Chapter 43
Bwe Kiam Soat tetap tenang. Ia hanya melirik sekejap keempat tojin itu. Sejak kecil, keempat tojin tersebut telah bertirakat di pegunungan sunyi sehingga mereka belum pernah melihat perempuan secantik dan semanis itu. Akibatnya, gerakan mereka menjadi agak lambat.
Namun, dengan gemulai, Bwe Kiam Soat mengangkat tangannya. Terdengar suara gemerantang nyaring, dan dalam sekejap, tiga pedang milik tojin itu terpatahkan oleh gelang baja yang dirampasnya dari Wiki tadi. Selagi keempat tojin itu melongo kaget, pandangan mereka tiba-tiba menjadi silau dan pergelangan tangan mereka terasa kesemutan. Pedang-pedang itu telah dirampas oleh Bwe Kiam Soat.
Bwe Kiam Soat kemudian menyambitkan gelang baja ke arah Wiki yang sedang menubruk Lamkiong Peng. Pedang rampasannya pun ditebaskan ke depan. Tojin pertama belum sempat melompat mundur ketika dahinya tergores luka dan mencucurkan darah. Tojin kedua sempat menyurut mundur, namun rambut yang tersanggul di atas kepalanya ikut tertabas pedang.
Tojin ketiga ketakutan. Selagi ia melongo, pedang Bwe Kiam Soat menyambar mendadak, berhenti tepat, dan mengetuk pedang patah yang masih dipegangnya. "Trang!" Pedang patah itu jatuh ke lantai. Dengan cepat, ia melompat mundur sambil memegangi pergelangan tangannya yang kesakitan.
Hanya dalam sekejap, ketiga suheng-nya telah dibuat keok. Tojin keempat tidak berani lagi bertempur dan segera hendak melarikan diri. "Eh, jangan terburu-buru!" ejek Bwe Kiam Soat. Baru saja tojin itu melangkah dua tindak, iga kanan dan kirinya sudah terkena pedang.
Saat itu, Wiki telah menubruk ke depan Lamkiong Peng, namun dari belakang, gelang yang dilemparkan Bwe Kiam Soat menyambar tiba. Deru anginnya terasa jauh lebih kuat daripada lemparan sebelumnya. Wiki tidak berani gegabah; ia segera menggeser ke samping sambil membalikkan tubuh. Gelang baja yang masih dipegangnya digunakan untuk menangkis ke depan dengan daya melekat. Pikirnya, jika gelang itu tertahan, ia akan segera menangkapnya kembali.
Siapa sangka, ketika kedua gelang berbenturan, gelang yang dilemparkan Bwe Kiam Soat mendadak berputar, seolah-olah bersayap, lalu terbang kembali ke belakang Wiki. Pada saat yang sama, sepotong kayu terbakar jatuh dari atas. Dalam keadaan terdesak, Wiki berusaha melompat ke samping. "Trang!" Gelang baja menghantam lantai, sementara kayu hangus tadi jatuh menerbitkan lelatu. Ketika Wiki menenangkan diri, dilihatnya Bwe Kiam Soat telah berdiri di depannya dengan tersenyum.
Sementara itu, kobaran api kian membesar. Bangunan restoran Thian-tiang-lau yang kukuh itu berguncang dan hampir runtuh. Lamkiong Peng dan Lu Thian-an masih berhadapan dan bertempur dengan sengit, meskipun keduanya sebenarnya dalam keadaan payah hingga setiap pukulan dan tendangan mereka hampir serupa permainan anak kecil. Namun, raut muka mereka justru menunjukkan keprihatinan mendalam.
Mendadak, Lamkiong Peng melancarkan pukulan dengan jurus *Thian-liong-ie-dian* atau Naga Meluku di Sawah. Dengan langkah lamban, Lu Thian-an mundur mengelak. Pada saat itulah terdengar suara gemuruh. Papan loteng runtuh sebagian dan lidah api menyambar dari bawah ke atas. Kebetulan, langkah mundur Lu Thian-an tepat menginjak papan loteng yang runtuh itu.
Ia menjerit kaget. Syukur, jarinya masih sempat meraih tepian papan, tetapi papan tersebut lambat laun ikut ambrol ke bawah. Tampaknya ia akan ditelan lautan api. Dengan tenaganya yang tersisa, ia tidak mampu lagi melompat ke atas. Tanpa pikir panjang, Lamkiong Peng memburu maju dan menarik tangan Lu Thian-an.
Padahal, Lamkiong Peng sendiri pun sudah kehabisan tenaga sehingga tidak mampu menarik naik Lu Thian-an. Terdengar suara "krek", tempat berpijak Lamkiong Peng ikut ambrol. Jika ia melompat mundur, Lu Thian-an terpaksa dilepaskan dan akan terjeblos ke dalam api. Namun, jika ia tetap bertahan, ia sendiri akan ikut terkubur di tengah amukan api.
Sekujur badan Lu Thian-an gemetar. Rambut dan jenggotnya sudah penuh lelatu dan mulai terbakar. Memandangi lawan yang telah bergebrak mati-matian dengannya ini, mendadak timbul rasa kasihannya. Pegangannya dipererat dan tak terlepaskan. Tiba-tiba sepotong kayu hangus jatuh dari atas. Untuk menghindar jelas tidak mungkin, sehingga Lamkiong Peng hanya memiringkan kepalanya. Kayu hangus itu menyerempet jidat dan mengenai pundaknya. Hanya selisih beberapa sentimeter saja, nyawa Lamkiong Peng mungkin melayang jika kayu itu tepat mengenai kepalanya.
Lu Thian-an merasa sangat terharu oleh keluhuran budi anak muda ini. Dengan suara gemetar, ia berteriak, "Lari... lekas lari... jangan urus diriku!" Namun, Lamkiong Peng tetap memegangi sekuat tenaga. Darah dari keningnya bercampur dengan keringat, bercucuran menetesi tubuh Lu Thian-an.
Di sebelah sana, Wiki sedang menubruk ke arah Bwe Kiam Soat dengan murka. "Hari ini, biarlah kuadu jiwa denganmu!" Gelang di tangan kanan dan kepalan kiri segera menghantam. "Hm, memangnya kejadian sepuluh tahun yang lalu itu salahku?" ejek Bwe Kiam Soat. Dengan lincah, ia menghindari serangan Wiki, lalu membalas dengan menebas pinggang lawan menggunakan pedangnya.
Dengan beringas, Wiki berteriak, "Tidak peduli siapa yang salah, yang jelas engkau adalah pangkal bencananya. Tanpa dirimu, tentu takkan terjadi hal-hal seperti itu!" Serangan Bwe Kiam Soat sedikit mereda. Ia bergumam, "Tanpa aku takkan terjadi hal begitu... Memangnya salahku? Tapi apa kesalahanku?" Wiki menerjang pula dengan kalap, "Pokoknya perempuan adalah sumber bencana, biarlah hari ini kau mampus di tanganku!"
Dalam pada itu, keempat tojin berjubah kelabu menubruk maju. Namun, sekali pedang Kiam Soat berputar, mereka kontan didesak mundur lagi. Tiba-tiba, Kiam Soat berteriak khawatir dan melompat ke sisi lain. Wiki tercengang ketika berpaling dan melihat keadaan bahaya yang dialami Lamkiong Peng dan Lu Thian-an.
Tiada jalan lain. Dengan cepat, gelang baja di tangan kanan disambar ke sana. Gelang itu meluncur cepat, namun setibanya di depan Lamkiong Peng, gelang itu berhenti. Latihan Wiki selama berpuluh tahun memang tidak percuma; gelang baja berantai itu dapat dilempar dan ditarik sekehendak hatinya. Ketika melihat gelang itu meluncur, Lamkiong Peng segera memegangnya dengan tangan kiri. Serentak, Wiki membentak dan menarik sekuat tenaga sehingga tubuh Lamkiong Peng terseret mundur, dan dengan sendirinya Lu Thian-an ikut tertarik ke atas. Cepat Bwe Kiam Soat menambahi tenaga tolakan dengan kebasan lengan bajunya sehingga mereka terlempar ke tempat yang aman.
Keempat tojin berjubah kelabu hendak menerjang maju lagi, namun Lu Thian-an lantas berteriak menghentikan mereka. Ia memandang Lamkiong Peng dengan termangu, lalu menghela napas dan menunduk. "Apakah perlu melanjutkan pertarungan kita?" kata Lamkiong Peng dengan napas terengah.
"Ti... tidak, aku... aku sudah kalah!" jawab Lu Thian-an. Kata-kata itu seolah diucapkan dengan seluruh tenaganya yang tersisa. Lamkiong Peng melenggak, tak menyangka guru besar suatu aliran terkemuka itu bisa mengaku kalah begitu saja. Wajah orang itu pucat pasi dan ia berdiri dengan lesu. Dalam sekejap, seorang tokoh besar telah berubah menjadi kakek yang patah semangat.
Memandangi bayangan punggung suheng-nya, Wiki menggelengkan kepala. Ia berucap pelan, "Sisuheng..." Tanpa berpaling, Lu Thian-an menjawab lesu, "Marilah kita pergi!" Baru saja berkata begitu, ia roboh terkulai. Nyata luka di badannya tidak lebih parah daripada luka hatinya. Wiki berteriak khawatir, cepat mengangkat sang suheng, dan melarikan diri menerobos lidah api untuk melompat ke bawah loteng. Keempat tojin berjubah kelabu juga ikut melompat turun.
Terdengar suara gemuruh; loteng restoran itu kembali runtuh sebagian. Lamkiong Peng terkesima, mendadak ia menghela napas dan bergumam, "Giokjiusun-yang betapapun tetap seorang ksatria!"
"Dan kau?" tanya Bwe Kiam Soat sambil tertawa. Kedua orang itu saling pandang tanpa bicara, lupa bahwa lidah api hampir menjilat pakaian mereka.
Akhirnya, terdengar suara ramai pasukan pemerintah. Suara derap kaki kuda bercampur dengan teriakan orang banyak, suara upaya memadamkan api, gemuruh runtuhnya bangunan, serta jerit tangis. Di tengah kepanikan, dua sosok bayangan diam-diam meninggalkan kota kuno itu.
Di suatu tanah berumput, Lamkiong Peng berbaring dengan santai. Bintang bertaburan di langit biru kelam dan angin bertiup sejuk. Bwe Kiam Soat memandangi wajah anak muda yang cakap itu, terutama bulu matanya yang panjang menaungi mata besar yang kini terpejam.
"Tentunya tak kaupikir tugas yang diberikan oleh gurumu untuk membela diriku akan sedemikian beratnya, bukan?" katanya tiba-tiba. Lamkiong Peng melenggak dan memandang orang itu dengan termenung. Dengan dingin, Bwe Kiam Soat berkata lagi, "Apakah saat ini engkau menyesal karena membela diriku sehingga hampir saja kau sendiri menjadi korban keributan orang banyak tadi?"
Akhirnya, Lamkiong Peng menjawab, "Sudahlah, jangan kau bicara seperti ini lagi. Bagiku, asalkan hatiku merasa tidak berdosa dan tidak berbuat sesuatu yang memalukan, kenapa aku mesti menghiraukan tuduhan orang? Demi kebenaran dan keadilan dunia kangouw, apa artinya pengorbananku ini?"
Bwe Kiam Soat memandangnya dengan sorot mata lembut dan aneh. Perempuan yang berjuluk "berdarah dingin" ini ternyata tiada ubahnya seperti gadis biasa yang juga memiliki perasaan. Seketika mereka saling pandang dengan terkesima, melupakan keadaan sekelilingnya.
Pada saat itu juga, tidak jauh di sebelah sana, sesosok bayangan sedang memperhatikan kedua muda-mudi yang tenggelam dalam lamunan tersebut. Sorot matanya menampilkan rasa kagum sekaligus rasa cemburu. Tanpa terasa, ia menghela napas perlahan.