Chapter 33
Suara tawa pemuda berbaju kelabu sontak terhenti. "Hm, memang kedatanganku adalah untuk mencari perkara!" katanya. Sekali ia berputar, saat berhadapan lagi, tangannya sudah memegang sebatang tombak bertangkai lemas.
Pedang Lamkiong Peng terselip pada tali pinggangnya. Sarung pedang sudah hilang jatuh ke jurang, maka pedang pemberian gurunya ini selalu dijaganya dengan baik.
Ia tersenyum dan menjawab, "Jika engkau memang sengaja mau mencari perkara, terpaksa kulayani beberapa gebrakan." Perlahan ia lalu melolos pedangnya. Ia tetap bersikap tenang namun mantap, emosinya tidak mudah terpancing. Ia angkat pedang sebatas dada dan siap tempur.
"Silakan!" katanya.
Agaknya sekarang dapat dilihatnya pemuda berbaju kelabu itu sebenarnya tidak bermaksud jahat, melainkan hanya terdorong oleh rasa dongkol dan sengaja merecokinya. Maka dalam tutur kata dan tindakan, dilayaninya dengan agak sungkan.
Segera pemuda berbaju kelabu memutar tombaknya sehingga menimbulkan sejalur cahaya perak.
Diam-diam Lamkiong Peng memuji kecepatan tombak lawan.
Segera pedangnya juga berputar.
Sekonyong-konyong pemuda berbaju kelabu bersuit terus mengapung ke udara.
Cahaya perak ikut mengambang ke atas.
Cepat Lamkiong Peng menyurut mundur selangkah, ujung pedang menyungkit ke atas.
Tubuh si pemuda berbaju kelabu menikung di udara. Tombak perak menusuk ke bawah secepat kilat, serupa bangau kelabu menerkam mangsa di daratan.
Hati Lamkiong Peng tergerak. "Thiankim-sin-hoat!" Cepat ia menggeser ke samping, berbareng pedang lalu menebas ke atas.
Sinar hijau menahan cahaya perak tombak lawan, tapi ujung tombak pemuda berbaju kelabu lalu menutul perlahan pada ujung pedang. "Tring", dengan daya pental itu ia melayang lagi ke udara.
Lamkiong Peng menatap tajam lawannya dan tidak memburunya, melainkan menunggu orang melayang turun ke bawah.
Padahal kalau dia mau melancarkan serangan susulan, tentu lebih untung daripada lawan yang terapung di udara.
Namun dia tidak berbuat demikian, melainkan berdiri tegak saja.
Ketika pemuda berbaju kelabu melayang turun, perawakannya yang kekar berdiri tegak tanpa bergerak. Hanya tombak perak yang dipegangnya tampak bergetar.
Pemuda berbaju kelabu ini tak lain tak bukan ialah Tik Yang. Sesudah mengubur mayat di rumah gubuk itu, ia lalu memburu ke bawah gunung. Ia ingin tahu tokoh macam apakah "Gote" yang menjadi sanjungan Liong Hui itu.
Ia berwatak lugu dan terbuka, tidak menaruh perhatian atas curiga orang lain kepadanya.
Tapi setiap pemuda umumnya tentu mempunyai sifat keangkuhan sendiri. Maka begitu berhadapan dengan Lamkiong Peng, lantas timbul hasratnya untuk menguji kepandaiannya.
Selain itu, ia pun rada heran mengapa orang bisa iseng mendengarkan nyanyian seorang perempuan cantik di sini.
Setelah berhadapan dengan Lamkiong Peng sekarang, timbul juga rasa sukanya. Keduanya berdiri berhadapan dan saling pandang.
Mendadak terdengar Bwe Kim-soat bersuara, "Eh, kenapa kalian berhenti!" Tanpa terasa pandangan kedua pemuda itu beralih ke arahnya.
Perlahan Bwe Kim-soat lagi berbangkit dengan gaya yang memikat.
Dengan langkah gemulai ia mendekati Tik Yang, lalu menegur, "Apakah engkau ini keturunan mendiang Kiueng Tik-locianpwe dari Thian-san?" Baru sekarang Tik Yang memerhatikan kecantikan orang yang luar biasa itu. Ia merasa silau sehingga seketika tidak mampu bersuara, melainkan hanya mengangguk perlahan saja.
Bee Kim-soat tertawa, katanya pula, "Tadi tentu engkau telah bertemu dengan Suhengnya?" Kembali Tik Yang melengak dan mengangguk lagi.
Siapa tahu Bwe Kim-soat lantas berkata pula dengan tersenyum, "Tentu disebabkan Suhengnya memuji dia di hadapanmu, karena penasaran, maka kau susul kemari untuk mengujinya, betul tidak?" Terbelalak mata Tik Yang, dengan heran ia mengangguk lagi.
Berturut ia tanya tiga kali dan setiap kali selalu tepat. Hal ini membuat Tik Yang selain terkesima atas kecantikannya, juga tercengang oleh kecerdasannya.
"Betul," akhirnya ia menjawab juga, "Memang betul tadi aku bertemu dengan Suhengnya. Saat ini dia masih di atas sana."
"Anda ini ...." Belum lanjut ucapan Lamkiong Peng, dengan tertawa Tik Yang berseru pula, "Cayhe Tik Yang, sungguh sangat menyenangkan dapat bertemu denganmu. Maaf atas tindakanku yang kasar tadi, kumohon diri sekarang, sampai berjumpa lagi kelak."
Begitu kata terakhir itu terucapkan, serentak ia pun sudah melayang pergi.
"Cepat amat!" gumam Lamkiong Peng memandangi bayangan orang yang cuma sekejap saja lantas menghilang di luar hutan sana.
Tiba-tiba Bwe Kim-soat tertawa dan berkata, "Apakah kau tahu sebab apa dia pergi dengan tergesa-gesa?" Belum lagi Lamkiong Peng menjawab, segera ia menyambung lagi, "Sebab dia tidak berani memandang lagi padaku."
Mendadak Lamkiong Peng membantah, "Engkau selalu memandang buruk sifat orang lain. Sebaiknya kau ikut bersamaku untuk menemui Suhengku, nanti baru engkau tahu di dunia ini masih ada lelaki sejati yang tidak mudah terpengaruh oleh kecantikanmu." Habis berkata Lamkiong Peng lantas mengangkat peti mati dan mendahului melangkah ke sana.
Sejenak Bwe Kim-soat tertegun. Tanpa terasa ia ikut melangkah ke sana dan berseru, "Hei ...."
"Ada apa?" tanya Lamkiong Peng tanpa menoleh, juga tanpa berhenti.
"Kan gurumu menyuruhmu mengikut dan membela diriku, kenapa sekarang kau tinggalkan aku dan pergi sendiri?"
Terpaksa Lamkiong Peng berhenti dan menoleh, "Bukankah kau pun ikut kemari, kenapa bilang kupergi sendiri?"
"Aku ... aku ...." mendadak Bwe Kim-soat mengentak kaki dan berteriak, "Tidak, aku tidak mau ikut ke atas lagi."
"Jika engkau tidak mau ikut, harap tunggu sementara di sini, peti ini juga kutaruh dulu di sini," kata Lamkiong Peng dengan tersenyum.
"Siapa bilang akan kutunggumu di sini?" jengek Kim-soat.
"Wah, jika begitu, lantas ... lantas bagaimana baiknya?"
"Kau yang ikut aku turun ke bawah gunung ...."
"Tentu saja aku akan ikut turun, cuma hendaknya engkau ikut ke atas dulu."
Bwe Kim-soat tampak mendongkol, katanya dengan gusar, "Kau ...." Tapi Lamkiong Peng lantas memotong, "Sudah sekian ribu hari engkau tersekap di dalam peti mati ini, sekarang engkau harus menghirup udara segar. Lihatlah, cuaca cerah, pemandangan indah, betapa menyenangkan bila dapat pesiar ke puncak Hoa-san yang termasyhur ini?"
Bwe Kim-soat termenung sejenak. Mendadak ia melayang lewat ke sana dan hinggap di depan Lamkiong Peng, serunya, "Baik, ikut padaku!" Akhirnya ia naik juga ke atas gunung.
Memandangi rambut orang yang panjang terurai dan kelakuannya yang kekanak-kanakan itu, hampir saja Lamkiong Peng tertawa geli.
Siapa tahu lantas terdengar Bwe Kim-soat mengikik tawa di depan, katanya, "Sekali tempo menurut perkataan orang terasa menarik juga, cuma ...." mendadak ia menoleh dan menegaskan, "Cuma satu kali saja."
"Baik, cuma satu kali saja," kata Lamkiong Peng sambil menahan rasa gelinya.
Sang surya baru saja terbit, puncak Hoa-san gilang-gemilang oleh sinar matahari pagi itu. Sampai rumah gubuk itu pun kelihatan kemilau tersorot oleh sinar sang surya.
Karena ingin lekas mengetahui keadaan di atas, langsung Lamkiong Peng menuju ke rumah gubuk ini, namun di sini tiada terdapat seorang pun.
"Mereka sudah pergi semua ...." ucapnya dengan kecewa.
"Nah, kan sia-sia kedatanganmu ini," ujar Bwe Kim-soat.
"Juga belum tentu," seru Lamkiong Peng. Mendadak ia menyodorkan peti mati kepada Bwe Kim-soat. Tanpa sempat berpikir, Kim-soat menerima peti itu. Segera pula Lamkiong Peng melompat ke sana, disingkapnya kasuran tua itu.
Bwe Kim-soat tidak melihat sehelai kertas kuning yang terselip di bawah kasuran. Sambil mengangkat peti ia menjengek, "Hm, memangnya di bawah kasur itu ada pusakanya?"
"Memang betul," kata Lamkiong Peng sambil membalik tubuh perlahan. Di tangannya tampak memegang sehelai kertas kuning. Dengan cermat ia membacanya. Perlahan air mukanya menampilkan rasa lega, tapi juga mengandung rasa heran.
Lalu kertas surat itu disimpan dalam baju.
Dengan sendirinya Bwe Kim-soat tidak dapat melihatnya. Ia berseru, "Hai!"
"Ada apa?" Lamkiong Peng berlagak bingung.
Kim-soat mendengus. Peti mati disodorkan kembali kepada Lamkiong Peng. Setelah diterima anak muda itu, serentak ia melompat keluar rumah gubuk.
Karena mendongkol, ia tidak menggubris Lamkiong Peng, tapi belum seberapa jauh tanpa terasa ia menoleh.
Dilihatnya anak muda itu mengikut kemari setelah memandang lukisan yang terukir di batu karang sana.
Sesudah agak dekat, dengan gemas Bwe Kim-soat berkata, "Kau mau bicara atau tidak?"
"Bicara apa?" tanya Lamkiong Peng.
"Apa yang tertulis pada kertas kuning itu?" teriak Kim-soat.
"O, kiranya kau pun ingin membaca surat ini, kenapa tidak kau katakan sejak tadi, tanpa bicara mana kutahu?" ujar Lamkiong Peng dengan tersenyum.
Dengan tangan kanan mengangkat peti, tangan kiri mengeluarkan surat tadi dan disodorkan padanya.
Segera Bwe Kim-soat mengambil surat itu dan dibaca. Ternyata isi surat hanya terdiri dari delapan huruf yang berbunyi: "Pesan dari Thian-te, Sin-liong sehat walafiat!"
"Sin-liong sehat walafiat!" Kim-soat berseru heran, "Masa Putliong belum mati?"
"Tak mungkin mati," ujar Lamkiong Peng dengan tersenyum.
Bwe Kim-soat memandang anak muda itu sekejap, katanya kemudian setelah berpikir, "Lantas apa artinya istilah Thian-te ini?"
"Tentu nama seorang Bu-lim-cianpwe (tokoh angkatan tua dunia persilatan), kecuali ini tidak mungkin ...."
"Memangnya siapa?"
"Pernah kau dengar ada tokoh Bu-lim yang disebut Thiante?"
"Bisa jadi ...." Mestinya Kim-soat hendak bilang Thian-te (Tuhan Allah), tentu sinonim dengan "Surgaloka", jadi cuma istilah olok-olok pihak musuh, atau mungkin juga untuk menipu mereka. Ia urung meneruskan ketika melihat Lamkiong Peng agak cemas, akhirnya ia menambahkan, "Thian-te ... kenapa sebelum ini tidak pernah kudengar nama ini?"
Lamkiong Peng diam saja tanpa bicara.