Chapter 44
Hati Lamkiong Peng dan Bwe Kiam-soat tergetar. Serentak mereka melompat bangun dan membentak, "Siapa?" Bayangan tadi tertawa panjang sambil melompat maju. Hanya dengan dua-tiga kali gerakan naik-turun, ia sudah berdiri di depan mereka.
"Eh, kiranya kau," kata Lamkiong Peng dengan heran.
"Hm, anak murid Thian-san mengapa main sembunyi-sembunyi seperti ini?" jengek Kiam-soat.
Pendatang itu adalah Tik Yang. Ia tertawa keras dan menjawab, "Haha, apakah kedatanganku ini kauanggap main sembunyi-sembunyi? Bwe Kiam-soat, kaukira untuk apa kudatang kemari?"
"Mungkin kedatanganmu...." Lamkiong Peng merasa ragu.
Dengan serius Tik Yang memotong, "Walaupun kita baru saja kenal, aku percaya penuh bahwa tindak-tandukmu pasti tidak merugikan kebenaran dunia persilatan. Maka, kedatanganku ini justru hendak memberikan bantuan." Lamkiong Peng melongo dan kurang mengerti maksud orang tersebut.
Dengan tertawa, Tik Yang berkata lagi, "Apakah Saudara tahu bagaimana terjadinya kebakaran tadi?" Baru sekarang Lamkiong Peng menyadari duduk perkaranya. Rupanya kebakaran tadi tidak terjadi secara kebetulan. Karena tidak tahu siapa yang melakukannya, ia menggelengkan kepala.
"Setelah meninggalkan Hoa-san," sambung Tik Yang dengan tertawa, "aku pun datang ke Se-an, hanya saja kedatanganku agak terlambat. Waktu itu keributan sudah terjadi. Dari tempat ketinggian, kulihat engkau sedang melabrak ketua Cong-lam-pai itu. Melihat keadaan tempatnya, kutahu sukar untuk melerai, juga sukar untuk membantu. Terpaksa... haha, terpaksa kugunakan bantuan api." Lamkiong Peng melirik Bwe Kiam-soat sekejap.
"Rupanya kita salah menyesali dia tadi," ucap Kiam-soat.
"Ah, sedikit salah mengerti, apalah artinya," ujar Tik Yang dengan tertawa. "Bangunan Thian-tiang-lau itu sungguh sangat megah, tapi ternyata tidak tahan dibakar. Kusaksikan kalian meninggalkan kota dengan selamat, diam-diam aku pun menyusul kemari."
"Tampaknya Tik Siau-hiap seorang sahabat yang simpatik. Agaknya aku salah sangka......." Belum lanjut ucapan Bwe Kiam-soat, mendadak seseorang mendengus dari kejauhan, "Hm, simpatik apa? Main bakar secara diam-diam, masakah perbuatan simpatik?"
Lamkiong Peng bertiga terkejut, serentak mereka berpaling. Tampaklah dalam kegelapan muncul sesosok bayangan orang berkipas putih. Tanpa bicara, Tik Yang mendahului menubruk ke sana.
"Cepat amat!" ucap bayangan orang itu sambil mengebaskan lengan bajunya dan bergeser ke samping, lalu segera melompat ke depan Lamkiong Peng.
Sambil membentak, Tik Yang lantas menubruk ke situ lagi, tapi segera terdengar Lamkiong Peng berseru, "O, kiranya Yim Tai-hiap!" Tergerak hati Tik Yang, ia tahu orang itu adalah kawan, bukan lawan. Seketika ia urungkan serangannya.
Pendatang ini memang Banhiang Yim Hong-peng. Ia berseru dengan tertawa, "Haha, tak tersangka yang main bakar itu adalah anak murid Thian-san!" Lamkiong Peng juga tidak menyangka orang ini dapat menyusul ke sini, segera ia memperkenalkannya kepada Tik Yang.
Yim Hong-peng tertawa dan berkata, "Tik Siau-hiap, sesungguhnya Thian-tiang-lau dibangun dengan sangat kukuh, cuma telah kutambahi juga sedikit bahan bakar sehingga dapat terjilat api dengan lebih cepat." Baru sekarang Tik Yang tahu, Yim Hong-peng juga mengambil bagian dalam pembakaran restoran megah itu.
Ia tertawa dan berseru, "Orang bilang Ban-liu-hiang adalah pendekar kosen dari perbatasan, setelah bertemu hari ini baru kupercaya Yim Tai-hiap memang seorang ksatria yang suka blak-blakan."
Yim Hong-peng memandang Lamkiong Peng dan Bwe Kiam-soat sekejap, lalu berkata, "Setelah peristiwa ini, Nona Bwe dan Lamkiong-heng tentu tidak leluasa bergerak lagi di dunia kang-ouw. Entah bagaimana rencana perjalanan kalian selanjutnya?" Ia bicara dengan serius, tapi sorot matanya tampak gemerlap menampilkan cahaya yang sukar diterka maksudnya.
Lamkiong Peng menghela napas panjang, katanya, "Siaute juga tahu untuk selanjutnya akan banyak mengalami kesukaran di dunia kang-ouw. Tapi yang penting, asalkan hatiku sendiri merasa tidak bersalah, tindakanku selanjutnya juga tidak akan berubah. Mungkin aku akan pulang dulu ke Ji-hau-sanceng, lalu pulang ke rumah menjenguk orang tua....."
"Tempat lain masih mendingan, kedua tempat itu justru tidak boleh kau datangi," potong Yim Hong-peng.
Air muka Lamkiong Peng berubah. Tapi Yim Hong-peng lantas menyambung, "Maaf jika kubicara terus terang. Bahwasanya Nona Bwe pernah malang melintang di dunia kang-ouw dahulu, tentu tidak sedikit telah mengikat permusuhan. Apa yang terjadi di Se-an ini tidak lama tentu juga akan tersiar. Tatkala musuh Nona Bwe ingin mencari kalian, tentu mereka akan menunggu dulu di kedua tempat itu. Dalam keadaan demikian, tentu kalian akan serba repot, terutama anggota keluarga Lamkiong-heng........." Sampai di sini ia menghela napas ketika dilihatnya Lamkiong Peng menunduk termenung.
Bwe Kiam-soat lantas menjengek, "Habis, lantas bagaimana kalau menurut pendapat Yim Tai-hiap?"
Yim Hong-peng tampak berpikir. Ia tahu di depan perempuan cerdik ini tidak boleh salah omong sedikit pun. Dengan tersenyum kemudian ia berkata, "Pendapatku mungkin terlalu dangkal, tapi mungkin berguna untuk dipertimbangkan kalian. Pada waktu Nona Bwe malang melintang dahulu, meski sampai sekarang musuhmu itu tetap sama orangnya, tapi keadaan sudah berubah. Orang-orang itu tersebar di mana-mana dan satu sama lain tahu mempunyai musuh bersama, yaitu Nona Bwe. Pula, menurut keadaan masa itu, tentu tidak ada yang mau mengaku sebagai musuh Nona Bwe. Tapi keadaan sekarang sudah berubah. Bilamana orang-orang itu tahu Nona Bwe masih hidup, tentu mereka akan bangkit dan bersatu untuk menuntut balas padamu."
Tiba-tiba tersembul senyuman aneh pada wajah Bwe Kiam-soat, katanya pelan, "Apakah benar mereka hanya ingin menuntut balas padaku?"
"Mungkin....." ia memandang Lamkiong Peng sekejap, lalu tidak melanjutkan.
"Apa pun juga, menurut pendapatku, hanya dengan kekuatan kalian berdua tentu akan banyak menghadapi kesulitan.........."
"Lantas kalau menurut pendapat Yim Tai-hiap, apakah kami..... kami harus minta perlindungan orang?" seru Lamkiong Peng, nadanya kurang senang.
Yim Hong-peng tersenyum, "Ah, dengan kedudukan kalian yang terhormat, mana berani kubilang soal minta perlindungan orang segala."
Mendadak Bwe Kiam-soat menjengek, "Yim Tai-hiap, ada urusan apa kukira lebih baik kaukatakan terus terang saja daripada berliku-liku."
"Di depan orang pintar, kukira memang tidak perlu banyak omong," ujar Yim Hong-peng. "Yang jelas, persoalan kalian ini memang perlu sahabat. Kalau tidak, sungguh sukar lagi untuk berkecimpung di dunia kang-ouw, padahal hari depan kalian masih cerah. Bila mesti putus harapan begini saja, kan sayang."
"Apa pun juga, mempunyai dua orang sahabat seperti kalian ini, sedikitnya hatiku sudah terhibur," ujar Lamkiong Peng.
"Ah, diriku ini terhitung apa," kata Tik Yang dengan tertawa. "Tapi Yim-heng tentu saja lain, beliau kan pendekar kosen dari perbatasan utara sana."
"Terima kasih atas pujianmu," kata Yim Hong-peng. "Betapa tinggi kepandaianku mana dapat dibandingkan kalian berdua yang masih muda perkasa." Ia merandek sambil menyapu pandang ketiga orang itu, lalu menyambung, "Namun ada juga seorang kenalanku. Orang ini sungguh berbakat besar, berbudi luhur, serba pintar baik ilmu falak maupun ilmu bumi, baik seni budaya maupun seni bela diri. Lwe-kang-nya bahkan sudah mencapai puncaknya, sehelai daun saja dapat digunakannya untuk melukai orang. Yang paling hebat, kecuali mempunyai kepandaian yang mengejutkan, orang ini juga mempunyai cita-cita setinggi langit, bahkan pergaulannya sangat luas, orangnya simpatik."
Diam-diam Bwe Kiam-soat menjengek, sedangkan Lamkiong Peng dan Tik Yang merasa tertarik. Bila orang lain yang bicara demikian mungkin akan diremehkan mereka, tapi karena semua ini keluar dari mulut Banhiang Yim Hong-peng, bobotnya tentu saja lain. Tanpa terasa mereka bertanya berbareng, "Siapakah gerangan tokoh yang kau maksudkan itu?"
Yim Hong-peng tersenyum, tuturnya, "Orang ini sudah lama mengasingkan diri di luar perbatasan utara sana, namanya sangat sedikit diketahui orang. Tapi kuyakin nama Swe Thian Bang dalam waktu singkat pasti akan tersiar ke segenap pelosok dunia."
"Swe Thian Bang? Sungguh nama yang indah!" kata Tik Yang.
"Jika benar ada seorang tokoh semacam itu, setiba di Tionggoan tentu kami ingin berkenalan. Cuma sayang saat ini sukar untuk menemuinya," ujar Lamkiong Peng.
Tiba-tiba Bwe Kiam-soat menyela, "Apakah maksud Yim Tai-hiap, apabila kami dapat mengikat sahabat dengan tokoh kosen semacam ini, lalu segala urusan akan beres?" Ia tetap bicara dengan nada dingin dan ketus.
Yim Hong-peng, seperti tidak menghiraukannya, berkata, "Lamkiong-heng, suasana dunia persilatan sekarang boleh dikatakan tercerai-berai dan kacau balau. Kun-lun-pai sudah lama merajai wilayah barat, Siau-lim-pai menjagoi daerah Tionggoan, Bu-tong-pai menguasai daerah Kang-lam. Selain itu di selatan masih ada Tiam-jong-pai, di timur ada Wi-san-pai, di barat ada Cong-lam-pai. Masing-masing aliran menguasai kungfu andalan sendiri dan menguasai satu wilayah tertentu. Meski semuanya juga berhasrat memimpin dunia persilatan dan setiap saat dapat menimbulkan kekacauan, tapi lantaran pertarungan di Wi-san dahulu, kebanyakan aliran itu sudah mengalami kelumpuhan. Ditambah lagi dunia kang-ouw sudah dipimpin oleh Sin-liong dan Tanhong, maka suasana sepuluh tahun terakhir ini masih dapat dikendalikan."
Ia berbicara panjang lebar, meski agak bertele-tele, namun tidak dirasakan jemu oleh Tik Yang dan Lamkiong Peng. Maka ia menyambung pula, "Tapi sekarang, jago muda dari berbagai perguruan itu sama bermunculan, kekuatan sudah pulih, saking kesepian jadi ingin bergerak lagi. Ditambah lagi Sin-liong telah menghilang, perimbangan kekuatan jadi buyar juga."