Halo!

Han Bu Kong - Chapter 27

Memuat...
Han Bu Kong

Chapter 27

Pemuda ini ternyata pandai bergaul dengan siapa pun. Dalam suasana bagaimana pun ia dapat menempatkan dirinya secara riang dan penuh humor.

Diam-diam Ciok Tim mendongkol, ia melengos ke sana dan tidak mau memandangnya lagi.

Sebenarnya watak Ciok Tim tidaklah jelek, hanya dalam hal urusan perempuan telah membuatnya kehilangan pribadinya.

Sikap Tik Yang terhadap Koh Ihhong tadi telah membuatnya mendongkol. Sekarang Giok-he bersikap manis lagi kepada Tik Yang, tentu saja ia tambah cemburu, tetapi tidak dapat berbuat sesuatu.

Terdengar Tik Yang berbicara lagi, "Meski ada maksudku hendak bekerja bagi Liong-loyacu, tetapi mengingat ada persekutuanku dengan Koh Kang dan lain-lain, terpaksa aku tidak dapat tampil melainkan hanya berusaha secara diam-diam saja."

"Sudah banyak bantuanmu dengan obor, tali, dan sebagainya," kata Liong Hui.

"Semula kami tidak tahu orang sakti dari mana yang diam-diam memberi bantuan. Tidak disangka adalah jasa baik Tik Hiante. Sungguh kami sangat gembira dapat bertemu denganmu."

Tik Yang menghela napas, "Sejak berkelana di daerah Tionggoan lantas kudengar cerita di dunia Kangouw bahwa murid utama Sin-liong-bun, si lelaki baja Liong Hui adalah kesatria yang jujur dan berbudi luhur. Hari ini dapat bertemu sendiri dengan Toako, ternyata memang tidak bernama kosong."

"Ah, Tik Hiante terlalu memuji," kata Liong Hui.

Dengan serius Tik Yang berucap pula, "Bilamana tadi aku tidak menyaksikan sendiri tindak tanduk Toako, tentu aku tidak akan menemui Toako di sini." Ia berpaling dan memandang sekejap mayat yang menggeletak di lantai itu, lalu berkata pula dengan menyesal, "Meski orang ini tidak ada hubungan erat denganku, tetapi, bagaimanapun juga, kami sudah berkawan."

"Meskipun ia sudah meninggal, Toako tetap menghormatinya tanpa memperlakukan ia dengan kasar."

"Aku berpikir, jika terhadap orang mati saja Toako bersikap demikian, apalagi terhadap mereka yang masih hidup."

"Jika dapat bersahabat dengan kesatria semacam ini sungguh tidak sia-sia kunjunganku ke Tionggoan ini."

"Sebab itulah aku lantas melompat turun ke sini ...."

"Kiranya sejak mula Tik Hiante sudah bersembunyi di atas rumah. Sungguh tidak becus kami ini, ternyata tidak ada seorang pun yang mengetahui jejakmu," kata Liong Hui dengan tersenyum.

"Memang siapa yang tidak pernah mendengar Samkiam dan Jitkimsin-hoat dari Thian-san-pay? Setelah melihat Ginkang Tik Hiante tadi, ternyata Kungfu Thian-san yang termasyhur itu memang bukan omong kosong," kata Giok-he dengan tersenyum, agaknya ganjalan hati tadi sudah terlupakan.

"Ah, Samhoat dan Jithoat hanya kupelajari sedikit saja. Jika ada sedikit kemajuanku, paling-paling karena setiap hari berlarian di tanah pegunungan bersalju sehingga tubuhku lebih ringan dan kakiku lebih kuat. Mana pantas untuk dipuji oleh Toaso."

"Apalagi jika dibandingkan Sin-liongkiamhoat, sungguh aku merasa malu sendiri."

"Sinhoat memang cukup membanggakan, namun sayang di antara murid-muridnya seperti kami ini tidak ada seorang pun mampu mewarisi kepandaian Suhu," kata Liong Hui dengan nada penyesalan.

"Hanya Gote saja yang berbakat dan memiliki dasar yang kuat, tetapi sayang ia belum lama belajar dengan Suhu dan belum terlihat sesuatu yang menonjol."

"Sebaliknya diriku yang paling lama mengikuti Suhu justru teramat bodoh."

"Apakah Gote yang Toako sebut itu keturunan keluarga Lamkiong yang kaya raya dan belum lama masuk perguruan Sin-liong?" tanya Tik Yang.

Liong Hui membenarkan.

"Pernah juga kudengar pemimpin kelompok hartawan Lamkiong hanya mempunyai seorang putra tunggal yang sejak kecil gemar belajar silat dan entah berapa banyak mengangkat guru serta membuang biaya, tetapi sayang yang didapatkan semuanya bukan tokoh yang tepat."

"Baru akhir-akhir ini ia diterima ke dalam perguruan Sin-liong."

"Heran juga putra keluarga hartawan yang biasanya hanya suka berfoya-foya ternyata mau tekun belajar silat."

"Hubungan keluarga Lamkiong dengan perguruan kami memang sangat erat dan cukup panjang untuk diceritakan," tutur Liong Hui.

Lalu ia mengacungkan ibu jari dan berkata pula, "Meski Gote kami ini putra keluarga hartawan ternama, tetapi ia bukan pemuda dari keluarga kaya pada umumnya."

"Selain bakatnya tinggi dan otaknya cerdas, ia juga berbakti kepada orang tua, setia terhadap guru, dan berbudi terhadap kawan."

"Tidak bingung menghadapi perempuan cantik, tidak gugup menghadapi bahaya."

"Ia pun serba pandai dan giat belajar."

"Kuyakin hanya ia saja yang dapat mengembangkan nama baik Sin-liong-bun kelak."

Biasanya Liong Hui tidak pandai berbicara, tetapi apa yang diuraikan ini adalah sesuatu yang menjadi kebanggaannya, maka nadanya lantang dan wajah berseri.

Ciok Tim tetap berdiri menghadap ke sana.

Sedangkan Giok-he ikut mendengarkan dengan tersenyum simpul.

Koh Ihhong sedang memandang langit-langit rumah, entah asyik mendengarkan atau sedang melamun.

"Dan berada di manakah Lamkiong Toako itu sekarang?" demikian Tik Yang bertanya.

"Gote saat ini seharusnya juga berada di sini, tetapi ...." Segera Liong Hui menceritakan apa yang terjadi dan yang telah dilakukan Lamkiong Peng.

Tik Yang tampak tertarik, katanya, "Wah, jika mendengar cerita Toako ini, sungguh rasanya aku ingin segera menyusul ke bawah gunung untuk menemui Lamkiong Heng yang hebat itu ...."

"Bukan hanya Engkau saja, kami juga ingin segera bertemu lagi dengan Gote," kata Liong Hui.

"Tetapi urusan di sini tentu saja lebih penting, apalagi jika Tik Hiante tidak menjelaskan lebih lanjut persoalan ini, ke mana lagi akan kami cari jejak guru kami?"

"Ya, betul juga," ujar Tik Yang dengan tertawa.

"Kita asyik berbicara urusan lain sehingga melupakan urusan penting." Ia menengadah dan memandang kelima biji mutiara yang terbingkai di belandar rumah bambu itu, lalu berkata pula, "Toako, Engkau sudah lama berkelana di dunia Kangouw, apakah Engkau tahu asal-usul kelima biji mutiara ini?"

Liong Hui tertegun, jawabnya, "Tidak."

"Dahulu, setelah pertemuan Wi-san, nama Tan-hong Yap Jiu-pek sangat termasyhur. Ketika itu beliau belum pindah ke Hoa San ini melainkan tinggal di kaki gunung Wi itu dengan perkampungan yang bernama Sip-tioksanceng ...."

"Ya, ini kutahu," kata Liong Hui.

"Dan Toako pasti juga tahu peristiwa besar yang terjadi di Sipceng pada sepuluh tahun yang lalu?"

"Apakah yang Engkau maksudkan itu adalah pertemuan besar orang persilatan yang disebut 'Pekhong' (beratus burung menghadap Hong) itu?"

"Betul," kembali Tik Yang tertawa cerah.

"Saat itu aku masih kecil. Meski jauh tinggal di daerah perbatasan sana, tetapi aku juga mendengar keramaian pada pertemuan besar itu."

"Konon senjata setiap tamu harus ditanggalkan. Arak yang disuguhkan jika dituang ke Thay-oh akan menambah air danau itu naik pasang tiga sentimeter ...."

"Aku sendiri hadir dalam pertemuan itu, meski sangat ramai, tetapi juga tidak terlalu luar biasa," ujar Liong Hui dengan tersenyum.

"Betul juga ucapan Liong Toako mengingat jauh 30 tahun sebelumnya pertemuan besar yang diadakan Liong-loyacu di Sian-he-nia ketika meresmikan nama gelar beliau."

Tersembul senyuman bangga pada ujung mulut Liong Hui, ia berkata, "Dalam pertemuan itu, Suhu tidak menyediakan pondokan, juga tidak ada perjamuan. Setiap tamu yang hadir masing-masing membawa arak dan makanan sendiri dan diperbolehkan membawa senjata ...."

"Haha, hadir dengan membawa arak dan santapan sendiri, juga tidak dilarang membawa senjata. Pertemuan bebas seperti ini sungguh tidak pernah terjadi dalam sejarah dunia persilatan."

"Orang yang mengusulkan pertemuan dengan cara ini pasti seorang kesatria perkasa. Sayang usiaku terlalu muda dan tidak dilahirkan pada zaman itu," seru Tik Yang dengan tertawa.

"Peristiwa itu disponsori oleh tiga belas jawara tua dari tiga belas provinsi, tetapi yang memimpin pertemuan itu adalah Thian-ah Tojin yang paling disegani waktu itu."

"Thian-ah Tojin?" Tik Yang menegaskan.

"Hah, sungguh luar biasa."

"Pertemuan yang disebut Hotian (pesta pengukuhan) itu berlangsung sehari semalam, sampai fajar keesokan harinya, ribuan hadirin serentak mengacungkan pedang sambil bersorak Putliong, naga sakti yang tak termatikan."

"Betapa semarak pertemuan itu jelas tidak dapat disamakan dengan Pekhong, apalagi sifat dan nilainya juga tidak sama."

"Oh!" Tik Yang menjadi ingin tahu.

"Hotian ini diadakan oleh orang persilatan demi menghormati jasa guruku. Jadi guruku termasuk tamu undangan, sebelumnya tidak mengetahui urusan ini."

"Sedangkan Pekhong diselenggarakan sendiri oleh Yap Jiu-pek. Setiap tokoh dunia persilatan yang terkenal, baik lelaki maupun perempuan, semua diundang hadir ke Sipceng."

"Di antara hadirin ini tentu juga ada yang enggan datang, tetapi karena gentar terhadap Yap Jiu-pek sehingga terpaksa hadir."

"Pertemuan demikian tidak dapat dipersamakan dengan Hotian bagi guruku itu?"

Tik Yang tersenyum. Ia tahu antara Tan-hong dan Sin-liong sudah retak, oleh karena itu Liong Hui dapat berbicara seperti ini.

Tiba-tiba Kwe Giok-he menyela dengan tertawa, "Eh, sesungguhnya apa yang kalian bicarakan tadi? Mengapa melantur hingga urusan Ho-ho tai-tian?"

"Haha, betul juga, maaf Toaso," seru Tik Yang dengan tertawa.

"Tentang asal-usul kelima biji mutiara ini, yaitu merupakan kado yang dibawa lima saudara perempuan Hing-san-pay ketika turut hadir di Sipceng."

"Hah, kiranya begitu. Jadi, rumah bambu ini memang tempat kediaman Yap Jiu-pek?" seru Liong Hui.

"Betul," kata Tik Yang.

"Aneh juga," ujar Giok-he dengan kening mengernyit.

"Padahal Yap Jiu-pek juga putri keluarga kaya, mengapa ia sudi tinggal di tempat seburuk ini?"

"Memang sangat sedikit orang Bu-lim yang mengetahui urusan ini," tutur Tik Yang dengan nada prihatin.

"Bahwa Yap Jiu-pek dan Liong-loyacu dahulu sebenarnya adalah pasangan pendekar yang dikagumi di dunia Kangouw zaman itu ...."

"Antara guru kami dan Yap Jiu-pek memang sudah kenal sejak kecil, tetapi keduanya tidak pernah terikat menjadi suami-istri. Malahan karena sesuatu urusan sepuluh tahun yang lalu keduanya lantas bersengketa dan tidak pernah bertemu lagi," tukas Giok-he.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment