Halo!

Han Bu Kong - Chapter 24

Memuat...
Han Bu Kong

Chapter 24

Perlahan So-so menyambung, "Kakak Sulung, kau tahu sesungguhnya segenap anggota keluargaku adalah musuh bebuyutan Guru, semuanya dendam dan ingin membunuh Guru."

"Sebabnya aku masuk ke perguruan Sin-liong juga karena bermaksud menuntut balas terhadap Putliong atas kematian anggota keluargaku." Ia menarik napas, lalu melanjutkan, "Aku tidak bermarga Ong, juga tidak bernama So-so. Yang benar, aku bernama Koh Ih-hong, keturunan Coat-ceng-kiam Koh Siau-thian yang tewas di bawah pedang Putliong." Belum habis ucapannya, tubuhnya terhuyung-huyung, dan begitu berhenti bicara, ia segera jatuh terduduk di atas kasur yang usang dan dekil itu.

Dalam sekejap itu, ia telah kehilangan beribu kati tekanan batin yang ditahannya selama ini. Perubahan besar ini sukar ditahan oleh lahir-batinnya, sehingga ia jatuh terkulai ke tanah, sampai sekian lama...

Lalu ia menangis lagi.

Namun, tekanan batin itu kini telah memukul keras hati Ciok Tim dan Kwe Giok-he.

Sungguh tak terpikir oleh Ciok Tim bahwa Adik Seperguruan yang biasanya lemah lembut itu sesungguhnya adalah agen rahasia musuh yang mengemban tugas sedemikian besar. Lebih-lebih, tak terpikir olehnya bahwa Adik Seperguruannya yang paling disayang dan berhubungan paling rapat dengan sang guru sebenarnya adalah putri musuh yang menanggung dendam kesumat terhadap gurunya itu.

Seketika ia terbelalak dan menyurut mundur ke sudut sana sambil memandang So-so dengan melongo.

Meski sebelumnya Giok-he sudah dapat menduga bahwa asal-usul So-so pasti menyimpan suatu rahasia yang belum terungkap, tapi tak terduga olehnya, gadis yang kelihatan lemah ini mempunyai keberanian untuk membeberkan rahasia pribadinya.

Seharusnya Giok-he bermaksud menggunakan rahasia orang untuk memerasnya, tapi sekarang timbul rasa ngeri dalam hatinya, sebab modal yang diandalkannya kini telah berubah menjadi tidak berguna sama sekali.

"Jika So-so berani membeberkan rahasia pribadi sendiri, mustahil dia tidak berani membongkar rahasia hubunganku dengan Ciok Tim." Rasa ngeri yang timbul dari lubuk hatinya ini membuat Kwe Giok-he yang biasanya cerdas dan cekatan itu menjadi bingung dan berubah menjadi lemah. Mukanya menjadi pucat, dan sampai sekian lama ia tidak sanggup bicara.

Hanya Liong Hui saja yang kini berbalik jauh lebih tenang daripada biasanya. Perlahan ia mendekati Ong So-so alias Koh Ih-hong, menghela napas, dan membelai rambutnya perlahan. Tidak sedih juga tidak marah, ia memanggil lirih, "Adik Seperguruan..."

Namun, panggilan yang lirih ini membuat hati Koh Ih-hong bertambah pedih dan haru.

Dengan menangis, ia bertutur pula, "Empat puluh tahun yang lalu, kakek pulang dengan terluka parah dan akhirnya meninggal dunia.

Kasihan ayahku yang tidak tahan oleh pukulan berat ini, beliau sangat berduka dan akhirnya kurang waras pikirannya. Sepanjang hari dia hanya duduk mengelamun di bawah pohon di depan rumah, tidak mengerjakan apa pun dan juga tidak bicara. Berulang-ulang ayah hanya bergumam apa yang diucapkan kakek sebelum mengembuskan napas penghabisan, yaitu kata, 'Apabila jurus seranganku Thianhun (mengejutkan arwah di ujung langit) lebih keras sedikit....' Kata-kata inilah yang berulang-ulang disebutnya.

Sejak aku mulai tahu urusan, aku selalu mendengar gumaman ayah itu sampai ayah meninggal.

Hatiku sangat sedih setiap kali mendengar ayah mengulangi kata-kata itu." Suaranya semakin lemah dan agak gemetar. Liong Hui mengikuti ceritanya itu dengan cermat.

Mendadak Giok-he seperti mau bicara, tapi segera dicegah oleh Liong Hui.

Terdengar Koh Ih-hong menyambung lagi, "Dendam kesumat selama empat puluh tahun ini membuat hati setiap anggota keluarga kami tak pernah lupa untuk menuntut balas. Setiap saat mereka berusaha memperdalam kepandaian, sebab mereka pun tahu Kungfu Putliong kini sudah tidak ada tandingannya di dunia ini."

Ia memandang kegelapan malam di luar dan berucap pula, "Waktu terus berlalu dengan cepat, dan kami tetap tidak tahu cara bagaimana harus menuntut balas.

Sebab itulah dendam kesumat ini pun kian hari kian bertambah mendalam.

Ayah-bundaku menderita TBC karena menanggung dendam tak terbalas ini dan tersia-sia hidupnya. Selama hidup mereka merana dan tidak pernah gembira." Air matanya bercucuran dan tak diusapnya.

Darah Liong Hui bergolak. Sungguh sukar dibayangkan seseorang yang hidup tanpa senyum gembira, tanpa kebahagiaan keluarga, yang ada hanya dendam dan menuntut balas. Betapa pedih dan menakutkan kehidupan demikian!

Dengan tersendat, Koh Ih-hong menyambung lagi ceritanya, "Waktu ayah-bundaku meninggal, usiaku masih kecil. Famili yang dapat kuandalkan hanya kakak saja, tapi setengah tahun kemudian kakak juga pergi secara mendadak. Maka, setiap hari aku pun duduk melamun di bawah pohon yang biasa diduduki ayah itu untuk menunggu pulangnya kakak dan merenungkan sakit hati ayah, bahwa hidupnya tidak pernah mendapatkan cinta kasih, tapi telah belajar cara bagaimana mendendam dan menuntut balas..."

Hati Liong Hui tergetar. Dapat dibayangkan betapa merananya anak yang dibesarkan di tengah keluarga yang penuh dendam itu.

Kehidupan anak itu sendiri sudah cukup membuat berduka.

Namun, So-so alias Ih-hong menyambung lagi, "Setahun kemudian kakak pun pulang. Dia membawa pulang sekian banyak sahabatnya. Meski rata-rata usia mereka masih muda, bentuk rupa dan dandanan mereka sangat berbeda satu sama lain. Logat bicara mereka juga jelas bukan datang dari suatu tempat yang sama.

Namun, mereka sama mahir ilmu silat. Meski tinggi rendah Kungfu mereka juga tidak sama, namun selisihnya tidak jauh.

Kakak pun tidak memperkenalkan mereka kepadaku dan langsung membawa mereka ke sebuah ruangan rahasia. Selama tiga hari mereka tidak keluar. Selama tiga hari itu, entah apa yang mereka bicarakan dan entah berapa banyak arak yang telah mereka minum..."

Tangisnya mulai reda, suaranya juga mulai jelas. Hanya sorot matanya tetap buram serupa orang yang tenggelam dalam lamunan masa lalu, masa lalu yang memilukan.

"Tiga hari kemudian," sambungnya, "aku menjadi tidak tahan.

Kucoba mencuri dengar di luar pintu ruang rahasia itu. Siapa tahu kelakuanku telah diketahui orang di dalam, dan pintu mendadak terbuka.

Aku terkejut. Kulihat seorang tinggi kurus berdiri di depan pintu. Begitu tinggi perawakannya sehingga kepalanya hampir menyundul kusen pintu, dan mukanya juga pucat pasi.

Aku ketakutan dan ingin lari. Siapa tahu, baru saja aku bergerak, segera terpegang olehnya. Gerak tangannya sungguh secepat kilat."

Liong Hui berkerut kening, pikirnya, "Jangan-jangan kakaknya mencari bala bantuan untuk menuntut balas?"

Terdengar Koh Ih-hong menyambung lagi, "Waktu itu, kurasakan tangannya sekuat tanggam menjepit tanganku. Untungnya kakak lalu keluar dan memberitahukannya siapa diriku.

Kemudian baru kutahu dia adalah Boh-hunjiu (Si Tangan Pembelah Langit) yang disegani di dunia persilatan.

Ayahnya juga dikalahkan Putliong dan hidup merana.

Kecuali dia, semua orang yang berkumpul di ruang rahasia itu juga keturunan musuh Putliong. Semula mereka tersebar di berbagai tempat dan tidak saling kenal, tapi kakak telah menghubungi mereka satu per satu dan mengumpulkan mereka."

Kening Liong Hui berkerenyit lagi, pikirnya, "Jika demikian, tentu kakaknya juga tokoh yang lihai. Mengapa tidak terkenal di dunia persilatan?"

"Begitulah mereka telah berunding secara rahasia selama tiga hari dan memutuskan beberapa hal penting. Pertama, akan berusaha mengirim diriku ke dalam perguruan Sin-liong-bun untuk mengawasi gerak-gerik Put-si-sinliong serta belajar Kungfunya, jika ada kesempatan juga..."

"Jika ada kesempatan, Guru akan kau bunuh, begitu bukan?" tanya Giok-he.

Dengan perasaan tertekan, Ciok Tim menatap Koh Ih-hong. Dilihatnya nona itu mengangguk dan berkata, "Ya, memang betul."

Alis Giok-he menegak, bentaknya.

"Dosa berkhianat terhadap perguruan tidak terampunkan! Untuk apa orang semacam ini dibiarkan hidup!" Segera ia menubruk maju dan bermaksud menghantam batok kepala Koh Ih-hong. Dia sudah bertekad akan membunuhnya untuk menjaga segala kemungkinan, maka pukulannya ini tidak kenal ampun sedikit pun.

Siapa tahu, mendadak Liong Hui lalu menangkisnya sambil membentak, "Nanti dulu!"

Giok-he tercengang dan tergetar mundur. Dengan gusar ia menegur, "Kakak Sulung, kenapa kau..."

"Kakak Seperguruan," kata Koh Ih-hong dengan tenang, "jika hari ini kubongkar seluk-beluk urusan ini, sebelumnya aku memang sudah siap untuk mati bila perlu. Maka, hendaknya Kakak Seperguruan jangan tergesa-gesa bertindak."

Tangisnya sudah berhenti. Malah, ia berkata dengan sangat tenang, sambungnya, "Jika aku tidak dapat berbakti kepada ayah-bunda, juga tidak setia terhadap perguruan, bagiku memang tiada pilihan lain lagi kecuali mati.

Selama beberapa tahun ini, boleh dikatakan Guru sangat baik padaku. Tapi, semakin beliau baik padaku, semakin sedih hatiku.

Tidak hanya satu kali saja ingin kubongkar persoalan ini kepada beliau secara terus terang, namun..."

Ia menghela napas panjang, lalu menyambung, "Namun, aku juga tidak dapat melupakan wajah ayah sebelum mengembuskan napasnya yang terakhir."

"Selama ini, apakah engkau tidak pernah berbuat sesuatu yang mengkhianati perguruan?" tanya Giok-he dengan tajam.

Koh Ih-hong menjawab dengan menunduk, "Selama beberapa tahun ini, aku memang sering berbuat hal-hal yang berkhianat. Tidak hanya satu kali saja kuberi tahukan kepada kakak atau orang suruhannya rahasia ilmu silat yang kupelajari dari Guru."

"Hm, masa hanya itu saja?" jengek Giok-he.

"Juga pada pertandingan di Hoa-san ini, aku pun tahu komplotan kakak telah merancang perangkap di sini."

"Tapi hal ini sama sekali tidak kau katakan kepada Guru!" jengek Giok-he.

"Tidak kukatakan sebab antara budi dan dendam mempunyai bobot yang sama di dalam hatiku," kata Koh Ih-hong.

Mendadak ia mendongak dan bertanya kepada Liong Hui, "Kakak Sulung, jika engkau menjadi diriku, apa yang akan kau lakukan?"

Kening Liong Hui berkerut, wajahnya kelam, dan ia tidak menjawab.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment