Halo!

Han Bu Kong - Chapter 23

Memuat...
Han Bu Kong

Chapter 23

"Jika Toako menghadapi bahaya apakah kita juga mesti menunggu?" Dia bicara dengan tajam. Nona yang lembut ini mendadak bisa bicara ketus. Hal ini membikin Giok-he terkesiap.

Tanpa menghiraukan orang lagi, segera So-so memburu maju.

Dilihatnya Liong Hui berdiri di ambang pintu dengan termangu. Di dalam rumah gubuk tiada terlihat seorang pun. Yang aneh adalah di tengah rumah gubuk yang luang ini terlihat ada lima biji mutiara, gubuk ini ada empat pintu, tiga comot noda darah, dua bekas kaki, dan sebuah kasur bundar yang biasa digunakan orang berduduk semadi.

Kelima biji mutiara terbingkai di atap rumah yang dianyam dengan bambu hijau. Keempat buah pintu tidak sama besarnya. Pintu tempat Liong Hui masuk itu paling kecil dan sukar dimasuki dua orang berjajar.

Di kanan kiri gubuk juga ada pintu yang lebih besar, sedangkan pintu yang terbesar berada di seberang Liong Hui berdiri. Kasur bundar yang sudah butut itu terletak di depan pintu.

Yang paling tidak sepadan dengan kelima butir mutiara mestika itu adalah kasur butut ini. Kasur bundar ini sudah pipih saking lamanya dipakai. Di samping kasur tua inilah terdapat tiga comot darah segar. Secomot darah segar itu terletak di samping bekas telapak kaki sana.

Bekas darah lain terletak di sebelah kiri bekas kaki, dan ada lagi bekas darah di belakang kasur butut. Dari situ ada lagi tetesan darah yang menuju ke pintu paling besar itu.

Sedangkan daun pintu semuanya tertutup rapat sehingga orang yang semula berada di dalam gubuk ini seolah-olah menerobos keluar begitu saja melalui celah bambu.

Ketika angin meniup masuk melalui celah bambu, tanpa terasa Liong Hui menggigil. Di bawah cahaya mutiara yang kontras, suasana demikian terasa cukup seram. Semuanya serbamisterius, terutama tiga comot darah itu semakin menambah seramnya keadaan rumah gubuk ini.

Setelah melengok sejenak, mendadak Liong Hui melompat ke pintu sebelah kiri. Pintu ditariknya terbuka, tampaklah sebuah jalan berliku menuju ke bawah tebing.

So-so juga mencoba membuka pintu sebelah kanan. Di luar juga terdapat sebuah jalan berliku menuju ke bawah.

Lebar jalan berliku ini sama sempitnya, hanya berbeda derajat kelandaiannya.

Tiba-tiba terpikir oleh Liong Hui, "Kedua jalan ini mungkin adalah jalan yang dimaksudkan pada tulisan di dinding tebing tadi. Tempat tujuan cuma satu, tapi jalan untuk mencapainya ada tiga. Tentulah penghuni rumah gubuk ini sengaja menggunakan cara ini untuk menjajaki Kungfu Suhu. Begitu beliau masuk rumah gubuk ini, tanpa bergebrak pun penghuni di sini sudah dapat mengukur sampai di mana kelihaian Kungfu Suhu." Hendaklah maklum, watak Liong Hui cuma jujur dan lugu, tapi bukan bodoh. Meski ceroboh, tapi tidak kasar.

Dalam hal-hal tertentu bukannya dia tidak mengerti melainkan cuma tidak mau menggunakan pikiran saja.

Kini setelah dipikirnya berulang, mau tak mau ia menjadi prihatin. Pikirnya pula, "Jika penghuni gubuk ini ialah Yap Jiu-pek, mengingat hubungannya dengan Suhu serta kedudukannya di dunia persilatan, tentu dia takkan menjebak Suhu dengan cara licik dan keji. Lantas apa maksud tujuannya berbuat demikian? Bila penghuni gubuk ini bukan Yap Jiu-pek, lalu siapa lagi? Melihat kasur butut ini, dia pasti sudah lama tinggal di sini. Bangunan gubuk bambu ini juga sangat kasar, bahkan hujan angin pun tidak tahan...." Begitulah dia terus berpikir kian kemari dan tetap tidak menemukan kesimpulan.

Dilihatnya So-so telah mendekati pintu yang paling besar itu, segera ia hendak membuka pintu.

Sambil memandang bayangan punggung So-so, Giok-he menjengek dengan suara tertahan, "Hm, apa yang diketahui genduk ini sudah terlalu banyak...." "Jika Toaso tahu...." suara Ciok Tim menjadi gemetar dan tidak sanggup meneruskan.

"Orang yang tahu terlalu banyak terkadang suka mengalami bencana tiba-tiba," gumam Giok-he.

Sekilas lirik Ciok Tim melihat sorot mata Giok-he penuh nafsu membunuh, tanpa terasa ia berseru, "Toaso...." Giok-he menoleh, ucapnya, "Aku masih tetap Toasomu?" "Aku... aku takut...." Ciok Tim menunduk dan bergemetar.

Mendadak Giok-he tertawa cerah, ucapnya dengan lembut, "Takut apa? Tidak perlu takut. Biarpun banyak yang diketahuinya, pasti tak berani disiarkannya sepatah kata pun." "Tapi...." Ciok Tim tampak ragu.

"Jangan khawatir. Ia sendiri pun ada rahasia yang tidak ingin diketahui orang lain. Asalkan kugunakan sedikit akal lagi.... Hmk!" jengek Giok-he dengan menyeringai.

Ciok Tim termangu memandangi wajahnya yang cantik itu, entah bingung dan entah takut.

Sekonyong-konyong terdengar jeritan So-so di dalam rumah gubuk itu.

"Lekas!" seru Giok-he sambil mendahului menerobos ke dalam gubuk.

Dilihatnya So-so berdiri di samping Liong Hui menghadapi sebuah pintu yang besar dan sama menunduk ke bawah. Di ambang pintu situ ada sebuah telapak tangan kurus kering berwarna hitam.

Dari celah kaki Liong Hui dan So-so dapatlah Giok-he dan Ciok Tim melihat tangan yang kurus kering itu mencengkeram erat ambang pintu terbuat dari bambu. Kuku jari sama amblas ke dalam bambu. Kuku yang putih kelabu terembes darah.

Cepat Giok-he memburu maju dan menyelinap ke tengah Liong Hui dan So-so, serunya, "He, sia... siapakah dia?"

Di luar sana adalah tebing yang terjal dengan gumpalan awan membelit di pinggang tebing. Sesosok tubuh yang kurus kering tampak bergelantungan di luar pintu. Bilamana tangannya tidak meraih ambang pintu, mungkin sudah terjerumus ke jurang yang tak terkirakan dalamnya.

Orang ini mendongak ke atas, matanya melotot. Kulit daging pada wajahnya berkerut dan beringas, penuh rasa dendam dan juga memohon. Rasa dendam dan memohon sebelum ajalnya ini lantas terukir pada wajahnya lantaran membekunya darah dan otot daging. Serupa juga telapak tangannya yang masih tetap mencengkeram ambang pintu sebelum dia mati.

Liong Hui berempat memandangi wajah yang beringas ini dengan tercengang. Sampai sekian lama barulah Liong Hui bersuara, "Dia sudah mati!" Lalu ia berjongkok untuk menarik mayat ini ke atas setelah lebih dulu jari orang yang mencengkeram ambang pintu itu dilepaskan. Mayat itu lantas diletakkan di lantai.

Tampaklah tubuhnya yang kurus kering itu memakai baju hitam ringkas. Meski wajah beringas, namun jelas usianya belum lanjut, paling-paling baru 30-an tahun saja.

Perlahan Liong Hui meraba kelopak mata orang yang tak terpejam sampai mati itu, ucapnya dengan menyesal, "Entah siapa orang ini, mestinya dari dia dapat diketahui...." "Coba geledah bajunya, mungkin ada barang tinggalannya," tukas Giok-he.

"Jangan," seru Liong Hui sambil berdiri, "kita tidak kenal dia, juga tidak ada permusuhan apa pun. Sekalipun dia musuh kita, juga tidak boleh mengganggu jenazahnya setelah dia mati. Selama hidup Suhu bertindak luhur dan tetap mempertahankan kehormatannya, mana boleh kita mengingkari beliau dan bertindak kurang bijaksana begini?" Sekali ini dia bicara dengan tegas dan mantap tak terbantahkan.

Terpaksa Giok-he mengalah, "Baiklah menurut padamu!"

Ciok Tim berdehem, lalu berkata, "Menurut tanda-tanda yang terlihat sepanjang jalan, jelas Suhu sudah datang ke sini. Cukup dilihat dari tapak kaki ini saja, kan jelas bekas kaki beliau.... Jika tenaga Suhu sudah pulih, maka bekas kaki yang kita lihat di bawah sana pasti juga tinggalan beliau. Namun, lantas ke mana perginya Suhu sekarang?" Dia seperti bergumam dan juga lagi bertanya akan pendapat orang. Tapi tidak seorang pun yang menjawabnya.

Seketika ia jadi termangu sendiri.

Di tengah kesunyian, kemudian Ciok Tim bergumam pula, "Di sini ada tiga comot genangan darah, dapat dibayangkan yang terluka di sini tidak cuma satu orang saja. Sebaliknya, pada mayat ini tidak terlihat luka. Lantas siapakah yang terluka dan siapa pula yang melukainya...."

"Toako," So-so ikut bicara. "Untuk mencari jejak Suhu, kalau kita tidak memeriksa orang ini...."

"Tidak, justru demi kebesaran Suhu, kita tidak boleh berbuat sesuatu yang memalukan beliau," ucap Liong Hui dengan tegas.

"Simoay, kutahu, biarpun banyak urusan yang dapat diperbuat seorang tanpa diketahui orang lain, tapi hati nurani sendiri tetap tercela, bahkan menanggung sesal selama hidup. Misalnya menemukan harta karun atas kehilangan orang lain, menemui perempuan cantik di ruang tersendiri, melihat musuh terancam bahaya, semua ini adalah batu ujian bagi hati nurani setiap orang. Sebabnya orang jahat zaman ini sedemikian banyak adalah karena pada waktu orang melakukan kejahatan selalu berusaha di luar tahu orang lain dan tidak mau tahu apakah tidak malu terhadap hati nurani sendiri. Simoay, kita adalah anak murid pendekar luhur budi, mana boleh berbuat sesuatu yang melanggar hati nurani!" Dia bicara dengan perlahan, mantap, dan tegas. Meski bicara terhadap So-so, tapi juga seperti lagi memperingatkan yang lain.

Tangan Ciok Tim terasa gemetar, darah bergolak dalam rongga dadanya. Mendadak ia berseru, "Toako, aku... aku ingin bicara padamu.... Sungguh aku...." Ia tidak sanggup bicara lebih lanjut, air mata berlinang dan menyurut mundur dengan menunduk.

Sesal dan malu hatinya membuatnya tidak berani mengangkat kepala sehingga tidak diketahuinya wajah Ong So-so yang jauh lebih menderita daripadanya itu. Hati So-so seperti terlebih menanggung malu daripada Ciok Tim, bahkan air matanya lantas menitik.

Keruan Liong Hui tercengang, "Hei, kenapa menangis, Simoay?"

So-so mendekap mukanya dan meratap, "Toako, aku... aku bersalah padamu, berdosa terhadap Suhu...." Mendadak ia menuding mayat yang kurus kering itu dan berkata, "Sebenarnya kukenal orang ini, aku pun kenal banyak orang lain lagi, juga banyak urusan kuketahui...." Karena rangsangan emosi sehingga ucapannya menjadi agak kacau.

"Bicaralah perlahan, Simoay, ada urusan apa boleh kau katakan saja kepada Toako," ucap Liong Hui.

Ciok Tim terbelalak melihat perubahan sikap So-so itu. Sinar mata Giok-he juga gemerlap, tampak agak gugup.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment