Halo!

Han Bu Kong - Chapter 41

Memuat...
Han Bu Kong

Chapter 41

Sejak awal, ia tetap tidak memandang Bwe Kiam-soat, hanya menatap tangannya sendiri yang putih mulus, lalu berucap, "Malam sudah larut. Bilamana hadirin merasa sudah cukup makan dan minum, sudah saatnya untuk pulang." Segera terjadi kesibukan. Para saudagar itu dapat melihat gelagat tidak enak, beramai-ramai mereka berebut meninggalkan restoran. Mereka tidak ingat lagi akan sopan santun terhadap Lamkiong-kongcu.

Ruang restoran yang semula ramai dan agak berjubel sekarang berubah menjadi lenggang.

Mendadak Wiki melangkah ke samping Lu Thian-an. Ia pun duduk di situ, diraihnya poci arak yang terbuat dari timbel, langsung ia menuangkan arak dari corong poci ke mulut dan minum beberapa teguk.

"Sepuluh tahun tidak bertemu, tampaknya kekuatan minum arak telah bertambah," ucap Bwe Kiam-soat dengan tersenyum.

Mendadak Wiki membanting poci itu ke atas meja.

Dengan muka kelam, Lu Thian-an berkata, "Nona, sudah hampir 30 tahun engkau malang melintang di dunia kang-ouw dan entah berapa banyak orang telah menjadi korbanmu. Kukira saat ini pun sudah lebih dari cukup hidupmu."

"Totiang sendiri sudah ubanan, tentu lebih dari cukup hidup. Bila hidup lebih lama lagi, bisa jadi orang akan menyebutmu tua bangka," jawab Kiam-soat dengan tajam.

"Hm, tampaknya kedatangan kalian sengaja hendak mencari perkara denganku."

"Ah, masa perlu dijelaskan lagi? Kami hanya berharap Nona mau membereskan diri sendiri saja," jengek Thian-an.

"Membereskan diri sendiri? Kau suruh aku bunuh diri? Haha, memangnya kenapa?"

"Kukira tidak perlu banyak omong, supaya aku tidak perlu melanggar pantangan membunuh."

"Wah, jika begitu, lekas kau turun tangan saja sebelum kubicara lebih banyak dan mungkin akan membongkar rahasiamu!" kata Kiam-soat dengan tersenyum.

Air muka Thian-an Tojin yang kelam itu seketika berubah.

"Kan sudah kukatakan tidak perlu banyak bicara dengan dia," ujar Wiki. "Creng!" Segera ia mengeluarkan senjata andalannya, Lionggoan, sepasang gelang baja.

"Nanti dulu!" mendadak Lamkiong Peng melompat maju.

"Apakah kau pun ingin mengiringi kematiannya?" jengek Wiki sambil menggebrak meja. Keruan mangkuk dan piring berhamburan.

Lamkiong Peng mengebaskan lengan bajunya sehingga meja itu tertahan, meluncur ke sebelahnya, dan menumbuk dinding.

"Tanpa alasan kalian datang kemari dan hendak membunuh orang, berdasarkan apa kalian bertindak demikian?" tanya Lamkiong Peng dengan tidak senang. "Segala urusan harus diselesaikan menurut keadilan. Sekarang kalian menghendaki nyawa kami berdua, sedikitnya kalian harus memberi keterangan kepada setiap orang persilatan yang hadir di sini. Apa dasarnya?"

Kawanan orang persilatan sebagian sudah ikut menerjang ke restoran dan siap bertindak. Demi mendengar uraian Lamkiong Peng yang tegas dan jujur ini, diam-diam banyak di antaranya mengangguk dan bersimpati kepadanya.

Lu Thian-an memandang sekejap kepada orang banyak, air mukanya tampak berubah.

"Hah, tentunya sekarang engkau merasa menyesal telah banyak bicara denganku. Mestinya begitu datang segera kalian membunuhku, begitu bukan?" kata Bwe Kiam-soat dengan tertawa merdu. Suaranya lantang berkumandang sehingga dapat didengar oleh orang yang berkerumun di luar.

"Apakah ucapanmu sengaja diperdengarkan kepada kawan-kawan bulim di sekeliling sini?" jengek Thian-an Tojin.

"Betul. Kecuali dunia persilatan sudah tidak ada keadilan lagi, kalau tidak, biarpun engkau adalah Bu-li-bengcu (ketua persekutuan orang persilatan), juga tidak boleh meremehkan nyawa orang lain."

Gemerlap sinar mata Wiki, mendadak ia tergelak, serunya, "Jika orang lain, ucapanmu ini tentu akan menimbulkan rasa curiga orang banyak terhadap tindakan kami. Tapi kau perempuan yang berdarah dingin, biarpun kau omong seribu kali lagi, meski engkau mengoceh panjang lebar, aku Wiki tetap akan menumpaskan bencana bagi dunia persilatan." Lalu ia memandang Lamkiong Peng dan bertanya, "Jika kau tahu dia ini Lenghiat Huicu, mengapa kaubela dia? Melulu kesalahanmu ini saja pantas dihukum mati. Tapi mengingat gurumu, lekas kau pergi saja, lekas!"

"Sedemikian keras kau bela dia, memangnya di antara kalian ada hubungan sesuatu yang tidak boleh diketahui orang?" ejek Lu Thian-an.

Mau tak mau Lamkiong Peng menjadi gusar. Semula ia percaya ketua Conglam-pai dan Wiki ini adalah kaum pendekar yang berbudi luhur, siapa tahu tindak dan kata mereka sedemikian kasar. Tiba-tiba terpikir olehnya di balik urusan ini pasti ada sesuatu yang janggal.

Kawanan jago persilatan dapat menerima pendirian Wiki itu. Nama Lenghiat Huicu sudah terkenal busuk sejak belasan tahun yang lalu. Sekarang pemuda ini membelanya mati-matian, tentu anak muda ini juga bukan orang baik-baik. Padahal, tiada seorang pun antara jago persilatan ini yang pernah melihat Bwe Kiam-soat sebelum ini; mereka kebanyakan cuma membeo belaka. Tadi mereka menaruh simpati kepada Lamkiong Peng, sekarang berubah pikiran lagi. Memang demikianlah sifat manusia pada umumnya.

Diam-diam Lamkiong Peng menghela napas. Ia tahu urusan hari ini tidak mungkin diselesaikan begitu saja. Ia mencoba melirik Bwe Kiam-soat, dilihatnya orang itu tetap tersenyum dengan tenang.

Dalam pada itu, orang banyak lantas berteriak-teriak, "Buat apa banyak bicara, bekuk dulu keduanya!"

"Nah, kau minta keadilan dunia persilatan, sekarang bolehlah kita selesaikan mendasarkan pendapat umum," jengek Lu Thian-an.

Wiki juga tidak sabar lagi, segera ia memutar kedua gelang baja sambil membentak, "Minggir!"

Bwe Kiam-soat tetap tenang saja, ucapnya, "Kau maju sendirian?"

Terkesiap juga Wiki, tiba-tiba teringat olehnya kungfu Lenghiat Huicu yang menakutkan itu. Seketika ia tertegun dan tidak berani bergerak lagi.

"Haha, kiranya orang kang-ouw kebanyakan manusia yang suka mengekor belaka..." Belum lanjut ucapan Lamkiong Peng, serentak terdengar suara caci maki di sana-sini. Nyata ucapannya telah menimbulkan kegusaran orang banyak.

"Ikut terjang keluar bersamaku!" bisik Bwe Kiam-soat kepada Lamkiong Peng. Diam-diam ia siap bertindak. Meski pihak lawan berjumlah banyak, ia yakin pasti mampu menerjang keluar.

Siapa tahu Lamkiong Peng tetap diam saja di tempatnya dengan pongah. Mendadak ia membentak, "Diam!"

Bentakan yang menggelegar ini memekakkan telinga, seketika semua orang tergetar diam. Dengan tajam Lamkiong Peng menatap Lu Thian-an, teriaknya, "Segala urusan tentu tidak terlepas dari keadilan dan kebenaran. Justru kepada seorang cianpwee serupa dirimu, ingin kuminta keadilan. Sesungguhnya apa dosa Bwe Kiam-soat, apa kesalahannya, bilakah dia berbuat kejahatan sehingga memerlukan tindakanmu ini?"

Lu Thian-an jadi melongo, tak tersangka olehnya anak muda ini dapat bertanya demikian.

Dengan kereng, Lamkiong Peng berteriak pula, "Jika engkau tidak dapat menjawab, berdasarkan apa pula engkau bertindak atas nama dunia persilatan? Berdasarkan apa pula bicara tentang keadilan dunia persilatan? Bila soalnya cuma mengenai permusuhan pribadimu dengan dia, mengingat kedudukanmu sebagai seorang pemimpin suatu perguruan terkemuka, tentu juga harus kaubereskan urusan ini langsung dengan dia sendiri. Andaikan dapat kauhancurkan dia pun, aku takkan ikut campur. Tapi bila engkau mengatasnamakan umum bagi kepentingan pribadi dan membual tentang keadilan, betapun aku, Lamkiong Peng, tidak dapat menerima, dan akulah yang pertama-tama ingin minta pengajaran dulu padamu."

Dia bicara tegas dan berani, mau tak mau semua orang sama melongo.

Air muka Wiki berubah, Lu Thian-an juga tidak tahan, jengeknya, "Rupanya kau menantang, Anak Muda!"

"Apa boleh buat," ujar Lamkiong Peng lantang.

Seorang pemuda hijau pelontos berani menantang seorang guru besar dari suatu aliran pedang terkemuka, sungguh hal ini cukup menggemparkan, keruan semua orang sama heran dan juga terkejut.

"Hm, tampaknya sombong benar kau, Anak Muda. Terpaksa aku mesti memberi hajaran padamu," jengek Lu Thian-an.

Lamkiong Peng hanya mendengus dan tetap berdiri tegak. Perlahan Lu Thian-an bangkit, sedangkan Wiki menyurut mundur ke samping.

"Aha, menarik. Rasanya tempat ini kurang luas. Biarlah kusingkirkan lagi meja kursi yang memenuhi tempat ini," ucap Bwe Kiam-soat seperti apa yang akan terjadi ini sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan dia.

Lamkiong Peng tahu wataknya memang begitu, maka tidak heran. Sebaliknya, orang lain sama terkesiap, diam-diam ada yang menggerutu, "Perempuan ini memang benar berdarah dingin."

Setelah ruangan dikosongkan, kini Lu Thian-an berdiri berhadapan dengan Lamkiong Peng, katanya, "Silakan mulai!" Nyata ia menjaga gengsi sebagai orang yang lebih tua dan memberi kesempatan menyerang lebih dulu. Namun, Lamkiong Peng justru tetap diam saja. "Silakan locianpwee dulu!"

Wiki menjadi gusar, "Siko, untuk apa bicara tentang peraturan dengan sampah masyarakat persilatan seperti ini!"

"Benar!" kata Thian-an berbarengan. Ia melompat maju dan menghantam batok kepala lawan tanpa kenal ampun.

Melihat serangan Lu Thian-an itu, ada juga di antara penonton yang merasa penasaran. Sebagai seorang tokoh terkemuka, menyerang lebih dulu, tapi sekeji ini serangannya. Namun, Lamkiong Peng bukan lawan empuk baginya. Sedikit ia menggeser ke samping, berbarengan dengan itu sebelah tangannya balas menyodok ke perut Thian-an.

Terkejut juga Lu Thian-an oleh kecepatan lawan. Sembari mengelak, tangan lantas memotong ke bawah. Tangannya tampak putih mulus seperti tangan orang perempuan, tapi membawa tenaga dalam yang dahsyat.

Begitulah serang-menyerang terus berlangsung. Diam-diam para penonton sama memuji, anak Putliong memang tidak boleh dipandang enteng. Namun, apa pun juga, Lu Thian-an memang lebih ulet. Setelah belasan jurus, lambat laun ia berada lagi di atas angin. Padahal kelihatannya Lamkiong Peng agak terdesak, sebenarnya dia belum mengeluarkan segenap tenaganya.

Saat itu kedua tangan Lu Thian-an bekerja sekaligus dan menghantam. Mendadak Lamkiong Peng bersuit panjang sambil melompat ke atas.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment