Liong Hui menghantam, "blang", batu kerikil muncrat. Liong Hui juga terguncang mundur dan jatuh terduduk.

Meski dia terkenal sebagai "Si Kepalan Besi", bagaimanapun juga tubuhnya terdiri dari darah dan daging.

"Hai, kenapa kau marah terhadap sebuah batu? Simpan saja tenaga untuk menghadapi musuh nanti," kata Giok-he sambil menarik suaminya agar bangun.

"Hm, kau ...." karena mendongkol, Liong Hui jadi tidak sanggup berkata-kata.

Segera Giok-he mendahului menuju ke depan itu.

"Toako sangat baik terhadap siapa pun, terutama terhadap Toaso," kata So-so sambil melirik Ciok Tim sekejap.

Wajah Ciok Tim menjadi merah dan menunduk.

Pada saat itulah mendadak terdengar suara seruan Giok-he di balik batu itu. Mereka segera memburu maju.

Di balik batu karang ini terdapat tepi jurang. Justru di tepi tebing yang curam ini dibangun sebuah gubuk bambu secara ajaib. Warna bambu sudah berubah kuning kering. Ketika angin meniup bambu, lantas menerbitkan suara keriut-keriut dan bergoyang seperti mau runtuh.

Di depan pintu gubuk tidak ada tanda apa pun. Di kanan kiri juga tidak ada hiasan apa pun. Gubuk ini berdiri sendiri di puncak tebing yang terjal.

Liong Hui berhenti di samping Giok-he dengan termangu. Mendadak ia berteriak, "Suhu!" Secepat kilat ia menerjang maju dan mendorong pintu gubuk.

"Toako! ...." seru Ciok Tim khawatir dan segera berniat menyusulnya.

Tapi Giok-he lantas menarik baju Ciok Tim dan berkata, "Tunggu dulu!" "Tunggu apa?" ejek So-so.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment