Chapter 34
Setelah berjalan lagi sebentar, tiba-tiba Kim-soat berkata, "Marilah kita menyusuri jalan kecil saja." "Kenapa?" tanya Lamkiong Peng.
"Begini, dandananku kan malu dilihat orang," ujar Kim-soat sambil membetulkan rambutnya.
Lamkiong Peng meliriknya sekilas. Kelihaian rambutnya yang panjang nan indah, wajahnya yang putih bersih, serta bajunya yang putih mulus sungguh luar biasa cantiknya. Masakan malu dilihat orang, sungguh aneh.
Namun ia pun tidak membantah dan mengikuti kemauannya. Menjelang senja, sampailah mereka di Limeong, sebuah kota besar ternama di daerah barat laut.
Limeong memang kota yang ramai. Dekat magrib, cahaya lampu sudah menyala di seluruh pelosok kota.
Seorang pemuda gagah cakap membawa sebuah peti mati, diiringi seorang perempuan mahacantik dengan dandanan khas, berjalan beriringan di tengah kota yang ramai ini. Kecuali orang yang berlalu-lalang ini orang buta semua, kalau tidak mustahil mereka tidak menarik perhatian khalayak ramai.
Dengan sendirinya Lamkiong Peng serbakikuk. Ia menunduk dan menggerundel, "Coba kalau kita melalui jalan besar, mungkin di tengah jalan sudah dapat menyewa kereta." Namun Bwe Kim-soat tetap tenang saja. Katanya, "Jika kau takut dipandang orang, bolehlah kita mencari tempat berhenti...." "Betul juga," kata Lamkiong Peng sambil memandang ke kanan dan ke kiri. Dilihatnya di samping sana ada sebuah restoran paling besar. Papan mereknya tertulis lima huruf besar dan berbunyi "Pengcip-lau", artinya restoran makan gembira.
Restoran ini memang mentereng dan berbeda daripada restoran lain. Tapi ia langsung menuju ke situ.
Namun sebelum tiba di depan pintu, seorang pelayan tinggi kurus buru-buru memapak kedatangan mereka. Bukan menyatakan selamat datang, melainkan merintangi jalan mereka.
"Ada apa?" tanya Lamkiong Peng dengan melengong.
"Kau mau apa?" pelayan itu balas bertanya dengan sikap sombong.
"Sudah barang tentu ingin makan minum," jawab Lamkiong Peng.
"Memangnya restoran kalian ini tidak terbuka untuk umum?" Pelayan jangkung itu mendengus, "Dengan sendirinya terbuka untuk umum, cuma tamu yang berkunjung kemari dengan membawa peti mati, jelas tidak kami terima." Baru sekarang Lamkiong Peng tahu duduk perkara. Ia tertawa dan berkata, "Tapi, peti ini kosong, kalau tidak percaya biar kubuka...." Selagi ia hendak menaruh petinya, siapa tahu pelayan itu lantas mendorongnya sambil membentak, "Kosong juga tidak kami terima." Meski kurus badannya, ternyata cukup bertenaga juga. Jelas pelayan ini bukan sembarangan pelayan.
Karena ramai-ramai itu, banyak orang lantas berkerumun.
Sedapatnya Lamkiong Peng menahan rasa dongkolnya. Ia coba menjelaskan, "Kukenal kuasa kalian, bolehkah memberi bantuan, biarlah kutaruh peti ini di luar...." "Kenal kuasa kami juga tidak boleh, lekas pergi, lekas...." seru si pelayan dengan gusar.
Agaknya Bwe Kim-soat juga dapat melihat Lamkiong Peng tidak mau menimbulkan perkara. Maka ia menarik lengan bajunya dan berkata, "Di sini tidak terima, biarlah kita cari yang lain saja." Tanpa rewel, Lamkiong Peng meninggalkan pelayan jangkung itu. Didengarnya pelayan itu masih mengomel, "Huh, tidak tanya-tanya dulu tempat apa ini dan siapa yang membuka restoran ini? Memangnya kau tahu siapa Kongcuya kami? Kalau berani bikin onar, mustahil tidak kupatahkan kakimu...." Kim-soat melirik sekejap. Dilihatnya Lamkiong Peng tetap tenang saja tanpa keki sedikit pun. Diam-diam ia merasa heran.
Siapa tahu, restoran berikutnya juga menolak tamu yang tidak diterima oleh Koai-cip-lau. Berturut-turut tiga restoran lain bersikap sama.
Namun ia tetap tenang saja.
Sesudah sampai di suatu gang dan mendapatkan sebuah rumah makan kecil yang mau menerima mereka, pemilik rumah makan itu sudah tua, tanpa tenaga pembantu. Ia menyiapkan mangkuk piring sendiri bagi tamunya sambil berkata, "Mestinya kami juga tidak berani menerima tamu yang ditolak Koai-cip-lau, tapi, mengingat tuan tamu masih muda dan membawa keluarga.... Ai, konon pemilik Koai-cip-lau mempunyai seorang Kongcuya yang berbudi luhur dan suka menolong sesamanya. Di segala pelosok terdapat sahabatnya. Bisa jadi yang tuan temui tadi ialah Yujiya yang kabarnya memang lebih galak daripada kuasanya." Begitulah sembari bicara, sebentar saja ia telah menyiapkan santapan sekadarnya. Tanpa banyak omong, Lamkiong Peng dan Bwe Kim-soat makan minum secukupnya.
Kemudian Lamkiong Peng minta pinjam alat tulis. Ia tulis sepucuk surat ringkas dan dilipat dengan baik, lalu menyuruh seorang anak penjual kacang di tepi jalan. Setelah diberi persen dan pesan seperlunya, anak penjual kacang itu lantas berlalu.
Bwe Kim-soat hanya tersenyum saja dan memandangnya. Ia tidak tanya apa yang dilakukannya itu, seperti sudah menduga apa yang bakal terjadi.
Mereka melanjutkan bersantap dengan tenang.
Tidak lama kemudian, mendadak dari luar berlari masuk seorang berbaju perlente, seorang lelaki setengah umur dengan muka putih. Begitu masuk, segera menjura kepada Lamkiong Peng.
Belum lagi orang ini sempat bicara, kembali dari luar berlari masuk seorang lagi dan langsung berlutut di depan Lamkiong Peng dan menyembahnya tanpa berhenti. Nyata orang ini "Yu-jiya", si pelayan jangkung Koai-cip-lau.
"Eh, ada apakah kalian ini?" ucap Lamkiong Peng dengan tersenyum.
Keadaan "Yu-jiya" itu sekarang sungguh harus dikasihani. Berulang menyembah dan minta ampun.
Lelaki perlente setengah umur itu pun tampak gugup, katanya, "Ampun, tak tersangka Kongcuya bisa... bisa berkunjung ke daerah barat laut sini."
Si kakek pemilik warung makan jadi melongo juga. Ia hampir tidak percaya kepada apa yang terjadi. Maklumlah, keluarga hartawan Lamkiong turun-temurun terkenal kaya raya, di mana-mana hampir terdapat perusahaan mereka, pegawainya tidak kurang dari puluhan ribu orang. Tapi tidak banyak yang kenal majikan muda mereka, Lamkiong Peng. Sekarang Lamkiong Peng hanya menulis secarik kertas dan dibubuhi tanda tangan, lalu kuasa Koai-cip-lau dan Yu-jiya tadi telah dibuat kelabakan setengah mati dan tidak tahu apa yang harus dikemukakan terhadap majikan muda, dan tidak tahu pula cara bagaimana harus minta ampun.
"Wah, tampaknya kita harus ganti tempat untuk makan lebih enak," kata Bwe Kim-soat dengan tersenyum. Lamkiong Peng juga tersenyum, ucapnya, "Bagaimana Yu-jiya, bolehkah kami membawa peti ini ke sana." Dengan sendirinya anak buahnya takkan membiarkan sang majikan muda mengangkat peti mati sendiri. Segera kuasa Koai-cip-lau menyela, "Silakan Kongcu pindah dulu ke tempat sendiri, sebentar hamba akan menyuruh orang mengangkat peti ke sana." Diam-diam ia pun heran untuk apakah majikan muda membawa sebuah peti mati kian kemari. Dengan sendirinya ia tidak berani bertanya.
Lamkiong Peng tersenyum. Ia mengeluarkan sebuah kantung sutera kecil dan dilemparkan ke atas meja, katanya kepada orang tua pemilik warung, "Inilah uang makan kami.... Satu-dua hari lagi tentu akan kuatur pekerjaan baik bagimu. Di bawah pimpinanmu, kuyakin Koai-cip-lau akan melayani setiap pengunjungnya dengan lebih ramah tamah." Tanpa menunggu terima kasih si orang tua, segera ia melangkah pergi bersama Bwe Kim-soat. Dengan sendirinya orang yang berkerumun juga lantas bubar.
Orang tua ini berdiri melengong di dekat pintu, rasanya seperti habis mimpi saja. Ia duduk di tepi meja dan membuka kantung kecil itu. Seketika cahaya gemerlap serupa sinar matahari menyilaukan matanya. Isi kantung adalah empat biji mutiara hampir sebesar jari. Rezeki nomplok ini sungguh datangnya terlalu mendadak, seketika ia terkesima.
Sekonyong-konyong terdengar suara keriat-keriut yang perlahan. Waktu ia menoleh, seketika ia melongo, darah serasa membeku. Tanpa terasa kantung sutera kecil itu tersampar jatuh ke lantai, keempat biji mutiara pun menggelinding keluar dan berhenti di samping peti mati yang tertaruh di pojok sana. Suara keriat-keriut itu rupanya suara terbukanya tutup peti mati. Dilihatnya seorang Tojin berjubah hijau dan berlumuran darah merangkak keluar dari dalam peti. Di bawah cahaya lampu yang redup, muka si Tojin kelihatan beringas menakutkan. Saking ngerinya, si kakek berdiri seperti patung dengan kaki gemetar. Belum lagi dia sempat menjerit, tahu-tahu Tojin berdarah itu menubruk tiba. Jarinya yang kuat serupa kaitan mencekik leher si kakek. Hanya sempat terjadi rontakan sedikit, lalu semuanya kembali sunyi lagi. Si kakek roboh terkulai.
Tojin itu celingukan kian kemari. Untung di situ tiada orang lain lagi, semuanya sudah ikut pergi menyaksikan kegantengan Lamkiong-kongcu yang termasyhur itu. Ia menghela napas lega dan buru-buru naik ke atas loteng, ia tukar pakaian milik si kakek, lalu dengan langkah agak sempoyongan ia menyelinap keluar warung makan itu, meninggalkan si kakek yang rebah di samping peti mati bersama empat biji mutiara.
"Putra pewaris keluarga Lamkiong datang ke Limeong," berita ini telah menggemparkan segenap lapisan masyarakat kota ini. Di Koai-cip-lau diadakan pesta penyambutan yang meriah, banyak tokoh dari berbagai golongan pun mohon bertemu. Tapi di tengah keramaian itu, diam-diam pemuda itu mengeluyur keluar dari Koai-cip-lau dan mendatangi lagi warung makan di gang kecil itu. Ia menjadi heran juga setiba di gang itu, di situ juga penuh berkerumun orang banyak. Cepat ia memburu ke situ dan menyelinap di tengah berjubel orang banyak untuk melongok apa yang terjadi, dengan sendirinya terlihat olehnya adegan yang mengenaskan itu. Jika seekor burung mati saja dipendam dengan baik oleh Lamkiong Peng, apalagi jenazah seorang tua yang kematiannya dapat diduga karena perbuatannya.
Maka esoknya berlangsunglah upacara penguburan yang ramai, iringan pelayat panjang serupa barisan. Sudah barang tentu semua itu berkat kehormatan Lamkiong-kongcu belaka. Kereta jenazah menuju ke tempat pemakaman di Se-an, sebuah kota kuno di sebelah barat Limeong.