Halo!

Han Bu Kong - Chapter 40

Memuat...
Han Bu Kong

Chapter 40

"Segenap kekuatan yang berada di Xi’an sekarang sedang dikerahkan untuk mencari kalian berdua," tutur Yim Hong-peng.

"Aku merasa tidak mampu memberi bantuan apa pun, tapi juga tidak tega duduk berpangku tangan tanpa ikut campur, maka sengaja kususul kemari. Lamkiong-kongcu, apa pun alasannya kalian hanya berdua; dua tangan sukar melawan empat kepalan. Apalagi suheng dan susomu juga berada di sana; tampaknya mereka pun tidak membenarkan tindakanmu, maka menurut pendapatku..." Ia merandek, dilihatnya Bwe Kiam-soat sedang menatapnya dengan tajam.

"Maksudmu agar sementara ini kami menyingkir dulu?" tanya Lamkiong Peng.

Belum lagi Yim Hong-peng menjawab, mendadak Bwe Kiam-soat menyela, "Tidak, salah!"

"Sebenarnya memang begitulah maksudku, kenapa Nona salah?" tanya Yim Hong-peng.

"Jika aku menjadi dirimu, tentu akan kubujuk dia agar tidak mencari gara-gara," kata Kiam-soat. "Sebab mestinya dia tahu, barangsiapa memusuhi Bwe Kiam-soat, akibatnya dapat dibayangkan sendiri."

Mendadak ia berpaling ke arah Lamkiong Peng dan berkata pula, "Dan bila kujadi dirimu, segera aku akan pergi jauh atau segera kudatangi Wiki dan memberitahukan padanya bahwa antara dirimu dan Bwe Kiam-soat sama sekali tidak ada sangkut paut apa pun..." Sampai di sini, mendadak ia tertawa gelak sambil berteriak, "Wahai Bwe Kiam-soat... engkau sungguh orang yang malang dan juga bodoh. Sudah jelas kau tahu orang persilatan takkan melepaskan dirimu, sebab engkau ini bukan golongan pendekar, bukan orang berbudi luhur, sebab kau jahat... Tapi, semua itu pun cukup dibuat bangga olehmu. Hanya untuk menghadapi seorang perempuan seperti dirimu, kawanan manusia yang menamakan dirinya kaum pendekar itu telah mengerahkan segenap tenaga sekota."

Lamkiong diam saja tanpa memberi komentar. Yim Hong-peng menjadi heran, pikirnya, "Kedua muda-mudi ini tidak serupa kekasih, juga tidak mirip sahabat, entah ada hubungan apa antara mereka berdua?" Ia memandang Lamkiong Peng sekejap, lalu bertanya, "Urusan cukup gawat, hendaknya Lamkiong-heng menentukan langkah."

"Terima kasih atas maksud baik Yim Tai-hiap, cuma..."

"Jumlah lawan terlalu banyak; menghindar untuk sementara adalah cara yang paling baik," kata Yim Hong-peng pula.

"Jumlah lawan terlalu banyak... tapi Ciong-lam-pai terkenal sebagai suatu aliran terpuji, tentunya takkan menuduh orang secara tidak semena-mena dan tidak memberi kesempatan bagi orang lain untuk memberi penjelasan."

Diam-diam Yim Hong-peng merasa menyesal, ia pikir nama busuk Leng-hiat Huicu diketahui siapa pun, masa perlu penjelasan apa segala. Belum lagi ia bicara, tiba-tiba Bwe Kiam-soat mengejek, "Hm, tampaknya kau ini pemuda pintar, kenyataannya engkau sedemikian bodoh. Bagi orang-orang yang menamakan dirinya pendekar budiman dan penegak keadilan itu, sudah lama aku dibenci hingga merasuk tulang, masa aku akan diberi kesempatan untuk memberi penjelasan segala?"

Yim Hong-peng pikir perempuan berdarah dingin ini ternyata cukup tahu diri juga. Dilihatnya Lamkiong Peng tetap tenang saja, meski diolok-olok. Ia pun heran mengapa pemuda yang kelihatan halus di luar tapi keras di dalam ini bisa bersabar terhadapnya.

Pada saat itulah tiba-tiba ada orang berdehem di luar, Gui Seng-in tampak muncul. Agaknya ia merasa heran ketika diketahui di dalam rumah mendadak bertambah satu orang. Tapi, sebagai orang yang sudah cukup makan asam garam, rasa heran itu sekilas saja lantas lenyap dari wajahnya. Dengan tersenyum hormat ia berkata, "Mestinya hamba tidak berani mengganggu Kongcu, soalnya... para saudagar di Xi’an mendengar kedatangan Kongcu ini, mereka semua ingin bercengkerama dengan Kongcu serta akan mengadakan perjamuan sekadarnya di Thian-tiang-lau untuk menyambut kedatangan Kongcu dan Nona ini. Entah bagaimana pendapat Kongcu, apakah sudi hadir atau tidak?"

Lamkiong Peng berpikir sejenak, dipandangnya Bwe Kiam-soat sekejap. Alis Kiam-soat tampak bergerak, tapi tidak bicara. Agaknya tanpa bicara pun sudah jelas maksudnya. Tak terduga Lamkiong Peng lantas berkata, "Apakah sekarang?"

"Jika Kongcu ada waktu..."

"Baik, berangkat!" kata Lamkiong Peng.

Agaknya Lamkiong Peng dapat meraba jalan pikiran orang. Dengan tersenyum ia berkata, "Apakah Yim Tai-hiap juga akan ikut hadir untuk minum secawan?"

"Terima kasih," jawab Yim Hong-peng sambil memberi hormat, "Sungguh aku tidak mengerti..."

"Soalnya cukup sederhana," potong Lamkiong Peng, "Urusan sudah terlanjur begini, daripada menghindar akan lebih baik disambong sekalian. Anak murid Sin-liong selamanya tidak kenal istilah lari."

Yim Hong-peng mengangguk, katanya, "Murid Sin-liong memang gagah perkasa dan pantas dipuji."

"Sekali lagi terima kasih atas maksud baik Yim Tai-hiap, bila berjumpa pula kelak kita harus bicara lagi lebih asyik," ujar Lamkiong Peng.

"Sejak kumasuk daerah Tiong-goan, hanya Lamkiong-heng saja yang kupandang sebagai pendekar muda yang akan mengembangkan kejayaan dunia persilatan umumnya. Sayang kita belum sempat berkumpul lebih lama, sampai berjumpa lagi." Habis berkata, Yim Hong-peng melayang pergi melalui jendela.

"Lugas juga tampaknya orang ini!" gumam Lamkiong Peng memandangi bayangan orang yang menghilang di luar.

"Hm, apa betul!?" jengik Bwe Kiam-soat. Lalu ia tanya pula, "Eh, apakah benar kau terima undangan perjamuannya..."

"Bila engkau tidak ingin ikut..."

"Jika kau mau pergi, masa aku takut?" sela Bwe Kiam-soat. Segera ia bangkit dan ikut melangkah keluar.

Hujan gerimis baru berhenti. Pasar malam kota Xi’an cukup ramai. Akan tetapi malam ini lebih banyak orang berkelompok-kelompok, kebanyakan orang itu pun bersenjata; semuanya orang persilatan dengan wajah prihatin dan sikap tegang. Ketika mendadak tampak muncul dua muda-mudi, yang pemuda gagah dan cakap, yang perempuan cantik luar biasa, seketika berjangkit suara desas-desus di sana-sini.

"Ssst, itu dia Lamkiong Peng!"

"Ssst, itu dia Leng-hiat Huicu!"

Seketika terjadi kegemparan, tapi segera pula suasana berubah menjadi sunyi. Semuanya tidak bersuara, sama terpukau oleh kegagahan dan kecantikan kedua muda-mudi ini. Sejenak kemudian, ada yang meraba senjata dan bermaksud turun tangan, tapi ketika terlihat senyuman Bwe Kiam-soat yang manis dan lirikan menggiurkan, tanpa terasa tangan yang meraba senjata menjadi lemas. Dan begitulah berpuluh pasang mata menyaksikan kedua muda-mudi itu berlalu di depan mereka. Sesudah lewat agak jauh, baru gerombolan orang itu mengikuti mereka dari jauh.

Thian-tiang-lau tergolong restoran terbesar di kota ini. Dengan sendirinya segala sesuatunya sudah disiapkan secara semarak, terutama wajah pemilik restoran ini juga bercahaya, sebab hari ini dia mendapat kehormatan dapat menerima kunjungan "tuan muda" keluarga Lamkiong yang maha kaya raya itu.

Lamkiong Peng dan Bwe Kiam-soat masuk ke restoran Thian-tiang-lau. Dengan sendirinya berita ini dengan cepat tersiar dan dalam sekejap saja laporan sudah diterima Thian-an Tojin dan Wiki.

"Kabarnya Lamkiong Peng ini ahli waris keluarga Lamkiong yang kaya raya dari daerah Kanglam itu?" di tengah jalan Thian-an mencari keterangan kepada Wiki.

"Ya, dia masih muda. Selain ahli waris keluarga maha kaya itu, dia juga terkenal sebagai murid kesayangan Put-liong. Tak tersangka dia terbujuk oleh Leng-hiat Huicu sehingga tersesat," ujar Wiki.

"Hm, anak muda yang tidak menuju ke jalan yang benar, biarpun saudara seperguruan sendiri juga malu untuk membelanya," jengik Lu Thian-an. "Tapi apa pun juga, tindakan kita ini menjadikan Leng-hiat Huicu sebagai sasaran. Mengenai Lamkiong Peng, sedikit banyak harus kita ingat akan kehormatan Put-liong."

"Itu bergantung bagaimana hubungannya dengan Bwe Kiam-soat," kata Thian-an.

Hanya sebentar saja rombongan raksasa itu sudah berada di luar Thian-tiang-lau; restoran itu segera terkepung dengan rapat. Dengan sendirinya kejadian ini mengguncangkan segenap penduduk kota; disangkanya terjadi kerusuhan apa. Tapi setelah mengetahui persoalan bunuh-membunuh orang kang-ouw, kebanyakan penduduk cepat menutup pintu dan tidak berani keluar. Menghadapi persoalan orang kang-ouw seperti ini, biasanya petugas keamanan pemerintah setempat juga tidak dapat berbuat banyak; yang mereka jaga hanya urusan tidak sampai menjalar menjadi gangguan umum.

Sungguh tidak ada yang menyangka bahwa keonaran yang timbul ini tak lain tak bukan hanya gara-gara munculnya seorang perempuan cantik, yaitu Leng-hiat Huicu. Akan tetapi di dalam restoran, di bawah cahaya lampu yang terang benderang, Bwe Kiam-soat tampak duduk tenang dan anggun. Sudah barang tentu gempar di luar restoran juga membikin panik para saudagar besar yang berkumpul di atas restoran itu. Mereka sama bertanya-tanya ada kejadian apa dan apa yang akan terjadi. Namun di hadapan Lamkiong-kongcu yang terhormat, betapapun mereka tidak berani sembarangan bergerak; sampai sekarang tiada seorang pun berani melongok ke luar jendela.

Sekonyong-konyong di bawah terdengar suara bentakan, suara menyuruh memberi jalan. Lamkiong Peng tahu apa artinya itu. Perlahan ia bangkit, ia menuju ke ujung tangga, serupa seorang tuan rumah yang siap menyambut kedatangan tetamunya. Akhirnya berdetaklah suara tangga, terlihat Lu Thian-an dan Wiki berturut-turut naik ke atas loteng dengan wajah kelam.

Dengan tersenyum Lamkiong Peng menghormat, sapanya, "Terima kasih atas kunjungan kedua Cianpwee, maaf jika tidak kusambut jauh di bawah."

Lu Thian-an hanya mengangguk perlahan saja, langsung ia mendekati Bwe Kiam-soat. Ia duduk di depannya, tanpa bicara ia angkat secawan arak dan dikecupnya seceguk.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment