Chapter 35
Tidak jauh setelah iringan kereta jenazah keluar dari Limeong, tiba-tiba dari arah depan berlari seorang lelaki kekar yang mengenakan pakaian berkabung. Setelah mendekat dan melihat Lamkiong Peng berada di samping kereta jenazah, ia segera berlutut dan menyembah.
Selagi Lamkiong Peng merasa bingung, lelaki berbaju putih itu berkata, "Hamba Gui Sing-in. Berkat bimbingan Kongcu, saat ini hamba memimpin perusahaan di Se-an."
"Baiklah, bicarakan saja nanti. Saat ini bukan waktunya untuk membicarakan urusan perusahaan," kata Lamkiong Peng.
Dengan gugup Gui Sing-in menyambung lagi, "Tetapi... tetapi hamba ingin melaporkan suatu peristiwa yang berkaitan dengan pemakaman ini."
Baru sekarang Lamkiong Peng merasa tertarik. Dengan cepat ia bertanya, "Memangnya peristiwa apa yang terjadi?"
Gui Sing-in melapor kembali, "Kemarin, ketika hamba mendapat kabar bahwa Kongcu bermaksud mengadakan pemakaman ini, hamba segera menyiapkan sesajian yang diperlukan untuk upacara sembahyangan di tengah jalan. Siapa yang menyangka, secara kebetulan di Se-an juga sedang berlangsung upacara pemakaman besar-besaran, sehingga hampir seluruh perlengkapan sembahyang seperti hiosoa, lilin, kertas sembahyang, dan sebagainya habis terjual. Beruntung, meski dengan harga berlipat, hamba masih bisa mendapatkan sedikit untuk keperluan sekadarnya."
"Sekadarnya pun sudah cukup, kalian sudah repot dibuatnya," ujar Lamkiong Peng.
"Terima kasih atas kebijaksanaan Kongcu," kata Gui Sing-in. "Karena khawatir kereta jenazah akan lewat terlebih dahulu, hamba sudah bersiap di sini sejak semalam dengan meja sembahyang. Menjelang subuh tadi, mendadak debu mengepul di kejauhan. Hamba mengira kereta jenazah telah tiba, namun ternyata yang muncul adalah beberapa penunggang kuda yang semuanya berseragam hitam, mengenakan ikat kepala hitam, bahkan segala perlengkapan yang mereka bawa pun serba hitam. Di pelana kuda mereka, kulihat ada panji merah kecil. Semuanya tampak kelelahan setelah menempuh perjalanan jauh; sikap mereka tampak gelisah dan tidak sabar."
Lamkiong Peng terperanjat. Ia membatin, "Mungkinkah para penunggang kuda itu adalah anak buah Suma Tiong-thian dari Ang-ki-piaukiok?"
Ia mendengar Gui Sing-in melanjutkan penuturannya, "Begitu hamba melihat penampilan kawanan penunggang kuda itu, hamba segera tahu bahwa mereka bukan orang baik-baik, maka kami berusaha menghindarinya."
Diam-diam Lamkiong Peng merasa kurang senang dengan komentar Gui Sing-in tersebut. Jika benar mereka adalah orang-orang dari Ang-ki-piaukiok, mengapa mereka dianggap bukan orang baik-baik?
"Tak disangka," sambung Gui Sing-in lagi, "begitu melihat rombongan hamba, kawanan penunggang kuda itu lantas melompat turun dan berlutut seraya berseru, 'Maaf, Loyacu, kami terlambat datang.' Bahkan ada di antaranya yang menangis sedih."
Lamkiong Peng tertegun. Ia heran apakah dugaannya keliru. Terdengar Gui Sing-in menuturkan pula, "Selagi hamba terheran-heran dan hendak bertanya mereka datang melayat siapa, kawanan penunggang kuda itu melihat tulisan pada meja sembahyang. Mereka menjadi gusar, bangkit berdiri, dan seketika mencaci maki."
"Tentu saja hamba tidak terima. Hamba katakan bahwa mereka yang salah lihat, mengapa malah menyalahkan orang lain? Rupanya mereka menjadi kalap dan tanpa bicara langsung menyerang. Kami tidak mampu melawan mereka. Sebagian saudara dihajar hingga babak belur dan sudah dibawa pulang untuk dirawat. Kawanan penunggang itu lantas pergi. Beginilah kejadiannya, mohon Kongcu memaafkan."
Lamkiong Peng memandang sekejap ke arah meja sembahyang di tepi jalan. Beberapa lelaki yang berlutut di sana tampak lebam dan bermata biru. Meski luka mereka tidak parah, namun cukup mengenaskan. Lamkiong Peng tetap tenang. Ia menyuruh Gui Sing-in dan kawan-kawannya bangkit. Upacara sembahyang penyambutan dilakukan dengan sederhana, lalu iringan kereta jenazah meneruskan perjalanan.
Tiba-tiba Lamkiong Peng berpikir, "Ang-ki-piaukiok adalah perusahaan tua yang cukup terkenal di dunia persilatan. Thiki (Tombak Baja Panji Merah) Suma Tiong-thian juga terkenal luhur budinya. Tidak mungkin anak buahnya berbuat sekasar itu; mungkin telah terjadi kesalahpahaman. Bukan mustahil pula beberapa pegawaiku ini yang bersikap kurang sopan sehingga memancing kemarahan orang lain."
Dia memang pemuda yang bijaksana. Segala sesuatu selalu ditinjau secara adil; sebelum mencela orang lain, ia memeriksa kesalahan pihak sendiri terlebih dahulu.
Kota kuno Se-an semakin dekat. Tiba-tiba pikirannya melayang lagi, "Kawanan penunggang kuda berpanji merah itu datang melayat secara terburu-buru, entah tokoh senior mana di daerah ini yang wafat. Akhir-akhir ini, berturut-turut beberapa jago tua telah meninggal dunia. Dunia persilatan semakin kekurangan tokoh bijaksana. Bukan mustahil kekacauan akan kembali timbul di dunia Kangouw." Perasaannya menjadi tertekan dan masygul.
Selagi melamun, tiba-tiba terdengar suara bentakan di depan. Dalam sekejap, beberapa orang muncul dan berdiri sejajar merintangi jalan kereta. Seorang pemimpin yang mengenakan baju merah namun bermuka pucat dan bermata tajam menatap Lamkiong Peng, lalu menegur, "Hendaknya Saudara berhenti dahulu!"
Terpaksa iring-iringan kereta berhenti, hanya suara musik sendu yang memilukan tetap bergema. Lamkiong Peng memandang orang-orang itu sejenak dan menjawab, "Ada petunjuk apa?"
Orang berbaju merah itu melirik iringan kereta jenazah di belakang Lamkiong Peng, lalu berkata, "Agaknya Andalah penanggung jawab rombongan ini?"
Lamkiong Peng mengiyakan.
"Jika demikian, ada sesuatu yang ingin kumohon..."
"Silakan bicara!"
"Mengenai iringan kereta jenazah kalian ini, dapatkah kalian memutar melalui pintu gerbang barat saja?"
Lamkiong Peng terdiam sejenak, lalu berkata, "Bukankah gerbang timur sudah dekat di depan?"
"Benar, di depan adalah gerbang timur," jawab orang itu dengan senyuman angkuh di sudut mulutnya. "Tetapi di gerbang timur saat ini, banyak kawan dari dunia persilatan sedang mengadakan upacara sembahyangan untuk menghormati seorang senior persilatan. Apabila Saudara tidak memutar ke gerbang barat, keadaan tentu akan menjadi kurang leluasa."
Kening Lamkiong Peng berkerut. "Jika aku mengubah arah perjalanan, hal itu juga akan membuat kami kurang leluasa. Jalan raya ini cukup lebar dan dapat dilalui siapa pun. Maafkan aku, permintaanmu tidak dapat kuturuti."
Orang berbaju merah itu tampak kurang senang. Ia memandang Lamkiong Peng sekejap, lalu berucap lagi, "Bagiku tidak masalah bila Saudara tidak mau berganti arah, tetapi para sahabat di sana rasanya sulit untuk diajak bicara..."
Ia berhenti sejenak sambil menengadah. Tanpa menunggu tanggapan Lamkiong Peng, ia melanjutkan, "Hendaknya kaupikirkan sendiri. Apabila yang meninggal bukan tokoh terkemuka, mustahil para sahabat di dunia persilatan mau mengadakan upacara penghormatan terakhir baginya di sini. Upacara sebesar ini tidak boleh diganggu oleh iringan kereta jenazah lain. Maka, kuharap sebaiknya Saudara mengambil jalan memutar saja."
Diam-diam Lamkiong Peng merasa kurang senang. Ia berkata, "Dunia persilatan mengutamakan keluhuran budi dan kesetiakawanan. Terlebih lagi, tindakan membela yang besar dan menindas yang kecil tentu tidak akan dibenarkan oleh mendiang tokoh besar yang kalian puja itu. Lagipula, jika bicara tentang nama dan kedudukan, peti mati di atas kereta kami ini pun tidak perlu mengalah dan mengambil jalan lain."
Orang berbaju merah itu menatap Lamkiong Peng sejenak, lalu mendadak tersenyum dan berkata, "Baiklah, jika Anda tidak mau menerima nasihatku, terpaksa aku tidak ikut campur lagi." Segera ia membalikkan tubuh dan melangkah pergi.
Tak terduga, seorang lelaki kekar di sampingnya tiba-tiba berteriak, "Yim-toako tidak mau ikut campur, biarlah aku, Sih Po-gi, yang turun tangan! Kukatakan padamu, wahai Sahabat, putarlah ke arah lain!"
Bersamaan dengan itu, sebelah tangannya mendorong pundak Lamkiong Peng.
Air muka Lamkiong Peng berubah. Dengan gesit ia menghindari tolakan orang tersebut, lalu membentak, "Selama ini kita tidak memiliki permusuhan, mengapa kau main kekerasan?"
"Hahaha!" lelaki itu terbahak. "Kukatakan sebaiknya kau memutar ke jalan lain, Sahabat Muda. Tentu Paman Sih tidak akan mempersulitmu."
Sambil berbicara, ia kembali mendesak maju. Tangannya meraih, hendak memegang bahu Lamkiong Peng. Namun, pemuda itu mendadak mengelak. Secepat kilat, sebelah tangannya balas meraih pergelangan tangan lawan. Dengan sekali sentakan, Sih Po-gi langsung terbanting roboh.
"Hm, main keroyok, apakah kalian tidak mengenal peraturan dunia persilatan lagi?" sindir Lamkiong Peng terhadap si baju merah.
"Hebat juga kepandaian Saudara Muda ini. Rupanya Anda juga orang dari kalangan kami," kata si baju merah. "Jika demikian, urusan menjadi lebih mudah dibicarakan. Biarkan aku memperkenalkan kedua tokoh kita ini..."
Lalu ia menunjuk kakek berbaju hitam di sebelah kiri yang bertubuh lebih tinggi dan berkata lagi, "Inilah salah satu dari Binyu yang dulu terkenal sebagai Thikiam, Tiangsun Tan."
Kakek berbaju hitam yang disebut namanya itu hanya berdiri diam saja.