Halo!

Han Bu Kong - Chapter 37

Memuat...
Han Bu Kong

Chapter 37

Saat Lamkiong Peng hendak berbicara, tiba-tiba terdengar suara tawa dari belakang, "Haha, kiranya saudara ini adalah murid kesayangan Sin-liong, sungguh beruntung sekali begitu menginjak daerah Tionggoan segera dapat bertemu dengan kesatria muda perkasa seperti ini...." Lamkiong Peng terkejut dan menoleh, terlihat si baju merah tadi telah muncul kembali dengan memegang kipas lipat. Kali ini ia datang bersama dua orang muda-mudi, yaitu Toaso dan Samsuheng, yang ternyata adalah Kwe Giok-he dan Ciok Tim.

Sambil menggoyangkan kipasnya, si baju merah kembali berkata sambil tertawa, "Yang lebih menggembirakan, orang bersuku Yim ternyata secara tidak sengaja dapat kutemui pula kedua murid kesayangan Sin-liong yang lain. Nah, inilah, siapa mereka berdua, ini tentu kalian sudah tahu!" Kemunculan Kwe Giok-he dan Ciok Tim sontak menimbulkan kegemparan.

Wi Ki lantas menyapa, "Aha, tak kusangka Yim-tayhiap membawa datang lagi dua orang murid kesayangan Sin-liong.... Ah, kalian tentulah Ci-hausiangkiam yang akhir-akhir ini sangat terkenal di dunia persilatan." Ciok Tim tampak canggung, sedangkan Giok-he memberi hormat dan menjawab, "Terima kasih atas pujian Locianpwe...." Lamkiong Peng pun ikut bicara, "Inilah Toaso kami dan yang itu Samsuheng, Ciok-suheng." "O, rupanya inilah nyonya si lelaki baja yang termasyhur itu," seru Wi Ki tertawa. "Nyata setiap anak murid Sin-liong memang berbeda dari yang lain." "Ah, betapa pun kami tidak dapat membandingkan Lamkiong-sute," ujar Giok-he tersenyum.

Lamkiong Peng heran mengapa hanya Giok-he dan Ciok Tim saja yang muncul di sana, lalu ke mana perginya Liong Hui dan So-so? Belum sempat ia bertanya, Wi Ki berkata lagi sambil terbahak, "Baiklah sekarang ingin kutanya kepada kalian, jika Sin-liong belum meninggal, ke mana perginya beliau sekarang?" Lamkiong Peng termenung mencari alasan untuk menjawab. Tiba-tiba Kwe Giok-he mendahului bicara, "Suhu memang sangat mungkin masih hidup dengan baik, hanya saja di mana jejak beliau sekarang kami pun tidak tahu." Wi Ki terbelalak heran.

Giok-he melanjutkan, "Semalam kami sibuk mencari jejak Suhu di atas gunung, kami juga mengkhawatirkan keselamatan Gosute...." "O, jadi dia tidak berada bersama kalian?" tanya Wi Ki dengan kening berkerut. Giok-he mengangguk sambil menghela napas perlahan. Wi Ki tampak kurang senang, lalu menegur Lamkiong Peng, "Jika jejak gurumu belum diketahui, bukankah seharusnya kau mencari tahu keselamatannya? Sebaliknya kau sibuk mengurusi orang mati di sini. Hm, murid macam apakah kau ini?" Lamkiong Peng terdiam, ia sulit memberikan penjelasan, terutama yang menyangkut nama baik sang guru. Namun, Giok-he berkata, "Usia Gosute masih muda, pula...." ia menghela napas, seolah memaklumi tindakan sang Sute. Wi Ki mendengus dan tidak lagi memandang Lamkiong Peng, "Si lelaki baja Liong Hui pun sudah lama kudengar namanya, mengapa tidak kelihatan juga?"

Han Bu Kong Jilid 7

Karena merasa tidak bersalah, dada Lamkiong Peng lapang. Ia tidak menghiraukan sikap Wi Ki dan ucapan Kwe Giok-he yang negatif. Ia berpikir, "Memang ingin kutanya keadaan Liong-toako. Kebetulan sekarang orang tua ini telah mendahului bertanya bagiku." Melihat kecanggungan di antara anak murid Putliong itu, tokoh kosen dari luar perbatasan, Banhiang (meninggalkan nama harum beribu li) Yim Hong-peng, diam-diam menaruh perhatian. Ia bertanya-tanya apakah di antara anak murid Sin-liong ini terjadi pertentangan atau persaingan, mengapa ketiganya tidak memiliki kesatuan ucapan dan perbuatan.

Giok-he menjawab sambil menghela napas, "Toako bersama simoay berjalan di belakang, kukira sebentar dapat menyusul kemari." Ucapan Giok-he yang jarang terjadi sebelumnya membuat Lamkiong Peng heran dan ragu. Dengan kening berkerut, Wi Ki hendak bertanya lagi ketika sebuah kereta kuda kecil bertirai kain putih muncul di tengah kerumunan. Penumpang kereta tidak terlihat, hanya sebuah tangan putih halus terjulur keluar dari balik tirai memegangi tali kendali. Air muka Lamkiong Peng sedikit berubah.

Giok-he memandangnya sejenak, lalu tersenyum, "Eh, adik keluarga manakah penumpang kereta ini? Apakah Gote kenal dia?" Belum selesai ucapannya, tirai kereta tersingkap, memperlihatkan seorang perempuan yang sangat cantik duduk di dalamnya. Ia menyapu pandang sejenak ke arah semua orang, lalu menatap Lamkiong Peng dan bertanya, "Hei, sudah selesai belum percakapan kalian?" Tentu saja semua terpesona oleh kecantikan perempuan itu. Seketika, beratus pasang mata terpusat padanya. "Ah, tadi kukira Gote pergi ke mana, kiranya...." Giok-he tersenyum, lalu menyambung, "Wah, alangkah cantiknya adik ini. Sungguh engkau sangat hebat, Gote, baru satu hari sudah berkenalan dengan nona secantik bidadari, tampaknya kalian sudah sedemikian mesranya."

Tiba-tiba Wi Ki mendengus, "Yim-taihiap, Giok-siauhiap, hendaknya nanti kalian sudi mampir ke kediamanku untuk sekadar berbincang-bincang lagi. Sementara itu, kumohon diri terlebih dahulu." Lalu ia memberi hormat kepada para hadirin dan berseru lantang, "Atas kesudian para hadirin berkunjung kemari dari jauh, marilah suka mampir juga ke dalam kota untuk minum beberapa cawan sekadar pelepas lelah." Setelah berbicara, ia melangkah pergi di tengah kerumunan orang banyak. Para hadirin pun bubar dan beramai-ramai masuk ke kota Se-an.

Menghadapi sikap dingin orang, hati Lamkiong Peng merasa sedikit penasaran, namun sulit untuk memberi penjelasan. Giok-he tersenyum senang. Setelah Wi Ki pergi jauh, perlahan ia mendekati kereta, menyapa, "Siapakah nama adik yang terhormat ini? Ada keperluan apa kiranya engkau mencari Gote kami?" Bwe Kiam Soat duduk diam saja di tempatnya dan memandangnya dengan acuh tak acuh. Lamkiong Peng cepat mendekat dan memperkenalkan mereka, "Inilah toaso kami dan nona Bwe ini....." Ia tidak dapat menjelaskan asal-usul Bwe Kiam Soat. "O, kiranya nona Bwe, sungguh kami ikut bergembira Gote dapat berkenalan dengan nona Bwe," kata Giok-he tersenyum.

Tiba-tiba Kiam Soat mendengus, "Hm, si kakek pergi begitu saja, tentu kau sangat senang?" Giok-he terdiam. Betapapun Lamkiong Peng tetap menghormati sang toaso, ia tahu watak Bwe Kiam Soat. Ia menjadi serba salah melihat ketidakcocokan di antara keduanya. Cepat ia menyela dengan urusan lain, bertanya, "Toaso, di mana toako?" Tiba-tiba Giok-he menoleh dan menjawab ketus, "Tanyakan saja kepada simoay." Lamkiong Peng terdiam, heran mengapa orang menjawab dengan cara begitu.

Saat itu juga, dua sosok bayangan melayang tiba dan berhenti di depan kereta. Mereka adalah dua jago pedang Kong-tong-pai, Bin San Jiyu. Dengan sorot mata tajam mereka mengawasi Bwe Kiam Soat. Setelah sekian lama, Tiangsun Kang berucap, "Sudah belasan tahun, tak kusangka sekarang dapat melihat lagi seraut wajah ini." Tiangsun Tan lantas bertanya, "Apakah nona bersuku Bwe?" Lamkiong Peng terkesiap, heran mengapa orang dapat mengenal Bwe Kiam Soat. Ternyata Kiam Soat lantas mengangguk.

Airmuka kedua saudara Tiangsun berubah masam. Dengan jari agak gemetar, Tiangsun Kang menuding dan membentak, "Bwe.... Bwe Kiam Soat.... turun sini!" Giok-he terkejut, ia menoleh memandang Lamkiong Peng dan bertanya, "Masa dia Leng-hiat Huicu Bwe Kiam Soat?" Lamkiong Peng menjadi gugup. Belum lagi ia bersuara, Bwe Kiam Soat telah menjawab dengan santai, "Siapa Bwe Kiam Soat dan Bwe Kiam Soat itu siapa?"

Kedua bersaudara Tiangsun saling pandang sejenak. Timbul keraguan dalam diri mereka. Belasan tahun lalu, mereka pernah dihina dan dipermainkan Leng-hiat Huicu Bwe Kiam Soat, dendam itu belum lenyap. Namun, setelah belasan tahun, mustahil wajah Bwe Kiam Soat sama sekali berubah? Tiba-tiba Yim Hong-peng menyela sambil tersenyum, "Kong-jiok Huicu sudah termasyhur sejak belasan tahun yang lalu, sedangkan nona ini paling banyak baru berusia 20-an. Apakah kedua Tiangsun-heng tidak salah mengenalnya?" Kening kedua Tiangsun bersaudara juga berkerut. Tiangsun Kang berkata tergegap, "Ya, kami pun mendengar Bwe Kiam Soat sudah mati di bawah pedang Putliong. Soalnya orang ini...... orang ini mengaku bersuku Bwe, wajahnya juga mirip......" Tiangsun Tan lantas menegaskan, "Kau pun bersuku Bwe, apakah tidak ada hubungan dengan Bwe Kiam Soat?" "Di dunia ini ada berjuta orang bersuku Bwe, apakah semua orang bersuku Bwe pasti ada sangkut-pautnya dengannya?" jawab Kim Soat dengan acuh tak acuh.

Melihat kedua bersaudara Tiangsun dalam keadaan salah, Yim Hong-peng cepat menimpali, "Di dunia ini memang banyak orang yang sukunya sama dan juga bermuka mirip. Pantas juga bila kedua Tiangsun-heng salah mengenal nona. Harap nona jangan marah." "Ah, mana kuberani marah kepada kaum ksatria besar, pendekar pedang ternama seperti kalian ini?" jawab Kim Soat ketus. Yim Hong-peng terdiam canggung.

Dalam pada itu, Bwe Kim Soat telah menurunkan tirai keretanya. Diam-diam Giok-he merasa iri melihat kecantikan Bwe Kim Soat dan ketajaman mulutnya. Tiba-tiba ia bertanya pada Lamkiong Peng, "Gote, apakah sekarang engkau akan pulang ke Ciceng?" "Tentu saja bila urusan di sini sudah beres...." Tiba-tiba Lamkiong Peng teringat janji tiga bulan lagi untuk bertemu Yap Man-jing di Hoa-san guna menunaikan tugas yang belum selesai bagi Suhu. Ia juga segera teringat pada Bwe Kim Soat yang perlu "perlindungan", seketika ia menjadi ragu. "Toako belum kelihatan menyusul tiba, akan lebih baik bila kau ikut dalam perjalanan kita," ujar Giok-he.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment