Halo!

Han Bu Kong - Chapter 36

Memuat...
Han Bu Kong

Chapter 36

Maka si baju merah menunjuk lagi kakek yang lain, kata, "Dan ini dengan sendirinya adalah Kengkiam (si pedang penggetar sukma) Tiangsun Kong, Tiangsun-jisiansing." Lamkiong Peng memberi hormat dan merasa heran mengapa kedua pendekar pedang yang terkenal berwatak nyentrik ini juga bisa muncul di sini, untuk apa pula si baju merah menonjolkan mereka kepadanya? Didengarnya si baju merah berucap pula dengan tersenyum, "Diriku memang kaum jelata yang tidak bernama, tapi bila kedua Tiangsun-locianpwe ini pun jauh-jauh datang melayat ke sini, masakan berapa orang Kangouw yang mempunyai kehormatan sebesar ini, masakan saudara cilik ini tidak dapat menerkanya?"

Pada saat itu juga sebuah kereta kuda putih dengan tirai terurai telah melampaui iringan pelayat dan berada tidak jauh di belakang Lamkiong Peng, tapi anak muda itu belum mengetahui, ia sedang berpikir, "Ya, siapakah tokoh besar yang meninggal ini, sampai Binyu pun datang melayat?" Tanpa terasa ia tersenyum getir, lalu menjawab, "Agaknya pengalamanku terlalu dangkal sehingga tidak dapat menerkanya, mohon Anda sudi memberi penjelasan." Mendadak air muka si baju merah berubah serius dan khidmat, ujarnya dengan menyesal, "Kematian tokoh ini bagi orang Kangouw serupa dengan meninggalnya orang tua mereka, setiap orang merasa kehilangan sandaran.

Beliau tak lain adalah jago yang terkenal dengan pedang Yap-siangjiuloh, Putliong Liong-loyacu ...."

"Nah, sebagai sesama orang dunia persilatan, sekarang tentu saudara tidak akan keberatan untuk mengambil jalan lain, bukan?" Seketika Lamkiong Peng berdiri mematung dan tidak sanggup bersuara.

Si baju merah merasa heran juga melihat sikap Lamkiong Peng yang seperti orang linglung itu, tegurnya, "Eh, apakah saudara juga kenal Liong-loyacu ini ...." Mendadak Lamkiong Peng menjura padanya, kemudian tiba-tiba ia berlari ke arah Se-an secepat terbang.

Tapi si baju merah lantas mencegahnya, "Tidak perlu mengejarnya.

Tampaknya perguruan anak muda ini pasti ada keterkaitannya dengan Putsisin Liong, kepergiannya tentu tidak bermaksud jahat, bisa jadi akan ikut bersembahyang." Dalam pada itu Lamkiong Peng sedang berlari ke depan, dalam sekejap saja bayangan benteng kuno sudah terlihat di sana, di kaki tembok benteng tampak penuh orang berseragam hitam berdiri, semuanya memegang dupa dan mengantre untuk memberi penghormatan terakhir di meja sembahyang.

Seorang kakek tinggi besar tampak berdiri di tengah kerumunan dengan sikap khidmat, mendadak ia berteriak, "Selama hidup Putliong terkenal gagah perkasa, demi mengenang keperwiraannya, marilah kita bersorak lagi baginya!" Dan serentak terdengar orang bersorak gemuruh seperti suara yang didengar Lamkiong Peng dalam perjalanan tadi.

Dada Lamkiong Peng terasa bergejolak, entah duka atau gembira, tapi ia masih terus berlari menuju ke depan.

Belasan orang merasa kaget ketika mendadak seorang pemuda menyelinap di antara mereka, serentak mereka membentak, dan beberapa berusaha merintangi.

Namun segesit belut Lamkiong Peng terus menyelinap maju.

"Kurang ajar!" gerutu si kakek tinggi besar tadi demi melihat anak muda ini berani menerobos begitu saja di tengah suasana khidmat ini.

Selagi dia hendak memerintahkan orang membekuk Lamkiong Peng, tiba-tiba dua orang di sampingnya membisiki, seketika lenyaplah rasa gusarnya.

Dalam pada itu Lamkiong Peng sudah menerjang sampai di depannya dan memberi hormat kepada si kakek.

Mata si kakek berkilat-kilat, tanyanya, "Apakah kau ini murid kelima Putsisin Liong, Lamkiong Peng?" Suaranya lantang berkumandang sehingga dapat didengar orang banyak.

Tentu saja semua orang tercengang heran.

Meskipun ada di antaranya yang mengetahui dia adalah murid pewaris Putliong.

Lamkiong Peng sendiri juga terheran-heran, dari mana kakek ini dapat mengenalnya, namun lalu dijawabnya dengan hormat, "Wanpwe memang Lamkiong Peng adanya!" Alis si kakek terangkat, kata dengan bengis, "Jika benar kau anak murid Sin Liong, masakan tidak tahu kami sedang mengadakan upacara sembahyang bagi arwah gurumu? Mengapa engkau bertingkah sembarangan di sini dan mengganggu kekhidmatan suasana." Dengan penuh hormat Lamkiong Peng memberi hormat lagi, lalu berseru lantang, "Atas penghormatan para Cianpwe terhadap guruku, sungguh Wanpwe sangat berterima kasih dan tidak akan melupakan budi kebaikan ini.

Namun ...." Mendadak ia menyapu pandangannya ke seluruh hadirin, lalu berteriak lebih lantang, "Ketahuilah bahwa sesungguhnya guruku belum meninggal ...." Belum selesai ia berbicara, terdengarlah pekik orang banyak.

Mata si kakek tinggi besar melotot, ia pun tercengang, kata, "Putliong belum meninggal, katamu?" Lalu ia tiba-tiba membalikkan tubuh dan berteriak, "Li Sing, Ong Pun, kemari sini!" Ketika Lamkiong Peng memandang ke sana, terlihatlah dari belakang si kakek muncul dua orang berbaju hitam dengan perawakan kekar, ternyata kedua orang ini adalah penggotong peti mati dari Ciceng itu.

Rupanya sejak Lamkiong Peng meninggalkan mereka untuk mengikuti jejak si Tojin, Liong Hui, Ciok Tim, Kwe Giok-he dan Koh Ih-hong juga naik lagi ke puncak Hoa-san untuk mencari sang guru, karena menunggu sekian lama tidak ada kabar berita, kedua orang ini lantas turun sendiri ke kaki gunung.

Karena mengambil jalan besar, ketika sampai di kaki gunung, terlihatlah berbagai jago silat sedang menunggu di sana.

Rupanya berita tentang pertandingan antara Putliong dan Puthong di puncak Hoa-san telah tersiar sehingga menarik perhatian para jago silat itu untuk menyusul kemari dan ingin mengetahui hasil pertandingan itu.

Hanya saja mereka juga mengenal watak Putliong maka tidak ada seorang pun berani sembarangan naik ke puncak.

Karena itulah berita yang dibawa kedua orang penggotong peti mati itu sangat menggemparkan para jago Bu-lim itu. Berita itu menyebutkan bahwa Tan-hong sudah meninggal, Putliong juga terjebak tipu muslihat murid Tan-hong dan meninggalkan surat wasiat.

Kini murid-murid Sin Liong juga sudah tercerai-berai.

Meskipun berita tidak benar dan sedikit dilebih-lebihkan, namun dengan cepat lalu tersiar dan menggemparkan dunia persilatan, terutama beberapa provinsi di sekitar tempat kejadian.

Di daerah barat laut ini ada seorang tokoh persilatan dan juga kaya raya, namanya Wi Ki berjuluk Hui-goan atau si gelang terbang, karena pengaruhnya yang besar di wilayah ini, dia juga terkenal sebagai Sailiong atau si naga sakti daerah barat laut.

Orang Kangouw yang usil ada juga yang menyindirnya sebagai "naga gadungan", tapi Wi Ki tidak peduli, ia sendiri sangat kagum dan hormat terhadap Putliong.

Maka berita kemalangan Liong Po-si itu juga sangat mengejutkan dia.

Segera ia mengumpulkan para jago silat untuk mengadakan sembahyang bagi arwah Putsisin Liong di kota kuno Se-an ini.

Setiap jago silat yang mendengar berita itu juga serentak menyusul ke sini.

Yang menambah semarak upacara ini adalah hadirnya tokoh-tokoh yang biasanya hanya terdengar tapi jarang kelihatan, yaitu Banhiang Yim Hong-peng bersama Binyu, ketiganya juga ikut hadir.

Begitulah demi melihat kedua penggotong peti mati dari Ciceng barulah Lamkiong Peng tahu pokok permasalahan, rupanya memang telah terjadi salah paham, pikirnya, "Pantas berita kematian Suhu diketahuinya, pantas juga dia tahu namaku, rupanya berkat keterangan kedua orang ini." Dalam pada itu dengan gusar, Wi Ki kembali membentak Li Sing dan Ong Pun, "Berita tentang meninggalnya Putliong berasal dari kalian, bukan?" Li Sing dan Ong Pun mengiyakan sambil menunduk.

"Tapi mengapa Go-kongcu kalian menyatakan Sin Liong belum meninggal?" teriak Wi Ki.

Li Sing saling pandang sekejap dengan Ong Pun dan tidak dapat menjawab.

"Apakah kalian menyaksikan sendiri Sin Liong sudah meninggal?" desak Wi Ki.

Kepala kedua orang itu tertunduk semakin rendah, dengan takut dan gagap Li Sing menjawab, "Hamba... hamba... tidak..." "Budak kurang ajar!" bentak Wi Ki dengan gusar.

"Kalau tidak melihat sendiri, kenapa berani bicara sembarangan sehingga membuatku malu seperti sekarang ini?" Saking gusarnya, sebelah tangannya menyapu sehingga berbagai barang sesajen terjatuh.

Li Sing dan Ong Pun tetap menunduk dengan muka pucat.

"Locianpwe jangan marah dulu," seru Lamkiong Peng, "hal ini juga tidak dapat menyalahkan mereka." "Bukan mereka yang disalahkan, memangnya salahku?" kata Wi Ki dengan gusar.

"Bila Putliong datang nanti, bukankah aku yang akan dituduh sengaja mengutuki dia supaya lekas meninggal?!" Meskipun kakek ini sudah lanjut usia, tapi wataknya masih keras dan pemberang, baru sekarang Lamkiong Peng tahu rupanya orang tua inilah si gelang terbang Wi Ki, tampaknya memang agak mirip gurunya, pantas orang Kangouw memberi julukan sebagai si naga sakti dari barat laut, hanya saja tabiatnya tidak sehalus sang guru.

Maka ia berkata pula, "Peristiwa ini agak panjang untuk diceritakan, Wanpwe sama sekali tidak bermaksud menyesali tindakan Locianpwe ini, sebaliknya Wanpwe merasa berterima kasih atas maksud baik Locianpwe." Wi Ki mengelus jenggotnya, ia memandang Lamkiong Peng sejenak, lalu ia berpaling kepada Li Sing dan Ong Pun, serunya sambil memberi isyarat, "Baiklah, boleh kalian pergi!" Cepat kedua orang itu memberi hormat, lalu mengundurkan diri.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment