Halo!

Han Bu Kong - Chapter 29

Memuat...
Han Bu Kong

Chapter 29

"Segera kusiap membereskan Yap Man-jing dan menuturkan duduk perkara yang sebenarnya kepada Liong Lo Yacu." "Atas maksud baik Tik Hiante ini, kami harus berterima kasih padamu," kata Liong Hui.

"Ah, Liong Toako, jangan tergesa mengucapkan terima kasih padaku. Yang harus menerima penghormatanmu ini justru ialah Nona Yap Man-jing itu," kata Tik Yang.

"O, mengapa begitu?" Liong Hui merasa bingung.

"Sebab pada waktu timbul maksudku akan menyerang Nona Yap itu, siapa tahu begitu berhadapan denganku tanpa bicara, Nona Yap itu lantas mendahului menusukku dengan cara tanpa kenal ampun. Tentu saja aku kaget, untung sempat kuhindari serangannya.

Aku menjadi sangsi, jangan-jangan Nona Yap itu dapat mengetahui maksudku dan mendahului hendak membinasakanku?" "Nona Yap melancarkan serangan lagi terus-menerus. Setiap tusukan selalu mengincar tempat mematikan. Kukhawatir kawan yang lain keburu datang, maka sembari mengelak, kubeberkan tipu muslihat mereka kepada Liong Lo Yacu dan minta beliau lekas bertindak.

Siapa tahu, setelah kubongkar rahasia ini, Nona Yap berbalik berhenti menyerang." Liong Hui menghela napas, "Jangan-jangan Nona Yap itu juga bermaksud membantu guruku?" "Memang betul," tutur Tik Yang.

"Kiranya orang tua Nona Yap ini dahulu juga pernah mendapat pertolongan Liong Lo Yacu. Dia juga tidak menyetujui tipu muslihat keji mereka. Mestinya dia belum mengambil suatu keputusan, tapi setelah berhadapan dengan kalian dan mengetahui pribadi Liong Lo Yacu, ia bertekad akan membantu Liong Lo Yacu melepaskan diri dari perangkap ini sekalipun dia akan dituduh berkhianat kepada gurunya." "Ai, sungguh tidak kuduga Nona Yap itu adalah gadis berbudi luhur," ucap Liong Hui.

Tik Yang tersenyum, "Ya, dan yang paling terkejut ialah Liong Lo Yacu sendiri.

Beliau seorang jujur dan berhati lapang, mana diketahuinya orang akan bertindak keji dan curang padanya.

Begitulah kami lantas mengajak beliau ke tempat kediaman kami sehari-hari di pinggang gunung. Di situ kami ceritakan seluk-beluk urusan ini."

"Siapa tahu, setelah mendengarkan keterangan kami, segera Liong Lo Yacu meminta alat tulis kepada kami. Beliau menulis sepucuk surat wasiat dan diserahkan kepada Yap Man-jing dengan pesan agar diserahkan kepada kalian. Kemudian Liong Lo Yacu meminta kubawa beliau ke atas gunung lagi."

"Tentu saja aku dan Nona Yap melenggong. Melihat keraguan kami, Liong Lo Yacu bergelak tertawa dan berkata, 'Biarpun di atas sana ada sarang harimau atau kubangan naga, tetap juga akan kuterjang.

Hidup setua ini, mati bagiku sudah bukan soal lagi.

Justru persoalan budi dan benci yang belum terselesaikan ini harus kubereskan dengan tuntas. Aku tidak ingin membawa urusan yang belum selesai ini ke akhirat.'" Berbareng dengan ucapan beliau itu, mendadak kudengar ruas tulang Liong Lo Yacu sama berkeriat-keriut. Perawakan beliau yang memang kekar itu mendadak seakan-akan bertambah lebih tinggi besar.

Aku tidak berani menatap wajahnya. Aku tertunduk, tapi sudah kulihat di tengah gelak tertawanya dia telah membuka Hiat To sendiri yang tertutuk sehingga pulih seluruh Lwekangnya.

Sungguh tidak kepalang rasa kagumku terhadap kegagahan dan kehebatan Kungfu beliau."

Setiap anak murid Liong Po Si yang mendengar ucapan Tik Yang ini sama ikut merasa bangga. Rumah gubuk yang sunyi dan dingin ini seketika seperti berubah menjadi hangat.

Sambil membusungkan dada, Tik Yang menyambung lagi, "Melihat kegagahan Liong Lo Yacu itu, aku dan Nona Yap tidak berani mencegahnya lagi.

Ketika Nona Yap mau pergi, Liong Lo Yacu menyerahkan pula pedangnya agar diserahkan kepada kalian.

Nona Yap tampak tertegun, aku sendiri juga tidak sanggup bicara apa pun."

"Nona Yap itu ternyata seorang yang simpati, semula kusangka dia berhati dingin," ucap Liong Hui.

"Kami terharu menyaksikan keperkasaan Liong Lo Yacu. Sungguh kami tidak ingin Liong Lo Yacu menghadapi bahaya. Meski Kungfu beliau tiada tandingan, tapi di atas gunung sedang menanti berbagai jeratan licik yang khusus dirancang sesuai dengan watak Liong Lo Yacu yang luhur itu. Sampai lama akhirnya Nona Yap membalik tubuh dan melangkah pergi. Memandangi bayangan punggung Nona Yap, tertampil juga perasaan haru dan duka Liong Lo Yacu yang sukar ditutupi ...."

"Termangu kupandang orang tua itu. Kulihat Liong Lo Yacu juga sedang menatap tajam padaku. Sampai sekian lama mendadak beliau berkata dengan tegas, 'Seorang lelaki sejati, hidup dan bekerja bagi sesamanya. Asalkan meraba perasaan sendiri tidak bersalah, andaikan mati juga tidak perlu disesalkan.

Ayahmu juga seorang tokoh besar. Engkau dilahirkan di keluarga kaum kesatria, seharusnya kau pun tahu apa artinya menepati janji bagi seorang kesatria.'" Habis berucap, beliau mengentak kaki perlahan. Lalu perawakannya yang tinggi besar itu melayang ke atas gunung dan akhirnya lenyap dalam kegelapan. Ketika aku menunduk, kulihat sebuah bekas kaki tercetak dengan jelas di atas batu. Kupandang bekas kaki ini dan mengingat lagi ucapan Liong Lo Yacu sebelum pergi. Sampai lama kurasakan suara beliau masih mengiang di tepi telingaku ...."

"Ya, bekas kaki itu pun sudah kami lihat," ucap Liong Hui dengan nada berat.

"Tapi sejauh ini kami tidak tahu mengapa Suhu meninggalkan bekas kaki seperti itu," tukas Giok-he.

"Banyak urusan di dunia ini sukar dimengerti sekalipun oleh orang yang pandai," ujar Tik Yang dengan pandangan hampa.

"Misalnya saja, sekarang pun aku tidak tahu apa yang terjadi setelah Liong Lo Yacu naik ke atas gunung dan di mana beliau berada saat ini."

"Hah, engkau pun tidak tahu?" seru Liong Hui terkesiap.

"Ya, aku pun tidak tahu," Tik Yang menggeleng.

"Setelah beliau pergi, sampai lama aku menimbang, akhirnya kuputuskan turun ke bawah untuk mencari kalian.

Tapi waktu itu kalian sudah mendaki ke atas malah, maka diam-diam kukuntit perjalanan kalian dan banyak mendengar macam-macam percakapan kalian.

Ketika kudengar kalian bicara tentang obor, segera kukembali ke tempat tinggal kami untuk mengambil obor dan tali. Kuputar ke depan dan menyalakan obor. Kunaik lagi ke atas tebing dari jalan lingkar yang lain dan menjulurkan tali ke bawah.

Adapun mengenai apa yang terjadi di rumah gubuk ini, seperti juga kalian, aku pun tidak tahu sama sekali."

Suasana menjadi sunyi. Semua orang saling pandang dengan termenung. Namun apa yang dipikirkan mereka tidak sama. Liong Hui dan Koh Ih-hong berpikir, "Sesungguhnya apa yang terjadi di sini? Ke mana perginya Suhu? Selamat atau celaka?" Sedangkan yang dipikirkan Ciok Tim dan Giok-he justru mengenai urusan pribadi mereka. Timbul keraguan mereka jangan-jangan apa yang dilakukan mereka tadi telah dilihat juga oleh Tik Yang. Malahan Ciok Tim berpendapat, sebabnya Tik Yang bersikap ketus padanya jelas lantaran orang telah melihat perbuatannya tadi.

Tiba-tiba Giok-he bertanya, "Tik Siauhiap, apa yang terjadi di rumah gubuk ini tentu kaulihat juga? Mengapa engkau bilang tidak tahu?" Mendadak Tik Yang menengadah dan tertawa, "Haha, bagus, bagus, maksud baikku agaknya telah menimbulkan salah sangka kalian."

"Tik Siauhiap, jangan engkau menyesal bila kusalah omong," kata Giok-he pula dengan tersenyum.

"Cuma engkau jelas sudah datang ke sini lebih dulu, kami ketinggalan lantaran cukup lama menyelidiki ukiran pada ketiga potong batu karang itu. Apalagi waktu engkau masuk kemari tiada kelihatan rasa kaget atau heran sedikit pun. Memangnya apa sebabnya?" Ciok Tim berdehem dan juga menatap Tik Yang dengan tajam. Agaknya Liong Hui juga mempunyai pikiran yang sama. Namun Tik Yang cuma tersenyum saja.

Perlahan Giok-he menyambung, "Ketiga langkah yang kalian rancang sudah kau jelaskan tadi. Lalu ketiga perangkap selanjutnya belum kau katakan, namun tanpa kau jelaskan juga kutahu. Pertama, kalian sengaja mengukir tulisan di dinding tebing untuk memancing guruku naik kemari, supaya tenaga guru kami terkuras habis sebelum bertanding. Malahan bukan mustahil ada pikiran kalian, semoga beliau tidak sanggup mendaki ke atas dan jatuh tergelincir. Dengan begitu kalian menjadi tidak perlu turun tangan lagi." Tik Yang tetap diam saja, bahkan lantas memejamkan mata.

Maka Giok-he bicara lagi, "Kedua, selama beberapa tahun ini kalian sudah menerima info dari Simoay kami ini dan cukup mengetahui kehebatan Kungfu guru kami. Sebab itulah kalian sengaja menciptakan tiga jurus istimewa dan diukir pada batu karang. Agaknya cuma teori saja ketiga jurus ciptaan kalian ini dapat diterima, tapi bila digunakan dalam praktik belum tentu dapat dimainkan dengan baik. Dengan demikian, tujuan kalian hanya untuk menguji Suhu, supaya sebelum berhadapan dengan Yap Jiu-pek, beliau sudah patah semangat lebih dulu." Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan, "Kukatakan, ketiga jurus ciptaan kalian itu pada hakikatnya cuma teori belaka dan sukar dipraktikkan. Sebagai seorang tokoh kelas top, tentu saja Suhu dapat menyelaminya. Sebab itulah dengan gusar beliau telah menghantam remuk batu karang itu."

"Dan ketiga," sambung Giok-he, "tiga jalan tembus dan empat daun pintu. Inilah cara kalian menjajaki betapa tinggi Kungfu guru kami. Ada lagi satu hal yang jelas sangat aneh, bahwa Yap Jiu-pek diketahui sudah lumpuh. Lantas ke mana perginya dia sekarang?" Liong Hui juga menatap Tik Yang dengan sangsi.

Dilihatnya Tik Yang membuka mata perlahan lalu berkata, "Liong Toaso, engkau memang sangat pintar. Ketiga hal ini ternyata dapat kau terka dengan tepat." Dia bicara dengan dingin, sikapnya juga kaku. Sambungnya, "Memang, ketiga jurus yang terukir di batu karang itu memang cuma bicara secara teori saja. Praktiknya memang sukar dimainkan." Tiba-tiba tersembul senyumannya yang mengejek, "Apa yang kalian bicarakan di depan ketiga potong batu karang itu dapat kudengar dengan jelas. Cuma sayang, waktu itu terlalu banyak urusan yang dipikirkan Toaso, sehingga tidak tahu di atas batu ada orang bersembunyi." Hati Giok-he terkesiap.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment