Chapter 31
"Bila kau berhasil menunggangi kuda binal ini, jangan lupakan jasaku," ucap orang itu. Aku mendengar dengan jelas ucapannya, maka aku sengaja berlagak tidak sadar, ingin kulihat apa yang akan dilakukan mereka terhadapku.
Kisah ini cukup menarik perhatian Lamkiong Peng, ia tidak menyela lagi melainkan hanya mendengarkan.
Terdengar Bwe Kim-soat bercerita lagi, "Keparat berwajah manusia dan berhati binatang ini tertawa senang. Aku diangkatnya ke tempat tidur, baru saja dia mau membuka pakaianku, aku tidak tahan lagi. Begitu melompat bangun segera kuhantam mukanya."
"Namun, orang yang berjiwa kotor ini memiliki ilmu silat yang tinggi. Pukulanku tidak mampu mengenainya, dia sempat membuka jendela dan kabur."
"Waktu itu sebenarnya aku sudah minum arak bius dua-tiga cawan. Sekujur badan kehilangan tenaga, maka pukulanku tidak mampu melukainya dan dengan sendirinya juga tidak dapat mengejarnya," ia memandang tangan sendiri lalu menyambung dengan penuh rasa benci, "Dengan Lwekangku, dapatlah kudésakkan keluar racun dalam arak yang kuminum itu. Sungguh tidak kepalang gemas hatiku, kulari keluar, kubinasakan kawannya yang kotor itu, kutikam tujuh-delapan kali tubuhnya dengan pedangku pada bagian-bagian yang mematikan!"
"Keji amat!" ucap Lamkiong Peng.
"Keji?" jengek Bwe Kim-soat. "Hm, bilamana aku kurang berpengalaman dan tubuhku jadi dinodai oleh mereka, lalu orang Kangouw siapa yang akan percaya kepada keteranganku? Semua orang tentu akan menganggap aku yang memikat mereka. Lalu siapa yang akan dikatakan keji?"
Lamkiong Peng tercengang, tanpa bersuara ia menunduk dan merasa menyesal.
Maka Bwe Kim-soat bicara lagi, "Esoknya aku lantas menyiarkan berita bahwa bila orang itu kulihat lagi, lebih dulu akan kucungkil matanya dan memotong daun telinganya, lalu mencencang tubuhnya. Dan karena orang Kangouw tidak tahu sebab musababnya, seketika timbul macam-macam desas-desus, dengan sendirinya desas-desus itu sama merugikan nama baikku."
Mendengar sampai di sini, kembali Lamkiong Peng merasa penasaran, serunya, "Sebenarnya siapakah orang ini?"
"Dengan sendirinya orang ini cukup ternama di dunia Kangouw," jengek Kimsoat. "Dia terkenal sebagai 'Kongcu-kiam-khek' atau 'Kiam-khek-kongcu' (pemuda jago pedang atau jago pedang muda)..."
Lamkiong Peng terkesiap, "Hah, bukankah dia..."
"Ya, dia saudara sepupu Tan-hong Yap Jiu-pek yang terkenal itu," jengek Kimsoat pula. "Aku tidak menghadiri pertemuan yang diprakarsai Yap Jiu-pek sendiri secara tidak tahu malu itu sudah dipandang sebagai kesalahan yang tak terampunkan, apalagi sekarang aku hendak membunuh saudara sepupu Yap Jiu-pek. Orang lain masih mendingan, orang pertama yang tidak dapat menerima ialah Putliong Liong Po-si."
"Di dunia Kangouw kebanyakan adalah manusia yang lebih suka menjilat yang tinggi dan memuja yang besar, siapa yang mau tahu pihak mana yang benar. Dengan sendirinya mereka lebih percaya kepada Kongcu-kiam-khek yang jujur dan berbudi itu, siapa yang mau percaya kepada 'iblis perempuan' macam diriku ini. Apalagi satu-satunya saksi hidup juga telah kubunuh, tentu lebih sulit lagi bagiku untuk membuktikan kebersihanku. Maka Putliong lantas mengeluarkan Sin-liong-tiap (kartu naga sakti) dan mengundang kedatanganku ke Kiu-hoa-san untuk menyerahkan nyawa kepadanya."
Makin emosional suaranya, sedangkan kepala Lamkiong Peng tertunduk lebih rendah.
Terdengar Bwe Kim-soat menyambung lagi, "Tentu saja kupenuhi undangannya. Waktu itu usiaku baru 20-an, tinggi hati dan bersikap angkuh, kuyakin Kungfuku tidak ada tandingannya, biarpun jago nomor satu Put-si-sinliong juga tidak terpandang olehku. Maka setiba di Kiu-hoa-san serentak kuajukan empat macam cara bertanding. Tanpa pikir dia lantas terima tantanganku."
"Kau tahu, waktu itu ilmu silatku belum pernah menemukan tandingan, bahkan jago pedang ternama seperti Kongcu-kiam-khek itu juga kabur menghadapiku, tentu saja aku sangat senang tantanganku itu diterima begitu saja oleh Putliong." Ia menghela napas, lalu menyambung, "Siapa tahu, pertandingan pada babak pertama aku lantas kalah, bahkan kalah secara mengenaskan. Dalam babak kedua, kuminta bertanding kekuatan lunak, kupikir dia tinggi besar, tentu tak bisa bergerak lunak, siapa tahu kembali aku kalah lagi."
"Babak ketiga kutantang, bertanding Am-gi (senjata rahasia), karena gelisah lantaran sudah kalah dua babak, pada babak ketiga ini aku berbuat curang. Selagi dia tidak berjaga, kuhamburkan Am-gi dulu. Siapa tahu sekujur badan Putliong seolah-olah penuh tumbuh mata, meski kusergap tetap tiada gunanya."
Pujian yang datang dari mulut lawan dengan sendirinya adalah pujian yang paling berharga. Diam-diam Lamkiong Peng merasa bangga, pikirnya, "Nyata gelaran Suhu sebagai jago nomor satu yang tak termatikan memang tidak bernama kosong."
Didengarnya Bwe Kim-soat bertutur lebih lanjut, "Ketika babak keempat dimulai lagi, jelas Putliong menjadi gusar dan menyatakan tidak memberi ampun lagi padaku, sebab aku telah main sergap. Hal ini lebih membuktikan desas-desus yang tersiar tentang tindakanku terhadap Kongcukiamkhek itu pasti tidak salah lagi dan aku dipandangnya sebagai perempuan kotor, rendah, hina dina dan jahat."
Mendadak Lamkiong Peng tergerak, teringat olehnya makian si Tojin berjubah hijau kepada Bwe Kim-soat, juga teringat akan...
Terdengar Bwe Kim-soat menyambung lagi, "Walaupun begitu, dia tetap mengalah lagi tiga jurus padaku. Aku tetap diberinya kesempatan untuk menyerang lebih dulu, habis itu barulah dia balas menyerang, melulu tujuh jurus, ya, cuma tujuh jurus saja pedangku lantas tergetar lepas, aku terdesak di batang pohon, pedangnya lantas menusuk ke mukaku, kulihat sinar pedang menyambar tiba, karena tidak berdaya, kupejamkan mata..."
Perlahan ia benar-benar memejamkan mata seperti terbayang pada kejadian dahulu, bulu matanya yang panjang menghiasi kelopak matanya, ia menghela napas perlahan dan berucap lagi, "Siapa tahu, sampai sekian lama kutunggu, hanya kurasakan angin tajam menyambar lewat di sisi telingaku, lalu tidak terjadi apa-apa lagi. Waktu kupentang mataku, kulihat pedang Putliong menancap pada batang pohon di belakangku. Pedang itu hampir amblas seluruhnya serupa menusuk pada benda yang lunak sehingga tidak menerbitkan sesuatu suara."
Ia membuka mata, bola matanya berputar, lalu menyambung, "Waktu itu aku tercengang, kudengar Putliong berkata padaku, 'Kukalahkan dirimu dengan pedangku tentu orang Kangouw akan bilang lumrah, rasanya kau pun takkan rela mengalami kekalahan ini,' mendadak ia menyimpan pedangnya dan melompat mundur, ia tepuk tangan dan berkata pula, 'Nah, jika dengan pedangmu dapat kau kalahkan kedua tanganku ini akan kubiarkan kau pergi dari sini.'"
"Karena sudah terdesak, tanpa pikir lagi aku menerjang maju, kulancarkan serangan maut. Kutahu akan kelihaiannya, yang kuharapkan adalah luka bersama dan tidak menaruh ilusi akan mengalahkan dia."
"Siapa tahu, belum ada 20 jurus, tenagaku sudah lemah. Pada saat itulah tangannya sedang meraih ke mukaku dengan jurus 'Injiau' (naga menjulurkan cakar dari balik awan), kulihat iga kirinya tak terjaga, dengan girang segera kugeser langkah dan melancarkan tusukan ke iganya."
"Padahal tusukanku ini adalah salah satu jurus serangan Kong-jiok-kiam (ilmu pedang merak) yang disebut Kongih (merak pentang sayap), serangan keji tanpa kenal ampun. Serangan tanpa menghiraukan keselamatan sendiri asalkan dapat melukai musuh, masih ada lagi jurus ikutan lain bila perlu akan gugur bersama musuh."
"Siapa duga, baru saja pedangku menutuk, mendadak kedua telapak tangannya digunakan menjepit batang pedangku, berbareng itu ia terus menggeser maju dan menyodok pinggangku dengan sikunya. Kurasakan semacam hawa hangat timbul dari bagian pinggang, dalam sekejap lantas tersalur ke seluruh badan, menyusul lantas terasa enak sekali, badan enteng seakan-akan terbang, dan akhirnya aku lantas roboh terkulai dengan lemas."
Terkesiap juga Lamkiong Peng, pikirnya, "Waktu itu Suhu sangat membenci padanya, maka menggunakan Sin-liong-kang (tenaga naga sakti) untuk membuyarkan seluruh kekuatannya."
Terdengar Bwe Kim-soat menghela napas, lalu bertutur pula, "Betapa hebat dan di mana letak keistimewaan gerak serangannya itu, meski sudah kurenungkan selama sepuluh tahun di dalam peti mati tetap tidak dapat kupahami. Sejak kecil aku giat berlatih, dengan susah payah akhirnya berhasil kukuasai Kungfu setaraf itu, tapi dalam sekejap saja telah dihancurkan olehnya, tatkala mana hatiku tidak kepalang sedihnya di samping kejut, gusar, takut dan berduka."
"Sungguh kekalahanku itu jauh lebih menyakitkan hati daripada aku dibunuhnya saja, aku lantas mencaci maki, dengan sedih kubeberkan pula apa yang terjadi sebenarnya dan perbuatan kotor Kongcu-kiam-khek itu, kutanya apakah itu salahku? Dengan hak apa dia bertindak padaku? Berdasarkan apa dia membela bajingan yang rendah dan kotor itu untuk menganiaya seorang perempuan macam diriku?"
Sikapnya memperlihatkan rasa dendam dan benci yang tak terhingga, kejadian yang membuatnya berduka dan murka itu seakan-akan terbayang lagi di depan matanya. Semakin banyak yang didengar Lamkiong Peng, semakin besar rasa simpatiknya terhadap orang.
Bwe Kim-soat menyambung lagi, "Setelah mendengar ucapanku, muka Put-sisinliong menjadi pucat, sampai sekian lama baru dia berucap dengan agak gemetar, 'Mengapa tidak kau katakan sejak tadi?' Kulihat dia sangat menyesal, ia mengeluarkan obat luka dan suruh kuminum, tapi kutolak."