Chapter 45
Kini tiada seorang pun di dunia persilatan yang mampu mengatasi semua orang. Tidak terlalu lama di dunia kang-ouw, pasti akan bangkit huru-hara. Kekuatan-kekuatan muda tersebut tentu juga akan membanjir timbul untuk berebut pengaruh. Lantas bagaimana akibatnya? Tentu dapat dibayangkan.
Nadanya mulai meninggi, ceritanya mulai tenang. Lamkiong Peng dan Tik Yang juga terbangkit semangatnya. Tapi demi teringat kepada keadaan sendiri sekarang, tanpa terasa Lamkiong Peng merasa gegetun dan dingin lagi hatinya, serupa diguyur air. Sekilas Yim Hong-peng dapat melihat perubahan air muka Lamkiong Peng. Diam-diam ia merasa senang, sambungnya pula, "Sesudah lama tercerai, akhirnya tentu akan bergabung lagi. Bila terlampau sepi, akhirnya pasti ribut lagi. Ini adalah kejadian logis."
"Tapi dalam keributan ini, bila tidak diimbangi oleh suatu kekuatan besar untuk menegakkan keadilan dan kebenaran, maka pastilah akan terjadi kesewenang-wenangan; yang kuat makan yang lemah, salah benar sukar dibedakan, tentu akan banyak terjadi kerusuhan pula. Dan bilamana suasana kacau tak terkendalikan, akibatnya tentu tambah runyam."
"Ya, memang pandangan Yim Tai-hiap sungguh sangat tepat," puji Lamkiong Peng.
"Ah, apalah artinya diriku ini. Justru Swe Thian-bang itulah jeniusnya manusia zaman kini," ujar Yim Hong-peng dengan tersenyum. "Meski kakinya belum pernah melangkah masuk Giok-bun-koan, tapi caranya menganalisis keadaan dunia persilatan dan apa yang akan terjadi, sungguh seperti telah terjadi sungguhan. Terus terang kukatakan, kedatanganku ke pedalaman sini justru mengemban tugasnya. Aku diminta mencari beberapa tokoh muda berbakat untuk bersama-sama melaksanakan tugas suci menegakkan keadilan dunia persilatan."
Alis Tik Yang menegak, tukasnya, "Menegakkan keadilan? Sungguh semboyan menarik. Sayang di sini tidak ada arak, kalau tidak, sungguh aku ingin menyuguhmu tiga cawan."
Lamkiong Peng tambah resah bila teringat kepada urusan sendiri. Sedangkan Bwe Kiam-soat lantas mendengus, pikirnya, "Kiranya Yim Hong-peng ini tidak lebih cuma seorang pembujuk saja. Dia datang lebih dulu untuk mencari pendukung bagi Swe Thian-bang. Hm, besar amat ambisi orang she Swe ini, rupanya dia berniat merajai dunia kang-ouw."
Setelah berpikir lagi, diam-diam ia terkesiap, "Lahiriah orang she Yim ini menarik, ilmu silatnya juga tinggi, tutur katanya juga memikat hati orang, jelas orang ini pun seorang tokoh luar biasa. Sampai tokoh seperti Bin-san-jiyu pun dapat diperalat olehnya, tapi dia toh cuma menjadi seorang pembujuk bagi Swe Thian-bang, tampaknya kepandaian orang she Swe ini lebih sukar dijajaki."
Agaknya Yim Hong-peng juga sedang mengamati reaksi orang, maka kemudian ia menyambung lagi, "Lamkiong-heng, dengan kepandaianmu ditambah lagi kekayaan keluargamu, selanjutnya dunia persilatan mestinya berada dalam genggamanmu. Tapi engkau justru sedang menghadapi persoalan yang tak dapat dimaafkan oleh sesama orang kang-ouw, bahkan saudara seperguruan sendiri pun tidak dapat memaklumi maksud baikmu. Dalam keadaan terjepit, sungguh Lamkiong-heng serba susah. Tapi bila engkau mau bekerja sama dengan Swe Thian-bang, ditambah lagi tokoh muda serupa Tik Siau-hiap ini, urusan apa pula yang tidak dapat diselesaikan?"
"Kupikir, bila kerja sama ini terlaksana, selain dunia persilatan dapat diamankan, juga Lamkiong-heng dapat menggunakan kekuatan ini untuk mengundang sesama orang Bulim untuk menjelaskan duduk perkara. Tatkala mana kekuatanmu sudah lain, ucapanmu berbobot, siapa lagi yang tidak percaya kepadamu? Jadinya, bahaya yang mengancam Lamkiong-heng akan lenyap, namamu bahkan akan termasyhur, Jiceng selanjutnya akan semakin disegani."
Dengan tersenyum tiba-tiba Bwe Kiam-soat berkata, "Wah, menurut cerita Yim Tai-hiap ini, bukankah dalam waktu singkat tokoh Swe Thian-bang yang luar biasa akan dapat merajai dunia persilatan dan menjadi Bulim-bengcu?"
"Ya, bilamana dibantu oleh tokoh muda seperti kalian ini, tidak sampai beberapa tahun dunia persilatan pasti dapat dikuasai oleh kita," ujar Yim Hong-peng dengan tertawa. Dia sangat senang, disangkanya kedua anak muda ini sudah terpikat oleh ocehannya.
Bola mata Bwe Kiam-soat berputar, katanya pula dengan tertawa, "Maksud baik Yim Tai-hiap ini sungguh sangat membesarkan hati kami, cuma... saat ini kami sedang terdesak bahaya yang mengancam di depan mata, sebaliknya rencana Yim Tai-hiap masih jauh daripada tercapai, bahkan jejak Swe Thian-bang itu belum lagi menginjak daerah Tionggoan..."
Mendadak Yim Hong-peng tertawa dan memotong, "Jika kalian sudah mau menerima ajakanku, dengan sendirinya aku pun tidak perlu merahasiakan urusan ini. Terus terang, meski jejakku baru mulai muncul sebulan terakhir, padahal sudah hampir lima tahun kujelajahi Tionggoan. Selama lima tahun ini sedikit banyak sudah kupupuk juga kekuatan tertentu, hanya karena waktunya belum tiba, maka sejauh ini belum diketahui kawanan Bulim."
"Wah, melulu cara Yim Tai-hiap menyembunyikan pekerjaan ini saja sudah lain daripada orang lain, sungguh hebat," kata Kiam-soat.
Yim Hong-peng tertawa bangga, "Namun, caraku memilih orang sangat cermat. Tidak sedikit kawan kalangan bawah dan menengah yang telah menggabungkan diri, tapi saudara dari lapisan atas justru masih sangat sedikit. Sebab itulah kuminta bantuan kalian bertiga, sebab Swe Siansing itu dalam jangka waktu singkat mungkin juga akan masuk ke daerah Tionggoan."
Meski dia sok pintar, tanpa terasa ia pun lupa daratan oleh senyum manis dan lirikan Bwe Kiam-soat yang memabukkan itu, dan perlahan tersingkap juga rahasia maksudnya. Air muka Lamkiong Peng dan Tik Yang rada berubah. Sebaliknya, dengan berseri-seri Yim Hong-peng berkata pula, "Tidak jauh dari sini terdapat tempat persinggahanku, meski sangat sederhana, tapi jauh lebih tenang daripada di sini. Cuma sayang, masih ada sedikit urusanku di Se-an yang harus kuselesaikan, saat ini tidak dapat kuantar sendiri ke sana."
Bwe Kiam-soat sengaja menghela napas menyesal, "Wah, lantas bagaimana?"
"Tidak menjadi soal," kata Yim Hong-peng. "Meski tidak dapat kuantar sendiri, sepanjang jalan sudah ada orang yang siap menyambut kedatangan kalian..."
"Selain itu," sambungnya sambil merogoh saku, "supaya kalian percaya kepada keteranganku, boleh lihat..." Ketika tangan diangkat, terlihatlah oleh Kiam-soat bertiga tiga kantung sutra berwarna-warni terpegang pada tangan Yim Hong-peng.
"Bagus sekali, barang apakah ini?" tanya Kiam-soat.
"Sampai saat ini, boleh dikatakan sangat langka orang dunia persilatan yang pernah melihat benda ini," tutur Yim Hong-peng dengan prihatin sambil membuka salah sebuah kantung sutra itu. Seketika semua orang mencium bau harum aneh menusuk hidung.
Yim Hong-peng lantas mengeluarkan sepotong kayu kecil persegi berwarna lembayung dari dalam kantung dan diserahkan kepada Bwe Kiam-soat. Waktu Kiam-soat mengamati, potongan kayu kecil yang tidak menarik ini terbuat secara indah. Bagian atas ada ukiran pemandangan alam yang permai, terlukis seorang berdiri di bawah cahaya senja sedang memandang puncak gunung di kejauhan. Orang ini terlukis samar-samar, tapi bila diteliti kelihatan gagah dengan sikap yang hidup. Cuma sayang, garis mukanya hanya terukir dari sisi belakang.
Di balik kepingan kayu ini terukir dua bait syair, sangat kecil hurufnya namun gaya tulisannya indah kuat, jelas tulisan seniman ternama. Kepingan kayu ini keras dan berat serta berbau harum. Setelah mengamati sejenak, kemudian Bwe Kiam-soat bertanya, "Apakah orang yang terukir di sini adalah orang yang disebut Swe Thian-bang itu?"
Yim Hong-peng mengangguk, "Ya, benda ini tanda pengenal Swe Thian-bang itu." Lalu ia memberikan pula kedua kantung sutra kepada Lamkiong Peng dan Tik Yang, katanya pula dengan tertawa, "Untuk mendapat kepercayaan kalian bertiga, sengaja kulanggar prosedur biasa dan kuberikan benda ini..."
"Prosedur biasa apa?" ujar Bwe Kiam-soat sambil memainkan keping kayu dan kantung sutra yang dipegangnya.
"Setiba kalian di tempatku, dengan sendirinya akan tahu," kata Yim Hong-peng. Mendadak ia bertepuk tangan. Baru berjangkit suara keplokannya, dari kejauhan lantas muncul sesosok bayangan secepat terbang. Hanya sekejap saja orang ini sudah mendekat, ternyata dia adalah Tiangsun Tang, salah seorang jago dari Binyu.
Ia berdiri dengan sikap hormat di depan Yim Hong-peng sambil melirik sekejap ke arah Bwe Kiam-soat. Ketika diketahui benda yang berada di tangan orang, seketika wajahnya menampilkan rasa heran dan kejut.
"Agaknya antara Tiangsun-heng dan Nona Bwe terdapat suatu perselisihan, tapi selanjutnya kita adalah orang sendiri. Rasanya Tiangsun-heng perlu melupakan urusan masa lampau," kata Yim Hong-peng dengan tersenyum.
Sejenak Tiangsun Tang melongo, lalu berkata dingin, "Saat ini juga sudah kulupakan."
"Cepat benar lupanya," ujar Bwe Kiam-soat dengan tertawa genit.
"Haha, memang harus begitu," ujar Yim Hong-peng. "Sekarang, harap Tiangsun-heng membawa mereka bertiga ke Liu-hiang-ceng kita. Setelah kuselesaikan sedikit urusan di Se-an, segera kupulang untuk menemui kalian di sana."
"Dan... pedang..." tergegap Tiangsun Tang.