Halo!

Han Bu Kong - Chapter 32

Memuat...
Han Bu Kong

Chapter 32

"Apa gunanya aku meminum obat lukanya? Seandainya sementara aku tidak mati, musuhku selama ini sudah begitu banyak. Jika mereka tahu tenagaku sudah buyar dan ilmu silatku sudah punah, mustahil mereka tidak akan mencari kesempatan untuk membalas dendam kepadaku."

"Namun, Putliong memang seorang pendekar berhati mulia. Ia memohon dengan sangat kepadaku agar mau meminum obatnya. Ia bilang jika aku mati, tentu dia akan menyesal seumur hidup. Ia ingin menebus dosa dan memperbaiki kesalahannya. Ia berjanji akan melindungiku seumur hidup, serta akan mencari Kongcu-kiam-khek yang rendah itu untuk membalaskan dendam bagiku."

"Aku masih menolak, maka dia mencekoki aku dengan obatnya, lalu dengan tenaga dalamnya berusaha menyembuhkan lukaku. Itulah sebabnya, meski dia hanya bertanding denganku selama satu hari, baru tiga hari kemudian dia turun gunung."

Orang-orang Bulim yang menunggu di bawah gunung melihat kemunculannya dalam keadaan lelah dan lesu, sehingga mengira dia telah bertempur denganku selama tiga hari tiga malam. Semua orang bersorak merayakan kemenangannya.

"Ah, padahal siapa yang tahu kejadian sebenarnya?"

Diam-diam Lamkiong Peng berpikir, "Wah, ketika mendengar sorakan orang banyak waktu itu, entah betapa pedih perasaan Suhu."

Ia mendengar Bwe Kim-soat menyambung lagi, "Sebelum turun gunung, dia telah menutuk hiatto-ku dan menyembunyikanku di dalam sebuah gua rahasia. Malam kedua, dia datang lagi dengan dua lelaki kekar yang membawa sebuah peti mati. Aku dimasukkan ke dalam peti mati itu; maksudnya jelas untuk menghindari mata dan telinga orang, terutama Yap Jiu-pek."

"Mengapa begitu?" tanya Lamkiong Peng.

"Masa engkau tidak tahu?" Bwe Kim-soat tertawa. "Yap Jiu-pek cantik dan tinggi ilmu silatnya. Dia memang awet muda. Meski waktu itu usianya sudah lima puluhan, dia tampak seperti berumur tiga puluhan. Itulah sebabnya orang Kang-ouw menyebutnya sebagai Puthong—burung hong yang tidak pernah tua. Dia merupakan pasangan yang serasi bagi Putliong. Sebenarnya dia sangat baik, hanya saja dia terlalu cemburu."

"Selama berada di ruang yang sempit dan gelap itu, dari tuturan Putliong, aku mengetahui banyak urusan yang menyangkut Yap Jiu-pek," Kim-soat meneruskan ceritanya. "Coba kaupikir, seandainya bukan karena perangai Yap Jiu-pek yang sangat aneh, seharusnya dia menikah dengan Putliong. Yang satu adalah 'jago nomor satu', yang lainnya adalah 'perempuan paling cantik'. Betapa mengagumkan pasangan ini. Akan tetapi, mereka tidak melakukannya. Hidup mereka justru berlalu dalam kesepian."

Mendadak ia menunduk terharu sehingga wajahnya tertutup oleh rambutnya yang terurai. Lamkiong Peng termangu sejenak; timbul pula perasaan bimbang yang sukar diuraikan. "Kesepian"—sekejap ini ia mendadak mengerti kesepian yang dialami banyak orang. Perempuan yang terkenal sebagai "Leng-hiat Huicu" atau Putri Berdarah Dingin ini mengalami kesepian. Yap Jiu-pek yang mahacantik itu juga mengalami kesepian. Pendekar nomor satu yang dipujanya seumur hidup, gurunya yang berbudi, Putliong, juga menderita kesepian.

Perjalanan hidup manusia memang berliku dan panjang. Semakin tinggi seseorang menanjak, semakin besar pula rasa kesepiannya. Ketika ia sudah mencapai puncaknya, mungkin baru akan diketahuinya bahwa selain kemasyhuran nama dan kejayaan atas kesuksesannya, hanya ada kesepian yang serba kelabu.

Hati Lamkiong Peng terkesiap. Mendadak ia dapat memahami mengapa wajah sang guru yang berbudi luhur itu selalu menunjukkan sikap yang kaku dan jarang memperlihatkan senyum gembira.

"Sejak hari itu," Bwe Kim-soat menyambung lagi, "aku tidak mendapat kesempatan untuk melihat cahaya matahari lagi. Sepuluh tahun... selama sepuluh tahun Putliong ternyata tidak melaksanakan janjinya. Dia tidak membersihkan tuduhan orang padaku dan tidak menuntut balas untukku. Tentu saja aku tahu apa sebabnya."

Mendadak ia berhenti bercerita dan menengadah memandang langit. Kesunyian yang mendadak ini terasa seperti sebuah godam yang menghantam hati Lamkiong Peng, sebab ia tahu di balik kesunyian ini terkandung rasa dendam dan kekecewaan yang mendalam.

Demi Yap Jiu-pek—karena Kongcu-kiam-khek adalah saudara Yap Jiu-pek—gurunya tidak dapat membekuknya dan tidak sanggup membersihkan fitnah orang terhadap Bwe Kim-soat. Sebaliknya, Putri Berdarah Dingin ini juga tidak memaksa gurunya melaksanakan janji tersebut. Hal ini tentu disebabkan karena di antara mereka telah timbul jalinan perasaan yang mendalam.

Bwe Kim-soat memandangi cahaya bintang di langit dan termenung cukup lama. Mendadak ia menatap Lamkiong Peng sambil tersenyum—semacam senyuman yang sukar dimengerti maknanya.

"Tetapi, apakah kau tahu... apakah kau tahu?" Sambil tersenyum, ia mengulangi perkataannya beberapa kali.

Dengan bingung Lamkiong Peng menegaskan, "Tahu apa?"

Bwe Kim-soat menatapnya lekat-lekat lalu berkata perlahan, "Apa yang tidak dilaksanakan gurumu untukku, kini telah kaulakukan. Dengan telingaku sendiri, aku mendengar percakapanmu dengannya. Aku juga mendengar sendiri jeritannya ketika dia terluka oleh pedangmu."

"Hah, jadi... jadi Tojin itulah Kongcu-kiam-khek?" Seketika Lamkiong Peng menjadi gelagapan.

"Tojin?" ejek Bwe Kim-soat dengan penuh kebencian. "Dia sudah menjadi Tojin? Huh, meski aku tidak tahu bagaimana bentuknya sekarang, suaranya tidak akan pernah kulupakan sampai mati."

Meskipun biasanya Lamkiong Peng dapat bersikap tenang, kini ia pun tampak terkejut. Sungguh tak disangka bahwa pendekar pedang yang termasyhur pada masa lalu itu bisa mati di bawah pedangnya. Namun, rasa malu dan menyesal atas kematian Tojin itu kini tersapu bersih.

Bwe Kim-soat berkata lagi, "Inilah suka duka antara gurumu dan diriku, juga hal yang ingin kauketahui tetapi tidak berani kautanyakan tadi. Engkau telah membalaskan sakit hatiku, maka perlu kuberitahukan padamu bahwa kematian orang itu memang setimpal. Selama bertahun-tahun aku tersekap di dalam peti mati, tidak ada harapan lain kecuali segera memulihkan tenagaku agar dapat menuntut balas padanya. Itulah sebabnya ketika mendengar suaranya menjerit, meski merasa senang, aku juga merasa agak kecewa dan benci. Malahan terpikir olehku, seandainya aku bisa melompat keluar, aku akan membinasakan orang yang telah membunuhnya lebih dulu."

Hati Lamkiong Peng terkesiap. Ia melihat secercah senyuman di sudut mulut Bwe Kim-soat.

"Tapi, entah mengapa," Kim-soat meneruskan sambil tersenyum, "mungkin keadaan selama bertahun-tahun telah membuat hatiku banyak berubah. Aku tidak ingin lagi membunuhmu, malah berterima kasih padamu karena engkau telah mengurangi kesempatanku untuk berlumuran darah lagi. Jika tangan seseorang tidak banyak berlumuran darah, bukankah itu lebih baik?"

Lamkiong Peng tercengang. Tak terduga olehnya bahwa perempuan yang dijuluki "Berdarah Dingin" ini sekarang dapat berbicara demikian. Ia terdiam sejenak, kemudian berkata tanpa sadar, "Setelah tenagamu buyar, mengapa sekarang bisa pulih kembali secara mendadak? Sungguh kejadian yang aneh."

Bwe Kim-soat tersenyum misterius. Ia berucap, "Engkau merasa heran?"

Ia tidak meneruskannya, dan Lamkiong Peng pun tidak dapat menerka makna ucapannya itu. Tiba-tiba Lamkiong Peng teringat ucapan Bwe Kim-soat tadi: "Tanpa menghiraukan apa pun berusaha memulihkan tenaga." Jangan-jangan cara memulihkan tenaga ini menggunakan jalan yang tidak wajar.

Selagi ia hendak bertanya, tiba-tiba terdengar Bwe Kim-soat menghela napas dan berucap lagi, "Sungguh aneh juga. Meski saat ini ilmu silatku sudah pulih, kurasakan tidak ada gunanya sama sekali. Sekarang aku tidak mempunyai hubungan budi dan benci lagi. Ah, sungguh hal ini jauh lebih baik daripada hati yang penuh dengan dendam dan kebencian."

Ia sebentar tampak gemas, sebentar sedih, lalu bersemangat, kemudian murung lagi. Sekarang ia bersandar di pohon dengan tenang sambil membelai rambutnya yang panjang, bahkan mulai bernyanyi kecil dengan senyum yang lembut. Melihat keadaannya yang tenang itu, agaknya dia sedang mengenang masa lampau, masa remaja yang bahagia.

Karena kelelahan dan terpengaruh oleh suara nyanyian yang merdu, Lamkiong Peng merasa mengantuk. Pada saat itulah, sekonyong-konyong terdengar suara orang mendengus. Lamkiong Peng tersentak sadar. Ketika ia memandang ke sana, dari luar hutan mendadak muncul sesosok bayangan. Serta-merta Bwe Kim-soat berhenti bernyanyi.

"Siapa?" bentak Lamkiong Peng.

Sekali berkelebat, dalam sekejap saja seorang pemuda berbaju abu-abu sudah berada di depan mereka. Pemuda itu tampak gagah namun bersikap angkuh, tertawa dingin, dan memandang hina ke arah Lamkiong Peng.

Dengan sorot mata tajam, pemuda berbaju abu-abu itu mengamat-amati Lamkiong Peng, lalu mengejek, "Hmm, bagus sekali! Murid kesayangan Sang Suhu, Sute yang selalu dipuji oleh Suheng-nya, ternyata orang seperti ini. Selagi nasib hidup atau mati gurunya belum diketahui, dia malah asyik mendengarkan perempuan bernyanyi di sini. Sungguh hebat!"

"Memangnya apa sangkut pautnya denganmu?" jawab Lamkiong Peng ketus.

Pemuda berbaju abu-abu itu terbahak-bahak. "Haha, engkau masih berani bersikap keras? Masa engkau tidak mengaku salah?"

"Hmm, memangnya siapa kau dan apa maksud kedatanganmu?" ejek Lamkiong Peng.

Pemuda itu melirik sejenak ke arah Bwe Kim-soat yang masih bersandar di pohon, lalu tertawa dan berkata, "Kau ingin tahu siapa aku dan apa maksud kedatanganku? Hahaha, untuk itu aku harus tahu dulu apakah kau mau mengaku salah atau tidak!"

"Hmm," ejek Lamkiong Peng. "Jika kedatanganmu ini untuk mencari perkara, ayolah, hunus senjatamu. Tidak perlu banyak bicara lagi."

Bwe Kim-soat tampak tersenyum. Agaknya dia membenarkan sikap tegas Lamkiong Peng ini.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment