Halo!

Han Bu Kong - Chapter 38

Memuat...
Han Bu Kong

Chapter 38

"Tapi... tapi tiga bulan lagi..." Belum selesai ucapan Lamkiong Peng, tiba-tiba suara Bwe Kim-soat yang ketus menegurnya, "Hei, lekas kau selesaikan urusan pemakaman orang tua itu, aku masih harus pesiar ke Kanglam." Giok-He mendengus, "Kau mau pergi ke Kanglam boleh silakan." "Tapi mungkin aku pun perlu pergi ke sana," tukas Lamkiong Peng.

"Apa katamu?! Masa kau tidak menuruti kataku? Toako tidak di sini, akulah Toasomu!" omel Giok-He dengan tidak senang.

Ia iri terhadap kecantikan dan kecerdasan Bwe Kim-soat. Sungguh ia khawatir Lamkiong Peng didampingi oleh perempuan seperti ini, sebab hal ini tentu akan memengaruhi rencananya, bahkan akan terbongkar rahasia pribadinya. Maka, secepatnya ia hendak menahan pemuda itu agar tetap bersamanya.

Lamkiong Peng menjadi serbasalah. "Kehendak Toaso seharusnya kuturuti, cuma..." Pada saat itulah seorang lelaki berbaju hitam berlari datang dan meminta petunjuk, "Kongcu, apakah kereta jenazah langsung menuju ke makam?" Lamkiong Peng mengiyakan. Kesempatan ini lantas ia gunakan sebagai alasan, katanya kepada Giok-He, "Siaute perlu mengurus upacara pemakaman lebih dulu, biarlah nanti kita berunding lagi." Lalu ia memberi hormat dan mohon diri kepada Yim Hong-Peng dan segera berlari pergi bersama lelaki berbaju hitam itu.

Yim Hong-Peng dan Binyu juga lantas menuju ke Se-an.

Sedangkan kereta kecil yang ditumpangi Bwe Kim-soat lantas mengikuti Lamkiong Peng.

"Toaso, marilah kita mencari... mencari Toako dulu," kata Ciok Tim tiba-tiba.

"Hah, barangkali kau rindu kepada Simoay?" ejek Giok-He.

"Anak baik, ikutlah aku. Sekarang kita mampir dulu ke tempat Wi-jitya tadi, kau kira Gote nanti juga akan pergi ke sana." "Tapi..." Ciok Tim tergagap, tapi akhirnya mereka pun menuju Se-an.

Dalam pada itu cuaca telah mendung, hujan gerimis mulai turun.

Sayup-sayup terdengar suara musik yang sendu di kejauhan.

Se-an, kota kuno yang sekelilingnya hanya gurun tandus belaka memang jarang diguyur hujan. Tapi di bawah hujan di kota kuno ini pun tidak menunjukkan kesuraman, sebaliknya menimbulkan gairah hidup. Bekas kota raja memang sudah tinggal sisa-sisanya saja, terutama bangunan megahnya sudah banyak yang berubah menjadi tumpukan puing. Hanya kedua menara yang disebut Tai-Gan dan Siau-Gan (menara belibis besar dan kecil) masih berdiri tegak di bagian barat kota seolah-olah tetap memamerkan kejayaan masa lampaunya.

Tidak jauh dari menara Tai-Gan terdapat perkampungan yang menghijau permai, itulah tempat kediaman Sailiong Wi-jitya Wi Ki. Selewatnya perkampungan ini, tidak sampai satu "li" akan sampai di jalan raya berbatu yang menembus ke gerbang timur kota.

Di bawah hujan rintik-rintik, tiba-tiba dari luar kota berlari datang sebuah kereta dan lima penunggang kuda. Tabir kereta tertutup. Penunggang kudanya adalah sekelompok tojin (imam agama Tao) yang rambutnya disanggul di atas kepala dan diberi tusuk konde hitam, berjubah kelabu dengan lengan jubah yang longgar. Keempat penunggang kuda yang mengawal di samping kereta adalah tojin paruh baya bermuka pucat meski mata bersinar tajam. Pedang tergantung di pinggang. Kelompok tojin ini mungkin jarang terkena sinar matahari, raut wajah mereka menampilkan rasa keprihatinan. Seorang lagi yang di depan kereta berwajah kurus kering, rambut beruban, tidak membawa senjata, baju longgar. Tangannya yang memegang tali kendali justru putih bersih seperti tangan seorang perempuan.

Begitu masuk kota, kelima penunggang kuda dan kereta langsung menuju ke Bo-Liong-Ceng, perkampungan naga sakti tempat kediaman Wi Ki. Melihat gelagat rombongan orang ini, seolah-olah ada keperluan mendesak.

Sementara itu suasana Bo-Liong-Ceng yang dikelilingi pepohonan itu tampak sangat ramai. Di halaman depan yang biasanya digunakan sebagai lapangan latihan penuh dengan ratusan meja berderet. Hampir setiap meja sudah siap beberapa macam santapan lezat seperti babi panggang, kambing guling, angsa bakar, itik dan ayam panggang. Sudah barang tentu tidak ketinggalan puluhan guci arak tersedia. Di atas meja berserakan ratusan pisau belati yang gemerlapan di samping mangkuk dan piring. Sedangkan para tamu bergerombol di sana-sini asyik mengobrol.

Sailiong Wi-jitya muncul dari ruangan tengah. Ia berdiri di atas undakan dan berseru lantang, "Banyak terima kasih atas kesediaan para hadirin mengunjungi tempatku yang sederhana ini. Orang bermarga Wi ini tidak dapat melayani satu per satu. Terpaksa sekadar menghidangkan apa yang tersedia di sini. Hendaknya hadirin makan dan minum dengan bebas dan santai, tidak perlu sungkan, anggap saja seperti di rumah saudara sendiri. Ayolah silakan!" Di tengah sorak gemuruh orang banyak, Wi Ki mendahului menghampiri meja. Disambarnya sebilah belati berkilauan. Segera ia merobek paha kambing guling, mengiris sepotong, dan menadahnya dengan sebuah piring. Serentak tamu-tamu lain mengantre menirukan cara bersantap yang bebas dan santai ini.

Di antara para tamu tampak Banhiang Yim Hong-Peng. Tetap dengan kipas lipatnya, di depannya berdiri Kwe Giok-He dan Ciok Tim. Dengan membawa guci arak, Wi Ki mendekati Yim Hong-Peng. Sapanya sambil tertawa, "Yim-taihiap, agaknya tamu dari jauh yang langka sepertimu ini harus minum sampai mabuk bersamaku." Yim Hong-Peng mengucapkan terima kasih. Jawabnya sambil mengernyitkan dahi, "Nanti dulu! Tamu dari jauh yang langka kukira bukan hanya diriku saja. Agaknya kita harus menunggu sebentar lagi." "Memangnya..." selagi Wi Ki menyatakan keheranannya, mendadak Yim Hong-Peng mundur beberapa langkah.

Pada saat itulah dari luar pagar halaman tiba-tiba melayang turun sosok bayangan kelabu. Muncul seorang tojin berambut putih dan berwajah kurus, berjubah kelabu longgar. Serentak Wi Ki berseru terkejut, "Hei, Sisuheng (kakak seperguruan keempat), mengapa engkau datang juga?!" Dengan sorot matanya yang tajam, tojin ubanan itu menatap Yim Hong-Peng. Ucapnya, "Lihai benar mata dan telinga sahabat ini!" "Haha, bagus sekali atas kedatangan Sisuheng ini, suasana pasti akan bertambah meriah," kata Wi Ki dengan tertawa. "Agaknya Sisuheng belum mengenal pendekar dari luar perbatasan kita, Banhiang Yim Hong-Peng." "Oh, kiranya Yim-taihiap," ucap si tojin dengan dingin.

Hati Giok-He tergetar. Ia tahu tojin ini adalah ketua resmi Cong-Lam-Pai. Dengan tertawa, Yim Hong-Peng lantas menjura seraya menyapa, "Ah, sungguh beruntung sekali hari ini dapat bertemu dengan Cong-Lam-Kiam-Khek Lu Locianpwe." Tojin ini memang betul ketua Cong-Lam-Pai bernama Lu Thian-An. Sejak Cong-Gan (ketiga belibis dari Cong-Lam-San) gugur dalam pertandingan di Wi-San, murid keempat angkatan ketujuh Cong-Lam-Pai ini lantas diangkat sebagai ketua. Wi Ki sendiri adalah murid ketujuh, sebab itulah orang kangouw suka menyebutnya sebagai Wi-jitya, atau Tuan Ketujuh.

Sudah sekian tahun Thian-An Totiang tidak meninggalkan Cong-Lam-San. Sekarang dapat berjumpa, tentu saja Wi Ki sangat senang. Serunya, "Sisuheng, sungguh sangat kebetulan kedatanganmu ini. Di sini saat ini hadir sekian banyak ksatria. Inilah dua pendekar muda, Nona Kwee dan Ciok Siauhiap, keduanya adalah murid kesayangan Put Liong." Giok-He dan Ciok Tim memberi hormat. Sebaliknya, Giok-Jiu-Sun, yang tak lain adalah Thian-An Totiang, hanya memberi salam dengan mengangkat sebelah tangannya. Melihat tangan orang yang putih seperti pualam itu, diam-diam Giok-He membatin, "Pantas ia berjuluk Giok-Yang (si imam sakti bertangan kemala)." Sedangkan Ciok Tim juga berpikir bahwa tojin ini terlalu angkuh.

Selagi Giok-He hendak menyapa pula, mendadak Thian-An Totiang membalik ke sana dan menarik tangan Wi Ki yang hendak melangkah keluar. "Hei, kau mau ke mana?" "Hendak kuberitahukan kepada hadirin yang lain bahwa Ciangbun Sisuheng hadir juga di sini." "Nanti dulu," ujar Thian-An. "Memangnya ada apa?" tanya Wi Ki heran. "Apakah kau tahu sebab mengapa mendadak kutinggalkan Cong-Lam-San dan buru-buru menuju ke sini, tanpa memberitahumu, lalu masuk ke sini dengan melintas tembok belakang?"

Hati Wi Ki tergerak oleh ucapan Thian-An ini. "Ya, karena bergembira atas kedatangan Sisuheng sehingga tidak kupikirkan hal-hal ini." "Ah, usiamu makin bertambah tua, tapi sifatmu yang ceroboh tampaknya belum lagi berubah," ujar Thian-An dengan menghela napas. Mendadak nada bicaranya berubah menjadi prihatin, "Apakah kau tahu bahwa saat ini diketahui Leng-Hiat Huicu masih hidup di dunia ini dan kini mungkin sudah berada di Kota Se-San."

Terkesiap hati Wi Ki. Air mukanya berubah. Guci arak yang dipegangnya terlepas dan pecah berantakan dengan arak memuncrat mengotori jubahnya. Hati Ciok Tim dan Giok-He juga terperanjat. Meski Yim Hong-Peng kelihatan tenang saja, tetap saja sorot matanya menampilkan rasa terkejut.

"Dari mana Sisuheng memperoleh berita ini? Apakah kabar ini dapat dipercaya?" tanya Wi Ki. Thian-An Totiang berpaling dan tanpa bicara ia menuding ke sana. Waktu semua orang ikut memandang ke arah sana, tampaklah empat tojin berjubah kelabu memapah seorang lelaki yang berwajah pucat seperti orang yang baru sembuh dari sakit parah. Dibantu oleh dua centeng, ia sedang masuk dengan perlahan.

"Siapa orang ini?" tanya Wi Ki dengan kening berkerut. Giok-He dan Ciok Tim sama terkejut melihat orang ini. Diam-diam keduanya saling lirik sekejap. Kiranya orang yang kelihatan sakit parah ini adalah si tojin misterius yang merampas peti mati kayu cendana di puncak Hoa-San itu.

"Siapa orang ini? Masa kau tidak mengenalnya lagi?" kata Thian-An, yang aslinya bermarga Lu. Wi Ki mencoba mengamati lebih jelas. Setelah dekat, mendadak ia menjerit, "Hei, Yap... Yap Liu Ko!..." Memang benar, tojin berjubah hijau, alias Kiam-Khek Kongcu, ini asalnya bernama Yap Liu Ko, saudara sepupu Yap Man Jing. Dengan langkah terhuyung, ia berlari dan menubruk ke dalam rangkulan Wi Ki sambil berseru, "Oh, Jitko, sungguh seperti... seperti dalam mimpi saja siaute dapat bertemu denganmu lagi." Baru berucap sampai di sini, ia langsung jatuh pingsan.

Seketika para hadirin tercengang.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment