Chapter 25
Koh Ih-hong menunjuk mayat yang tergeletak di lantai itu dan berkata, "Orang ini adalah keturunan keluarga Peng yang juga menjadi korban pedang Suhu. Dia, Kakak, lalu ada lagi Boh-hun-jiu dari Kun-lun-pai dan murid Tiam-jong-pai serta keturunan keluarga Liu. Merekalah yang merencanakan perangkap di Hoa-san ini; untuk itu entah berapa banyak tenaga dan pikiran yang telah mereka peras."
"Dan sekarang terkabul juga cita-cita kalian, Suhu... Suhu benar telah..." Sampai di sini Giok-he tidak sanggup meneruskan lagi. Ia mendekap wajahnya sendiri dan menangis.
Ih-hong kembali menunduk dengan air mata yang bercucuran pula. Ratapnya, "O Tuhan, mengapa aku dilahirkan menjadi keturunan Coat-ceng-kiam, lalu membuatku berutang budi terhadap Put-liong? O Thian, betapa pedih rasa hatiku setiap kali aku berbuat khianat terhadap Suhu. Tapi... tapi jika hal itu tidak kulakukan, bagaimana pula aku harus berbakti terhadap kakek dan ayah?"
Karena terharu, Ciok Tim juga menitikkan air mata. Mendadak Giok-he mengusap air mata dan membentak, "Jika kau tahu sulit berbakti terhadap orang tua dan tidak setia terhadap perguruan, untuk apa lagi hidup di dunia ini?"
"Untuk apa lagi hidup di dunia ini," Ih-hong mengulang kata-kata itu dengan pedih. Kembali ia menengadah, memandang kegelapan malam di luar dengan nanar, seolah memandang kejap terakhir atas kehidupan yang terasa berat untuk ditinggalkan ini.
Setelah itu, mendadak ia meraba bajunya. Belati naga emas dilolosnya dan secepat kilat ditikamkan ke ulu hati sendiri sembari meratap, "Suhu, Toako, maafkan dosaku!"
Syukurlah pada detik terakhir itu Liong Hui membentak dan tangannya sempat mengetuk pergelangan tangan Koh Ih-hong yang memegang belati tersebut. Terdengar bunyi dentingan saat belati itu tergetar jatuh.
"Apa maksudmu ini?" bentak Giok-he dengan beringas. "Apakah kau sengaja hendak membela murid durhaka ini?"
Perlu diketahui bahwa menurut hukum persilatan, dosa yang paling besar adalah berdurhaka terhadap perguruan. Murid yang khianat dianggap tidak terampunkan dan setiap orang Kangouw boleh membunuhnya, bahkan sanak famili pun tidak akan berani membela. Dengan sendirinya, sekarang Kwe Giok-he memiliki alasan untuk menyalahkan sikap Liong Hui yang lunak terhadap Koh Ih-hong.
Liong Hui kelihatan prihatin. Dipegangnya tangan Koh Ih-hong, lalu tanpa memandang Giok-he lagi ia berkata, "Simoay, janganlah terburu nafsu, dengarkan dulu..."
"Apa lagi yang ingin kau bicarakan?" potong Giok-he. Karena merasa bersalah, ia berharap orang yang mengetahui rahasia perbuatannya ini lekas mati saja.
Tak terduga, mendadak Liong Hui berpaling dan membentaknya, "Diam!"
Bentakan keras ini membuat Giok-he tertegun dan mukanya berubah pucat. Sejak menikah hingga sekarang, belum pernah Liong Hui bersikap keras padanya; ia selalu menurut dan memanjakannya. Namun sekarang, sang suami membentaknya sebengis itu. Tentu saja hatinya berdebar tidak keruan karena ia menyangka mungkin Liong Hui telah mengetahui perbuatannya yang tercela.
Koh Ih-hong tampak menggigit bibir dengan air mata bercucuran. Ia meratap sedih, "Toako, aku memang pantas mati. Perkataan Toaso memang benar. Selama ini aku telah menipu Suhu meskipun beliau sangat baik padaku."
Liong Hui menarik napas panjang, lalu berkata, "Tidak, engkau tidak menipu beliau."
Giok-he, Ciok Tim, dan Koh Ih-hong sama-sama terperanjat dan bingung. Dengan nada menyesal Liong Hui berkata lagi, "Tiga hari setelah kau masuk perguruan, Suhu langsung mengetahui asal-usulmu."
"Hah?" Koh Ih-hong menjerit kaget. Giok-he dan Ciok Tim juga tertegun.
Dengan tenang Liong Hui menengadah. Air mukanya menampilkan rasa hormat dan kagum, seolah sedang mengenang kebesaran pribadi sang guru. Katanya perlahan, "Kau tahu biasanya Suhu sangat ketat dalam hal memilih murid. Aku dan Toasomu adalah anak yatim piatu; bahkan sejak kecil aku sudah diangkat anak oleh Suhu. Samsute adalah cucu seorang sahabat karib Suhu, dan hubungan keluarga Gote dengan Suhu juga sangat erat."
Ia berhenti sejenak, lalu menyambung, "Maka, ketika Suhu mau menerimamu tanpa mengusut asal-usulmu, itu karena beliau sebelumnya sudah mengetahui seluk-beluk dirimu. Saat Suma Lo-piau-thau membawamu kepada Suhu..."
"Suma Lo-piau-thau sendiri tidak tahu kepalsuan diriku," sela Koh Ih-hong. "Tapi kakak dan sahabatnya yang merencanakan tipu muslihat ini agar Suma Lo-piau-thau mengira diriku adalah putri yatim piatu yang telantar dan pingsan kelaparan di depan rumahnya. Karena kasihan, Suma Lo-piau-thau lantas membawaku ke Ciceng."
Air muka Liong Hui yang tegas tiba-tiba menampilkan secercah senyuman. Katanya, "Di dunia ini tidak ada urusan yang dapat dirahasiakan selamanya, juga tidak ada seorang pun yang dapat mendustai orang lain selamanya, sekalipun orang itu dianggap lebih bodoh darinya."
Hati Giok-he bergetar. Diam-diam ia sebenarnya telah merogoh saku dan menyiapkan tiga batang jarum untuk dihamburkan ke punggung Koh Ih-hong. Namun, mendengar ucapan Liong Hui, tangannya gemetar dan jarum itu jatuh kembali ke dalam saku.
Perlahan Liong Hui berkata pula, "Jangan kau kira kalian telah menipu Suma Lo-piau-thau. Yang benar, alasan beliau membawamu ke Ci-hau-sanceng adalah karena dia melihat ada sesuatu yang janggal pada keteranganmu. Coba kau pikir, seorang anak yatim piatu mengaku ingin belajar ilmu silat, mengapa yang dituju adalah Ciceng? Padahal Suma Lo-piau-thau sendiri sangat termasyhur kelihaiannya. Jika ingin belajar, kenapa tidak mengangkat guru padanya saja? Mengapa engkau justru memintanya membawamu ke Ci-hau-sanceng?"
Koh Ih-hong tertegun. Liong Hui menyambung lagi, "Dari dahulu hingga sekarang memang sering ada orang pintar yang berbuat keliru. Kakakmu mengira dirinya teramat pintar, tapi tak terpikir olehnya kejanggalan ini."
Kepala Koh Ih-hong tertunduk semakin rendah. Hati Giok-he pun bergetar hebat. Ia berpikir, "Dia sengaja bicara demikian, apakah ada maksud lain yang sengaja diperdengarkan padaku?"
Didengarnya Liong Hui menghela napas dan bertutur lagi, "Setelah engkau dibawa oleh Suma Lo-piau-thau, beliau mengadakan pembicaraan rahasia dengan Suhu. Akhirnya Suhu menarik kesimpulan bahwa engkau pasti putri musuh. Sebagai orang yang ikut bertanggung jawab, apalagi Suma Piau-thau memang berwatak keras dan tegas, saat itu juga beliau menyatakan, 'Bila sudah jelas asal-usulnya, bila perlu babat rumput sampai ke akar-akarnya'."
Tubuh Koh Ih-hong bergetar. Liong Hui menggeleng dan menyambung, "Tapi waktu itu Suhu hanya tersenyum dan menyatakan penyesalannya karena selama hidup beliau telah banyak mengikat permusuhan, yang dengan sendirinya menimbulkan sakit hati orang lain. Beliau menegaskan tidak akan menyesal andaikan suatu hari ada keturunan musuhnya yang mencari balas dan bahkan membunuhnya. Ia menganggap balas-membalas dan utang yang harus dibayar adalah hal yang sangat lumrah dan adil."
Setelah berhenti sejenak untuk mengenang kebesaran jiwa sang guru, Liong Hui melanjutkan, "Beliau berkata, 'Walaupun kuharap janganlah aku mati secara tidak wajar di kemudian hari, aku pun tidak mau bertindak membabat rumput sampai ke akar-akarnya dengan membunuh keturunan musuh habis-habisan. Kuharap permusuhan dapat diakhiri. Tidak peduli anak perempuan ini putri musuhku yang mana, ia adalah anak yang punya cita-cita tinggi dan bakat yang tidak buruk. Dengan susah payah ia berusaha masuk ke perguruanku, mana boleh aku membuatnya kecewa? Seandainya kelak setelah dia menguasai ilmu silat ajaranku dia berbalik membunuhku, aku tetap tidak akan menyesal. Bahkan jika dengan demikian dendamnya berakhir sehingga permusuhan ini terhapus, bukankah semuanya menjadi baik?'"
Mendengar itu, tangis Koh Ih-hong yang semula tanpa suara mendadak pecah menjadi tangis yang keras.
Liong Hui berkata lagi dengan nada menyesal, "Waktu itu aku mendampingi Suhu, maka semua percakapan mereka dapat kudengar dan kuingat dengan jelas. Malam itu juga Suhu menerimamu sebagai murid, dan pada malam itu juga beliau..." Tanpa terasa ia memandang Giok-he sekejap, lalu menyambung, "Malam itu juga beliau mengumumkan pernikahanku dengan Toasomu."
Ia termenung sejenak seolah mengenang kebahagiaan malam itu, kemudian lanjutnya, "Apakah engkau masih ingat, keesokan paginya Suhu langsung berangkat pergi? Pada malam ketiga Suhu baru pulang dan memberitahuku bahwa dirimu adalah keturunan Koh Siau-thian Koh-lo-cian-pwe. Aku disuruh menjaga rahasia ini dan diperintahkan untuk memperlakukanmu dengan baik."
Tangis Koh Ih-hong semakin sedih. Banyak hal yang ingin diungkapkannya, tetapi sepatah kata pun tidak sanggup ia ucapkan.
Sementara itu, pikiran Kwe Giok-he semakin kusut dan gelisah. Ia merasa bersalah; seorang istri yang tidak setia terhadap suaminya bagaimanapun akan menanggung tekanan batin. Demikian pula dengan Ciok Tim; ia menyadari betapa kotor dan rendah perilakunya, terutama karena hal ini menyangkut istri kakak seperguruannya yang dihormati. Namun, hati nuraninya sering kali kalah oleh bujuk rayu yang memabukkan hingga membuatnya lupa diri.
Liong Hui tidak menghiraukan mereka dan perlahan bertutur lagi, "Pada suatu hari saat malam sudah larut, kulihat engkau menyelinap keluar ke taman belakang perkampungan. Aku tahu Ginkang-ku tidak mampu mengimbangi dirimu, maka aku hanya mengintai dari kejauhan. Kulihat engkau mengadakan pembicaraan rahasia di dalam hutan dengan seorang lelaki jangkung. Sekarang dapat kuterka orang itu tentulah kakakmu."
Koh Ih-hong mengangguk perlahan.
"Semua itu sudah kuketahui sejak dulu, cuma ada sesuatu yang sukar kupahami, entahlah... Ah, sudahlah, aku tahu keadaanmu yang serba sulit. Sesuai pesan Suhu, aku tidak perlu mendesakmu."
Mendadak Ih-hong mengusap air mata dan berucap tegas, "Urusan apa pun pasti akan kukatakan. Anggap saja Toako yang memaksaku bicara."
"Kukira tidak perlu, engkau..."
"Aku memang tidak pernah melupakan sakit hati orang tua," tukas Ih-hong. "Tapi... tapi Suhu..."