Halo!

Han Bu Kong - Chapter 30

Memuat...
Han Bu Kong

Chapter 30

Liong Hui lantas berkata dengan menyesal, "Karena berbagai kejadian yang membuat kami bingung ini, seandainya Toaso salah bicara mengenai dirimu, hendaknya engkau jangan marah."

"Aku mengerti. Jika aku jadi Toaso, tentu aku juga akan merasa sangsi," ujar Tik Yang sambil tertawa.

"Kedatanganku ke rumah gubuk ini memang lebih awal daripada kalian, tapi apa yang terjadi di sini sudah berlalu. Apa yang disangsikan Toaso sama dengan apa yang aku sangsikan. Jejak Liong Loyacu, Yap Jiupek, Koh Kang, Tok Put-hoan, dan lain-lain saat ini telah menjadi teka-teki." Pandangannya perlahan beralih ke lantai. Katanya sambil membalik mayat yang tergeletak itu, "Di sini ada bekas darah, tapi pada satu-satunya mayat ini tidak ada tanda luka yang menunjukkan bagaimana cara kematiannya."

Saat semua orang mengamati mayat itu lagi, terlihat kulit wajah mayat itu berkerut seperti mati ngeri dan kaget, atau seperti mati karena sejenis tenaga dalam yang lihai yang menggetarkan hingga memutuskan urat nadinya.

"Ya, semua ini memang teka-teki. Kuharap Tik Laute sudi bekerja sama dengan kami untuk menyingkap tabir teka-teki ini," kata Liong Hui.

Tik Yang tersenyum. Ia mengangkat mayat itu dan berkata, "Teka-teki ini suatu hari pasti akan terjawab. Saat itulah semua orang baru akan percaya bahwa apa yang kuceritakan memang benar." Ia memandang Liong Hui sekejap, lalu tiba-tiba berseru, "Toako, sampai berjumpa lagi!" Usai berkata, ia langsung melesat keluar.

"Nanti dulu, Tik Laute!" teriak Liong Hui sambil memburu ke luar, namun bayangan jago muda ahli waris Thian-san-pay itu sudah menghilang dalam sekejap. Meski membawa sesosok mayat, ilmu meringankan tubuhnya sungguh luar biasa cepat.

Liong Hui berdiri termangu sambil memandang jauh ke sana. Gumamnya, "Sungguh pemuda yang terus terang."

"Tapi menurut pandanganku, tampaknya ada sesuatu yang tidak beres," belum lanjut ucapan Giok-he, mendadak Liong Hui berpaling dan membentak, "Tutup mulut!"

Selagi Giok-he tertegun, didengarnya Liong Hui berucap pula dengan bengis, "Semuanya gara-gara kamu! Jika bukan karena cara bicaramu yang menyinggung perasaannya, mana mungkin dia pergi begitu saja. Tampaknya kehormatan Ciceng selanjutnya bisa tamat di tanganmu."

Biasanya Liong Hui jarang sekali marah. Kini dia terlihat sangat marah hingga Ciok Tim dan Koh Ih-hong sama sekali tidak berani ikut bicara. Giok-he tercengang sejenak, lalu mendadak ia menjerit sambil mendekap mukanya dan berlari keluar.

"Toaso!" seru Ciok Tim dan Ih-hong bersamaan.

Liong Hui melongo melihat istri tercintanya lari pergi dengan marah. Bagaimanapun, timbul juga rasa menyesal dalam dirinya.

"Lekas susul Toaso dan bujuklah dia, Toako," kata Ih-hong.

Liong Hui menunduk. "Memang perkataanku tadi agak keras." Ia berpaling dan berkata kepada Ciok Tim, "Kukira sebaiknya Samte saja yang menyusul dan membujuknya." Tanpa disuruh lagi, segera Ciok Tim melompat keluar.

Cukup lama Liong Hui termenung, lalu menghela napas dan berkata, "Ya, perkataanku memang terlalu keras. Padahal maksudnya juga demi kebaikan orang banyak." Dia tidak menyalahkan orang lain, melainkan mencela dirinya sendiri.

Memandangi wajah Liong Hui yang lesu, tiba-tiba timbul rasa kasihan dalam diri Koh Ih-hong. Lantaran hal itu, semestinya dia merasa malu tetap tinggal di perguruan Sin-liong, namun entah mengapa sekarang sukar baginya untuk menyatakan niat pergi.

Akhirnya ia bersuara perlahan, "Toako, apakah kita akan tetap tinggal di sini atau turun gunung saja?"

"Ya, pergi saja," jawab Liong Hui setelah berpikir sejenak. "Kukira Toaso pasti akan pulang ke Ciceng. Selain itu, saat ini Gote mungkin sedang menunggu kita di kaki gunung. Ah, kejadian hari ini memang serba aneh. Untuk apa Tojin itu membawa lari peti mati itu? Sungguh hal ini pun sukar dimengerti, atau... atau akulah yang terlalu bodoh."

Koh Ih-hong diam saja tanpa menanggapi.

"Tapi semua teka-teki ini akhirnya pasti akan tersingkap," Liong Hui teringat akan ucapan Tik Yang tadi.

Ufuk timur sudah remang-remang, fajar hampir tiba. Kabut tipis mengelilingi lereng gunung. Perlahan mereka meninggalkan puncak Hoa-san yang sunyi itu.

***

Di kaki gunung, Lamkiong Peng dan Bwe Kim-soat saling menatap. Sudah sekian lama keduanya tidak bergerak. Akhirnya Bwe Kim-soat menjulurkan tangan untuk membetulkan rambut yang kusut di pelipisnya. Katanya, "Apakah engkau harus menunggu mereka?"

Lamkiong Peng mengiyakan tanpa ragu. Ia tidak tahu bahwa jika seorang perempuan meraba rambutnya sendiri, biasanya pikirannya sedang resah.

"Baik, aku menurut padamu," kata Bwe Kim-soat kemudian. Segera ia melayang ke arah peti mati itu, lalu berpaling dan menambahkan, "Cuma sekali ini saja!"

Di bawah kerlip bintang, peti mati itu tidak menunjukkan perubahan apa pun. Bwe Kim-soat duduk bersandar di pohon. Sementara itu, Lamkiong Peng berdiri tegak, lalu berjalan mondar-mandir. Jelas pikirannya juga sedang kusut. Mendadak ia berhenti di depan Bwe Kim-soat dan berkata, "Aku ingin bertanya padamu."

"Urusan apa?" Bwe Kim-soat memutar bola matanya.

"Tadi saat aku membuka peti mati itu, mengapa kulihat kosong?"

Bwe Kim-soat tertawa. "Di dasar peti ada satu lapisan rahasia, masa tidak dapat kau lihat?"

"Oh?" Lamkiong Peng tertegun.

"Kukira yang hendak kau tanyakan bukanlah urusan ini," kata Kim-soat lagi.

Kembali Lamkiong Peng tertegun. Katanya kemudian, "Benar, tapi sekarang aku tidak ingin bertanya lagi." Ia lantas menyingkir kembali.

Tampak Bwe Kim-soat juga termenung, lalu berucap dengan sayu, "Tadi kalau aku tidak bercermin di air sungai, pasti kukira diriku sudah tua."

Dilihatnya Lamkiong Peng berpaling tapi tidak memandang ke arahnya, maka ia bergumam lagi, "Pada usia empat belas tahun aku sudah berkelana di dunia persilatan. Setiap orang yang bertemu denganku tidak pernah ada yang tak acuh seperti dirimu sekarang."

Lamkiong Peng mendengus sambil meraba tutup peti mati kayu cendana yang berukir indah itu. Seandainya saat ini tutup peti itu dibukanya, maka dunia persilatan pasti tidak akan mengalami berbagai persoalan lagi. Namun, ia cuma meraba tutup peti itu perlahan, sama sekali tidak ada niat untuk membukanya.

"Sudah banyak kulihat anak muda yang sok menganggap dirinya berbeda dari yang lain," kata Kim-soat lagi sambil membelai rambutnya sendiri. "Aku pun banyak melihat jago dan tokoh ternama yang menganggap dirinya luar biasa. Sampai sekarang aku masih ingat dengan jelas sorot mata mereka yang memandangku. Sungguh aku merasa geli dan juga kasihan kepada mereka."

"Blang!" Mendadak Lamkiong Peng menghantam tutup peti dengan keras. Ejeknya, "Kisah masa lalu yang membuatmu bangga ini, kenapa tidak kau simpan saja dalam hatimu?"

Akibat hantamannya itu, peti mati berguncang cukup keras. Di dalam peti terdengar suara keluhan yang sangat lirih. Karena anak muda itu sedang kesal dan gelisah, suara keluhan tersebut tidak terdengar olehnya.

"Jika engkau tidak suka mendengarkan, kau boleh menyingkir agak jauh ke sana," ujar Bwe Kim-soat sambil tersenyum dan tetap melanjutkan ucapannya. "Di mana-mana orang selalu menyanjungku. Di mana-mana selalu kulihat sorot mata yang menggelikan dan pantas dikasihani. Hampir sepuluh tahun aku berkelana, banyak lelaki iseng yang tergila-gila padaku. Banyak pula yang menumpahkan darah dan berduel karenaku hanya karena aku pernah melirik dan tersenyum kepadanya. Akibatnya, orang-orang persilatan mulai mencaci maki diriku. Katanya aku ini gadis berdarah dingin dan pembuat onar. Padahal bukan salahku jika kawanan lelaki itu mau berbuat begitu. Kenapa aku yang disalahkan? Coba, benar tidak?"

Lamkiong Peng hanya mendengus tanpa menjawab. Bwe Kim-soat tertawa; semakin mendongkol Lamkiong Peng, semakin senang dia.

"Sepuluh tahun yang lalu, akhirnya aku menemukan seorang yang sangat istimewa," tutur Kim-soat. "Lelaki lain suka memandangku seperti orang linglung, tapi dia tidak. Bila orang lain suka membuntutiku, dia tidak. Kebanyakan orang jika tidak menyanjungku, pasti mencaci makiku, namun dia hanya bicara denganku sewajarnya, bahkan cukup memahami pribadiku. Ia sendiri gagah dan tampan, ilmu silatnya tinggi, perguruannya terhormat, ditambah lagi serba pintar dalam berbagai bidang; baik kesusastraan, seni lukis, catur, musik, dan lain-lain. Dia juga seorang penyair. Maka, lambat laun aku menjalin persahabatan dengannya."

Dia bercerita dengan penuh pujian terhadap orang itu sehingga mau tidak mau Lamkiong Peng juga tertarik. Pikirnya, "Tokoh hebat seperti itu, bila bertemu denganku, pasti aku juga akan bersahabat dengannya."

Karena pikiran itu, tanpa terasa ia bertanya, "Siapa dia? Apakah sekarang dia masih berkelana di dunia persilatan?"

"Kau kenal orang ini," jawab Bwe Kim-soat dengan senyum manis. "Cuma sayang, untuk selamanya dia tidak akan muncul lagi di dunia ini."

Lamkiong Peng ikut menghela napas menyesal. Dilihatnya senyum Bwe Kim-soat hilang mendadak, sebaliknya ia menyambung ucapannya dengan dingin, "Sebab orang ini telah mati di bawah pedangmu!"

Lamkiong Peng terkesiap, dadanya seakan dihantam satu kali. "Apa... apa katamu?" ia memastikan dengan gagap.

Bwe Kim-soat seolah tidak mendengar pertanyaannya dan menyambung ucapannya sendiri, "Meski lahiriah orang ini kelihatan seperti orang baik, padahal... hm! Pada suatu hari ketika hujan salju lebat, aku bersama dia dan seorang sahabatnya yang juga cukup terkenal di dunia persilatan asyik minum arak di rumah orang. Setelah dua-tiga cawan arak kuminum, baru kurasakan ada yang tidak beres di dalam arak itu. Kulihat gerak-gerik mereka juga tidak baik. Maka aku lantas berlagak mabuk. Kudengar sahabatnya bertepuk tangan sambil tertawa, 'Aha, roboh, robohlah dia!'"

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment