Halo!

Han Bu Kong - Chapter 39

Memuat...
Han Bu Kong

Chapter 39

Dengan mata melotot, Wiki berseru, "Sesungguhnya apa yang terjadi? Liuko, kenapa kau berubah begini? Hampir tidak kukenal lagi."

Lu Thian-an menghela napas, "Memang sudah sepuluh tahun kita tidak bertemu dengannya. Sampai lohor kemarin, mendadak ia lari ke atas gunung dengan berlumuran darah. Dari ceritanya, baru kuketahui Leng-hiat Huicu belum mati, bahkan dia..." Ia melirik Ciok Tim dan Giok-he sekejap, lalu menyambung, "Dia tertusuk oleh pedang murid Putliong. Untung diberi pertolongan oleh orang kosen, kalau tidak, saat ini mungkin mayatnya sudah membusuk di puncak Hoasan dan rahasia dunia persilatan ini pun tak diketahui lagi oleh orang."

Wiki tampak bingung, tanyanya sambil memandang tajam ke arah Giok-he, "Mengapa dia dilukai murid Putliong?"

Giok-he berlagak berpikir dengan heran, sejenak kemudian ia bergumam, "Apakah mungkin perbuatan Gote? Sungguh tak disangka dia dapat berbuat seceroboh ini."

"Gote siapa? Sekarang dia berada di mana?" tanya Lu Thian-an.

"Ya, pasti dia, Lamkiong Peng," ucap Wiki dengan gemas. "Ai, tak disangka murid kesayangan Putliong bisa bertindak demikian."

"Kami pun tidak tahu seluk-beluknya. Cuma kami tahu Gote berada bersama seorang perempuan she Bwee, juga Bihiap telah..." Belum juga lanjut ucapan Giok-he, segera Wiki memotong, "Jadi perempuan di dalam kereta itulah maksudmu? Ah, kenapa tidak sempat kulihat jelas dia..."

"Menurut pendapatku, mungkin dia memang menguasai ilmu awet muda," ujar Giok-he.

"Wah, tentu juga kungfunya telah maju lebih pesat," tergetar juga hati Wiki. Mendadak ia berseru, "Eh, di mana kedua Tiangsun bersaudara? Yim Taihiap, ke mana Tiangsun Siang-hiap?"

Yim Hong-peng sedang termenung. Ia mengangkat kepala dan menjawab dengan bimbang, "Tadi masih di sini, entah ke mana sekarang?" Tampaknya dia juga menyembunyikan perasaan tertentu yang sukar diketahui orang lain.

Wiki menghela napas menyesal, ucapnya, "Sungguh sayang, baru saja Sinliong menghilang, dunia kangouw lantas kacau lagi."

"Semoga Sinliong belum mati..." seru Lu Thian-an mendadak dengan sinis.

Wiki tidak merasakan nada sinis ucapan sang suheng. Ia membangunkan Yap Liu-ko dan mengajaknya berdiri di depan hadirin yang sudah berkerumun itu. Ia mengumumkan tentang muncul kembalinya iblis perempuan Leng-hiat Huicu serta murid murtad Putliong yang membantu kejahatan iblis perempuan berdarah dingin itu. Serentak orang banyak bersorak mendukung usaha penumpasan yang diprakarsai Wiki. Kening Yim Hong-peng berkerenyit melihat gerakan yang dikobarkan Wiki itu. Diam-diam ia pun merancang tindakan apa yang harus dilakukannya; ia pikir kesempatan baik ini akan dipergunakannya untuk mencari pengaruh.

***

Saat itu, Binyu diam-diam sedang menguntit jejak Lamkiong Peng. Dilihatnya sesudah anak muda itu menyelesaikan pemakaman, ia bersama kereta kuda kecil itu masuk ke Kota Se-an dan langsung memasuki sebuah toko hasil bumi yang besar. Tiangsun Kong berdua berdiri jauh di bawah emper rumah seberang, diam-diam mereka saling bertanya, "Jika perempuan ini bukan Bwe Kiam-soat, untuk apa dia menyuruh kita berdua menguntitnya?"

Begitulah dengan bimbang mereka menunggu sekian lama di situ. Tiba-tiba dari seberang datang seseorang membawakan secarik surat dan diangsurkan kepada Tiangsun Tan dengan hormat, lalu pergi lagi. Binyu melenggak. Mereka membuka surat itu dan dibaca; ternyata surat dari Lamkiong Peng yang meminta Binyu mampir untuk mengobrol. Rupanya penguntitan mereka telah diketahui dengan baik oleh Lamkiong Peng.

Mereka saling pandang sekejap. Waktu memandang lagi ke seberang, Lamkiong Peng terlihat berdiri di depan pintu dan sedang memberi salam dari kejauhan. Meski kedua orang ini sudah cukup berpengalaman, bingung juga menghadapi adegan demikian. Dengan kikuk mereka berseru dari jauh, "Terima kasih atas maksud baikmu, sampai berjumpa lain kali saja!" Habis itu, cepat mereka melangkah pergi dan tidak berani menoleh lagi.

Lamkiong Peng menyaksikan kepergian mereka. Senyum yang menghiasi wajahnya mendadak lenyap, ia menghela napas dan masuk ke dalam. Nyata anak muda ini sedang dirundung kemunduran. Meski kungfunya tinggi dan keluarganya kaya raya, ada urusan yang menekan perasaannya tanpa bisa diselesaikan.

Saat itu, Bwe Kiam-soat sedang duduk memandangi lampu. Di atas meja tersedia macam-macam buah segar sebangsa anggur, apel, jeruk, dan lain-lain, tapi tiada satu pun yang menarik perhatiannya. Ia tetap termenung memandang lampu, entah apa yang sedang dipikirkannya. Langkah kaki Lamkiong Peng yang berat ternyata tidak mengganggu lamunannya, bahkan dia tidak menoleh sedikit pun. Wajahnya yang agak putih mulus kelihatan serupa batu kemala.

Sampai lama sekali, akhirnya Bwe Kiam-soat menghela napas perlahan dan bertanya, "Mereka sudah pergi?"

"Sudah," jawab Lamkiong Peng. "Entah untuk apa mereka menguntit kemari. Memangnya mereka benar telah mengenali dirimu?"

"Apakah kau khawatir?" tanya Kiam-soat.

"Khawatir apa?"

"Mungkin kau pikir bila diriku dikenal orang, tentu akan tidak menguntungkanmu dan bisa jadi engkau takkan mengurus diriku lagi. Sebab aku kan seorang iblis yang dikutuk orang persilatan. Jika kau bantu diriku, tentu engkau juga akan dituduh sebagai sampah masyarakat persilatan. Apalagi engkau adalah anak murid guru ternama; murid Putliong mana boleh membantu iblis perempuan yang jahat ini."

Lamkiong Peng diam saja tanpa memberi komentar.

"Padahal moral dunia persilatan hanya hak khusus bagi beberapa orang tertentu saja. Bilamana ada sepuluh orang tokoh Bulim menganggap engkau orang jahat, maka engkau sudah dipastikan akan menjadi orang maha jahat, sebab setiap perbuatanmu tetap akan dianggap salah. Bahkan anak murid Sinliong yang terhormat pun tidak berani bicara keadilan, sebab orang lain belum tentu mau percaya biarpun kau katakan apa yang kau ketahui sebenarnya."

Gemerlap sinar mata Lamkiong Peng, tapi ia tetap diam saja. Mendadak Bwe Kiam-soat tertawa, katanya pula, "Tapi engkau jangan khawatir, di dunia persilatan sekarang, kecuali kita berdua, tiada orang ketiga yang berani memastikan aku..."

Sampai di sini, mendadak ucapannya terputus, sebab di luar telah bergema gelak tawa seseorang dan berkata, "Sekali ini engkau keliru, Kong-jiok Huicu!"

Air muka Lamkiong Peng berubah, bentaknya, "Siapa?"

Segera ia memburu ke daun jendela yang terbuka. Dengan enteng melayang masuk seorang, lebih dulu ia menjura, lalu berkata dengan tersenyum, "Karena keadaan yang luar biasa, demi menghindarkan mata telinga orang, terpaksa masuk dengan menerobos jendela, mohon maaf." Suaranya lantang, sikapnya gagah; orang ini ternyata pendekar di luar perbatasan Banhian, Yim Hong-peng.

Tercengang Lamkiong Peng, muka Bwe Kiam-soat yang putih pucat menampilkan semacam perasaan aneh. Dengan gemulai ia bangkit, katanya, "Kau bilang apa?"

Tapi Yim Hong-peng lantas mengalihkan pembicaraan terhadap Lamkiong Peng, "Keluarga Lamkiong memang kaya raya merajai kolong langit ini. Tak disangka jauh di Kota Se-an ini, Lamkiong-heng juga mempunyai tempat tinggal semewah ini." Lamkiong Peng cuma tersenyum dan membalas hormat.

"Kau dengar tidak ucapanku?" kembali Bwe Kiam-soat menegur.

Yim Hong-peng tertawa, katanya, "Nama Kong-jiok Huicu mengguncangkan dunia kangouw, mana berani kulewatkan setiap kata Nona..."

"Hm, mungkin agak terlalu banyak apa yang kau dengar..." mendadak Bwe Kiam-soat menarik muka sambil meluncur maju, sebelah tangannya segera terjulur ke depan.

Namun Yim Hong-peng tetap diam saja. Dengan tersenyum ditatapnya telapak tangan Bwe Kiam-soat, padahal sekali tersentuh oleh tangan putih mulus itu seketika jiwa bisa melayang. Selagi Lamkiong Peng memburu maju, dilihatnya tangan Bwe Kiam-soat sudah diturunkan.

Mendadak Yim Hong-peng bergelak tertawa, katanya, "Haha, sungguh hebat, sungguh kagum, Kong-jiok Huicu memang benar burung Hong di tengah manusia. Tapi bilamana pukulan Nona Bwe tadi dilanjutkan, predikat ini pun tidak tepat kau terima lagi."

"Sebelum kau bicara lebih jelas, dengan sendirinya tak dapat kubinasakan kau..."

"O, jadi kalau selesai kubicara, segera Nona akan membunuhku?"

"Orang yang tahu terlalu banyak, setiap saat pasti akan ada kemungkinan tertimpa maut."

"Ah, jadi aku mengetahui terlalu banyak!" Yim Hong-peng menegaskan.

"Betul!" kata Bwe Kiam-soat, pandangannya tidak pernah meninggalkan wajah Yim Hong-peng. Ia tidak berani lagi meremehkan orang. Bilamana seorang tidak menghiraukan sebuah tangan yang setiap saat mungkin dapat merenggut nyawanya, maka orang ini jelas lain daripada yang lain.

Tiba-tiba Yim Hong-peng berhenti tertawa dengan serius, "Apabila yang kuketahui terlalu sedikit, maka orang yang tahu terlalu banyak di Kota Se-an saat ini sedikitnya ada seribu orang."

Kiam-soat melenggak, "Apa artinya ucapanmu ini?"

Perlahan Yim Hong-peng menggeser ke depan jendela, lalu berkata, "Nona Bwe memang awet muda dan pandai merawat diri. Di dunia ini mestinya tiada lagi yang tahu Nona Bwe yang kelihatan berusia 20-an ini adalah mendiang Kong-jiok Huicu dahulu. Namun... siapa duga ada arwah gentayangan yang lolos dari bawah pedang Lamkiong-heng justru muncul di tempat Wiki..."

"Arwah gentayangan lolos dari pedangku..." gumam Lamkiong Peng dengan bingung.

Setelah berpikir sejenak, tiba-tiba Bwe Kiam-soat berkata, "Jangan-jangan si Yap... Yap Liu-ko itu belum mati?"

Yim Hong-peng mengangguk, "Ya, dia terluka parah, tapi belum mati."

"Ah, kiranya dia tidak mati," tukas Lamkiong Peng dengan melengong. Meski nadanya terkejut, tapi juga membawa rasa bersyukur. Dengan keheranan Yim Hong-peng memandangnya sekejap dan merasa tidak mengerti akan jalan pikiran anak muda itu.

"Meski Yap Liu-ko cuma terluka parah dan belum mati, sekarang Lu Thian-an telah meninggalkan Ciong-lam-san dan berkumpul di tempat jitsutenya, yaitu Wiki."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment