Chapter 46
"Oya, pedang Lamkiong-heng yang tertinggal di Se-an itu sudah kusuruh bawa kemari," ucap Yim Hong-peng. Selagi Lamkiong Peng melenggong, Tiangsun Tan telah menyodorkan pedang yang dibawanya sambil berkata, "Sarungnya baru saja dibuat, mungkin tidak begitu cocok." Yim Hong-peng mengambil pedang itu dan mengembalikannya kepada Lamkiong Peng, katanya, "Tadi tanpa permisi kumasuk ke kamar Lamkiong-heng, kulihat pedang pusaka ini tertinggal di sana, maka secara sembrono kubawakan untuk Lamkiong-heng." Sebelum Lamkiong Peng bersuara, pandangannya beralih kepada Tik Yang, katanya pula, "Tik-heng, apakah kau tahu di mana letak keanehan keping kayu ini?" Alis Tik Yang menegak, jengeknya, "Betapa anehnya barang ini. Jika orang she Tik disuruh menjadi antek seorang yang bernafsu besar ingin menguasai dunia persilatan, hmk..." Mendadak ia mendongak memandang langit sambil melemparkan kantung sutra yang dipegangnya ke tanah.
Ketua Yim Hong-peng terkesiap, air mukanya berubah seketika, katanya, "Tik-heng, aku..." Tiba-tiba Lamkiong Peng juga berkata, "Terima kasih atas maksud baik Yim Taihiap. Sesungguhnya kamu pun sangat ingin dapat bekerja sama dengan tokoh besar semacam Swe Tai-hiap itu, cuma..." ia menghela napas, lalu mengembalikan kantung sutra kepada Yim Hong-peng dan berkata pula, "Siaute orang bodoh, juga sudah terbiasa hidup tidak beraturan, mungkin sukar ikut serta dalam pekerjaan besar yang dirancang Yim Taihiap. Namun, apa pun juga, budi pertolongan Yim Taihiap takkan kulupakan." Pada dasarnya Lamkiong Peng berwatak jujur, ia dapat meraba maksud tujuan Yim Hong-peng, maka ia tidak sudi diperalat orang. Namun, ia pun merasa utang budi, sehingga ia menolak ajakan orang dengan menyesal.
Air muka Yim Hong-peng berubah kelam, kantung sutra itu diremasnya dengan mendongkol, pandangannya perlahan beralih kepada Bwe Kiam-soat. "Aku sih tidak menjadi soal," kata Kiam-soat dengan tertawa, kepingan kayu dimasukkan lagi ke dalam kantung. Lamkiong Peng tercengang, sebaliknya sinar mata Yim Hong-peng menerong terang. Dengan tertawa Kiam-soat menyambung lagi, "Tapi aku pun tidak mempunyai ambisi sebesar itu, sebab itulah terpaksa aku pun menerima ajakan Yim Taihiap dengan ucapan terima kasih. Hanya..." perlahan ia masukkan kantung sutra itu ke dalam bajunya, lalu melanjutkan, "kantung sutra dan kepingan kayu ini tampaknya sangat menyenangkan, maka berat untuk kukembalikan kepadamu. Jika secara sukarela Yim Taihiap sudah memberikannya kepadaku, kukira engkau pasti takkan memintanya kembali dariku, bukan?" Seketika air muka Yim Hong-peng berubah pucat dan melenggong dengan bingung, perlahan ia lantas menjemput kantung sutra yang dilemparkan Tik Yang tadi.
Lamkiong Peng merasa tidak enak hati, ucapnya, "Maafkan, selanjutnya asalkan Yim Taihiap ada..." Mendadak Yim Hong-peng bergelak tertawa pula, "Haha, agaknya orang she Yim bermata lamur, kiranya kalian sengaja hendak mempermainkan diriku..." Sampai di sini tiba-tiba sorot matanya berubah menerong, sambungnya sekata demi sekata, "Hm, setelah kalian mengetahui rahasiaku, memangnya kalian ingin pergi dengan hidup? Hah, apakah kalian sangka orang she Yim seorang tolol?" Serentak ia melompat mundur sambil berkeplok, segera dari tempat gelap di sekitarnya muncul berpuluh sosok bayangan orang. Lamkiong Peng bertiga terkesiap. Perlahan Tiangsun Tang melolos pedang dan siap tempur.
"Hm, bila orang she Yim tidak yakin dapat membuat kalian tutup mulut selamanya, mana kumau memberitahukan rahasiaku sendiri kepada kalian?" jengek Yim Hong-peng pula. Waktu ia angkat tangannya, serentak bayangan orang itu mendesak maju dari sekelilingnya. Lamkiong Peng menyapu pandang sekejap, jengeknya, "Mesti ada rasa terima kasihku kepada Yim-heng, tapi dengan tindakanmu ini rasa terima kasih jadi hanyut seluruhnya. Jika beratus orang di Se-an saja tidak mampu mengusik seujung rambutku, sekarang cuma berpuluh orang ini, dapatkah mengatasi kami bertiga?" Segera Tik Yang juga berteriak, "Siapa yang berani, boleh silakan dia rasakan dulu Thiankiam."
"Boleh kau belajar kenal dulu dengan usaha orang she Yim," jawab Yim Hong-peng sembari menggeser mundur. Serentak Tiangsun Tan juga melompat ke sana dan berdiri berjajar bersama Yim Hong-peng di antara lingkaran orang-orang berbaju hitam. Dengan sendirinya Lamkiong Peng dan Tik Yang juga berdiri berjajar dengan Bwe Kiam-soat, barisan musuh kelihatan mendesak maju dengan perlahan.
"Tenang," kata Bwe Kiam-soat, "Jangan sembarangan bergerak. Bila keadaan tidak menguntungkan, segera kita terjang keluar saja." Tiba-tiba terdengar suara gemerantang nyaring, suara rantai besi, menyusul Yim Hong-peng lantas membentak, "Thian (langit)!" Serentak berpuluh bayangan orang itu mengangkat tangan ke atas, berpuluh jalur cahaya dingin segera terbang tinggi ke langit dari tangan orang-orang berbaju hitam itu. Terdengar Yim Hong-peng membentak pula, "Te (bumi)!" Sekaligus berpuluh cahaya dingin melayang pula dari gerombolan orang banyak itu dan menyambar ke arah Lamkiong Peng bertiga. Keruan mereka terkejut, Lamkiong Peng membentak sambil melolos pedang, dengan cepat ia memutar pedangnya. Bwe Kiam-soat juga lantas mengebaskan lengan bajunya, Tik Yang pun menghantamkan kedua tangannya ke depan sehingga cahaya dingin itu sama rontok sebelum tiba di tempat tujuan.
Tak terduga kembali terdengar suara bentakan, "Hong (angin)!" Terdengar suara menderu, segulung cahaya perak melesat tinggi ke udara, habis itu secepat kilat gulungan cahaya menyilaukan mata dengan suara menderu keras, ditambah lagi suara nyaring rantai ketika bergerak, tampaknya tidak kepalang lihainya. Tik Yang bersuit panjang dan melompat ke atas, Bwe Kiam-soat juga berteriak kaget, "Celaka!" Belum lenyap suaranya, cahaya perak yang berhamburan itu dalam sekejap saja telah membenam seluruh tubuh Tik Yang. Lamkiong Peng terkesiap, cepat ia putar pedangnya melindungi sekujur badan, ia pun melompat ke atas.
Pada waktu tubuh Tik Yang baru bergerak ke atas, mendadak dirasakan berpuluh buah Liu-sing-tui (bola berantai) menyambar kepalanya. Cepat ia menggeliat sehingga tubuhnya membelok ke samping, siapa tahu cahaya perak kembali menyambar tiba dan membungkus tubuhnya. Dalam keadaan demikian ia tidak dapat berpikir panjang lagi, sekali meraih, sebuah bola perak ditangkapnya, lalu mengikuti daya tarikan, langsung ia menubruk ke bawah. Tapi segera dirasakan tangan kesakitan tertusuk, pinggang kiri dan paha kanan juga kesakitan, terdengar suara gedebuk, tahu-tahu ia menumbuk tubuh seorang berbaju hitam, keduanya sama menjerit kaget dan jatuh terguling.
Dalam pada itu, Lamkiong Peng sedang melayang ke atas dengan berputar untuk melindungi tubuh sendiri, di tengah gelombang cahaya tampak sedikit kacau, kesempatan itu segera digunakannya untuk menerjang, pedang pusaka Yaploh memperlihatkan kesaktiannya, terdengar suara gemerincing nyaring, bola berantai yang merupakan senjata khas kawanan lelaki berbaju hitam itu sama tertabas putus oleh pedangnya. Kemudian terlihat olehnya Tik Yang lagi menjerit kaget dan jatuh terguling.
Terkesiap juga Bwe Kiam-soat melihat senjata andalan musuh yang khas itu, ia pikir pantas Yim Hong-peng begitu garang, mentang-mentang mempunyai barisan tempur yang lihai. Hendaknya diketahui, senjata sebangsa Liu-sing-tui (bola berantai), Lian-cu-jiang (tombak berantai) dan senjata lemas lainnya bukanlah senjata yang langka, namun sangat sukar melatihnya dengan baik. Terlebih di tengah orang banyak, bila latihannya tidak sempurna, bisa jadi akan melukai lawan atau diri sendiri malah. Tapi bila senjata yang lemas itu dapat dikuasai dengan baik, maka daya tempurnya akan berlipat ganda. Bahwa berpuluh lelaki berseragam hitam ini dapat serentak menggunakan senjata lemas begini, jelas mereka sudah terlatih dengan baik dan dapat bekerja sama dengan rapi sehingga tidak sampai melukai sendiri dan mencederai lawan.
Pengalaman tempur Bwe Kiam-soat sudah banyak, ia tahu barisan tempur ini sangat lihai dan sulit dihadapi. Tapi saat itu Lamkiong Peng sudah menerjang ke tengah musuh, cepat ia pun ikut melayang maju, sekali lengan bajunya mengebas dengan kuat, kontan ia bikin rontok tujuh-delapan Liu-sing-tui yang lagi menghantam Lamkiong Peng. Dalam pada itu, Lamkiong Peng lantas memburu ke tempat roboh Tik Yang. Tentu saja Bwe Kiam-soat berkerut kening melihat kelakuan anak muda itu, ia tahu bila Liu-sing-tui musuh menyerang lagi pasti sukar menghindar bagi Lamkiong Peng.
Namun pada saat itu cahaya perak juga sudah kacau, terdengar Yim Hong-peng membentak pula, "Siang (es)!" Segera Bwe Kiam-soat berputar ke sana dan ikut menubruk maju bersama Lamkiong Peng. Sekonyong-konyong terdengar angin menderu lagi, berpuluh Liu-sing-tui serentak telah ditarik kembali, berpuluh lelaki berseragam hitam juga melompat mundur. Rupanya Yim Hong-peng juga terperanjat ketika melihat barisan bola berantai anak buahnya terjadi kekacauan karena diterjang oleh Tik Yang dan Lamkiong Peng. Padahal barisan bola berantai khusus dilatihnya dengan mengumpulkan berbagai jago silat pilihan, barisan ini memakai perhitungan Pat-kua dan berdasarkan perubahan thian (langit), te (bumi), hong (angin), uh (hujan), jit (matahari), goat (bulan), in (mega), soat (salju), dan siang (es). Dengan sendirinya sangat ruwet perubahan sembilan macam unsur itu, namun bantu-membantu satu sama lain, apalagi setiap bola berantai itu berduri pula, dengan sendirinya daya tempurnya luar biasa hebatnya. Kini dilihatnya Tik Yang hanya terluka ringan saja, Yim Hong-peng khawatir barisan ciptaannya akan dibobol musuh, maka cepat ia undurkan diri dulu barisannya untuk merapikannya lebih dulu. Waktu itu Lamkiong Peng sedang memeriksa keadaan Tik Yang, dilihatnya darah mengucur dari pinggang kiri dan paha kanan, namun tangan Tik Yang sekuatnya lagi mencekik leher seorang lelaki berbaju hitam dan ditindihnya dari bawah, dari celah jari juga merembes darah segar.