Halo!

Han Bu Kong - Chapter 26

Memuat...
Han Bu Kong

Chapter 26

"Suhu pasti tidak akan mati," tukas Liong Hui dengan penuh keyakinan.

"Apa pun juga, kini sudah tiba saatnya harus kubalas budi kebaikan Suhu," kata Ih-hong.

"Tapi bila akibat tindakanmu ini akan membuat kakakmu sendiri susah."

"Sedapatnya akan kuusahakan menghapuskan permusuhan ini, bukankah Suhu sudah menyatakan permusuhan lebih baik dihapus dan jangan diperdalam."

"Dan kalau tidak dapat dihapus, lantas bagaimana?"

"Jika tidak kuselesaikan, biarlah kumati di depan kakak. Biarlah kugunakan darahku untuk mencuci permusuhan kedua pihak," kata Ih-hong dengan tegas.

Mendadak Liong Hui menengadah dan terbahak, "Haha, bagus, bagus! Tidak percuma Suhu menerimamu sebagai murid. Bakti dan setia memang sukar terlaksana sekaligus, budi dan benci juga sulit terselesaikan bersama. Menghadapi perkara serbasulit begini, bagi seorang lelaki sejati hanya mati saja yang dapat menyelesaikan tugas ini." Mendadak ia berhenti tertawa dan menyambung sambil menatap Koh Ih-hong, "Jika aku menjadi dirimu, tentu demikian pula tindakanku."

Kedua orang lantas saling pandang dengan penuh saling pengertian. Melihat itu, hati Giok-he tambah tidak enak. Bilamana di antara mereka tambah akrab, bukan mustahil pada suatu hari rahasianya pasti akan dibeberkan oleh Koh Ih-hong. Ia menjadi serba susah. Ia coba memandang Ciok Tim. Anak muda itu kelihatan menunduk, tampaknya juga tertekan batinnya.

Pada saat itulah sekonyong-konyong di atas rumah terdengar suara orang bergelak tertawa nyaring, "Hahaha! Sungguh lelaki yang gagah dan perempuan yang bijaksana!" Semua orang kaget.

"Siapa?" bentak Liong Hui. Waktu ia berpaling, tahu-tahu sesosok bayangan kelabu melayang tiba. Agaknya orang ini sudah sekian lama berada di atas rumah bambu ini, namun tiada seorang pun yang mengetahuinya. Gerak tubuhnya yang ringan waktu melayang turun juga sedemikian gesitnya, tentu saja semua orang tambah terkejut.

Waktu Liong Hui berempat mengamatinya, terlihat orang yang melayang tiba ini masih muda, berdahi lebar, bersinar mata tajam. Meski wajahnya tidak terlalu cakap, tapi cukup cerah dan menarik. Perawakannya juga tidak terlalu tinggi, kelihatan agak gemuk, namun gerak-geriknya tangkas dan cekatan. Wajahnya yang agak kehitaman selalu mengulum senyum dan membuat setiap orang yang baru bertemu tidak merasa jemu padanya. Sekali pandang saja Liong Hui lantas berkesan baik juga terhadap orang ini.

Pemuda cerah ini pun langsung mendekati Liong Hui dan memberi hormat, katanya, "Selamat, Toako!" Nada dan sikapnya seakan-akan sudah kenal baik kepada Liong Hui. Tentu saja Giok-he dan Ciok Tim merasa heran. Mereka sama memandang Liong Hui. Waktu Koh Ih-hong mengenali pendatang ini, air mukanya juga berubah.

Meski sangsi, Liong Hui adalah seorang yang simpatik. Cepat ia balas hormat orang dan menjawab, "Selamat, sama-sama selamat!" Dengan tertawa cerah pemuda itu berucap pula, "Kutahu Toako tidak kenal diriku, tapi aku justru kenal Toako, dan ...." mendadak ia berpaling dan menatap Koh Ih-hong dengan tajam, lalu menyambung, ".... juga adik cilik ini."

"Kau ... kau ...." Ih-hong tampak gugup, tanpa terasa menyurut mundur.

"Siapa kau sebenarnya?" bentak Ciok Tim.

"Siapa aku, rasanya sulit untuk kujawab," kata pemuda cerah itu. "Tadi adik Koh ini mengatakan kakaknya telah menghimpun serombongan keturunan musuh Liong-loyacu, aku termasuk satu di antaranya. Aku pun ikut bersama mereka merencanakan cara bagaimana menuntut balas."

"Jika sahabat ini ternyata lawan dan bukan kawan, harap bicara terus terang apa maksud kedatanganmu ini," kata Liong Hui segera sambil membusungkan dada. "Anak murid Ciceng sudah siap menghadapi segala sesuatu."

"Haha, lawan dan bukan kawan," pemuda cerah itu mengulangi ucapan Liong Hui. "Bilamana aku lawan, mana mungkin kupanggil Toako padamu. Jika lawan, mana kusediakan obor dan memasang tali panjang bagimu." Mendadak sikapnya berubah kereng dan menyambung pula, "Meski aku ikut serta dalam muslihat mereka, tapi aku tidak pernah ikut bicara, tidak mengajukan sesuatu usul .... Haha, makanya mereka menganggap diriku ini sebagai orang tolol, orang linglung yang tidak berguna lagi."

"Obor, tali, semua itu ...." Liong Hui berkerut kening. Ia coba berpaling ke arah Koh Ih-hong. Kelihatan nona itu mengangguk perlahan.

Pemuda cerah tadi bergelak tertawa dan berkata pula, "Namun bagiku justru mereka itulah kawanan orang tolol. Mereka tidak mau berpikir bahwa tokoh yang pernah menggetarkan dunia Kangouw Kiueng (elang terbang bersayap sembilan) Tik Bong-peng, masakah bisa mempunyai seorang anak yang goblok."

"O, kiranya Tik-kongcu," cepat Liong Hui memberi hormat. "Sering kudengar cerita guruku bahwa di antara lawannya dahulu, tokoh yang paling dihormati dan disegani beliau adalah Tik-locianpwe."

Wajah pemuda cerah itu tampak prihatin. Ia membalas hormat dan berucap, "Mendiang ayahku ...."

"O, apakah Tik-locianpwe sudah wafat? Mengapa tidak terdengar berita ini di dunia Kangouw?" kata Liong Hui.

Pemuda itu tersenyum murung, jawabnya, "Belasan tahun ayah mengasingkan diri di Thian-san yang jauh sana, dengan sendirinya tidak ada kabar berita mengenai beliau di dunia Kangouw."

Liong Hui tahu sejak Kiueng Tik Bong-peng dikalahkan oleh gurunya, nama kebesarannya lantas runtuh dan sejak itu menghilang dari dunia Kangouw. Dilihatnya pemuda cerah itu bicara pula dengan bersemangat, "Sebelum meninggal, ayah juga sering bicara tentang kegagahan Putliong. Beliau tidak pernah menyesal karena kalah di bawah pedang si naga tak termatikan."

"Tapi guruku juga sering mengatakan seharusnya Tik-locianpwe menang dalam pertarungan itu, sebab lebih dulu guruku telah tertusuk oleh pedang Tik-locianpwe," kata Liong Hui.

"Salah, bukan begitu halnya," ujar si pemuda cerah. "Ayah telah menceritakan semua kejadian pada waktu itu. Waktu itu Liong-loyacu berkunjung ke Thiansan di bawah hujan salju dan angin badai, beliau menunggu lagi sehari semalam di puncak Thian-san. Padahal Liong-loyacu datang dari daerah Kanglam yang beriklim hangat, mana tahan akan dingin salju dan angin di puncak Thian-san. Karena itulah kaki dan tangan beliau tentu saja kaku kedinginan, dengan begitu barulah ayahku bisa menarik keuntungan. Tapi ketika ujung pedang ayah menyentuh badan Liong-loyacu, pedang Liong-loyacu juga sudah mengancam di dada ayah. Apabila Liong-loyacu tidak bermurah hati, tentu ...." Ai!"

Diam-diam Koh Ih-hong menghela napas, terpikir olehnya betapa sempit jalan pikiran kakek sendiri dibandingkan kebesaran jiwa Kiueng Tik Bong-peng. Didengarnya pemuda she Tik itu bertutur pula, "Sebelum ayah meninggal, berulang beliau memberi pesan padaku bahwa Liong-loyacu sesungguhnya berbudi kepada beliau, maka kelak aku harus membalas budi dan bukannya membalas dendam. Pesan ini setiap saat selalu kuingat dengan baik. Setelah ayah wafat, aku lantas meninggalkan Thian-san dan datang ke Tionggoan sini, waktu itu aku gemar minum ...." ia tersenyum, lalu menyambung, "Sampai saat ini aku tetap suka minum arak hingga lupa daratan."

Liong Hui tersenyum, ia tertarik kepada pemuda yang suka terus terang ini. Terdengar pemuda she Tik menyambung lagi, "Suatu hari aku mampir minum arak di sebuah rumah minum kecil di luar kota Tai-beng-hu, sekaligus kuhabiskan dua guci Tik-yap-jing simpanan pemilik rumah minum itu. Tik-yap-jing memang arak yang sedap, waktu diminum tidak terasa keras, sesudah masak perut, bekerjanya justru sangat lama. Aku sudah terbiasa minum arak keras daerah Kwan-gwa, maka sekali ini aku terperangkap, tidak jauh meninggalkan rumah minum itu aku lantas mabuk dan mengaco-belo tak keruan ...." Sampai di sini, ia tertawa kikuk, lalu melanjutkan, "Kemudian baru kuketahui, dalam keadaan mabuk aku telah membual tentang ilmu pedangku yang tidak ada tandingan, kubilang Putliong juga bukan tandinganku, kukatakan pula Thianhoat tidak ada tandingannya di dunia, ilmu pedang daerah Tionggoan sama sekali tidak ada artinya bagiku."

Liong Hui tersenyum, ia tambah senang terhadap anak muda yang suka bicara blak-blakan ini. "Esok harinya ketika aku sadar, kulihat di sampingku seorang pemuda ganteng sibuk melayani diriku," tutur lagi pemuda she Tik. "Dia itulah kakak adik Koh ini, Koh Kang. Selama tiga hari kami pesiar bersama dan menghabiskan lagi beberapa guci Tik-yap-jing. Akhirnya Koh Kang membeberkan rencananya kepadaku, katanya dia telah mengumpulkan segenap keturunan musuh Putsisin-liong dan bermaksud menagih utang berdarah kepada jago nomor satu itu."

Malam tambah larut, cahaya mutiara semakin terang, semua orang seakan-akan lupa lapar dan lelah dan asyik mendengarkan ceritanya. "Waktu itu aku terkejut, sebab dari keterangannya kutahu orang-orang yang telah dikumpulkannya adalah keturunan jago-jago terkemuka belasan tahun yang lalu, betapa tinggi kepandaian Putliong pasti juga akan repot menghadapi jago muda yang dihimpunnya ini." Ia terdiam sejenak, lalu menyambung, "Mau tak mau mengiang lagi pesan ayahku bahwa aku harus membalas budi kepada Liong-loyacu, maka ajakan Koh Kang kuterima. Adapun apa yang terjadi selanjutnya tentu sudah dituturkan oleh adik Koh tadi yang tidak diketahui oleh Toako mungkin adalah mengapa orang-orang ini bisa berkaitan dengan pertandingan antara Tan-hong dan Sin-liong di Hoa-san ini dan cara bagaimana disiapkan perangkap ini?"

"Ya, memang urusan ini membuatku bingung ...." kata Liong Hui. "Tapi sebelum kau bicara lagi, maukah kau beri tahukan lebih dulu namamu?"

"Tik Yang!" kata si pemuda cerah sambil memberi gerakan melayang-layang di udara. "Namaku Yang, yang melayang. Nama ini tidak menonjol di dunia Kangouw sebab beberapa tahun ini aku selalu berlagak bodoh dan pura-pura dungu."

Liong Hui tersenyum, juga Koh Ih-hong merasa geli. Hanya Ciok Tim saja yang bungkam dengan muka cemberut. Giok-he memandangnya beberapa kejap, katanya kemudian, "Tik Yang, sungguh nama bagus!"

"Terima kasih, Toaso," Tik Yang memberi hormat.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment