Chapter 28
"Karena sengketa itu, terjadilah janji bertanding pedang sepuluh tahun kemudian, hal ini cukup diketahui oleh setiap orang persilatan." "Betul, karena janji pertandingan itu, Yap Jiu-pek berkeras ingin mengalahkan Liong-loyacu, maka dia giat berlatih. Untuk itu, dia sedang berupaya menguasai semacam Lwekang dari negeri Thian-tiok (India). Konon, tanpa sengaja ia menemukan sejilid kitab pelajaran Lwekang. Karena hasratnya ingin menang, tanpa bimbingan ia berlatih sendiri secara cepat. Tak disangka, akibatnya setelah berlatih dua tahun dia mengalami kelumpuhan ...." "Hah, rupanya setelah Yap Jiu-pek menghabiskan harta bendanya di Sip-tioksanceng dan menyerahkan tempat kediamannya itu kepada sahabatnya, Nikoh sakti Ji-bong Taysu, lalu dia mengasingkan diri di sini. Tak disangka, ia mengalami kesesatan dalam latihan ilmunya." "Ya, dengan wataknya yang angkuh, terutama bila teringat kepada janji pertandingan dengan Liong-loyacu, dengan sendirinya sukar dilukiskan betapa penderitaan batinnya setelah mengalami kelumpuhan itu," tutur Tik Yang.
"Kebetulan waktu itu Ji-bong Taysu berkunjung kepadanya. Melihat sahabat tersiksa, murid yang melayaninya juga selalu mendapat omelan, perangainya menjadi pemarah. Maka Ji-bong lalu membujuknya berpindah ke suatu tempat tirakat yang terpencil untuk istirahat. Bukan mustahil sebelum sepuluh tahun kesehatannya akan pulih dan mungkin juga sekaligus akan berhasil menguasai semacam Lwekang yang mahasakti." "Ternyata selama sepuluh tahun dia tinggal di gubuk buruk ini di bawah tiupan angin dingin dan hujan salju. Tujuannya tidak lebih hanya ingin mengungguli guruku saja," kata Liong Hui menggerutu.
Malam hampir berakhir, udara semakin dingin. Semua orang membayangkan betapa siksa dan derita yang dialami Yap Jiu-pek selama hampir sepuluh tahun tinggal di gubuk reyot.
Terdengar Tik Yang menyambung ceritanya lagi, "Yap Jiu-pek menerima nasihat Ji-bong Taysu. Dibawanya murid kecilnya yang baru diterima serta empat pelayan pribadi ke Hoa-san ini dan hidup terpencil di rumah gubuk ini. Kasur inilah tempat ia duduk bersemadi. Setiap hari hanya muridnya itu datang menemaninya selama beberapa jam, mengantarkan makanan, dan juga belajar ilmu silat." "O, jadi perangkap ini memang dipasang oleh Yap Jiu-pek sendiri," kata Liong Hui.
Tik Yang menggeleng dan bertutur lagi, "Dengan susah payah Koh Kang berusaha menuntut balas. Setelah dia menyelundupkan adik perempuannya ke Ciceng, lalu bersama kami mendatangi Sipceng yang kini telah menjadi tempat kediaman Ji-bong Taysu itu untuk meminta bantuan ...." Kening Liong Hui semakin mengerut, dengan heran ia menyela lagi, "Apakah Ji-bong Taysu juga bermusuhan dengan guruku?" Kembali Tik Yang menggeleng, katanya, "Meski Ji-bong Taysu tidak bermusuhan dengan Liong-loyacu, tapi dia memiliki hubungan erat dengan murid Kun-lun-pay, Boh-hun-jiu Tok Put-hoan.
Mungkin Liong-toako juga tidak tahu seluk-beluk hubungan mereka?" "Ya, tidak tahu," kata Liong Hui.
"Pernahkah Toako mendengar seorang murid Kun-lun-pay beberapa puluh tahun yang lalu, seorang pendekar pedang perempuan bernama Li Ping?" Dengan tersenyum Giok-he menimbrung, "Memang pernah kami dengar nama ini. Menurut cerita Suhu, tingkah laku Li Ping ini lebih kejam daripada Lenghiat Huicu yang terkenal tiga puluh tahun yang lalu itu. Hanya setelah membuat geger dunia persilatan, kemudian ia lenyap secara mendadak." "Ya, orang persilatan tak seorang pun menyangka Li Ping yang cantik dan berhati kejam itu dapat mencukur rambut dan menjadi Nikoh, bahkan terkenal sebagai Ji-bong Taysu yang saleh.
Rupanya Li-locianpwe itu sengaja menghindari pencarian musuh dan mengasingkan diri.
Ia merasa segala perbuatan masa lampau seperti mimpi. Maka setelah menjadi Nikoh ia memakai gelar Ji-bong, artinya seperti mimpi." "O, jadi Ji-bong Taysu dan Boh-hun-jiu Tok Put-hoan berasal dari perguruan Kun-lun," kata Giok-he.
"Ya, maka dari itu Ji-bong Taysu telah menyarankan kepada Tok Put-hoan agar bersama kami datang ke Hoa-san ini untuk mencari Yap Jiu-pek," tutur Tik Yang.
"Waktu itu Yap Jiu-pek sedang tersiksa dan penuh rasa benci tidak terlampiaskan. Setelah mendengar maksud kedatangan kami, tanpa bicara, ia langsung melancarkan pukulan terhadap Koh Kang dan Tok Put-hoan. Meskipun tokoh kosen ini dalam keadaan lumpuh, namun tenaga pukulannya tetap sangat dahsyat. Meskipun aku berdiri jauh di belakang, aku juga merasakan angin pukulannya yang keras." Ia menghela napas, lalu menyambung, "Ketika angin pukulan dahsyat itu menyambar, segera Koh Kang menghindar. Namun, Tok Put-hoan tetap berdiri di tempatnya dan menerima pukulan itu.
Kulihat Tok Put-hoan tetap berdiri tegak, kukira Lwekangnya mampu melawan pukulan Yap Jiu-pek yang lihai itu. Tak disangka, ia lalu jatuh terduduk di lantai." "Rupanya, meskipun Tok Put-hoan sanggup menahan pukulan Yap Jiu-pek itu, namun juga telah menguras seluruh tenaganya sehingga tidak sanggup berdiri lagi.
Ia lalu mencaci maki Yap Jiu-pek yang kejam itu, jika tidak mau membantu, ia juga tidak layak menyerang kaum muda yang jelas bukan tandingannya." "Diam-diam kami siap siaga jika Yap Jiu-pek menyerang lagi akibat caci maki Tok Put-hoan itu.
Tak disangka, Yap Jiu-pek tidak meladeni makiannya. Ia hanya menghela napas dan berucap, 'Hanya mengandalkan kepandaian kalian ini, mana mungkin dapat menuntut balas kepada Liong Po-si?'" "Lalu ia memberi isyarat agar kami pergi sambil memejamkan mata dan tidak lagi menggubris kami.
Namun Koh Kang lalu menjelaskan tujuan kami yang hanya ingin menuntut balas kepada Put-liong dan bukan untuk bertanding dengannya. Maka kami akan menggunakan segala macam cara, asalkan tujuan tercapai. Ia juga membeberkan rencana yang telah kami atur, terutama agen yang sudah diatur di Ciceng. Jadi setiap gerak-gerik Liong Po-si dapat diketahui dengan jelas, terutama bila ada ilmu kungfu baru yang berhasil diciptakannya." "Bagaimana ilmu silat Koh-toako kita ini tidak kuketahui? Yang jelas, dalam hal putar lidah, ia memang nomor satu.
Rupanya Yap Jiu-pek tertarik. Perlahan ia membuka mata dan memancarkan sinar mata yang aneh.
Semua itu dapat kulihat dari samping, aku pun tahu urusan pasti beres." Liong Hui menghela napas, katanya, "Watak Yap Jiu-pek angkuh dan suka menang. Tak disangka, dia juga mau menggunakan cara yang tidak jujur untuk mencapai maksud tujuannya." "Wajar saja, sudah sekian tahun Yap Jiu-pek bersemadi dan setiap hari tersiksa oleh dingin yang menusuk tulang. Sedangkan jangka waktu bertanding dengan Liong Po-si sepuluh tahun kemudian sesuai perjanjian sudah semakin dekat. Sebaliknya, kesehatannya tidak tampak harapan akan pulih. Dengan sendirinya, pikirannya menjadi agak kurang normal waktu itu. Maka dia menerima gagasan yang diajukan Koh Kang." "Apa gagasannya?" tanya Liong Hui.
"Selama lima tahun kami berdiam di Hoa-san. Selama itu kami bergiliran turun gunung untuk mencari berita keadaan dan kemajuan ilmu kungfu Liong-loyacu. Di samping itu, kami juga giat berlatih di atas gunung. Ah, tak kusangka dendam kesumat Koh Kang terhadap Liong-loyacu ternyata sedemikian mendalam. Hidupnya seolah-olah hanya untuk menuntut balas semata.
Padahal dia masih muda, namun ia rela hidup terasing di pegunungan sunyi.
Nama, kedudukan, kekayaan, segala kenikmatan hidup seakan-akan telah dilupakan olehnya.
Dan begitulah kehidupan selama lima tahun yang kesepian itu telah kami lalui dengan susah payah.
Akhirnya mereka mengatur suatu rencana yang rapi, rencana yang mutlak harus berhasil dan tidak boleh gagal." Akhirnya dia bercerita mengenai titik pokoknya, semua orang mendengarkan dengan cermat.
"Rencana ini secara terperinci berdasarkan enam pokok," tutur Tik Yang perlahan.
"Pertama, menggunakan berita kematian Yap Jiu-pek untuk membuat kacau pikiran Liong-loyacu, untuk melemahkan kewaspadaannya.
Semua orang tahu kisah masa lalu antara Liong-loyacu dengan Yap Jiu-pek. Jika mendadak Liong-loyacu menerima berita duka itu, dengan sendirinya hatinya akan sedih dan menyesal sehingga mengabaikan segala kemungkinan lain." "Kedua, murid Yap Jiu-pek diminta menggunakan kata-kata tajam dan sikap angkuh untuk memancing kemarahan Liong-loyacu. Dengan watak Liong Loyacu yang tidak sudi dipandang rendah, dengan sendirinya akan terpancing oleh usul Yap Man-jing yang meminta Liong-loyacu menyusutkan tenaga sendiri.
Dan jika usul ini diterima Liong-loyacu, berarti rencana kami sudah tercapai separuh." Giok-he menunduk dan menghela napas, "Waktu itu memang sudah kurasakan keadaan tidak menguntungkan. Maka kubujuk Suhu agar jangan mau terjebak, siapa tahu Gote ...." "Jika Gote tidak melakukannya waktu itu, tentu akulah yang akan melakukannya," teriak Liong Hui tegas.
"Seorang lelaki sejati mana boleh takut ini dan khawatir itu seperti seorang perempuan.
Terkadang, meskipun tahu akan ditipu orang, lebih baik kuterjang daripada terhina.
Apalagi jika dibodohi orang sekali, apakah mungkin akan tertipu lagi untuk kedua kali?" Tik Yang mengangguk sebagai tanda memuji kegagahan pria itu. Giok-he menunduk lagi dan berucap, "Dan yang ketiga?" "Ketiga, jika Lwekang Liong-loyacu sudah berkurang, selanjutnya harus melemahkan kekuatannya. Dalam hal ini, diusahakan agar beliau terpisah dari kalian ...." Liong Hui memandang sekejap kepada sang istri. Ia berpikir dugaannya ternyata juga tidak salah.
Maka terdengar Tik Yang menyambung lagi, "Apabila ketiga pokok ini sudah berhasil, tiga pokok rencana selanjutnya jelas akan berjalan dengan baik. Keadaan Liong-loyacu berarti lebih banyak celaka daripada selamat.
Semula aku berjaga di tengah jalan, kulihat Yap Man-jing itu telah benar-benar berhasil membawa Liong-loyacu sendirian ke atas gunung.
Diam-diam aku merasa ngeri, kupikir sekarang inilah saatnya kubalas budi kebaikan Liong Loyacu.