Halo!

Han Bu Kong - Chapter 42

Memuat...
Han Bu Kong

Chapter 42

Lu Thian-an terkejut saat merasakan angin keras menyambar dari atas; ke mana pun dia mengelak, rasanya serangan itu tetap akan mengenainya. Bila dia tetap diam di tempat, sementara lawan menubruk dari atas, itu berarti dia akan terus berada dalam posisi terjepit.

Semua orang terkejut, tak terkecuali Wiki yang berseru, "Thianjit-sik!" Rupanya inilah *Thianjit-sik* atau 17 jurus serangan naga terbang, kungfu andalan Putliong. Serangan ini dilancarkan saat tubuh melayang. Setiap jurus memaksa lawan untuk menyelamatkan diri terlebih dahulu atau menutup jalan mundur musuh. Serangan berantai yang susul-menyusul inilah yang membuat *Thianjit-sik* tak dapat ditandingi oleh ilmu pukulan aliran lain.

Sekarang, yang dilancarkan Lamkiong Peng adalah jurus pertama yang disebut *Titsiau* atau menjulang ke langit. Selagi tubuh mengapung, tangan dan kaki terus menyerang untuk mengurung segenap jalan mundur Lu Thian-an. Setelah itu, sambil meluncur turun, kesepuluh jarinya berubah menjadi cakar untuk mencengkeram wajah lawan. Dia sudah siap menyerang sejak tadi; sekali turun tangan, dia harus berhasil.

Adu pukulan ini membuat para penonton melongo. Lamkiong Peng terlihat menjungkir di udara dengan tangan berpegangan pada tangan lawan. Tubuhnya menurun perlahan, namun keempat tangan tetap melengket menjadi satu. Begitu kaki Lamkiong Peng menyentuh tanah, Lu Thian-an segera menyurut mundur dua langkah. Keduanya berdiri seperti terpaku di tanah dan saling melotot. Nyata telah terjadi adu tenaga dalam antara keduanya; ini berarti pertaruhan nyawa.

Seketika suasana sunyi senyap, semua orang menahan napas. Bukan hanya yang berkerumun di atas loteng yang tegang, mereka yang berada di bawah pun bertanya-tanya karena tidak terdengar suara apa pun. Di tengah kesunyian, tiba-tiba terdengar suara kayu loteng yang berkeriat-keriut. Dahi kedua orang itu tampak dibasahi butiran keringat. Betapa hebat jurus serangan Lamkiong Peng, tetap tidak dapat menandingi ketekunan latihan Lu Thian-an selama berpuluh tahun. Lambat laun, anak muda itu terlihat tidak tahan lagi. Diam-diam Wiki bergembira, sebaliknya air muka Bwe Kiam-soat tampak prihatin.

Selagi suasana semakin mencekam, sekonyong-konyong di bawah loteng terdengar jeritan kaget. Di tengah malam kelam, tiba-tiba timbul gelombang hawa panas yang menyengat. Bukan saja yang bertempur yang berkeringat, para penonton pun kegerahan. Sejenak kemudian, terdengar bunyi benda bertalu-talu, disusul suara melengking, "Api! Kebakaran!" Suasana menjadi kacau. Orang-orang yang berkerumun di jalan raya panik saat lidah api tampak menjilat-jilat dan menyambar ke atas loteng restoran.

Para jago silat itu tidak sempat lagi memikirkan pertarungan maut tersebut. Mereka beramai-ramai mencari selamat; ada yang melompat turun melalui tangga dengan berdesak-desakan, ada pula yang terjun begitu saja. Meski ada yang berusaha memadamkan api, kobaran itu tampak sangat aneh. Lidah api yang ganas dalam sekejap saja telah menelan seluruh restoran.

Para penonton telah kabur mencari selamat. Di atas loteng, tersisa Lamkiong Peng yang masih beradu tenaga dengan Lu Thian-an, ditunggui oleh Wiki dan Bwe Kiam-soat. Api berkobar hebat, tampaknya sebentar lagi mereka pasti akan terkubur. Napas mereka sesak oleh asap. Keringat memenuhi kepala Wiki, matanya membara. Mendadak ia mengangkat gelang bajanya dan bersiap melompat keluar. Tak terduga, bayangan seseorang berkelebat; Bwe Kiam-soat sudah mengadang di depannya.

Saking cemas dan gugupnya, tanpa pikir panjang Wiki membentak. Gelang naga sebelah kanan segera menghantam Bwe Kiam-soat, sedangkan gelang hong sebelah kiri dilemparkan dengan membawa angin tajam, mengancam iga Lamkiong Peng. Saat itu Lamkiong Peng pun dalam keadaan payah; jangankan diserang oleh gelang baja yang dahsyat ini, pukulan orang biasa pun cukup membuatnya roboh binasa.

Terdengar Bwe Kiam-soat mendengus. Mendadak ia mendoyongkan kepala ke belakang, bersamaan dengan itu sebelah tangannya meraih ke depan. Dengan tepat gelang baja lawan terpegang olehnya, lalu sekali betot, ia melemparkannya ke arah Lu Thian-an. Selagi Lamkiong Peng terkejut karena sambaran gelang baja musuh yang sukar dielakkan itu, ia melihat Lu Thian-an juga terkesiap oleh ancaman yang sama. Lamkiong Peng bergirang; dengan sisa tenaga, ia mendesak lebih kuat.

Kiam-soat tersenyum dan berolok, "Hah, ini namanya senjata makan..." Belum lanjut ucapannya, sekonyong-konyong gelang yang menyambar Lamkiong Peng berputar balik dan membentur gelang yang mengancam Lu Thian-an, lalu terus menghantam punggung Bwe Kiam-soat.

"Bagus, kiranya gelangmu berantai," seru Kiam-soat sambil memutar sebelah tangannya. Kontan gelang berantai itu dipegangnya. Maklumlah, selama sepuluh tahun ia berbaring di dalam peti mati, kesempatan itu digunakannya untuk merenungkan intisari ilmu silat tingkat tinggi. Maka, ketajaman mata dan telinganya sekarang hampir tidak ada bandingannya; sekalipun sebiji pasir menyambar dari belakang, ia dapat merasakannya dan menangkapnya.

Tentu saja Wiki terkejut, ia segera mendoyong ke belakang untuk menarik gelangnya agar tidak sampai dirampas musuh. Rupanya pada gelang bajanya terikat seutas rantai emas hitam yang lembut, namun ulet dan kuat; golok atau pedang biasa pun sukar memotongnya. Tak tersangka, Bwe Kiam-soat menebas dengan telapak tangannya, kontan rantai emas itu putus. Karena kehilangan keseimbangan, Wiki terhuyung-huyung dan hampir terjengkang.

Sementara itu, api sudah membakar kusen jendela sekeliling loteng dan menimbulkan suara gemertak yang riuh. Hawa panas membuat Lamkiong Peng, Lu Thian-an, dan Wiki merasa seperti terpanggang. Baju mereka basah kuyup oleh keringat, tidak terkecuali Bwe Kiam-soat. Mendadak daun jendela sebelah selatan terlepas dan jatuh ke atas meja di dekatnya; meja dan kursi di situ pun ikut terbakar.

Lambat laun atap rumah mulai terbakar. Tiba-tiba sepotong kayu hangus jatuh di samping Bwe Kiam-soat. Saat ia sedang menggeser untuk menghindari tendangan Wiki, sebelah kakinya mencungkil kayu hangus itu dan meluncurkannya ke arah Wiki. Sambil meraung, tangan kiri Wiki menepis sehingga kayu hangus itu terpental keluar jendela. Namun, ia lupa tangannya masih memegang rantai gelang yang putus tadi. Karena tepisan itu, rantai membalik dan menghantam tengkuknya sendiri. Biarpun kecil, rantai emas hitam itu sangat keras, ditambah tenaga tepisannya sendiri, ia pun meringis kesakitan dan tengkuknya berdarah. Dengan meraung murka, Wiki membuang sisa rantai itu.

"Haha, serangan bagus! Itu namanya jurus *Kaupian* (ekor anjing menyabet tubuh sendiri)!" ejek Bwe Kiam-soat sambil tertawa.

Sembari berolok-olok, ia segera menggeser ke samping Lu Thian-an. Saat itu Lamkiong Peng masih saling tolak dengan Lu Thian-an. Hatinya terhibur ketika melihat Bwe Kiam-soat masih berada di situ. Namun, ketika ia melihat sebelah tangan Kiam-soat menghantam punggung Lu Thian-an, ia cepat-cepat mencegah sambil menariknya ke samping. Karena tarikan ini, ia dan Lu Thian-an sama-sama jatuh terguling. Kiam-soat berteriak khawatir dan melompat ke samping Lamkiong Peng. Cepat-cepat Wiki juga memburu untuk menjaga Lu Thian-an.

Saat diperhatikan, ternyata napas kedua orang itu terengah-engah. Agaknya mereka sama-sama kehabisan tenaga, namun jelas tidak terluka dalam. Keduanya sedang saling pandang dengan tercengang. Rupanya setelah saling mengadu tenaga dalam, keadaan mereka sudah payah; walaupun keempat tangan masih saling genggam, sebenarnya tenaga mereka sudah habis. Dasar Lamkiong Peng berjiwa luhur, ia tidak ingin lawan disergap Bwe Kiam-soat selagi orang tersebut mengadu tenaga dengannya. Ia lekas menarik orang itu ke samping. Tak diduganya mereka sama-sama payah, sehingga begitu terseret, keduanya jatuh terguling. Lantaran itulah mereka saling pandang dengan melongo.

Pada saat itulah, tiba-tiba di bawah loteng terdengar orang berteriak, "Wi-jitya, Lutotiang..." Ada semprotan air dari sebelah selatan, menyusul sinar pedang berkelebat, empat sosok bayangan kelabu menerjang masuk. Kiranya keempat tojin anak buah Lu Thian-an. Bwe Kiam-soat terkesiap melihat pihak lawan kedatangan bala bantuan. Ia berseru dengan suara tertahan kepada Lamkiong Peng, "Ayo, pergi!"

Semangat Lu Thian-an bangkit karena kedatangan anak buahnya. Melihat Bwe Kiam-soat mengajak Lamkiong Peng lari, cepat ia membentak, "Lamkiong Peng, kalah menang belum jelas, bukan lelaki sejati bila lari!"

Tentu saja Lamkiong Peng sangat gusar, ia melompat bangun. Sementara itu Lu Thian-an sudah menubruk tiba; tanpa bicara lagi, ia menghantam dada anak muda itu. Cepat Lamkiong Peng mengegos, bersamaan dengan telapak tangannya menebas iga lawan. Tiba-tiba beberapa potong kayu hangus jatuh lagi dari atas. Terpaksa mereka harus melompat ke sana kemari untuk menghindari api. Dalam pada itu, keempat tojin berjubah kelabu lantas menerjang maju. Mereka adalah murid utama ketua Cong-lam-pai, dengan sendirinya ilmu pedang mereka tidak lemah. Serentak mereka melancarkan serangan kilat.

"Tinggalkan yang lelaki, tangkap dulu yang perempuan!" seru Wiki. Segera sinar pedang berputar dan memburu ke arah Bwe Kiam-soat.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment